Tampilkan postingan dengan label Pantai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pantai. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Juli 2013

Tour de Jatim, Day III, Part II: Kalibaru - Alas Purwo



Ternyata perjalanan geje ke Jatim dah dilewati lebih dari dua tahun dan sambungan ceritanya gak juga diketik -____-;). Kalo mau baca sebelumnya mungkin dah lupa bisa baca di hari 1, hari 2, dan hari 3 bagian I. Oh dan karena harus memory mining, jadinya gak bisa detail ceritanya

Ok, cerita berlanjut dimulai dari habis sholat Jumat di masjid Kalibaru. Berdasarkan rencana, tujuan selanjutnya adalah pantai Pulau Merah di kecamatan Pasanggaran, dan seharusnya berbelok pas di Kecamatan Glenmore (tahunya beloknya di sini) malah keblabasan sampai Banyuwangi yang jaraknya sekitar 60 km dari Glenmore -__-;). Yah karena waktunya juga dah hampir sore, terpaksa langsung tancap gas ke Alas Purwo saja dengan tujuan utama G-Land / Plengkung.
Gerbang TN Alas Purwo
Rute Alas Purwo
Untuk ke Alas Purwo, dari Banyuwangi ambil jalur ke selatan (gampangnya kalau ada petunjuk ambil ke arah Jember), nanti bakalan lewat kecamatan Kabat sama Rogojampi. Di Rogojampi terdapat pertigaan (pertigaan banyak kali), pokoknya ambil ke Selatan atau lurus gampangnya sampai Srono yang nanti bakalan ada petunjuk arah ke Alas Purwo, yaitu belok ke kiri. Ambil jalan itu terus sampai Muncar, belok kanan dan nanti bakalan masuk kecamatan Tegaldlimo yang jalannya waktu itu aduhai (intinya ikuti petunjuk, kalau bingung tinggal tanya :p), ingat ini dua tahun lalu.

Singkatnya setelah sampai Kendalrejo, desa terakhir sebelum Alas Purwo, jalanan bakal menjadi full jalan tanah dengan kanan kiri hutan, kira-kira 20 km sampai masuk gerbang selamat datang. Habis itu bayar retribusi (dah lupa berapa) dan nunjukin KTP, selanjutnya terserah mau ke mana, ikuti saja petunjuk yang ada. Karena sudah sore ya saya langsung menuju tujuan utama, G-Land.
Rambu-rambu di Taman Nasional
Pantai Trianggulasi
Di jalan menuju G-Land, terdapat petunjuk jalan ke arah pantai Trianggulasi, ya karena dekat, mampir sebentar deh. Oh iya jalan di sini sudah aspal dan lumayan mulus.
Di pantai Trianggulasi ini sepi banget (cuma ada saya -___-;). Pasir pantainya putih dan banyak jejak kaki binatang. View-nya luas berupa pantai yang memanjang di teluk Grajagan dan tentunya laut dong. Di pantai ini juga ada bangunan yang sepertinya buat menginap, tapi sepi-sepi aja tuh.
Bangunan di pantai Trianggulasi
Pantai Pancur
Balik lagi ke jalan yang benar, skip skip sampailah di Pancur. Di Pancur ini lebih hidup dari pantai sebelumnya, ada masjid dan pos jaganya juga. Pas parkir motor buat sholat, langsung didatangi petugas, "Mau ke mana? Mau ke Gua? Oh Plengkung, kendaraan cuma sampai sini, jalannya rusak, kalau mau jalan 10 kilometer, nggak mau kan...", dan harapan saya ke Plengkung pun berakhir.... -__-;). Sebenarnya mau-mau aja, tapi kan saya harus lanjut ke tujuan selanjutnya, apalagi ini sudah sore, kalau di tengah jalan ketemu banteng pas gelap... belum di sana penginapannya mahal banjet walau sebenarnya saya bawa uang yang cukup (tapi ngapain). Walau beberapa waktu kemudian saya lihat motor penduduk yang lewat jalan ke arah Plengkung.

Sebenarnya untuk ke G-Land, kalau gak mau jalan bisa sewa mobil, tapi saya kan sendiri, pengunjung lain juga cuma di Pancur. habis itu saya memutuskan nggalau sampai matahari terbenam -___-;)

Berbeda dengan Trianggulasi, pasir pantai di sini lebih kehitaman, Kalau soal pemandangannya sih gak begitu beda, yang berbeda cuma terdapat sungai kecil  dengan batuan kapur di alirannya.

Ketika sedang galau, tiba-tiba datang hiburan berupa seekor rusa yang sedang main ke pantai mau menikmati matahari terbenam (halah). Dan setelah matahari tenggelam di balik awan, langsung sholat dulu dan lanjut balik ke Banyuwangi melewati jalan yang gelap dengan penerangan hanya dari lampu motor saya. Sebenarnya sempet deg-degan juga sih, karena sebelumnya baca di inet kalau pas lewat jalan sekitar situ malam hari ada seekor banteng yang rebahan, tapi untungnya tidak terjadi apa-apa.
Sungai di Pancur
End of Day
Tujuan berikutnya adalah menuju Kawah Ijen. Setelah sampai Banyuwangi saya cari petunjuk arah ke Kawah Ijen tapi gak nemu-nemu, setelah muter-muter akhirnya makan dulu di Ketapang setelah gak maem selain makanan ringan :p. Skip skip skip, akhirnya petunjuknya lihat juga, ternyata tu petunjuk jalannya ketutup sama pohon, wat wet wut menyusuri jalan sepi, akhirnya sampai di kecamatan Licin...
Seekor rusa yang sedang menikmati senja

Tsuzuku...

