Tampilkan postingan dengan label Magelang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Magelang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Agustus 2013

Gunung Merapi via Deles



Gunung Merapi merupakan gunung yang wilayahnya berada di 2 provinsi dan 4 Kabupaten, Jawa Tengah (Boyolali, Klaten, Magelang) dan DIY (Sleman). Tinggi gunung ini pun berubah-ubah seiring dengan aktivitas dari gunung Merapi dikarenakan lokasi kawah yang berada di sekitar puncak. Tinggi dari gunung ini yang biasa disebutkan di dunia maya adalah 2965 mdpl, sedangkan pada peta RBI dari foto udara 1993/1994 tingginya hanya 2941 mdpl, dan dari peta Belanda tahun 1939 tinggi gunung tersebut hanya 2911 mdpl.

Gunung Merapi mempunyai beberapa rute pendakian, seperti rute Selo, Babadan, Kinahrejo, Deles, dan Cluntang. Jalur Selo Merupakan jalur paling terkenal, tercepat, terpopuler, dan yang paling gampang, serta jalur paling aman. Jalur Babadan juga lumayan populer (dulu), tapi kemudian jalur ini putus dan sangat sulit untuk dilewati (saya juga belum pernah :p). Jalur Kinahrejo sama nasibnya dengan jalur Babadan yang sudah putus dan menjadi jalur yang berbahaya. Jalur Cluntang... jalur yang aman, tidak terlalu terkena dampak letusan tapi tidak terkenal dan bahkan saya belum pernah membaca catper pendakian dari jalur ini -_-;). Jalur Deles.... baca saja deh :p
Gunung Merapi

Awal Pendakian

Seperti saat mendaki ke Sindoro, saya melakukan pendakian ini dengan 3 personil saja, mbak M dan mas S. Alasan ingin lewat jalur ini karena saya pernah lihat foto di bc Selo dan diceritain kalo jalur ini gak terlalu kena efek letusan. Mengingat jalur ini termasuk jarang dilalui dan belum ada yang pernah, maka saya menyarankan agar mendaki siang hari. Berkumpul di kediaman mas S di daerah Ngaglik, Sleman, kami pun meluncur ke arah Deles dengan 2 sepeda motor. Untuk mencapai Deles sangatlah mudah, paling mudah ya lewat jalan Jogja – Solo, di wilayah Klaten banyak petunjuknya kok, mengingat Deles merupakan tempat wisata. Perjalanan dimulai dari warung bu Mardiyah (?), motor pun dititipkan di sana. Warung ini terletak di dusun Deles di tempat melihat jurang (gak tahu namanya, pokoknya lebih atas dari gua jepang).

Perjalanan di mulai dengan rasa agak malu dikarenakan sepertinya banyak orang (lagi wisata) yang melihat kami. Menyusuri jalan aspal menanjak terus dan akhirnya bingung kapan lewat jalan tanahnya. Usut punya usut ternyata di atas ada basecampnya dan lokasinya dah beda desa -___-;). kalau tahu gini kan dari awal langsung ke basecamp aja gak usah pakai capek-capek lewat jalan aspal ditambah malu :p. Basecampnya ada di Pajegen, desa Tegalmulyo.

Rute Perjalanan

Etape I

Jalur pendakian terdapat di dekat basecamp, melewati sedikit rumah penduduk lalu menyusuri hutan lamtoro dengan sebelah kanan jalur air. Awal-awal masih gampang lah sampai bertemu dengan persimpangan pertama tanpa petunjuk, dipilihlah jalur yang mengarah ke utara naik punggungan, dilihat dari atas, jalur yang satunya mengarah ke punggungan lain. Beberapa saat kemudian menemukan persimpangan lagi yang tanpa petunjuk, dan dipilih yang melalui pinggir sungai dan ketemu simpangan lagi dengan kondisi tanpa petunjuk lagi, kali ini dipilih yang naik punggungan. Setelah itu menyusuri punggungan sampai suatu titik dan jalan menjadi menurun pindah ke punggungan lain dan berakhir bingung :p, walhasil harus balik lagi ke punggungan sebelumnya -___-;). Ternyata sebelum jalan menurun terdapat jalan lurus yang tertutup rerumputan (walah). Beberapa saat kemudian terlihat di bawah terdapat semacam shelter dan terdapat jalan menanjak ke tempat kami, sepertinya jalan yang benar adalah setelah sungai ambil jalan yang satunya. Sepertinya itulah POS I.
Punggungan tipis di sebelah barat (di baliknya ada kali Gendol)

