Tampilkan postingan dengan label Gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gunung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Agustus 2013

Gunung Merapi via Deles



Gunung Merapi merupakan gunung yang wilayahnya berada di 2 provinsi dan 4 Kabupaten, Jawa Tengah (Boyolali, Klaten, Magelang) dan DIY (Sleman). Tinggi gunung ini pun berubah-ubah seiring dengan aktivitas dari gunung Merapi dikarenakan lokasi kawah yang berada di sekitar puncak. Tinggi dari gunung ini yang biasa disebutkan di dunia maya adalah 2965 mdpl, sedangkan pada peta RBI dari foto udara 1993/1994 tingginya hanya 2941 mdpl, dan dari peta Belanda tahun 1939 tinggi gunung tersebut hanya 2911 mdpl.

Gunung Merapi mempunyai beberapa rute pendakian, seperti rute Selo, Babadan, Kinahrejo, Deles, dan Cluntang. Jalur Selo Merupakan jalur paling terkenal, tercepat, terpopuler, dan yang paling gampang, serta jalur paling aman. Jalur Babadan juga lumayan populer (dulu), tapi kemudian jalur ini putus dan sangat sulit untuk dilewati (saya juga belum pernah :p). Jalur Kinahrejo sama nasibnya dengan jalur Babadan yang sudah putus dan menjadi jalur yang berbahaya. Jalur Cluntang... jalur yang aman, tidak terlalu terkena dampak letusan tapi tidak terkenal dan bahkan saya belum pernah membaca catper pendakian dari jalur ini -_-;). Jalur Deles.... baca saja deh :p
Gunung Merapi

Awal Pendakian

Seperti saat mendaki ke Sindoro, saya melakukan pendakian ini dengan 3 personil saja, mbak M dan mas S. Alasan ingin lewat jalur ini karena saya pernah lihat foto di bc Selo dan diceritain kalo jalur ini gak terlalu kena efek letusan. Mengingat jalur ini termasuk jarang dilalui dan belum ada yang pernah, maka saya menyarankan agar mendaki siang hari. Berkumpul di kediaman mas S di daerah Ngaglik, Sleman, kami pun meluncur ke arah Deles dengan 2 sepeda motor. Untuk mencapai Deles sangatlah mudah, paling mudah ya lewat jalan Jogja – Solo, di wilayah Klaten banyak petunjuknya kok, mengingat Deles merupakan tempat wisata. Perjalanan dimulai dari warung bu Mardiyah (?), motor pun dititipkan di sana. Warung ini terletak di dusun Deles di tempat melihat jurang (gak tahu namanya, pokoknya lebih atas dari gua jepang).

Perjalanan di mulai dengan rasa agak malu dikarenakan sepertinya banyak orang (lagi wisata) yang melihat kami. Menyusuri jalan aspal menanjak terus dan akhirnya bingung kapan lewat jalan tanahnya. Usut punya usut ternyata di atas ada basecampnya dan lokasinya dah beda desa -___-;). kalau tahu gini kan dari awal langsung ke basecamp aja gak usah pakai capek-capek lewat jalan aspal ditambah malu :p. Basecampnya ada di Pajegen, desa Tegalmulyo.

Rute Perjalanan

Etape I

Jalur pendakian terdapat di dekat basecamp, melewati sedikit rumah penduduk lalu menyusuri hutan lamtoro dengan sebelah kanan jalur air. Awal-awal masih gampang lah sampai bertemu dengan persimpangan pertama tanpa petunjuk, dipilihlah jalur yang mengarah ke utara naik punggungan, dilihat dari atas, jalur yang satunya mengarah ke punggungan lain. Beberapa saat kemudian menemukan persimpangan lagi yang tanpa petunjuk, dan dipilih yang melalui pinggir sungai dan ketemu simpangan lagi dengan kondisi tanpa petunjuk lagi, kali ini dipilih yang naik punggungan. Setelah itu menyusuri punggungan sampai suatu titik dan jalan menjadi menurun pindah ke punggungan lain dan berakhir bingung :p, walhasil harus balik lagi ke punggungan sebelumnya -___-;). Ternyata sebelum jalan menurun terdapat jalan lurus yang tertutup rerumputan (walah). Beberapa saat kemudian terlihat di bawah terdapat semacam shelter dan terdapat jalan menanjak ke tempat kami, sepertinya jalan yang benar adalah setelah sungai ambil jalan yang satunya. Sepertinya itulah POS I.
Punggungan tipis di sebelah barat (di baliknya ada kali Gendol)

Etape II

Beberapa saat kemudian saya melihat untuk pertama kalinya petunjuk arah bertuliskan GAM (Gabungan Anak Merapi ?), sayangnya tidak berada di persimpangan. Mas S pun berencana kapan-kapan naik lagi dan bikin petunjuk seperti itu, mumpung petunjuknya masih sedikit. Naik naik naik sampai juga di persimpangan yang lagi-lagi tanpa petunjuk -__-;). Pertama ambil lurus, kemudian bingung, karena tidak ingin bernasib seperti sebelumnya balik dan belok ke simpang yang satunya. Ditelusuri jalur tertutup semak-semak, saya sempat ragu tapi masih bisa dilanjutin. Jalan pun menanjak tajam, > 45 derajad, dengan jalur yang gak begitu jelas, pokoknya nanjak. Yang bikin seram adalah sebelah kiri merupakan jurang Kali Woro yang sepertinya > 1 hm, kalau jatuh jangan harap gampang diangkat -___-;). Setelah tanjakan yang melelahkan sampailah di atas dan melihat jalur lain yang sepertinya mengarah ke jalur satunya. Sejurus kemudian sampailah di tempat lumayan bisa buat nge-camp, tapi bukan POS II (tahu setelah searching-searching lagi :p)
Jurang Kali Woro

Etape III

Dari tempat sebelumnya, jalur menjadi agak menurun, kemudian agak belok ke kanan. Jalur yang ada gak begitu terlihat karena tertutup semak-semak dan akhirnya sampai di bawah batu besar. Dari bawah, jalur yang ada adalah naik terus menyeberangi batu (awas licin), setelah itu menanjak lagi -___-;). Skip, skip, skip, sampailah di tempat terbuka cukup satu tenda walau gak begitu terlindung. karena dah gelap diputuskan mendirikan tenda. Lokasi ini adalah tempat in Memoriam dari Heri Wasito. Ketika dah leyeh-leyeh, setelah melihat trek yang tadi, rencana buat bikin petunjuk jalan sepertinya harus diurungkan. Malam pun diakhiri dengan tidur dengan hujan yang turun.

Setelah matahari muncul kembali, ternyata di samping barat tenda masih jurang kali Woro. Siap-siap, beres-beres, skip-skip, jalur yang ada kembali menurun dan naik lagi. Ternyata di bukit yang dinaiki ini, berdirilah (gak ada yang berdiri sih) POS II dengan bangunan antena dan solar sel sebagai tempat mengawasi aktivitas Merapi.
Menyisir punggungan

Etape IV

Dari POS II (dari bawah juga terlihat sebenarnya), terlihat punggungan bukit-bukit berderet hingga Merapi, ya, itulah jalur yang harus dilewati -___-;). Di depan POS II dah menanti punggungan, intinya naik, menyibak-nyibak ilalang yang menutup jalur, kalau gak kuat nanjak pakai dengkul nanjaknya, kalau gak kuat lagi cari pegangan tapi kalau salah dapat pegangan arbei liar yang berduri -___-;). Skip skip skip setelah beberapa tanjakan dan sedikit turunan, jalur berikutnya yang harus dilalui ternyata terkena longsor. Agak buka-buka tanaman buat melewati longsoran yang memang berbahaya jika harus langsung melewati longsoran karena terjalnya lereng. Setelah itu sampailah di punggungan yang lumayan terbuka, tapi tetap saja jalur masih tertutup ilalang -__-;).