Sabtu, 13 April 2013

Pantai Pancer Door – Pintu Keluar Grindulu


Tulisan kedua dari serial intermezzo kali ini mengenai pantai yang terletak di Pacitan. Pantai Pancer merupakan pantai yang terletak di sisi timur teluk Pacitan dan masih bersebelahan dengan pantainya orang Pacitan, Teleng Ria. Pancer terletak di Ploso, Kecamatan Pacitan, Pacitan, Jatim. Secara astronomis, pantai ini terletak pada -8.230833333, 111.1030556.

Secara pribadi, saya suka pantai ini, karena pantai ini menyajikan pemandangan yang lumayan ditambah lokasi yang cukup sejuk karena adanya pohon-pohon cemara udang di pantai ini, dan akan lebih bagus jika datang pada saat yang tepat. Mengapa saya katakana pada saat yang tepat, karena warna air di pantai ini tergantung oleh warna air dari sungai Grindulu. Ketika Grindulu tidak membawa material tanah dari hulunya, maka warna airnya benar-benar menyejukkan mata, namun ketika tanah telah terbawa, apalah daya kita hanya bisa melihatnya dan merasa harus menuju ke pantai sebelah :p.
Green Pancer
Pantai ini cukup terkenal terutama bagi para peselancar. Peselancar dari luar negeri pun berdatangan ke pantai ini, mungkin sekalian menjajal ombak di pantai Srau dan pantai Watukarung di sebelah barat. Sebenarnya pertama kali saya ingin datang kemari karena saya ingin mencoba berselancar, tapi ternyata kok gak ada yang nyewainpapan selancar  ya :p. Pas kesana juga  ada yang sedang berselancar, tapi sayangnya cuma bawa poket yang zoom-nya standar-standar saja.
Seorang Peselancar
Saya tidak tahu apakah dikenakan retribusi masuk ke pantai ini atau tidak, tapi sepertinya sih ada karena di jalan ada semacam pos jaga. Pas pertama ke sana saya asal nyelonong ngikutin motor di depan saya yang berhenti di semacam pos tapi saya malah lanjut terus dengan sedikit rasa bersalah (doh). Pas kedua kalinya saya ke sana saya berhenti di depan pos, tapi ada ibu-ibu yang bertanya tempat terus lanjut jalan, la saya jadi bingung karena saya benar-benar gak ditarik apa-apa padahal sudah berhenti dan orangnya tahu, yah mungkin dikira ngikutin ibunya :p.

Jalan beraspal hanya sampai di tengah-tengah (bisa lihat-lihat pantai dulu) dan dilanjut dengan jalan tanah. Di jalan tanah ini banyak kerbau yang diikat di pohon kelapa dan waktu itu ada kerbau yang talinya melintang di tengah jalan sempit yang akan saya lalui. Sempat mikir mau lewat ato ganti jalur, karena mikir ni kerbau kalau tiba-tiba gerak menjauh bisa-bisa motor ane njungkal kena tali -____-;).
Golden Grindulu
Di ujung timur pantai merupakan sungai Grindulu dan merupakan tempat mancing. Di sebelah timur sungai terdapat tebing kapur, namun tebing tersebut sudah bukan termasuk kawasan karst  Gunung Sewu, karena karst Gunung Sewu sendiri memanjang dari Parangtritis di DIY, hingga Teluk Pacitan ini. Jika kita melihat ke utara, kita akan melihat perbukitan yang menjadi hulu sungai Grindulu, seperti Arjosari, Nawangan, dan Tegalombo (saya lebih-lebihkan walau kayaknya sebenarnya tidak terlihat :p). Di pantai ini juga terdapat daerah cukup lapang yang sepertinya enak bukan kemping. Pasir pantai ini kecoklatan dan di dekat aliran sungai agak jemek. Sayangnya pantai ni termasuk jenis pantai yang kotor, penyebabnya karena Grindulu yang mengalir sepanjang 60 an kilometer ini (sebenarnya sih orang yang membuang sampah di DAS Grindulu).

Sabtu, 23 Maret 2013

Pantai Ketawang – Bekas Tambang yang Sunyi



Sebenarnya banyak tempat yang telah saya kunjungi (gak banyak-banyak juga sih, juga cuma daerah dekat-dekat) tapi di blog ini 50 tulisan pun belum ada padahal dah beberapa tahun berjalan, entah karena saya yang malas menulis atau karena saya tidak terlalu suka menulis tempat-tempat yang dah banyak infonya di dunia maya (pengecualian untuk tulisan awal karena masih coba-coba dan beberapa yang gak di awal :p).

Pantai Ketawang terletak di dusun Ketawang, desa Ketawangrejo, kecamatan Grabag, Purworejo. Tetapi tatkala saya browsing-browsing di inet, pantai Ketawang disebut juga dengan pantai Jetis, padahal Jetis sendiri merupakan nama dusun di desa Patutrejo yang terletak di sebelah timur desa Ketawangrejo. Usut punya usut setelah saya lihat di suatu peta, ternyata kedua dusun tersebut juga saling berbatasan, sehingga kemungkinan kedua pantai tersebut juga sulit untuk dicari batasnya. Lokasi secara astronomis terletak pada 7.849166667S, 109.895E

Double Grade
Untuk ke pantai ini yang paling mudah dari Kutoarjo tinggal menuju stasiun dan terus ikuti jalan ke selatan hingga jalan Daendels dan ikuti lagi jalan ke selatan hingga ke pantai. Jika lewat jalan Daendels dari Kebumen atau Jogja tinggal menuju bagian Purworejo yang jalannya dah acak kadut dan sampai nemu petunjuk ke Ketawang. Bisa juga lewat jalan sebelum plang ke Ketawang (dari arah Jogja) yang nanti melewati gerbang dengan tulisan selamat datang di pantai Jetis, tinggal mengikuti jalan paving hingga pantai.