Etape II

Beberapa saat kemudian saya melihat untuk pertama kalinya petunjuk arah bertuliskan GAM (Gabungan Anak Merapi ?), sayangnya tidak berada di persimpangan. Mas S pun berencana kapan-kapan naik lagi dan bikin petunjuk seperti itu, mumpung petunjuknya masih sedikit. Naik naik naik sampai juga di persimpangan yang lagi-lagi tanpa petunjuk -__-;). Pertama ambil lurus, kemudian bingung, karena tidak ingin bernasib seperti sebelumnya balik dan belok ke simpang yang satunya. Ditelusuri jalur tertutup semak-semak, saya sempat ragu tapi masih bisa dilanjutin. Jalan pun menanjak tajam, > 45 derajad, dengan jalur yang gak begitu jelas, pokoknya nanjak. Yang bikin seram adalah sebelah kiri merupakan jurang Kali Woro yang sepertinya > 1 hm, kalau jatuh jangan harap gampang diangkat -___-;). Setelah tanjakan yang melelahkan sampailah di atas dan melihat jalur lain yang sepertinya mengarah ke jalur satunya. Sejurus kemudian sampailah di tempat lumayan bisa buat nge-camp, tapi bukan POS II (tahu setelah searching-searching lagi :p)
Jurang Kali Woro

Etape III

Dari tempat sebelumnya, jalur menjadi agak menurun, kemudian agak belok ke kanan. Jalur yang ada gak begitu terlihat karena tertutup semak-semak dan akhirnya sampai di bawah batu besar. Dari bawah, jalur yang ada adalah naik terus menyeberangi batu (awas licin), setelah itu menanjak lagi -___-;). Skip, skip, skip, sampailah di tempat terbuka cukup satu tenda walau gak begitu terlindung. karena dah gelap diputuskan mendirikan tenda. Lokasi ini adalah tempat in Memoriam dari Heri Wasito. Ketika dah leyeh-leyeh, setelah melihat trek yang tadi, rencana buat bikin petunjuk jalan sepertinya harus diurungkan. Malam pun diakhiri dengan tidur dengan hujan yang turun.

Setelah matahari muncul kembali, ternyata di samping barat tenda masih jurang kali Woro. Siap-siap, beres-beres, skip-skip, jalur yang ada kembali menurun dan naik lagi. Ternyata di bukit yang dinaiki ini, berdirilah (gak ada yang berdiri sih) POS II dengan bangunan antena dan solar sel sebagai tempat mengawasi aktivitas Merapi.
Menyisir punggungan

Etape IV

Dari POS II (dari bawah juga terlihat sebenarnya), terlihat punggungan bukit-bukit berderet hingga Merapi, ya, itulah jalur yang harus dilewati -___-;). Di depan POS II dah menanti punggungan, intinya naik, menyibak-nyibak ilalang yang menutup jalur, kalau gak kuat nanjak pakai dengkul nanjaknya, kalau gak kuat lagi cari pegangan tapi kalau salah dapat pegangan arbei liar yang berduri -___-;). Skip skip skip setelah beberapa tanjakan dan sedikit turunan, jalur berikutnya yang harus dilalui ternyata terkena longsor. Agak buka-buka tanaman buat melewati longsoran yang memang berbahaya jika harus langsung melewati longsoran karena terjalnya lereng. Setelah itu sampailah di punggungan yang lumayan terbuka, tapi tetap saja jalur masih tertutup ilalang -__-;).