Setelah turunan dan tanjakan lagi, sampailah di daerah berbatu. Jalur yang dilalui adalah melalui sisi kiri batu dan di sini adalah vandalisme pertama yang saya lihat. Saya kira di sini adalah tempat watulawang, ternyata bukan (dah banyak berharap -___-;). Sedikit turun dari area batu, langsung dihadapkan dengan tanjakan lagi, dah ketutup, licin, banyak yang berduri, sempit, dan satu-satunya jalur yang ada. Setelah sampai puncak bukit, terlihat tantangan selanjutnya, sebuah bukit sebelum mencapai perbatasan vegetasi. Di tempat ini jugalah lokasi tempat bertemunya jalur Deles dengan jalur Cluntang.
Bukit yang telah dilewati

Etape V

Sedikit turun dengan sebelah kanan jurang sungai yang curam dengan pipa-pipa panjang melintasi sisi-sisi tebing pembatas yang curam yang kadang melewati bekas longsoran kemudian seperti biasa, diikuti dengan tanjakan. Di suatu lokasi, jalur menghilang, pikirnya jalur bakal lewat puncak punggungan lalu turun lagi, ternyata setelah sampai di puncak yang berbatu jalur kembali menghilang walau ada beberapa vandalisme yang membuat asumsi itu adalah jalur yang benar. Mbak M menyarankan menuruni batu, tapi kok agaknya meragukan, batunya kelihatan tinggi, dan ternyata setelah dilihat-lihat dari atas jalurnya melalui sisi kiri puncak bukit, akhirnya kembali lagi ke titik sebelumnya. Di titik sebelumnya jalur benar-benar menghilang tertutup ilalang yang dah benar-benar tinggi. Agak naik dikit menerobos semak, mencoba melihat-lihat kalau ada bagian yang gak ketutup, dan benar saja di depan ada jalurnya. Turunan dua meteran yang ketutup paku-pakuan dan ilalang tinggi yang entah ada apa dibaliknya dituruni dan diterobos menuju jalan yang benar :p. Jalur lalu menurun licin tanpa ilalang, hanya cantigi, kemudian naik lagi dan sampailah di tempat dengan batu yang berlubang besar, inilah Watulawang (kalau di peta nyebutnya Batulawang, yah karena Merapi di Jawa ya saya nyebutnya watu walau saya tahunya watubolong -___-;).
Watulawang
Dari Batulawang, jalur menanjak datar dan terlihatlah puncak Batulawang yang berbatu dan sebelumnya dinaiki, dan ternyata memang gak bisa dituruni dari atas karena benar-benar tinggi. Beberapa saat kemudian sampailah di batas vegetasi. Sedikit menanjak, terdapat bekas tempat antena dan solar sel untuk mengamati Merapi yang sudah rusak. Menanjak lagi sampailah di Pusunglondon. Dari Pusunglondon hanya menurun dan sampailah dipertemuan jalur Seloketika maghrib, Pasar Bubrah.
Gunung Batulawang dari batas vegetasi

Last Etape

Sebenarnya kami tidak mendaki ke puncak Merapi dan memutuskan turun melalui jalur Selo karena sudah malam, sudah capek, dan sudah ngomong kalau cuma mo dua hari, dan saya sudah pernah jadi nggak terlalu masalah :p dan bila mo balik lewat Deles lagi jalurnya ya gitchu dech :p. Dan ternyata pas mau ngambil motor, si ibu dah mau laporin ke SAR :p (maaf ya dah buat khawatir, habis jalurnya bener-bener !@#$%). Akan tetapi, karena ada barang saya yang jatuh pas turun, dan ada yang ngajak naik lagi, ya mari saja sekalian kalau-kalau barang yang jatuh bisa ditemukan (walaupun ndak ketemu). Anggotanya nambah 3 orang, mbak Z, mas R, dan mas A.

Etape terakhir adalah jalur menuju puncak, jalur yang ada berupa daerah pasir yang melorot kalau diinjak. Orang-orang pada umumnya melalui jalur agak sebelah timur, melewati pasir-pasir hingga ke daerah dengan wilayah berbatu yang dah mantap. Dari daerah berbatu sudah lumayan gampang, tinggal menanjak terserah mo lewat mana nanti akhirnya sampai di puncak seberang kawah yang sepertinya dulu masih dilokasi kawah mati. Di puncak terserah mo ngapain, mo poto-poto atau mau ke puncak tertinggi, atau mo terjun ke kawah ya terserah :p.
Kondisi Puncak Merapi

Ending

Dari semua jalur gunung yang pernah saya lalui, sepertinya jalur Merapi via Deles ini yang paling susah melebihi Sumbing, Lawu via Cetho, dan Semeru, alasannya yang paling ngehek adalah jalur yang tertutup ilalang dengan tanjaknnya yang yahud dan licin. Sebagai saran aja, kalau mo naik lewat sini lebih baik pas gak hujan dan lebih-lebih kalau dah rame yang pake rute ini (jalur bakalan kelihatan deh) dan bawa anggota yang pernah lewat sini (biar gak nyasar terutama di bawah) ditambah tutupi kulit buat ngindari duri (sarung tangan, kaos kaki, celana panjang, dll) :p.

Tambahan

Nemu dari inet, titik-titik di jalur Deles yang dilalui (kok dulu pas mau naik gak nemu ya)
1 Pajegan (Lewat)
2 Rong Tikus (Entah di mana)
3 Pos I (Kayaknya itu deh...)
4 Pos Bayangan (yang itu pa?)
5 Nisan Pohon makam ass. Bupati Boyolali 1965 (Entah)
6 Monumen Heri Ceper (Tempat nge-camp)
7 Pos II (Lewat dong)
8 Camp Yoyok (Mbuh)
9 Pos III (Ng....)
10 Watu Bulus (Mana lagi, katanya dulu ada kerangka pertapa yang ditemukan mati di sini)
11 G. Batu Lawang (Pasti lewat)
12 Pos IV (batas vegetasi)
13 G. Gajah Mungkur (sepertinya maksudnya Pusunglondon, kalo Gajahmungkur lewat Selo)

Colors: Perkembangan puncak tertinggi Merapi setelah letusan 2010 ketika saya sambangi
Greyscale: Puncak Garuda yang sudah patah

Senin, 29 Juli 2013

Telaga Warna - Cincin yang Jatuh, Selendang yang Luntur


Hehe tulisan males-malesan yang infonya dah buanyak banjet bertebaran di inet, makanya gak perlu dicritain bagus-bagus :p. Telaga Warna, bagi yang pernah ke Dieng pastilah tahu, secara ni tempat merupakan salah satu tujuan utama di Dieng selain Candi Arjuna dan Kawah Sikidang apalagi bagi yang one day trip.

Telaga Warna terletak di desa Dieng, kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, ato kalo secara astronomis pada -7.2119444444, 109.9169444444.
Telaga Warna dan Telaga Pengilon
Get There
Info gak penting lagi. Sebenarnya kalau dah ke Dieng pasti nemu, saya kasih tau rute ke Dieng aja deh bagi yang gak tahu (tidak bisa ngomong semua orang tahu rute Dieng). Jalan paling enak ke Dieng ya lewat Wonosobo, yang dari Jogja bisa lewat Temanggung - Parakan - Kertek atau lewat Borobudur - Salaman - Sapuran - Kertek. Sampai Wonosobo tinggal cari alun-alun dan pokoknya ambil jalan ke utara, pasti sampai Dieng, tapi sayangnya nih jalur kalau longsor ya mobil gak bisa lewat.