Di pantai ini sudah ada tempat parkir, tempat makan, dan tiada retribusi. Jenis pasir di pantai ini adalah pasir besi yang hitam, dan ketika saya membaca beberapa plang di jalan masuk, sepertinya dulu pantai ini menjadi tempat menambang pasir besi tapi sekarang sudah tidak lagi dan sekarang sedang direklamasi. Pantai ini menjadi spot mancing pasiran dengan pancingnya yang panjang-panjang dan saya hanya membawa tripot yang saya panjangkan kaki-kakinya :p. Selain itu juga terdapat payung-payung buat tempat berteduh dan seperti bekas/mau dibikin kolam renang (?) yang hanya berupa cerukan saja.

Kali dari rawa
Kalau masalah pemandangan pantai ini menurut saya biasa-biasa saja. Kalau cuma mau menikmati sore atau ingin menikmati angin semilir ya masih ok lah. Dari pantai ini kita bisa melihat pegunungan sewu dan menoreh di sebelah timur dan karst gombong di sebelah barat. Yang paling menyita perhatian mata saya adalah adanya mercusuar yang lokasinya cukup dekat, sekitar beberapa ratus meter barat laut dari pantai. Ketika menuju ke mercusuar, saya menggunakan jalan pasir yang menuju ke barat yang berada di ujung jalan paving (mobil gak bisa tembus), dan ternyata di tengah jalan, jalan ini dibelah oleh sungai kecil dan saya harus melewati sungai tersebut tanpa jembatan, kira-kira sih dalamnya cuma 30 cm (gak separah banjir Jakarta kok :p).

Mercusuar ini terletak di tengah rawa-rawa  yang sudah dimanfaatkan sebagai kolam ikan dan lahan bercocok tanam. Di tempat ini sudah ditulisi “dilarang memancing, ikan dipelihara”, tapi banyak orang yang tetap memancing di sana -___-;). Mercusuar ini cukup tinggi dengan banyaknya jumlah jendela, tapi sayangnya saya tidak masuk ke dalamnya. Kalau menurut saya, bangunan-bangunan tinggi itu bagusnya kalau dilihat dari bawah karena terlihat itu bangunan apa, kecuali kalau di dalam bangunan itu ada sesuatu yang menarik, atau mau main bungee jumping :p.
Mercusuar

Senin, 18 Februari 2013

Pantai Pagak - Pelelangan yang Terlupakan



Sebelum ini saya belum pernah mengulas mengenai pantai yang mempunyai pasir berwarna hitam karena menurut saya kebanyakan pantai dengan pasir setipe ini biasa saja, pantainya panjang, batas dengan pantai sebelahnya tidak begitu jelas, dan pasirnya mengandung biji besi. Terlepas dari itu semua, beberapa pantai pasir hitam kadang memiliki sesuatu yang menarik sehingga lebih unik disbanding pantai sejenis lainnya (sebenarnya yang pasir putih juga sama saja :p, tapi lebih enak dipandang mata). Pantai Pagak terletak di desa Pagak, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah atau pada koordinat 7.86444 S, 109.94333 E.

Untuk menuju ke pantai ini lumayan susah, jalannya sih gak begitu bagus tapi masih enak untuk dilewati, tapi tidak ada petunjuk yang jelas untuk menuju desa ini sehingga lumayan membingungkan. Paling gampang ya lewat jalan daendels sampai ke desa Wonosari, Pagak terletak di selatan Wonosari. Jalan di daerah ini masih berupa aspal rusak. Kalau sudah sampai Wonosari tinggal tanya-tanya saja karena daerahnya berupa persawahan jadi agak sulit membedakannya. Rute lain bisa lewat Jatimalang, dari pertigaan masjid tinggal ke arah timur saja sampai beberapa kilometer yang akan sampai ke Pagak.

Home Alone
Karena di pantai ini sudah dibangun tempat pelelangan ikan, dipikiran saya tempat ini bisa dilalui oleh mobil, sehingga jalannya ya lumayan lebar lah, tapi nyatanya untuk mencapai lokasi ini tidak bisa menggunakan mobil, dan mobil pun hanya bisa diparkir di daerah perkampungan setempat. Dari desa menuju ke pantai, kita akan melalui jembatan kayu yang menyeberangi rawa-rawa. Waktu ke sini tempat ini sedang digunakan untuk mancing oleh anak-anak desa. Seratus dua ratus meter kemudian sampailah di pantai yang ditandai dengan bangunan TPI. TPI di pantai ini sudah tidak beroperasi lagi karena satu dua alasan. Waktu membaca berita dari internet, di pantai ini terdapat makam tanpa nama tapi ya saya tidak terlalu memikirkan, hanya menebak-nebak saja di mana lokasinya.

Yang saya sukai dari pantai ini adalah pantai ini sepi, waktu ke sana hanya ada sekitar 5 orang dan itu pun lokasinya terpencar-pencar jauh, ada yang sedang memancing, mencari tanaman, dan lain-lain. Selain itu pantai ini juga gratis, tidak ada biaya parkir apalagi retribusi masuk. Dan yang paling saya sukai adalah pemandangannya cukup bagus menurut saya, dan saya merasa datang di waktu yang tepat. Hanya ada empat bangunan di pantai ini, namun tidak seperti di pantai lainnya, bangunan di sini malah menambah indah pemandangan pantai. Kalau masalah pemandangan pantai dan laut, saya rasa pemandangannya standar-standar saja, pasir kemudian diteruskan dengan laut. Tapi pemandangan di sini membangkitkan memori saya akan imajinasi tempat yang ingin saya kunjungi, yaitu suatu rumah (sendirian) yang berada di tengah padang rumput dan tidak jauh di sana terdapat laut. Namun dalam kasus di pantai ini tidak ada padang rumput, melainkan  sesuatu yang mirip lah.