Setelah turunan dan tanjakan lagi, sampailah di daerah berbatu. Jalur yang dilalui adalah melalui sisi kiri batu dan di sini adalah vandalisme pertama yang saya lihat. Saya kira di sini adalah tempat watulawang, ternyata bukan (dah banyak berharap -___-;). Sedikit turun dari area batu, langsung dihadapkan dengan tanjakan lagi, dah ketutup, licin, banyak yang berduri, sempit, dan satu-satunya jalur yang ada. Setelah sampai puncak bukit, terlihat tantangan selanjutnya, sebuah bukit sebelum mencapai perbatasan vegetasi. Di tempat ini jugalah lokasi tempat bertemunya jalur Deles dengan jalur Cluntang.
Bukit yang telah dilewati

Etape V

Sedikit turun dengan sebelah kanan jurang sungai yang curam dengan pipa-pipa panjang melintasi sisi-sisi tebing pembatas yang curam yang kadang melewati bekas longsoran kemudian seperti biasa, diikuti dengan tanjakan. Di suatu lokasi, jalur menghilang, pikirnya jalur bakal lewat puncak punggungan lalu turun lagi, ternyata setelah sampai di puncak yang berbatu jalur kembali menghilang walau ada beberapa vandalisme yang membuat asumsi itu adalah jalur yang benar. Mbak M menyarankan menuruni batu, tapi kok agaknya meragukan, batunya kelihatan tinggi, dan ternyata setelah dilihat-lihat dari atas jalurnya melalui sisi kiri puncak bukit, akhirnya kembali lagi ke titik sebelumnya. Di titik sebelumnya jalur benar-benar menghilang tertutup ilalang yang dah benar-benar tinggi. Agak naik dikit menerobos semak, mencoba melihat-lihat kalau ada bagian yang gak ketutup, dan benar saja di depan ada jalurnya. Turunan dua meteran yang ketutup paku-pakuan dan ilalang tinggi yang entah ada apa dibaliknya dituruni dan diterobos menuju jalan yang benar :p. Jalur lalu menurun licin tanpa ilalang, hanya cantigi, kemudian naik lagi dan sampailah di tempat dengan batu yang berlubang besar, inilah Watulawang (kalau di peta nyebutnya Batulawang, yah karena Merapi di Jawa ya saya nyebutnya watu walau saya tahunya watubolong -___-;).
Watulawang
Dari Batulawang, jalur menanjak datar dan terlihatlah puncak Batulawang yang berbatu dan sebelumnya dinaiki, dan ternyata memang gak bisa dituruni dari atas karena benar-benar tinggi. Beberapa saat kemudian sampailah di batas vegetasi. Sedikit menanjak, terdapat bekas tempat antena dan solar sel untuk mengamati Merapi yang sudah rusak. Menanjak lagi sampailah di Pusunglondon. Dari Pusunglondon hanya menurun dan sampailah dipertemuan jalur Seloketika maghrib, Pasar Bubrah.
Gunung Batulawang dari batas vegetasi

Last Etape

Sebenarnya kami tidak mendaki ke puncak Merapi dan memutuskan turun melalui jalur Selo karena sudah malam, sudah capek, dan sudah ngomong kalau cuma mo dua hari, dan saya sudah pernah jadi nggak terlalu masalah :p dan bila mo balik lewat Deles lagi jalurnya ya gitchu dech :p. Dan ternyata pas mau ngambil motor, si ibu dah mau laporin ke SAR :p (maaf ya dah buat khawatir, habis jalurnya bener-bener !@#$%). Akan tetapi, karena ada barang saya yang jatuh pas turun, dan ada yang ngajak naik lagi, ya mari saja sekalian kalau-kalau barang yang jatuh bisa ditemukan (walaupun ndak ketemu). Anggotanya nambah 3 orang, mbak Z, mas R, dan mas A.