Rute alternatifnya lewat Banjarnegara, tapi lebih jauh, lebih dari 60 KM (Tergantung asalnya dari mana juga kali), kalau dari Wonosobo cuma 30 KM. Dari Banjarnegara ambil jalur ke Karangkobar - Wanayasa - Batur - Dieng, atau kalau pengin lewat jalan jelek, dari Banjarnegara - Madukara - Pagentan - Pejawaran - Batur - Dieng. Kalau dari Semarang bisa lewat Temanggung atau lewat Kendal - Weleri - belok ke Sukorejo - Candiroto - Muntung (di sini ambil lurus terus jangan ikuti jalan besar, lebih cepet daripada muter lewat Parakan)- Sigedang - Tambi - Kejajar - Dieng. Dari Pekalongan ambil ke Petungkriono - Wanayasa - Batur -Dieng. Kalau dari Batang ambil jalur ke Blado - Batur - Dieng ato lewat Bawang juga bisa. Hm kurang dari mana lagi ya.... :p.
Angkot banyak kok, dari Wonosobo cari tujuan Dieng atau Batur lah.

Kalau dah sampai Dieng mau ke Telaga Warna nanti belok kiri, atau lihat petunjuk arah di jalan, nanti bakalan nemu loket retribusi yang hampir selalu tutup dan ada jalan masuk di sana yang gak resmi (belum pernah masuk lewat sana, kadang ada yang njaga kadang kagak) dan beberapa puluh meter kemudian barulah pintu masuk resminya. Pintu masuk lainnya bisa lewat Dieng Volcanic Theatre (kayaknya cuma bayar parkir, tapi bakal capek balik lagi), dan kalau mau gratis semuanya bisa lewat jalan peladang :p

Ada Apa Di Sana
  • Telaga Warna, Telaga Warna ni warnanya ijo dan perubahannya pun seputar ijo - biru, agak gelap, terang, atau gimana lah. Oh di suatu sisi ada tempat keluarnya gas, maklum, sebenarnya Telaga Warna ini kan danau kawah, dan di suatu sisi yang tersembunyi ada semacam getek (kayaknya gak digunain). Pas dekat keluarnya belerang hati-hati ya, nanti seperti saya, karena ada bagian yang jemek, dengan entengnya saya injak, walhasil, sandal saya nyangkut.
  • Telaga Pengilon, sebenarnya dulu masih nggabung sama Telaga Warna, hanya karena sedikit sekat, jadilah telaga lain, dan warnanya pun beda. Kalau mau ke sini, dari telaga warna cukup mutar saja, tapi kalau mau mutar kedua telaga ini satu putaran penuh, jalannya nanti ada yang agak becek, dan kalau salah ambil jalan, bisa seperti saya lagi, terperosok ke lumpur sandal nyangkut di kedalaman 60 cm -____-;)
  • Gua-Gua, ada banyak gua, Gua Semar, Pengantin, Sumur, dan Gua Jaran, tapi menurut saya gak begitu menarik karena lebih terlihat seperti cerukan dan sepertinya buat bertapa. Beberapa gua ada yang dipagari, saya juga gak tertarik masuk, tapi mungkin buat menghindari vandalisme. Lokasi gua-gua ini ada di antara kedua telaga (sekatnya).

    Di depan Gua Semar
    Retribusi
    Masuk Rp 6000/orang, parkir Rp 2000/motor, mobil kagak ngerti, tiket terusan Rp 20000/orang. Kalau mau gratis seperti yang saya bilang, lewat jalan peladang (gak perlu saya kasih tahu, kasihan pemdanya :p)

    Best Spot
    Menurut saya, daripada melihat ni telaga dari dekat, saya lebih senang melihatnya dari atas yang bisa melihat kedua telaga sekaligus. Kalau melihat lokasi sekitar telaga, telaga ini dikelilingi bukit-bukit, nah lihatnya ya dari sekitar bukit-bukit itu, tapi milih yang gak ketutup pohon ya, ato dari Igir Binem aja.
    Tempat keluarnya gas
    Ending
    Sebenarnya mo nampilin fotonya aja (cuma 3 biji -___-;), yang lainnya mah infonya dah bersliweran di mana-mana :p. Oh mengenai judulnya itu mengenai legenda warna di Telaga Warna, dan kok saya nemu legendanya lebih dari satu ya....

    Jumat, 19 Juli 2013

    Tugu Legetang - Menghilang dari Peta


    Apakah ada yang tau cerita tentang dukuh Legetang? Banyak kok ceritanya bertebaran di inet. Dukuh Legetang terletak di desa Pekasiran, kecamatan Batur, kabupaten Banjarnegara, masih berada di wilayah pegunungan Dieng – Petarangan. Secara astronomis terletak pada 7.19416667S, 109.8652778E. Legetang merupakan tragedi terbesar yang melanda daerah Dieng melebihi peristiwa gas beracun kawah Sinila yang lebih tersohor daripada peristiwa Legetang. Inti ceritanya adalah mengenai dukuh yang diazab dengan longsoran dari gunung dengan suatu keanehan di mana keadaan longsoran yang tidak masuk akal.

    Get There
    Jarak dari kompleks wisata Dieng (Arjuna, Sikidang, Warna) menuju tugu Legetang tidak begitu jauh, cuma beberapa kilo. Jalannya pun masih sejalur dengan jalur menuju Kawah Sileri, Kawah Candradimuka, dan Sumur Jalatunda. Kalau pernah ke Dieng tapi gak sampai tiga tempat tersebut begini petunjuknya, dari Dieng (gampangnya gapura perbatasan Wonosobo - Banjarnegara) menuju ke arah Banjarnegara, Batur, Wanayasa, dll. Sedikit kilo kemudian bakalan nemu pertigaan berbentuk Y, ambil jalur yang menurun, yang kanan, kalau kiri bisa juga tapi mutar jauh (ke kiri jalur ke telaga Merdada), nanti bakalan lewatin telaga Sewiwi, pertigaan arah Kawah Sileri, lalu perkampungan desa Kepakisan.

    Setelah dari perkampungan, nanti di sebelah kanan bakal terlihat sungai, nah kalau sungai dah mulai terlihat coba lihat agak ke kanan atas ke arah gundukan bukit (bukan bukit yang jauh tapi yang dekat, dan jangan keterusan, lihat jalan juga :p), kalau cerah tugunya bakal kelihatan. Habis itu bakal lewatin jembatan sungai yang tadi, habis jembatan perhatikan ada jalan yang menuju ke atas di sebelah kanan, ambil jalan itu naik terus sampai lihat tugunya di sebelah kanan, tinggal parkir dan sedikit jalan. Oh iya sebenarnya jalan makadamnya cukup buat mobil (1 buah, kalau ketemuan berabe), tapi pas saya ke sana ada palang di jalur masuknya yang digembok, ya mungkin buat mobil cuma sampai bawah. Buat kendaraan umum gak ada ya yang lewat daerah situ, soalnya lewat jalur satunya.
    Tugu Legetang berlatar gunung Pengamunamun

    Ada Apa Sih Di Sana?
    Di sana cuma ada tugu tua di tengah-tengah ladang, gak ada yang lainnya, cuma bisa lihat pemandangan :p. Lumayan sih bisa lihat pemandangan gunung Nagasari (kalau cerah), atau gunung Pengamunamun dan gunung Jimat, atau celahnya yang misterius :p. Oh iya sebenarnya di tugu ini terdapat tulisan (kayaknya sih, lihat di foto kaya gitu), tapi pas saya ke sana sudah gak ada. Begini isinya:

    “Tugu peringatan atas tewasnja 332 orang penduduk dukuh Legetang serta 19 orang tamu dari lain-lain desa sebagai akibat longsornja gunung Pengamun-Amun pada tg.16/17-4-1955”

    Sebenarnya ada yang berbeda antara tulisan di tugu ini dengan monumen yang ada di pertigaan ke kawah Sileri, pada monumen tersebut jumlah korban meninggal 450 orang, beda sekitar 100 orang dengan yang ada di tugu, yang benar entahlah. Katanya sih warga dukuh yang selamat cuma 1 orang karena lagi gak di rumah, dan sekarang dah meninggal.