Tempat Pelelangan Ikan
Tanaman yang mendominasi berupa Leguminoceae dan tanaman yang bunga(?)nya berduri mirip landak laut yang kalau kena kulit terasa ditusuk-tusuk jarum (entah namanya, tapi bukan pandan-pandanan). Karena persebarannya merata, tanaman tersebut membentuk kombinasi yang setidaknya membuat mirip padang rumput (dipas-pasin :p). Waktu ke sana, langit utara sudah terlihat mendung serta terlihat beberapa tempat sudah hujan dan angin terlihat membawa awan menuju ke selatan (anginnya ya gak kelihatan lah). Namun menurut saya pemandangannya jadi lebih ng… eksotik :p. Biasanya sih kalau ke pantai dan sudah terlihat tanda-tanda awan hitam bikin hati dan pikiran @#$%! dan bikin semuanya bubar saja, tapi waktu itu kok saya merasa agak senang ya (aneh banget). Kalau dibandingkan dengan pantai-pantai lain di Purworejo yang pernah saya kunjungi apalagi yang sudah dikelola seperti pantai Jatimalang (saya merasa kok nggak banget ya dengan pantai ini), pantai ini menurut saya lebih bagus dari pada pantai lain di sekitarnya.

Jumat, 19 Agustus 2011

Tour de Jatim, Day III, Part I: Papuma – Kalibaru


Hari ini diawali dengan kedinginan di surau. Melihat jam dan ternyata masih jam tiga pagi, langsung saja kuambil sb agar tidak kedinginan. Rencananya perjalanan dilanjutkan waktu subuh tiba dan alarm pun sudah diset pada jam setengah lima. Ternyata adzan subuh sudah berkumandang jam 4 pagi di Jember, langsung saja aku beres-beres merapikan barang. Karena masih disekitar sawah dan gelap, arah perjalanan pun hanya terus dilanjutkan saja ke timur hingga akhirnya menemukan perkampungan dan sampai di jalan besar. Di jalan besar ini aku hanya bolak-balik memastikan apakah jalannya benar atau salah. Ternyata jalan yang diambil adalah jalan yang benar. Di jalan kulihat di depan saja berkabut, pantas saja malamnya terasa dingin, secara dipikaranku sudah terpatri kalau dataran rendah itu panas :p.

Akhirnya sampai juga di pertigaan yang ada petunjuk arah ke pantai Papuma. Akan tetapi ketika berbelok jalannya ditutup palang. Karena kebingungan jalan ditutup, akhirnya mencari info di internet dan mendapat pencerahan apabila untuk menuju Papuma bisa masuk melalui Pantai Watu Ulo. Perjalanan dilanjutkan ke selatan dan akhirnya sampai ke Watu Ulo dan dilanjutkan ke Papuma.
Papuma
Pantai Watu Ulo merupakan pantai yang berada di sebelah timur pantai Papuma dan mempunyai pasir warna hitam. Sepertinya jalan yang tadi menunjuk ke Papuma adalah jalan langsung agar pengunjung tidak membayar retribusi dua kali untuk masuk ke Watu Ulo dan ke Papuma, tapi tentu saja karena masih pagi aku tidak membayar keduanya :D. Dari pos retribusi Papuma, jalan selanjutnya berupa jalan menanjak menaiki bukit dan nantinya turun ke pantai. Ketika menurun akan terlihat pemandangan pantai Papuma yang berada di sebelah timur.

Papuma terletak di kecamatan Ambulu dan Wuluhan, Kabupaten Jember. Papuma merupakan akronim dari Pasir Putih Malikan. Walau pantai di sebelahnya yaitu Watu Ulo berpasir hitam, namun Pantai Papuma ini berpasir putih. Papuma merupakan pantai yang berupa tanjung. Pantainya terletak di sebelah barat dan timur tanjung ini. Ketika sampai di area pantai sebelah timur, aku langsung saja ikutan parkir di dekat pantai mengikuti pengunjung lain. Saat itu kapal-kapal nelayan sedang berlabuh setelah menangkap ikan. Pagi itu pantai tersebut sudah ramai, bahkan ada banyak fotografer berdatangan. Membandingkan kamera orang-orang itu yang DSLR yang kadang dilengkapi perangkat tambahan dengan kameraku yang ya begitulah membuat agak sirik, apalagi waktu itu juga ada anak kecil yang menggunakan DSLR XD.