Etape terakhir adalah jalur menuju puncak, jalur yang ada berupa daerah pasir yang melorot kalau diinjak. Orang-orang pada umumnya melalui jalur agak sebelah timur, melewati pasir-pasir hingga ke daerah dengan wilayah berbatu yang dah mantap. Dari daerah berbatu sudah lumayan gampang, tinggal menanjak terserah mo lewat mana nanti akhirnya sampai di puncak seberang kawah yang sepertinya dulu masih dilokasi kawah mati. Di puncak terserah mo ngapain, mo poto-poto atau mau ke puncak tertinggi, atau mo terjun ke kawah ya terserah :p.
Kondisi Puncak Merapi

Ending

Dari semua jalur gunung yang pernah saya lalui, sepertinya jalur Merapi via Deles ini yang paling susah melebihi Sumbing, Lawu via Cetho, dan Semeru, alasannya yang paling ngehek adalah jalur yang tertutup ilalang dengan tanjaknnya yang yahud dan licin. Sebagai saran aja, kalau mo naik lewat sini lebih baik pas gak hujan dan lebih-lebih kalau dah rame yang pake rute ini (jalur bakalan kelihatan deh) dan bawa anggota yang pernah lewat sini (biar gak nyasar terutama di bawah) ditambah tutupi kulit buat ngindari duri (sarung tangan, kaos kaki, celana panjang, dll) :p.

Tambahan

Nemu dari inet, titik-titik di jalur Deles yang dilalui (kok dulu pas mau naik gak nemu ya)
1 Pajegan (Lewat)
2 Rong Tikus (Entah di mana)
3 Pos I (Kayaknya itu deh...)
4 Pos Bayangan (yang itu pa?)
5 Nisan Pohon makam ass. Bupati Boyolali 1965 (Entah)
6 Monumen Heri Ceper (Tempat nge-camp)
7 Pos II (Lewat dong)
8 Camp Yoyok (Mbuh)
9 Pos III (Ng....)
10 Watu Bulus (Mana lagi, katanya dulu ada kerangka pertapa yang ditemukan mati di sini)
11 G. Batu Lawang (Pasti lewat)
12 Pos IV (batas vegetasi)
13 G. Gajah Mungkur (sepertinya maksudnya Pusunglondon, kalo Gajahmungkur lewat Selo)

Colors: Perkembangan puncak tertinggi Merapi setelah letusan 2010 ketika saya sambangi
Greyscale: Puncak Garuda yang sudah patah

Rabu, 06 Februari 2013

Gereja Ayam Borobudur, Cook-a-Doodle-Doo



Sebenarnya judul untuk pos kali ini agak kurang menarik menurut saya, sayangnya saya benar-benar gak tahu nama gereja ini sehingga gak bisa ngasih judul yang bener (Nanti kalau dah tahu saya ganti nih judul). Berawal dari baca-baca di forum dan tiba-tiba nemu judul “Giant Chicken Church” yang juga ada video dari bule yang ke sini, membuat saya ingin segera menyambanginya (maklum gak terlalu jauh daripada ke pantai). Pas dicari-cari lewat Google Earth, eh ternyata itu bangunan yang saya lihat (lewat peta) pas cari-cari Punthuk Setumbu, dan kukira awalnya itu adalah kandang ayam karena bentuknya yan memanjang, ternyata malah gereja ayam.

Giant Chicken
Lokasinya deket banget sama Punthuk Setumbu, sepertinya masih satu bukit malah, walau berada di sisi yang lain. Lokasi tepatnya berada pada 7°36'20.21"S 110°10'49.93"E di desa Karangrejo, Borobudur, Magelang. Untuk ke sini paling mudah ya dari Borobudur, terus ikuti jalan arah Salaman. Ketika sampai sekitar pertigaan yang mengarah ke Punthuk Setumbu, lihat di depan ada BTS di kanan jalan, nah jalan masuknya belok ke kiri pada jalan pertama yang ditemui setelah BTS itu. Ikuti jalan tanah tersebut sampai yang nantinya berubah jadi jalan cor-coran, pokoknya lihat aja ke depan nanti bakal kelihatan kepala ayamnya. Ikuti jalan sampai akhir cor-coran, sebaiknya kendaraan di parkir di sini saja karena selanjutnya jalan benar-benar menanjak dan lumayan jelek. Dari tempat itu ambil jalan ke kanan terus saja, nanti bakalan sampai di tempat ini. Untuk yang pakai mobil lebih baik parkir agak bawahan lagi biar lebih gampang mutarnya.