    Walaupun di bawahnya tekubur satu dusun dengan segala isinya termasuk penduduknya, namun saat ini bagian atas sudah berubah jadi ladang.
    Puncak Pengamunamun yang ikut longsor (katanya)

    Retribusi
    Gratiiiiiissss, lagian kan bukan tempat wisata :p

    Sedikit Investigasi :p
    Mungkin ada yang berpikir kalau cerita tersebut gak benar-benar terjadi atau mungkin dilebih-lebihkan dengan bumbu-bumbu yang bikin ngeri, kalau begitu baca sedikit uraian investigasi saya :p. Sebagai info, saya cuma mbandingin dengan peta tahun 1922 dan 1943 dengan keadaan saat ini dan peta dari BNPB yang berdasar dari peta RBI.


    Peta 1922
    Pertama, dukuh Legetang benar-benar ada di tempat di sekitar tugu tersebut. Di peta baik tahun 1922 dan 1943 terdapat daerah Legetang di lokasi yang ada di dekat tugu tersebut (agak ke utara).

    Kedua, terdapat sungai antara gunung Pengamunamun dengan dukuh Legetang sebelum terjadi longsoran yang terlihat pada peta. Perlu diingat, dalam keanehan yang ada adalah sungai tersebut tidak terkena dampak longsoran (logikanya sungai juga terkena longsoran kan) dan pas saya lihat saat ini memang ada sungai kok di sana, tapi emang gak besar, kalau gak percaya lihat aja di google earth :p. Saya bandingin dengan peta dari BNPB bentuk aliran sungai juga mirip.
    Peta BNPB
    Ketiga, tinggi gunung Pengamunamun pada peta 1922 dan 1943 adalah 2173 mdpl, sedangkan peta BNPB adalah 2175.71 mdpl. Jika melihat hasil ini dengan mempertimbangkan kesalahan pengukuran dan perbedaan peralatan karena zaman, maka dapat disimpulkan bahwa tinggi gunung Pengamunamun tidak terdapat banyak perubahan. Disebutkan bahwa di dekat tugu terdapat puncak gunung Pengamunamun yang ikut terbawa longsoran tetapi jika dilihat dari perbandingan tersebut, gundukan tersebut bukanlah puncak (tertinggi) gunung. Hal ini dapat membuat dua hipotesis baru, yang longsor bukan gunung Pengamunamun atau longsoran cuma dibagian lereng hingga tempat yang terlihat seperti puncak dari bawah walau bukan puncak tertinggi.

    Keempat, bentuk kontur. Sayangnya saya sulit buat mbandingin kontur peta lama dengan peta BNPB -___-;). Yang terlihat beda paling bentuk lekukan konturnya, peta dulu cukup detil meliuk-liuk khas gunung sedangkan peta BNPB tidak terlalu meliuk-liuk -___-;), cuma pas lihat dari google earth terdapat semacam cerukan di gunung pengamunamun yang tidak melambangkan kontur dari peta. Tapi mengingat daerah Dieng merupakan daerah dengan tingkat erosi tinggi jadinya entah itu cerukan kapan terjadi.
    Foto Udara Google Earth
    Investigasi selesai dengan kesimpulan terserah pada diri masing-masing :p. Yang pasti Legetang telah menghilang dari peta. Intinya jangan terlalu mempercayai apa yang saya utarakan karena saya juga belum lahir di zaman itu :p. Oh iya di dekat Legetang terdapat gua Djimat yang terkenal mematikan, tapi sebelah mana saya kurang tau, dan sering juga disebut lembah kematian yang sampai bisa mengawetkan mayat selama 2 tahun. Dan investigasi berakhir menggantung.....

    Dusun yang Hilang
    Selain Legetang, di sekitar Dieng ternyata banyak dusun yang saat ini sudah tidak ada entah apa yang terjadi padanya. Beberapa dusun yang dulu pernah ada antara lain Kapucukan, Timbang, Kepakisan Lor, Sidolok, Gajahmungkur, dan Pagerkandang. Telaga-telaga di Dieng pun beberapa sudah menghilang, mungkin mengering dan akhirnya jadi ladang penduduk tanpa kembali lagi seperti telaga lumut dan terus. Dia yang hilang dia yang terlupakan.....

    Jumat, 25 Januari 2013

    Gunung Sindoro via Sigedang



    Gunung Sindoro / Sundoro merupakan gunung yang terletak di kabupaten Temanggung dan Wonosobo. Gunung yang mempunyai tinggi 3136 mdpl ini mempunyai beberapa rute pendakian, seperti rute Kledung yang paling sering dilewati, rute Bansari, dan rute Sigedang. Karena sudah beberapa kali lewat rute Kledung, pada pendakian kali ini saya mendaki gunung Sindoro dari Sigedang (padahal ndakinya dah lama, dah tahun lalu XD). Sigedang sendiri merupakan nama desa yang terletak di kecamatan Kejajar kabupaten Wonosobo (masih satu kecamatan dengan Dieng).

    Untuk menuju Sigedang, paling gampang ya dari Wonosobo ambil arah Dieng, terus belok ke Tambi naik terus sampai Sigedang. Kalo naik angkot ya naik angkot jurusan Wonosobo – Dieng turun di Tambi kemudian naik ojek atau mobil bak terbuka atau sekalian jalan :p. Sebenarnya ada jalan pintas bagi yang berasal dari sebelah timur gunung ini, yaitu lewat Jumprit tapi kalo belum biasa lewat lebih baik lewat Wonosobo saja. Sebenarnya tempat perijinan tidak hanya di Sigedang saja, tapi juga ada di Sikatok, dusun di atasnya (masih masuk Sigedang juga kok). Jika titik awal pendakian dari Sigedang maka perlu menyusuri jalan aspal yang ada hingga ke daerah kebun teh, tapi kalo dari Sikatok ya jaraknya lebih dekat untuk sampai sini.

    Gunung Sindoro dari kebun teh
    Pendakian kali ini hanya beranggotakan 3 personil, personil S, saya, dan personil M. Karena kami belum ada yang pernah lewat rute ini, ketika sampai di Sigedang sempat kebingungan mencari tempat izin sekaligus tempat menitipkan motor. Kalau dari info di internet, minta izinnya ke pak Amin, tapi karena waktu bertanya penduduk mendapat info kalau ternyata di Sikatok juga ada buat tempat izinnya, jadinya ya balik ke Sikatok (malas mau nambah jalan lagi :p). Di Sikatok ini perizinannya di rumah pak Udin, rumahnya cuma beberapa meter (sekitar 20 m) dari perbatasan dengan Kabupaten Temanggung.