Kapal-kapal nelayan di sana cukup unik. Dibandingkan kapal-kapal di daerah DIY yang cuma berbentuk trapesium saja, kapal di daerah tersebut mempunyai hiasan-hiasan yang indah dengan bagian haluan lebih mengangkat daripada bagian buritan. Karena ingin mencari tempat yang cukup sepi, membuatku pergi menyusuri pantai hingga naik ke ujung tanjung yang di atasnya terdapat gardu pandang. Dari gardu pandang tersebut bisa dilihat pantai sebelah barat dan timur tanjung, bahkan sepertinya tempat ini cocok sekali untuk melihat matahari terbit dan terbenam yang jarang dimiliki pantai lain di selatan Jawa.
Kapal nelayan saat matahari terbit
Di lokasi ini karena masih ngantuk aku berniat untuk tidur, tapi karena mudah untuk didatangi orang, jadi mencari tempat disemak-semak sambil melihat laut untuk tidur. Di sini juga aku memakan buah yang dikasih di Kediri J. Beberapa saat kemudian setelah bangun, kulanjutkan menyusuri pantai yang sebelah barat. Pantai di sebelah barat lebih sepi daripada di sebelah timur, di pantai ini juga tidak ada kapal nelayan karena lebih banyak karangnya. Di pantai ini kadang terlihat monyet yang menikmati sampah yang dibuang manusia. Untungnya monyet-monyet ini masih penakut dan kebutuhan perutnya masih terjamin (Biasanya kalau hewan kelaparan sudah hilang rasa takutnya). Batu-batu karang karang di sini cukup bagus, karena batu-batunya besar-besar dan mungkin sudah bisa disebut pulau. Dari jogja samapai tempat ini ternyata sudah melebihi 500 km. 
Pulau Kajang
Di tempat ini terjadi kebodohan, kamera dengan lensa masih terbuka kuletakkan di dekat pasir, dan tiba-tiba kamera tersebut jatuh. Pasir yang masih semi basah itu penuh menutupi lensa kameraku dan menempel, tidaaaaaaaaak. Dengan hati-hati kubersihkan lensa dari pasir, tapi tetap saja ada pasir yang masuk ke balik lensa dan menempel di sana. Setelah perjuangan penuh keputus asaan hingga menggepuk-gepuk kamera, akhirnya pasir-pasir tersebut berhasil dibersihkan walau masih ada sedikit di bagian yang sulit. Karena matahari sudah cukup naik, akhirnya aku kembali ke tempat parkir. Melihat air laut yang cukup tenang membuatku ingin bermain air, tapi sayangnya tidak ada orang lain yang melakukannya jadi tidak bisa ikut-ikutan. Ketika akan keluar dengan motor, ternyata jalan yang tadi dimasuki sudah dihalang-halangi bambu, terpaksa susah payah melewatkan motor melalui parit.

Jalan keluar dari pantai ini sama seperti jalan masuknya, tapi nanti melewati jalan yang ketika pagi ditutup. Di jalan ini terlihat pemandangan yang cukup aneh. Di sepanjang jalan ditanami pohon jati baik di kiri ataupun di kanan jalan. Namun anehnya pohon jati sebelah kiri berdaun hijau, sedangkan sebelah kanan sudah meranggas terpisahkan oleh jalan, tentunya hal ini tidak terjadi di semua titik. Karena tidak membayar, jadi saya tidak tahu biaya retribusi ke pantai ini, bayar parkir pun tidak (mungkin standar tempat wisata). Perjalanan dilanjutkan ke arah Ambulu dan dilanjutkan ke arah Jember. Sepertinya jalan dari sini lebih mudah untuk mencapai pantai Papuma dan mungkin sudah ada petunjuk jelas, tidak seperti melewati sawah (-_-;). Saya sama sekali tidak melewati kota Jember karena langsung pakai jalan sidatan ke Banyuwangi. Padahal dua minggu setelah dari sini diadakan Jember Fashion Carnival yang kelihatannya lebih megah dari Solo Batik Carnival (padahal tidak nonton waktu ke Solo), karena pakaiannya lebih berjumbai-jumbai.
Pohon Jati
Jalan Jember – Banyuwangi awalnya biasa-biasa saja, tapi akhirnya kita akan melalui jalan menanjak berkelak-kelok dengan pinggiran hutan yang untungnya jalannya lebar. Sayangnya di jalan ini banyak pengemis yang meminta-minta seperti di daerah Alas Roban dan jalan Buntu – Banyumas. Yang meminta-minta sih kebanyakan yang wanita dengan membawa anaknya dan yang sudah tua. Kalau ngemis berjamaah gini melihatnya saja sudah memprihatinkan, padahal daerah lain yang masih sama pulaunya aja (ex: Gunungkidul) banyak wanita bahkan yang sudah tua berjalan jauh dengan membawa kayu kok malah di sini pada minta-minta, apa karena jalan tersebut jalan utama yang ramai kendaraan sehingga meminta-minta lebih menguntungkan daripada mengangkut kayu bakar? (maaf aku tidak berada di posisi mereka)

Di jalan ini juga pertama kalinya aku melihat terowongan kereta api walau cuma dari atas. Sepertinya itu adalah terowongan kereta satu-satunya di pulau Jawa (kalau ada yang lain tolong kasih tahu).  Di jalanan turun itu juga ada restaurant yang bernuansa kopi, tapi sepertinya agak mahal :p. Setelah turun, tempat pertama yang akan dilalui adalah Kalibaru. Di Kalibaru ini aku berhenti sejenak untuk melaksanakan sholat Jumat. Karena Banyuwangi merupakan salah satu kabupaten paling timur WIB makanya khotbah sholat Jumat sudah dimulai jam setengah dua belas dan berakhir jam dua belas siang.

Selasa, 21 Juni 2011

Pantai Klayar

Pantai Klayar merupakan pantai yang terletak di desa Sendang, kecamatan Donorojo, kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Pantai ini termasuk pantai yang masih cukup sepi oleh pengunjung apalagi belum adanya transportasi umum yang menuju ke pantai ini (maklum jalan yang harus dilalui untuk menuju pantai ini lumayan gak enak). Untuk menuju pantai ini bisa dari berbagai arah, namun akhirnya akan sampai ke satu titik temu.