Ada apa sih di sini, ya cuma ada bangunan tua berbentuk ayam yang besar yang nggak terurus :p. Kalau dilihat-lihat, ni tempat deket banget sama puncak Suroloyo malah kelihatan tepat (dipas-pasin) di sebelah selatannya, tapi pas di Suroloyo kok saya gak lihat ni bangunan ya…. (maklum perhatian cuma terfokus buat cari Borobudur). Pemandangan dari tempat ini lumayan sih, bisa lihat puncak Suroloyo di selatan dan Gunung Sumbing di utara (sayangnya lagi mendung). Ni bangunan terdiri dari dua lantai, dengan pintu masuk berada di utara. Di lantai bawah ruangannya benar-benar gelap walau siang hari, isinya sih ruangan seperti kamar-kamar gitu (saya kurang tahu fungsinya). Tangga untuk ke atas ada di bagian belakang, tapi karena waktu itu tidak tahu ya masuk ke atasnya lewat lubang yang ada di belakang bangunan. Lantai atas ini berupa aula, sepertinya ini adalah aula gerejanya (church’s hall). Sebenarnya yang ingin saya lakukan di sini adalah naik ke bagian kepala ayamnya, ternyata gak ada jalan buat naik ke atas -_-;).

Bagian dalam lantai atas
Sayangngya tempat ini bener-bener tak terawat, banyak coretan, sampah, bahkan dah berlumpur. Lebih parahnya lagi ada tulisan yang mesum banget XD, katanya juga ni adalah tempat mesum. Awalnya saya gak terlalu percaya kalau ini gereja karena lambang di punggung ayamnya gak mirip salib, tapi malah lebih mirip tanda plus (lah panjangnya gak terlalu beda, dan stereotip saya mengenai gereja tu ada salibnya, bukan tanda plus :p), tapi setelah tanya orang sekitar ternyata tu tempat beneran gereja (gimana nih malah gak sekalian nanya nama dan sejarahnya -_-;). Kalau baca-baca di forum lagi nih, ni adalah gereja buat sekte-sekte tertentu, yah seperti isu bangunan gurita di Bandung itu lho.

**UPDATE**: Ternyata bangunan ini namanya "Banyak Angkrem". Walau namanya Banyak (Angsa), tapi kok bentuknya kayak ayam, walau bentuknya ayam, tapi katanya ini merpati putih (duh jadi bingung). Sebenarnya pas lihat di wikimapia ada yang kasih label "Hotel pondok bukit Rhema", tapi pas dulu di-searching, eh malah munculnya hotel yang beda. Tapi ternyata memang katanya ini terletak di bukit Rhema dan pas search pake "bukit Rhema" aja, muncul nih gambar bangunan (Duh kok gak dulu-dulu -___- ; ).

Sabtu, 05 Januari 2013

Ancol, de plaats waar Progo verdeeld


Akhirnya nge-post lagi setelah sekian lama tidak nge-post di blog ini :D

Post tour jatim-nya kuhentikan dulu deh ganti dengan post yang seperti biasa aja lagi :p.

Hampir semua mahasiswa yang kuliah di Jogja tahu Selokan Mataram, maklum selokan ini mengalir di dekat kampus-kampus yang ada di sekitaran Jogja, seperti UGM dan UNY. Namun tidak semuanya tahu dari mana asal air selokan ini bermula. Ancol, itulah asal dari selokan ini. Entah kenapa dinamai Ancol saya juga tidak tahu. Setelah dicari melalui KBBI ternyata ancol adalah tanah yang menjorok ke laut; tanjung. Tapi untuk ancol yang ini sepertinya juga gak terlalu cocok, tanah yang menjorok ke sungai...