    Setelah menata ini itu dan dikasih nomor hp bapaknya (yang ngasih ibunya sih), perjalanan pun dimulai. Beberapa menit kemudian, sampailah kami di pintu masuk kebun teh (sebenarnya bukan pintu, tapi jalan, dan jalannya ada banyak, nah yang buat pendakian lewat jalan yang paling besar). Dari awal kebun teh ini hanya mengikuti jalan makadam yang ada. Sebenarnya kita bisa naik motor atau mobil hingga ujung jalan tapi ya nanti bingung kalau ditinggal, kalau ada yang mau mengantar sampai sini boleh juga :p. Jalan yang dilewati meliuk-liuk tapi ikuti saja jalan yang ada, bila ada persimpangan ikuti saja intuisi, pokoknya yang naik dan kelihatan benar (waduh). Sebenarnya ada jalan cepat, yaitu lewat jalan di antara teh-teh, tapi kalau belum tahu atau pas malam hari ya lewat jalur normal saja deh daripada bingung.

    Pegunungan Dieng (Bismo, Sikunir, Pakuwaja, Prau, dll)
    Setelah sekitar 2 jam (kayaknya kurang malah) perjalanan lewat jalur normal dan jalan kaki, sampailah kita di bagian trek selanjutnya. Karena tidak adanya info mengenai jalurnya maka tim saya salah lewat jalur XD. Jalur yang tim saya lalui adalah jalur yang berada di ujung jalan makadam kebun teh, tapi jalur yang sebenarnya ada di punggungan sebelumnya, jadilah tim kami melalui jalur yang tidak jelas. Jalur yang kami lalui sepertinya adalah jalur pencari kayu tapi untungnya jalur ini tembus ke jalur utama, dan karena itulah kami tidak melalui POS III (loh tiba-tiba dah nyeritain POS III -_-;). Jalur setelah kebun teh ini berupa hutan pinus yang pinusnya pun jarang-jarang yang kemudian dilanjutkan daerah rerumputan terbuka terus sampai puncak (tiba-tiba dah sampai puncak).

    Sebenarnya ketika cari info di internet  mengenai jalur pendakian lewat Sigedang, kita akan melihat watu susu dari gunung kembar ini (waduh ini cerita apaan sih XD). Tapi karena tidak adanya foto jadi saya hanya menerka-nerka. Oh iya setelah POS III, tidak ada tempat nge-camp kecuali di puncak. Waktu tempuh total perjalanan dari Sigedang lebih cepat dibandingkan lewat Kledung (waktu pastinya sekitar ng… pokoknya lebih cepat :p). Dan karena rute ini lebih sepi, jadinya lebih aman meninggalkan barang daripada lewat Kledung yang sering terjadi pencurian (katanya, saya belum pernah kejadian soalnya).

    Watu Susu (?)
    Puncak yang dicapai melalui jalur ini bukanlah puncah kawah seperti dari Kledung, tapi berada di tugu perbatasan Wonosobo –Temanggung, di sekitar ujung segoro wedi yang dekat dengan segoro banjaran. Untuk sampai ke kawah, maka kita harus memutar  atau intinya ke arah tenggara. Segoro wedi dan segoro banjaran sendiri berupa dataran yang cukup luas sehingga bisa dibuat menjadi beberapa lapangan bola (duh). Di segoro wedi terdapat suatu cerukan yang entah pas lewat kok terdapat bunga mawar yang entah itu apa (mungkin bekas kawah, karena pas cari-cari di internet gak nemuin apa itu).

    Bekas Kawah (?)
    Kawah Sindoro sendiri seperti semacam sumur dan bertingkat. Terdapat dua jalan untuk turun ke kawah (jalan lain bisa langsung lompat :p), jalan pertama yang sampai ke kawah bagian atas yang kemudian terdapat jalan turun lagi sampai ke bagian bawah, sedangkan yang satunya langsung ke bagian bawah. Biasanya, dulu kawah bagian bawah ini terisi oleh air dengan warna terlihat hijau dan terlihat batu-batu besar di dalamnya, tapi setelah peristiwa tahun 2012 lalu, bagian ini menjadi putih, batu-batunya pun terkubur di dalamnya dan ditambah keluarnya solfatara yang terlihat jelas. Ketika turun ke kawah hati-hati ya apalagi ketika hujan, pada awal tahun 2013 ini ada yang mati keracunan di kawah Sindoro. Ketika berjalan di atas kawah yang berwarna putih ini rasanya jemek-jemek, seperti berjalan di atas lumpur yang semi kering.

    Segoro Wedi
    Pas ngetik pos ini malah “berimajinasi” kalau watu susu itu seperti yang dipikirkan, di bawah watu susu itu ada awal dari sungai progo (maksudnya bukan mata air jumprit, tapi lebih ke atas lagi), jadi sungai progo itu adalah aliran “sesuatunya” Sindoro?!?! Dan mikir lagi kalau Jumprit itu ngeluarin air buat kali Progo, jadi mata air jumprit itu…… (jangan dipikirin tulisan bodoh ini :p).

    Kalau ada yang mau ekspedisi maraton kayaknya asyik nih,dimulai dari naik Sumbing dari dusun Butuh, desa Temanggung, Kaliangkrik, Magelang, turun lewat dusun Garung, desa Butuh, Kalikajar, Wonosobo, lalu naik Sindoro lewat Kledung, Temanggung, turun via Sigedang, Kejajar (kecamatan sebelahnya namanya kecamatan Garung lho :p), Wonosobo, lanjut Prau via Patakbanteng atau Igirmranak, turun lewat Dieng, dan sekalian lanjut Slamet (nama-namanya kok banyak yang hampir sama cuma tingkatnya beda ya :p).

    Sindoro's Crater, Now n' Then
    NB: menurut orang sekitar, Sindoro itu cewek, dan Sumbing itu cowok.

    Pesan Sponsor: Kalau nyalain api harap hati-hati ya, kasihan ni gunung sering banget kebakaran. Tanpa api aja bisa kebakaran apalagi ditambah api. Beberapa waktu setelah saya mendaki, gunung ini kebakaran, dan kebakarannya parah banget, dari bawah benar-benar kelihatan.

    Kamis, 18 Agustus 2011

    Tour de Jatim, Day II: Kediri – Kelud – Jember


    Hari kedua perjalanan diawali dengan berbincang-bincang dengan beberapa pemuda, selain pertanyaan klasik, pemuda itu menceritakan tentang mantan pacarnya yang ada di Jogja, selain itu juga menyarankan untuk pergi ke Puh Sarang. Setelah surfing, ternyata Puh Sarang ini merupakan semacam tempat untuk upacara keagamaan. Karena saya bukan pemeluk agama tersebut jadi buat apa saya pergi ke sana. Beberapa saat setelah pemuda itu pulang (entah pergi ke mana lagi), tiba-tiba datang tukang ojek yang menawari untuk naik ojek (tentunya ditolak). Tukang ojek itu bercerita tentang hidupnya yang sulit, ia butuh uang untuk anaknya yang mau masuk SMK. Katanya butuh Rp20 juta, padahal ia hanya ada Rp 5 juta (kok mahal banget ya). Setelah itu aku berusaha tidur ditemani nyamuk dan suara tikus. Beberapa jam kemudian bapak dan ibu yang tadi kembali lagi dan tidur di dekatku. Akhirnya setelah menunggu dengan kebosanan (dan pantat yang panas), adzan Subuh pun berkumandang dan warung di dekat situ sudah beres-beres, langsung saja aku bermaksud melanjutkan perjalanan.