Jika berasal dari arah Yogyakarta, kita bisa menggunakan jalur ke Wonosari – Pracimantoro – Giribelah. Dari Giribelah kita bisa lurus kea rah Pacitan atau ke selatan kea rah Paranggupito. Jalan Pracimantoro ke Giribelah merupakan jalan yang rusak, bergelombang, berlobang-lobang, dan penuh debu jadi berhati-hatilah walaupun jalan ini cukup sepi. Jika melewati Paranggupito, sesampainya di Paranggupito kita ambil ke kiri ke arah pantai Nampu. Beberapa saat sebelum mencapai pantai Nampu, akan ada pertigaan yang apabila ke kiri akan menuju Jawa Timur (ada penunjuknya kok, dulu :p), ambil jalan itu lurus terus sampai ke pertigaan Kalak dan ambil kanan. Beberapa kilo dari pertigaan Kalak nanti aka nada pertigaan lagi yang apabila lurus akan menuju sungai Kladen / dusun Maron dan apabila ke kiri akan menuju pantai Klayar.
Pantai Klayar dari tebing sebelah Barat
 Apabila dari Giribelah kita ambil lurus maka ya tinggal lurus saja sampai masuk ke Jawa Timur. Dari sana nanti akan ada petunjuk yang mengarah ke pantai Klayar (ke kanan). Ikuti saja jalan tersebut sampai Kalak. Kalau ada persimpangan dan kurang yakin arah tanya saja penduduk karena pertama kali saya ke pantai Klayar juga memakai jalur ini dan merasa salah jalan walau sebenarnya benar. Atau jika tidak, kita bisa menggunakan jalur Goa Gong. Pokoknya sesampai daerah Goa Gong ambil jalan lurus saja sampai nanti sampai di perempatan Kalak, lalu belok kiri sampai deh di pertigaannya dan ikuti seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Jika kita dari arah Solo kita bisa menggunakan jalur ke Wonogiri, dari Wonogiri kita bisa menuju ke selatan ke Pracimantoro atau ke timur ke Giriwoyo. Dari Giriwoyo kita bisa ke selatan ke Giri Belah (tidak disarankan karena sama saja dengan memutari waduk Gajahmungkur) atau naik ke arah Donorojo. Jalan naiknya sudah bagus dan lebar dengan kendaraan yang tidak terlalu banyak. Dari atas kita bisa melihat waduk Gajahmungkur  dan gunung-gunung di sebelah utara (gak tahu namanya). Dari jalan tersebut kita lurus saja sampai menuju ke Goa Gong. Dan ikuti petunjuk seperti yang dituliskan di atas.

Jika kita dari arah Pacitan, kita bisa mengambil jalan menuju Punung dan ke arah Goa Gong, atau menuju ke arah pantai Srau. Dari pertigaan sebelum masuk ke pantai Srau, kita lurus menuju kea rah pantai Watu Karung, lalu lurus lagi ikuti jalan yang akhirnya akan ada jalan menurun menuju sungai Kladen. Ikuti terus sampai pertigaan menuju pantai Klayar.

Hampir semua jalan yang ada merupakan jalan yang sempit dengan pinggiran jurang dan bukit serta jalan naik turun. Pokoknya kalau belum terbiasa harus sangat berhati-hati. Untungnya jalan di dusun terakhir menuju ke pantai sudah bagus tidak seperti pertama kali saya ke sana tahun 2010 awal yang jalannya super rusak. Dari sekian jalan yang ada, jalan yang menurut saya paling enak adalah jalan dari Paranggupito. Jika belum pernah melewati jalan-jalan tersebut dan tidak ada teman yang tahu juga, lebih baik lewat jalan Goa Gong, karena ada petunjuk kilometer di jalan sehingga kita bisa mengetahui tinggal berapa kilometer lagi kita sampai ke Kalak (tentu saja, mana ada yang sampai pantai). Tentunya hal ini dapat menambah semangat karena jarak tinggal … km lagi, apalagi ditambah jalan sempit naik turun berlobang-lobang samping jurang yang dapat menurunkan mental :p.
Karang di waktu senja
Biaya retribusi cukup murah (lupa berapa), tapi sepertinya tidak dijaga tiap hari ditambah tidak ada biaya parkir (entah sekarang, karena terakhir terlihat pantai itu sedang dibangun). Dari tiga kali ke sana, dua kali yang pertama selalu bayar retribusi padahal hanya ada saya dan motor saja, tapi kesananya hari minggu. Tapi yang ketiga walau ke sana empat orang dua motor, kami tidak membayar retribusi sepersenpun dan tidak ada yang menjaga, mungkin karena kesananya hari Jumat :p. Di sana sudah ada kamar mandi dan mushola, dan juga ada yang berjualan makanan.

Pasir pantainya berwarna putih, namun di suatu lokasi ada yang berwarna hitam, dan pasir hitam ini menempel di kaki. Terdapat sungai yang mengalir menuju ke laut dan biasanya digunakan untuk memandikan sapi. Ombak di pantai ini cukup besar walau ada yang kurang besar juga (yang tenang malah kelihatan kurang asik bermain air, yang besar terlalu berbahaya buat main air :p). Objek utama pantai ini ya di sisi timur dari pantai dengan bentukan batu yang eksotis. Di balik batu tersebut terdapat seruling laut, semacam air mancur alami yang menyemburkan air laut yang masuk ke lubang. Biasanya orang cuma sampai di tempat ini, namun kalau ke timur dan ditambah sedikit usaha, kita akan melihat kolam (?) yang cukup dalam dan di dalamnya terdapat ikan-ikan yang terjebak yang sumber airnya dari ombak yang ada (jangan dipikirkan berlebih, sebenarnya biasa saja).
Seruling Laut
Penduduk sekitar cukup perhatian, karena sewaktu saya ke sana, saat itu ombak sedang besar-besarnya dan ada orang yang dekat-dekat dengan karang, penduduk di sana ada yang meniup peluit supaya jangan terlalu dekat ke arah laut. Tapi saya tidak tahu (saya ditiupin juga) sampai saya minum kelapa muda di salah satu warung dan ada orang yang berdiri di dekat karang. Di sebelah barat pantai kita bisa naik bukit dan melihat pemandangan dari atas (tempat ini tempat paling sering digunakan untuk mojok :p).
Klayar