Ancol bisa dikatakan terletak di dua provinsi, Jateng dan DIY. Terletak di Banjaroya, Kalibawang, Kulonprogo untuk wilayah DIY dan Karangtalun, Ngluwar, Magelang untuk wilayah Jateng. Entah kenapa kebanyakan orang menyebut Ancol sebagai Ancol Bligo, padahal Bligo sendiri adalah desa di selatan Karangtalun. Sedangkan letak astronomisnya terletak pada daerah sekitar 7°39′51″S 110°16′01″E.

Untuk mencapai Ancol yang paling gampang ya mengikuti selokan mataram untuk jalur lain sebenarnya banyak tapi sulit menjelaskan dengan kata-kata :p (sebenarnya malas njelasin). Paling enak ke sini ya naik motor, naik sepeda sambil nyusurin selokan mataram juga asyik (padahal belum pernah), kalau naik mobil juga bisa tapi lebih baik jangan lewat selokan mataram, habis jalannya sempit, kalau naik angkot…. entah turun mana :p.

Hulu Selokan Mataram
Di Ancol terdapat jembatan Karangtalun yang melalui sungai Progo yang juga merupakan batas antara provinsi Jateng dan DIY. Di sebelah timur sungai Progo terdapat bendungan Karangtalun yang merupakan awal dari jaringan saluran induk mataram yang sekitar 3 km kemudian membelah menjadi saluran van der wijck ke selatan dan kanal Yoshiro ke timur. Perasaan ni nama Van Der Wijck ada di mana-mana. Kebanyakan sih orang-orang mainnya di sebelah timur ini. Sedangkan di sebelah barat terdapat intake kalibawang yang merupakan hulu dari saluran induk kalibawang yang entah ujungnya di mana (maklum pas nyusurin ini saluran mbelah jadi 2 terus jadi ada sal induk Donomulyo terus jalannya menghilang, kayaknya sih di kali Serang atau mungkin balik ke Progo lagi).

Sebenarnya sih pemandangan di Ancol ini gak ada yang istimewa, cuma lihat sungai, bendungan, saluran air, jadi ya gak istimewa banget. Namun di sisi sejarah tentu saja ni tempat banyak banget sejarahnya. Dimulai dari bendung Karangtalun dan saluran Van Der Wijck yang dibangun Belanda, kemudian kanal Yoshiro / selokan mataram yang dibangun Jepang, lalu saluran Kalibawang yang dibangun setelah kemerdekaan. Yang lebih unik lagi, ternyata ada game membangun selokan mataram. Ni Game saya temuin di Benteng Vredeburg, kita disuruh mbangun saluran air dari sungai Progo menuju sungai Opak melalui halangan-halangan yang ada, tapi ni game sulit maininnya dah dipencet-pencet gak mau juga (main sendiri aja di sana atau mungkin saya yang payah :p).

Saluran Kalibawang dan Sungai Progo
Bagian paling asyik di tempat ini menurut saya adalah ketika menuju intake Kalibawang. Untuk menuju tempat ini sebenarnya ada cara yang lebih mudah, tapi kurang seru. Jalan yang seru adalah melewati pembatas antara saluran Kalibawang dengan sungai Progo yang lebarnya sekitar 1.75 meter kayaknya dengan tinggi sekitar 3 meter, Jadi kalau jatuh ya sakit atau basah :p.Waktu itu dengan bodohnya mengendarai motor sampai ujungnya dan tempat enak buat muterin motornya tidak ada XD, jadi harus angkat-angkat buat muter, mana panjang motornya pas lagi. Intake Kalibawang ini diresmikan pada 8 April 1970 oleh Ir Sutami (bapak ini namanya juga di mana-mana).