    Bapak-bapak yang tadi memberi petunjuk arah untuk sampai ke Gunung Kelud. Dan si Bapak itu juga menggunakan sebuah kosa kata bahasa daerah yang juga digunakan di daerahku untuk memanggil “kamu”. Di kabupatenku pun Cuma di sekitar kecamatanku yang menggunakan kata tersebut, ketika aku sekolah di kota kabupaten dan menggunakan kata tersebut, teman-temanku malah tertawa menganggap ndeso, semenjak itu kata tersebut jarang kugunakan. Ketika bertanya dengan teman dari daerah lain pun kata tersebut tidak ada dalam kosa kata mereka. Antara Kediri dengan kabupatenku padahal jaraknya cukup jauh, lalu kata tersebut kok bisa sampai ke daerahku ya tanpa digunakan di beberapa daerah di antaranya. Waktu berangkat ini aku melihat penunjuk arah ke hotel yang ternyata berada di dekat alon-alon, tapi malamnya tak terlihat hotel karena tertutup penjual makanan.
    Anak Gunung Kelud
    Perjalanan dilanjutkan dengan mengendarai motor pelan-pelan dengan maksud agar sampai Gunung Kelud sudah buka. Di sini untuk ke dua kalinya aku mengisi bahan bakar. Ketika melewati pabrik gula, tercium bau yang kurang sedap hasil sisa pengolahan (lagian pemutih gula menggunakan belerang). Perjalanan di awali dengan menuju kecamatan Wates (nama tempat ini ada di mana-mana) kemudian dilanjutkan naik menuju Kecamatan Ngancar dan menuju desa terakhir Desa Sugihwaras. Sesampainya di TPR, ternyata belum ada yang menjaga (lagian masih jam 6 kurang :p). Di dekat TPR terdapat rest area tapi tentu saja aku melanjutkan perjalanan yang ada. Jalan yang dilalui awalnya membelah perkebunan warga yang kebanyakan ditanami nanas. Jalan yang ada menanjak dan di beberapa tempat terdapat pasir dan lobang. Setelah beberapa saat, nantinya akan melewati hutan.

    Beberapa kendaraan bahkan tidak kuat untuk sampai ke lokasi wisata gunung Kelud ini. Di titik terakhir ada yang menyewakan jasa ojek sampai ke lokasi tapi tentu saja waktu itu belum ada. Ketika berhenti untuk mengambil gambar, tiba-tiba muncul 4 orang wisatawan yang naik motor juga yang juga berhenti di tempatku berhenti, seorang bapak-bapak dengan seorang anaknya yang masih balita, dan dua orang pemuda (duh cowok semua). Karena aku sudah selesai beres-beres, aku akhirnya melanjutkan perjalanan naik. Di tengah jalan terdapat beberapa jembatan, ketika berhenti di tengah jembatan, ternyata bawahnya dalam sekali, namun tidak kelihatan karena tertutup puncak-puncak pohon. Dari jembatan ini juga sudah terlihat tempat parkir wisata. Setelah jembatan, jalan yang ada semakin menanjak, dan di ujung tanjakan nantinya terdapat gardu pandang yang bisa digunakan untuk melihat ke arah barat. Ada sebuah gardu pandang yang dilarang naik ke sana karena bawahnya sudah longsor.

    Setelah beberapa saat kemudian ternyata oh ternyata gerbang masuknya masih tutup (wajar masih kepagian). Dari pada menunggu di tempat itu aku kembali ke lokasi gardu pandang untuk tiduran. Di tengah jalan aku melihat wisatawan lain yang datang (ada ceweknya). Sesampainya di gardu pandang ya hanya tiduran sambil berjemur. Di sekitar gardu pandang terdapat tiket masuk yang ternyata Rp 5000 / orang dan Rp 2000 / motor.
    Tempat parkir dilihat dari jembatan
    Jam 8 aku kembali ke tempat tujuan, dan untungnya sudah buka. Tempat parkirnya masih sepi hanya ada 6 motor termasuk punyaku, dan yang satu milik petugas. Gunung Kelud ini terletak di perbatasan Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang. Terdapat pertikaian pemilik gunung Kelud antara Kabuapaten Kediri dan Blitar (kok Kabupaten Malang gak ikutan ya), bahkan ketika pemkab Blitar mau berkunjung, dihalang-halangi oleh warga daerah Kediri, bahkan pakai pertikaian polisi segala (Untuk ke Gunung ini jalannya hanya dari wilayah Kediri). Terlepas kepemilikannya, gunung ini menyajikan wisata yang cukup menarik. Tentu saja  tempat yang paling menarik adalah kawahnya. Untuk menuju kawah kita harus melalui terowongan, namun waktu itu masih tutup.

    Tempat menarik lainnya adalah Sungai Bladak. Sungai ini merupakan tempat saluran pembuangan air Gunung Kelud yang dibangun oleh Belanda (sejarahnya cari sendiri ya). Untuk menuju sungai ini kita harus menuruni ratusan anak tangga (tidak masalah, yang masalah adalah ketika naik kembali). Sesampainya di bawah, orang-orang yang sudah datang lebih awal sudah bermain air di sana (intinya orang-orang yang tadi ketemu). Karena dari kawah, sungai ini cukup hangat dan panas, dan mengandung belerang. Batu-batu sungainya pun berwarna kuning karena belerang ini. Karena sudah jauh-jauh (dan belum mandi) saya pun ikut bermain air,  ketika tinggal saya sendiri, saya pun mandi di pancuran dengan semi buka-bukaan (tentunya gak memakai kemben dan bisa gawat kalo tiba-tiba ada pengunjung lain yang datang). Setelah selesai dan melihat ujung saluran pembuangan, saya pun naik kembali dengan susah payah. Waktu itu terdapat sepasang muda-mudi di sungai Bladak dan tidak ada orang lain di sana (waduh bisa gawat) bahkan sesampainya di atas tidak ada orang lain yang turun selain mereka. Terdapat penunjuk arah dengan tulisan “air panas anak G Kelud” dan ada bahasa Inggrisnya juga “hot river of Kelud baby” (-_-;).
    Sungai Bladak
    Terowongan yang menghubungkan tempat parkir dengan kubah cukup panjang, mungkin sekitar 300 meter yang untungnya saat ini sudah ada penerangannya walau sebenarnya masih cukup gelap. Di dalam terowongan kadang terdapat ruang-ruang yang digunakan pekerja (zaman bahuelak) untuk istirahat, tapi sekarang kelihatan tergenang dan banyak sampah. Setelah keluar dari terowongan, bila ke kanan nantinya akan menuju ke Gunung Gajah Mungkur yang merupakan tempat panjat tebing. Bila ke kiri akan menuju ke kubah lava. Di kawah gunung Kelud ini tadinya terdapat danau kawah yang berwarna hijau yang airnya disalurkan ke sungai Bladak. Namun setelah letusan tahun 2007, danau tersebut menghilang dan digantikan oleh Kelud baby :p. Anak Gunung Kelud ini masih mengeluarkan gas dan pengunjung dilarang mendekatinya (padahal ketika lihat foto-fotonya fotografer di sana pengunjung malah pada berenang ketika masih ada danaunya).