Rabu, 01 Desember 2010

Pantai Timang

Pantai Timang merupakan sebuah pantai yang terletak di desa Purwodadi, kecamatan Tepus, kabupaten Gunungkidul. Pantai ini terletak di dekat pantai Siung, namun akses jalan untuk menuju ke pantai ini lebih sulit daripada ke pantai Siung. Tidak ada yang begitu istimewa dengan pantai Timang ini. Pantainya seperti kebanyakan pantai yang berada di Gunungkidul yang berpasir putih, tidak cocok untuk berenang karena cukup dangkal sampai ke tengah apalagi jika sedang surut (tapi kalau cuma main air bisa saja). Ditambah pantainya cukup sempit tidak begitu lebar.

Pantai Timang
Medan yang harus dilewati untuk menuju pantai ini tidak mudah. Setelah melewati jalan beraspal khas daerah Gunungkidul yang naik turun dan sempit, selanjutnya adalah melewati jalan cor-coran yang dibagi menjadi dua buah jalur yang hanya muat untuk satu buah mobil. Setelah beberapa kilometer melewati jalan cor-coran (sekitar 1-2 km) yang akan berakhir di dusun terakhir (perkampungannya) maka akan ditemui jalan yang benar-benar bisa merusak kendaraan. Sebelum memasuki jalan tersebut, ada peringatan untuk mengutamakan selamat dengan lambang tengkorak di papannya (membuat serem aja).

Jalan terakhir yang harus dilewati adalah berupa jalan yang ditata dari batu. Jalan tersebut bukanlah terdiri dari batu-batu berwarna hitam yang sudah ditata dengan rapi, melainkan batu-batu karang (atau kapur ???) yang berwarna putih dan letaknya benar-benar tidak teratur (beberapa teratur kok, namanya aja ada yang membuat). Kalau jalannya lurus saja sebenarnya tidak masalah, yang menjadi masalah adalah ada beberapa bagian jalan yang jalannya menurun cukup miring ditambah adanya batu yang agak nongol di tengah dengan lokasi yang acak tak menentu. Hal tersebut semakin menjadi-jadi karena ditambah badan yang seperti jungkat-jungkit yang didorong oleh beban (teman yang membonceng) dari belakang.

Apa yang membuat saya untuk berkunjung ke pantai yang menurutnya biasa saja (maklum dah terlalu sering ke pantai-pantai di daerah tersebut) dan memerlukan pengorbanan yang cukup banyak? Sebenarnya yang saya cari bukanlah pantainya, melainkan pulau yang ada di dekat pantai tersebut. Ketika laut sudah terlihat, pulau yang dimaksud belumlah terlihat. Ketika sampai di tempat parkir pun (sebenarnya tidak ada tempat parkir, jadi parkirnya di ujung jalan yang ada) pulau yang dimaksud tetap tidak terlihat. Ketika naik ke puncak bukit terdekat yang ada tempat berteduh pun pulau tersebut tidak terlihat. Untuk melihat pulau tersebut haruslah lewat pantai (tapi kurang bagus) atau di sisi bukit (jangan langsung menuju ke puncak bukit kalau tidak mau capek).

Pulau Timang (saya sebut Pulau Timang walau sepertinya penduduk sekitar punya sebutan sendiri) merupakan pulau karang yang tandus yang cukup kecil. Kalau pulau karang yang kecil sih saya juga sering melihatnya, yang istimewa adalah adanya alat yang menghubungkan pulau Jawa dengan pulau Timang ini (walau sebenarnya masih bisa disebut bagian Pulau Jawa). Alat yang dimaksud bukanlah jembatan, tapi kereta (kursi) gantung yang mirip dengan yang ada di area permainan ski. Bedanya kalau yang ini digerakkan dengan tenaga manusia dan tingkat keamanannya sangat tidak terjamin.

Tentu saja ketika sampai di sini saya ingin segera menaikinya tapi bingung cara menggerakannya. Dicoba ditarik kok tidak bergerak, mencari-cari sesuatu yang bisa membuatnya bergerak kok tidak ada, terpaksa harus bertanya dengan orang yang ada di sekitar situ dan turun ke pantai. Di pantai terdapat ibu-ibu yang sedang mencari kayu. Ibu itu bercerita tentang mahasiswa UGM yang beberapa waktu sebelumnya KKN di tempat tersebut dan bercerita tentang mbak KKN (lupa namanya) yang katanya cantik, baik (katanya suka memberi baju dll yang dibawa dari rumahnya), dan mau makan tiwul. Ibu-ibu itu bercerita seolah-olah saya kenal dengan mbak-mbak tersebut dan membanggakannya (tidak seperti KKN saya :p).
Kursi Gantung

Setelah bertanya tentang kursi gantung, ternyata ya memang harus ditarik sendiri. Ibu itu juga menceritakan bahwa yang sering membantu menarik pernah jatuh dari atas tebing dan selamat bisa naik ke atas lagi. Setelah balik dan dicoba lagi ternyata memang bisa bergerak tapi dengan tenaga ekstra (berat). Karena benar-benar bisa digerakkan, saya meminta teman saya untuk membantu menariknya tapi tidak bersedia membantu karena takut terjadi apa-apa terhadap saya. Tapi karena ego saya yang masih besar, saya tetap memaksanya dan tetap tidak mau, sehingga diputuskan untuk menanyakan bapak penjaganya. Dan ternyata penjaganya bilang kalau kursi itu sudah rusak (menghancurkan harapan saya) kalau ditarik ke selatan terasa berat, memang katrolnya sudah berkarat (maklum terkena garam terus). Karena hal tersebut, terpaksa saya harus pulang :-(.