Intake Kalibawang

Kamis, 21 Oktober 2010

Gunung Sumbing

Gunung Sumbing merupakan salah satu gunung yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Gunung tertinggi ke tiga di pulau Jawa ini (3371 mdpl) terletak di tiga kabupaten, yaitu Magelang, Temanggung, dan Wonosobo. Terdapat beberapa rute pendakian untuk menuju puncak gunung ini, salah satunya dari Dusun Garung, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar. Rute Garung ini merupakan rute termudah untuk menuju puncak Gunung Sumbing, namun tetap saja rute ini termasuk cukup sulit dan melelahkan. Terdapat dua jalur, yaitu melalui jalur lama dan jalur baru yang keduanya akan bertemu di pestan. Selama mendaki gunung ini, saya hanya menggunakan jalur baru karena jalur ini lebih mudah dari yang satunya.

Sunset
 Kalau ingin mendaki terdapat beberapa larangan yang tertulis di basecamp, seperti jangan bicara kotor, buang air sembarangan, dan lain-lain. Katanya apabila dilanggar akan ada sesuatu yang menimpa. Gunung ini termasuk gunung yang gundul dengan sedikit hutan. Sebagian besar lerengnya telah menjadi ladang penduduk. Untuk mendaki diperlukan persediaan air yang cukup banyak karena mata air yang ada hanya satu dan itupun sudah kotor karena banyak pendaki yang membuang sampah di sana. Pernah ketika mendaki kelompok saya kehabisan air minum di puncak dan tidak minum setetes air pun sampai di basecamp sampai-sampai bibirpun sangat kering. Ternyata hal ini disebabkan beberapa anggota kelompok yang pertama kali mendaki ke gunung ini menganggap gunung ini mudah seperti gunung-gunung yang sebelumnya mereka daki dan cuma membawa air sedikit (doh).

Selain sudah gundul, ketika musim kemarau juga sering terjadi kebakaran. Saya pernah melihat asap ketika berada di puncak dan saya kira itu cuma asap kawah yang letaknya ada di bawah (doh). Ternyata setelah turun dari puncak, saya baru sadar bahwa asap itu berasal dari api yang membakar semak-semak. Dan lokasinya berada di punggungan sebelah tenda kami ditinggal.
Bekas kebakaran
Tempat yang paling nyaman untuk mendirikan tenda adalah di area watu kotak karena tempat ini cukup terlindung dari angin. Namun Watu Kotak ini tidak terlalu luas dan katanya angker. Bila sudah cukup lelah, biasanya pestan pun menjadi tempat mendirikan tenda walau angin yang datang cukup kencang. Tapi jangan lupa kalau pestan merupakan singkatan dari peken (pasar) setan, hehe. Ketika pertama mendaki gunung ini ternyata bebarengan dengan diadakannya bersih gunung oleh penduduk dari yang tua (belum aki-aki) hingga anak-anak SD. Para anak SD ini mendaki dengan lincah (maklum cuma bawa sedikit air minum) sehingga menyebabkan anggota kelompok kami merasa kalah dari anak-anak ini (hehe).

Salah satu senior menyarankan untuk mendirikan tenda di watu kotak namun sesampainya di sana, namun setelah mendaki bersusah payah, kami melihat bahwa tempat itu telah penuh sesak digunakan oleh penduduk (doh), sehingga terpaksa mendirikan tenda di dekat tempat itu. Karena tidak cukup luas, terpaksa tidak semua tenda didirikan dan ada yang tidur di luar. Namun ketika pagi, para penduduk telah mendaki ke puncak dan ternyata tempat kami adalah jalan. Karena orang yang tidur di luar memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam sleeping bag, sehingga para  orang yang lewat mengira itu cuma barang dan menginjaknya (weks) padahal isinya orang (doh).
Bayangan gunung
Puncak Gunung Sumbing berupa kaldera dengan kawah di tengahnya. Gunung ini merupakan gunung api yang sudah tidak aktif lagi namun di beberapa titik terdapat asap berbau belerang yang keluar. Untuk menuju puncak tertinggi juga cukup sulit untuk dilakukan karena cukup terjal.
Suasana pagi
Untuk mendapatkan sunrise dari gunung ini cukup sulit, karena kita harus mendaki hingga puncak (tidak harus puncak tertinggi) agar dapat melihatnya. Ketika pagi kita juga dapat melihat bayangan dari gunung ini yang memberikan efek cukup aneh pada mata. Yang paling indah adalah ketika melihat sunset dengan gunung Sindoro dan dataran tinggi dieng sebagai objeknya.
Kawah