    Untuk mendekatinya kita harus menuruni tangga (tapi buat yang sudah malas, lihat dari atas juga gak terlalu beda jauh). Waktu itu terdapat kunjungan dari panti asuhan ke gunung ini, jadi di bawah sulit untuk mengambil foto (foto diri) karena anak panti asuhannya banyak. Lalu terbesit pikiran untuk naik ke gardu pandang tertinggi yang juga harus naik tangga (yang tentunya sudah membuat malas dahulu) untuk mengambil foto. Tak tahunya anak-anak panti asuhan itu juga pada ikutan naik (walah). Dibanding anak-anak tersebut tentu saja aku kalah cepat apalagi belum sarapan, belum tidur, bawa barang, dah capek naik dari sungai, panas, gak ada minum lagi, namun walau begitu tetap menjadi orang ketiga sampai di gardu pandang.
    Gardu pandang Gunung Gajah Mungkur dan Gunung Sumbing
    Di gardu pandang ternyata ada jalan menuju ke puncak tertinggi, pengin sih, tapi gak ada waktu mana sudah setengah sebelas. Walau belum ada 1800 mdpl, ternyata di gunung ini sudah terdapat edelweiss, walau ukurannya masih kecil-kecil, padahal gunung-gunung lain biasanya di atas 2000 mdpl. Walau anak-anak panti, herannya mereka ada yang punya handphone yang ada kameranya (wow). Di atas ya kerjaannya nunggu mereka turun dan untungnya ada yang ngajak ngobrol. Ditanyai pertanyaan klasik lagi, tapi ditambah dikira masih SMA :p (masih muda ternyata), padahal mbaknya yang nanya baru aja lulus SMA (dianggap lebih muda :p). Setelah beberapa lama, akhirnya mereka turun dan akhirnya aku ikutan turun (setelah foto tentunya). Waktu turun benar-benar menyenangkan, bahkan sepertinya ada yang heran kok aku bisa cepat (mau bilang lari gak mungkin soalnya berupa anak tangga).  Setelah ini aku melanjutkan perjalanan menuju arah Blitar.

    Di daftar yang kubuat, tujuan selanjutnya adalah menuju candi Penataran. Jalannya sebenarnya bagus sih, tapi kadang terdapat jalan yang cukup menyeramkan. Di beberapa titik terdapat jembatan yang kanan kirinya tidak ada penghalangnya, memang sih tingginya paling dua meteran, tapi tetap saja ngeri apalagi jalannya agak bergelombang karena berupa cor-coran dengan ornamen (zzzzz) batu (mirip jalan macadam tapi dicor). Jembatannya sempit jadi harus saling menunggu karena lebarnya hanya cukup untuk satu truk kecil, dan tidak ada jarak antara jalan dengan pinggir jembatan (jembatan kan biasanya di sebelahnya terdapat trotoar lalu penghalang atau apalah namanya, na yang ini keduanya tidak ada sama sekali murni jalan saja).

    Beberapa waktu kemudian sampai juga di wilayah Penataran, ternyata untuk lewat jalan tersebut perlu bayar retribusi (duh), dan tidak ada petunjuk mengenai lokasi candi tersebut (sudah malas mencari karena sudah kelamaan di Kelud) yang akhirnya melewati pos retribusi dari arah yang lain. Lagi-lagi ternyata candi itu letaknya agak masuk, hanya saja tidak kelihatan dari pinggir jalan, yang ada petunjuknya cuma kolam renang Penataran, dan candi yang terlihat cuma candi pemandian Penataran, sia-sia membayar retribusi. Akhirnya perjalanan dilanjutkan ke Blitar. Di tengah jalan ada cegatan polisi, padahal aku sudah pelan-pelan eh polisinya gak ada yang nyegat, ya nyelonong aja gak berhenti, padahal polisinya juga kadang dekat banget sama aku. Sesampainya di Blitar ya terus aja menuju ke arah Malang. Ketika melihat peta (setelah sampai kos) ternyata seharusnya aku melewati makamnya presiden pertama RI, tapi kok sama sekali gak melihatnya (zzzzz). Dan ketika melihat peta kabupaten Blitar dari situs resminya, kok kediamannya Anas Urbaningrum dicantumin di peta (gak penting banget).
    Saluran pembuangan
    Jalan Blitar – Malang cukup lebar jadi bisa agak cepat. Kadang terdapat rel yang terletak di pinggir jalan, waktu itu ada kereta yang juga berjalan, tapi jalannya super lambat (mengingatkanku pada perjalanan ke Pulau Sempu yang naik kereta dari Surabaya yang penuh sesak dan lambat banget). Sesampainya di Wlingi (ibukota kabupaten Blitar), tidak ada petunjuk arah yang jelas, jadi di tempat ini aku keblabasan dan harus balik lagi. Akhirnya beberapa saat kemudian sampai di SPBU Selorejo. Di sini terdapat rest area sehingga aku istirahat beberapa jam sambil nge-charge hp, sayangnya rest areanya banyak debunya dan tidak ada sapunya.

    Beberapa saat kemudian perjalanan pun dilanjutkan. Menurut saran seorang teman, sebaiknya aku mampir ke Karangkates, eh ternyata terdapat persimpangan yang keduanya menunjuk ke Karangkates, yang satu lurus yang satu ke kanan bawah. Ternyata yang lurus akhirnya ke kanan juga lewat di atas jalan yang satunya. Jalan tersebut lebar dan sepi dan akhirnya akan sampai di perbatasan Blitar – Malang di dekat waduk Lahor, dan untuk mobil sepertinya harus bayar retribusi. Di dekat waduk terdapat pos retribusi yang entah kok bayarnya cuma Rp 500, waktu itu tak terlalu terdengar bapaknya ngomong apa jadi langsung aja gak bayar (-_-;). Arah selanjutnya adalah menuju Kepanjen yang merupakan ibukota Kabupaten Malang. Dari Kepanjen perjalanan dilanjutkan ke arah Gondanglegi, seorang temanku tinggal di kecamatan ini. Kepanjen – Gondanglegi paling cuma 10 km, tapi angkotnya mahal banget, Rp5000 per orang, padahal di Jakarta aja lebih murah. Di sekitar Gondanglegi terlihat banyak penduduk yang memakai sarung seperti orang pesantren, entah kebetulan atau memang begitu. Sebenarnya ada niatan untuk mampir ke rekan di sana, tapi setelah sms yang bilang selamat melanjutkan perjalanan membuatku batal menyambanginya.

    Selanjutnya adalah menuju Turen yang di sana terdapat PT Pindad yang dilanjutkan ke Dampit. Dari Dampit jalan yang ada sudah berkelok-kelok dan kadang melewati tanjakan, apalagi hari sudah gelap. Jalan yang ada cukup gelap karena tidak ada penerangan, teman perjalanan ya cuma truk-truk saja, jadi terpaksa berada di belakang truk, ditambah lagi bensin juga semakin menipis. Setelah beberapa lama akhirnya menemukan SPBU di Tirtoyudo (Malang) tapi agak malas karena berada di seberang jalan hal ini dikarenakan nanti malah kehilangan teman perjalanan (yaitu truk). Beberapa waktu kemudian sampai juga di Kabupaten Lumajang, dan mengisi bensin untuk ketiga kalinya di Pronojiwo sekalian istirahat sambil corat-coret. Di tempat ini melihat mobil yang sepertinya enak buat petualangan jadi pengin punya mobil seperti itu (tapi lebih ingin mobilnya keluarga tonberry secara tu mobil bisa buat di air) walau sebenarnya kurang tertarik dengan mobil karena sering mabuk kalau naik mobil (-_-;). Sepertinya kalau siang jalan yang tadi dilewati pemandangannya cukup bagus, karena bakalan kelihatan gunung tertinggi di Pulau Jawa, yaitu Gunung Semeru.