Walau bilang rusak, tapi karena rusaknya cuma karena berat untuk menariknya (tidak rusak beneran), membuat saya ingin ke sana lagi untuk benar-benar mencoba kursi tersebut. Kalau ingin pergi ke tempat ini siapkan kendaraan dalam kondisi prima dan berharap ban tidak bocor di jalan pantainya karena harus berjalan balik cukup jauh (anggap saja 4 km). Selain itu berharap juga tidak hujan atau sehabis hujan, karena batu-batu tersebut cukup licin (pas pulang saya kehujanan, untungnya sudah memasuki dusun terakhir walau jalannya masih berbatu-batu). Dan karena terlalu sering menjaga rem di jalan berbatu jari tangan saya sampai sulit untuk ditekuk buat ngerem.
Jalan menuju pantai

Jumat, 12 November 2010

Jalan-Jalan Geje - Part I: Pantai Srau

Niat awalnya adalah pergi ke pantai Srau dan pantai Klayar yang ada di kabupaten Pacitan. Jalan ke pantai Srau yang dilalui adalah dari Yogyakarta -Gunung Kidul - Wonogiri - Pacitan. Jalan pegunungan Sewu sudah sering kulalui, jadi tidak ada masalah atau keterkejutan. Sesampainya di Giri Belah (Kabupaten Wonogiri), saya mengambil arah selatan melalui Paranggupito. Jika menuju pantai Klayar, arah ini lebih dekat daripada melalui Pacitan (lupa nama daerahnya) langsung. Tujuan pertama saya adalah pantai Srau dulu yang lebih jauh, setelahnya menuju pantai Klayar dan langsung pulang ke Yogyakarta. Ketika saya melihat peta (google map) saya lihat memang pantai Srau cukup jauh dari pantai Klayar, tapi menurut saya tidak masalah.

Lubang yang dicari
Jalan dari persimpangan pantai Klayar ke pantai Srau cukup membuat saya pusing karena ada bagian jalan yang menurun dan berkelok-kelok serta jalan yang kurang bagus yang ternyata di bawahnya adalah sungai dan setelah itu harus menaiki tanjakan yang cukup tajam. Di tanjakan ini ada bapak-bapak yang harus meninggalkan istri dan anaknya di bawah karena motornya tidak kuat dan kemudian menjemputnya dengan berjalan kaki.

Tiket masuk ke pantai Srau cukup murah, hanya Rp 2000 / orang dan Rp 1000 / motor tanpa harus membayar parkir lagi. Motivasi saya ke pantai ini adalah karena melihat foto di mana terdapat karang yang berlubang di tengahnya dan terletak di tepi pantai (Biasanya yang saya lihat ada di tengah laut). Pantainya cukup bagus, bersih di bagian yang dekat dengan air dan di bagian yang dekat dengan tanah berserakan sampah ranting dan kelapa (hehe).

Tentu saja yang pertama-tama saya tuju adalah karang  berlubang, namun setelah saya susuri tidak terlihat adanya karang tersebut yang membuat saya merasa tertipu oleh foto di Internet. Pantai ini juga dipakai untuk tempat berselancar, tapi saya berpikir ombaknya aja cuma di beberapa bagian pantai, kecil pula, bagaimana mau berselancar. Waktu di sana terlihat bule yang mengendarai motor bebek membawa papan selancar namun kesulitan mengendarai motor (doh).

Pulau-pulau di Pantai Srau
Setelah sana-sini mencari tidak menemukan apa yang dicari, sebelum  cabut saya memutuskan untuk naik tebing dahulu, masih berharap ada pantai yang lain. Beberapa ratus meter sudah dilalui tapi cuma ada tebing dengan jalanan yang cukup tertata. Untungnya dari tebing tersebut saya cukup terhibur karena bisa melihat pulau-pulau kecil. Di bukit ini juga terdapat gardu pandang (atau tempat buat terjun :p) yang bisa melihat nelayan-nelayan ke pulau-pulau kecil mengambili sesuatu, mungkin lobster atau kepiting.
Pantai Srau
Setiap saya ke pantai Selatan Jawa, saya selalu berpikir bahwa pantai yang ada menghadap ke selatan, namun pantai Srau ini ternyata menghadap ke timur (baru sadar ketika sholat). Tidak seperti pantai-pantai di Gunung Kidul yang setiap pantai diberi nama, pantai di Pacitan ini merupakan gugusan dari beberapa pantai.
Sewaktu mau balik, saya berpikir untuk melalui jalan yang lain, ternyata insting saya tepat karena saya menemukan tempat yang ingin saya tuju (tidak terlihat dari bukit yang saya naiki). Setelah mengambil gambar, langsung melanjutkan perjalanan, ternyata jalannya tidak tembus, dan berakhir di pantai yang  sama.
Niat semula ke pantai Klayar pupus sudah karena ada request dari teman untuk ke kota Pacitan. Pikir-pikir saya pernah ke Klayar dan belum pernah ke Pacitan, ya akhirnya saya setujui juga (hehe).






~ to be continued ~