Minggu, 17 Oktober 2010

Candi Borobudur

Candi Budha yang paling terkenal di Indonesia tak lain dan tak bukan adalah candi Borobudur. candi yang terletak di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang ini merupakan candi yang termasuk world heritage atau warisan dunia. Dulu candi ini dianggap salah satu tujuh keajaiban dunia, namun sepertinya yang menganggapnya sebagai salah satu 7 wonders hanyalah orang Indonesia saja. Saya tidak pernah melihat literature (kecuali buatan Indonesia) yang menyebutkan bahwa candi ini termasuk salah satu 7 wonders. Sepertinya kesalahpahaman yang menganggap bahwa world heritage sama dengan seven wonders.
Candi Borobudur
Kadang orang menganggap bahwa candi ini terletak di provinsi DI Yogyakarta. Namun saya sebagai orang Jawa Tengah merasa tidak terima (hehe). Bila melihat informasi dari luar negeri (misal dari internet), kadang candi Prambanan disebut sebagai candi Borobudur (doh).
Salah satu relief
Tiket masuk ke candi untuk wisatawan lokal seharga Rp15000 (atau 20rb ya???), dan untuk wisatawan manca lebih mahal. Waktu masuk gerbang ada petugas yang membawa metal detektor (sepertinya setelah kejadian bom karena dulu sepertinya tidak) namun tidak digunakan untuk memeriksa (doh sama aja boong).
Candi Borobudur ini kalau dari atas terlihat seperti bunga teratai (sayang belum pernah lihat kecuali dari google map dan tv). Kalau pengin mengetahui cerita di reliefnya kita harus menyewa guide atau mungkin ngikut rombongan bule yang biasanya membawa guide dan ikut nguping (hehe). Kalau tidak mau tahu paling mengira-ngira sendiri dan mungkin mengira-ngiranya agak nyeleneh (hehe).

Kalau mau ngelilingi tiap tingkat candi yang ada 10 tingkat ini (kalau gak salah) pastinya bisa diitung-itung olahraga soalnya lumayan bikin ngos-ngosan. Borobudur ini sepertinya adalah tempat favorit lembaga bimbingan belajar bahasa inggris  di daerah Kedu dan DIY untuk melatih anak didiknya agar bisa berbicara langsung dengan bule.

Menurut saya relief yang paling menarik adalah relief kapal yang katanya dulu telah menjelajah hingga Afrika. Kalau relief lain karena menggabung ke suatu cerita jadinya saya kurang tertarik (paling isinya gambar orang atau binatang).
Salah satu relief kapal
Yang paling repot jika ke sini adalah jika sedang kebelet apalagi bila kebeletnya di puncak, harus turun candi dulu untuk ke toiletnya. Dulu ketika saya masih kecil saya sempat kebelet dan mencari sudut yang sepi dan pipis di sana (blush).

Dasar orang Indonesia, walau sudah jelas tertulis di papan tetap saja melanggarnya. Peringatan dilarang duduk atau dilarang naik ke stupa tetap dilanggar, apalagi di stupa utamanya yang sebagian besar malah digunakan sebagai tempat duduk dan salah satu lokasi foto yang paling sering digunakan. Objek utama yang paling sering diambil yaitu stupa yang terbuka yang terdapat patung Budhanya. Entah mengapa jika melihat foto-foto di majalah mengenai candi Borobudur selalu saja objek ini yang muncul.
Salah satu arca