    Perjalanan masih dilanjutkan dan kadang tidak ada teman perjalanan yang mau mendampingi. Di suatu titik, yaitu Piket Nol (namanya aneh) akhirnya jalan yang ada berupa turunan. Sebenarnya di tempat ini ada warung, pengin juga berhenti untuk sekedar makan tapi ya lanjut terus. Jalan turunan dari Piket Nol cukup membosankan karena jalannya berkelok-kelok dengan pinggiran tebing dan hutan serta jalannya gelap dan sepertinya yang dilihat tidak berubah, menyebabkan rasanya dah hapal medannya padahal baru pertama kali lewat jalan tersebut (-_-;).

    Akhirnya setelah turunan sampai juga di tempat yang ramai, yaitu Kecamatan Pasirian, namun setelah lewat tempat itu, jalannya sedang diperbaiki, jadi banyak debu dan pasir berterbangan.  Di tengah jalan ada petunjuk ke arah Jember jadi langsung saja melewati jalan itu daripada lewat Lumajang yang harus memutar terlebih dahulu tapi ujung-ujungnya aku malah pakai acara salah jalan segala. Jalan menuju Jember ternyata jalannya rusak banyak lubangnya, lubangnya gede-gede pula membuatku tidak bisa cepat-cepat yang akhirnya akan membaik setelah sampai di Yosowilangun. Setelah itu akhirnya memasuki Kabupaten Jember.

    Memasuki kabupaten ini sudah mulai ada bibit-bibit ngantuk tapi pengin maksain tidur di lokasi tujuan saja yaitu Pantai Papuma. Perjalanan pun terbilang lambat walaupun jalannya sepi. Di beberapa titik terdapat perlintasan lori, jadi berpikir lorinya bisa dinaikin atau tidak. Perjalanan cuma dihiasi dengan pencarian masjid yang tidak berpagar agar bisa langsung masuk dan tidur di terasnya, namun walau sudah menemukannya tetap aja ditinggalkan. Akhirnya sampai di desa Puger yang merupakan desa nelayan, eh ternyata salah jalan, pantainya ada diseberang perbukitan sebelah timurnya puger. Kalau menurut google map versi map, terdapat jalan yang melewati bukit ini sampai ke Papuma, tapi tidak ditemukan jalan tersebut dan ketika dicek di kos dengan google map versi satelit ternyata jalan tersebut tidak ada tapi si google menganggapnya jalan (jangan 100% percaya dengan peta ya). Sehingga hal ini menyebabkanku harus melewati sawah yang gelap sendirian.
    Terowongan
    Pada awalnya melewati selatan bukit yang ternyata tambang buat semen dan dilanjutkan terus ke arah timur terus. Gara-gara masih berpikir tentang peta google (saat itu masih belum tahu) jadi pikirannya mencari jalan ke selatan. Tapi karena dah capek kok gak nemu-nemu ya terpaksa ke timur terus. Sempat ke timur terus tapi malah salah jalan, padahal ada orang yang lagi kumpul-kumpul di depan, langsung kumatikan motor biar gak dikira aneh-aneh dan akhirnya memutar balik. Akhirnya beberapa saat kemudian menemukan surau di tengah sawah. Sempat berpikir untuk lanjut tapi dipaksakan untuk berhenti. Di dekat surau tersebut terdapat sumur dan bangunan yang entah ada penghuninya atau tidak. Suraunya juga agak kurang terurus pintunya juga terbuka. Setelah motor dikunci dobel, langsung saja tidur tanpa memikirkan apapun seperti ular atau apalah.
    Perjalanan melewati sawah benar-benar minim cahaya sampai-sampai langit terlihat sangat indah dengan bertaburan bintang-bintang penghiasnya. Sempat juga teringat cerita waktu KKN yang mengatakan kalau jalan di sawahnya ada yang angker, haha emang gue pikirin (hehe).

    Rabu, 18 Mei 2011

    Gunung Merbabu via Selo


    Gunung Merbabu merupakan gunung yang terletak di provinsi Jawa Tengah tepatnya berada di perbatasan kabupaten Semarang, Boyolali, dan  Magelang. Gunung Merbabu memiliki tinggi 3142 mdpl dan memiliki beberapa puncak. Gunung ini memiliki beberapa jalur pendakian, dan kebanyakan berada di sebelah utara gunung, sebut saja jalur Wekas, Cuntel dan Tekelan. Salah satu jalur dari selatan gunung yang sudah mempunyai basecamp resmi adalah jalur Selo. Jalan menuju basecamp Selo ini cukup bersahabat dengan kendaraan karena jalan yang dilalui adalah jalan aspal tidak seperti ke jalur lainnya yang berupa makadam (batu-batu yang ditata) walaupun tetap saja jalannya menanjak. Biasanya jalur Selo ini digunakan pendaki untuk turun gunung yang biasanya naik dari jalur sebelah utara.
    Peta rute pendakian
    Jika jalur-jalur sebelah utara gunung nantinya akan bertemu dipertengahan jalan (puncak menara, kawah), maka jalur Selo ini akan bertemu dipuncak dengan jalur-jalur tersebut. Jalur Selo ini termasuk cukup sulit jika dibandingkan dengan jalur dari utara. Selain itu penunjuk jalan yang ada juga masih sedikit dan banyak cabang yang jika salah akan mentok dan harus balik kembali yang akan menghabiskan cukup tenaga. Intinya jika tidak ingin tersesat adalah serong kanan, kata penjaga base camp. Jalur terberat adalah jalur sehabis batu tulis yang akan menuju sabana 2 karena jalurnya cukup menanjak dan apabila hujan akan cukup licin dan berlumpur.
    Puncak Merapi dari Sabana 2
    Pemandangan dari sabana dua sangat indah, apabila cerah maka kita dapat melihat Gunung Merapi di selatan kita yang dihiasi rumput-rumput sabana yang hijau dan melihat puncak Merbabu di Utara. Jalur menuju puncak pun terlihat dari sabana 2 yang apabila sudah tidak ada semangat maka akan semakin malas untuk naik ke puncak karena terlihat cukup jauh, apalagi setelah melewati jalur menanjak sebelumnya. Tapi jika masih semangat maka akan merasa cuma tinggal segitu saja.

    Di tengah jalan menuju puncak akan terlihat sebuah yoni yang mirip seperti di puncak kenteng songo yang masih belum jelas asal-usulnya (mungkin dinas purbakala malas untuk naik gunung :p). Dari puncak dapat terlihat jejeran gunung Sumbing, Sindoro, Prau, dan seterusnya di sebelah barat, Merapi di selatan, dan Lawu di Timur.
    Puncak Merbabu dan Sabana 3
    Ketika turun kita juga harus hati-hati karena jalur turun juga banyak cabangnya, apalagi di batu tulis. Jika dilihat dari atas, maka akan terlihat jalan lurus dari batu tulis, namun jalan tersebut tidak akan membawa kita ke base camp Selo, namun akan membawa ke desa lain. Agar tidak tersesat, maka dari batu tulis kita harus melewati jalan air disebelah kiri batu tulis. Mungkin ketika salah jalan awalnya kita tidak terlalu merasa aneh, apalagi bila mendakinya malam hari, namun lambat laun akan terasa keanehan bila jalan yang ditempuh adalah jalan yang tidak membawa ke base camp. Jalur tersebut akan membawa kita ke Lencoh, tapi jika tidak beruntung maka akan menuju desa yang lebih jauh lagi, yaitu Jrakah. Apabila membawa kendaraan pribadi maka harus balik ke base camp. Dari jalan raya dapat naik mobil sayur menuju Selo dan dilanjutkan jalan kaki menuju base camp. Tentu saja apabila salah jalan terjadi maka dapat membuat kita down, apalagi bila berjalan hingga gelap dan baterai buat senter sudah habis seperti  yang saya alami :p.
    Bukit Teletubbies