Tampilkan postingan dengan label Monumental. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Monumental. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juli 2013

Tugu Legetang - Menghilang dari Peta


Apakah ada yang tau cerita tentang dukuh Legetang? Banyak kok ceritanya bertebaran di inet. Dukuh Legetang terletak di desa Pekasiran, kecamatan Batur, kabupaten Banjarnegara, masih berada di wilayah pegunungan Dieng – Petarangan. Secara astronomis terletak pada 7.19416667S, 109.8652778E. Legetang merupakan tragedi terbesar yang melanda daerah Dieng melebihi peristiwa gas beracun kawah Sinila yang lebih tersohor daripada peristiwa Legetang. Inti ceritanya adalah mengenai dukuh yang diazab dengan longsoran dari gunung dengan suatu keanehan di mana keadaan longsoran yang tidak masuk akal.

Get There
Jarak dari kompleks wisata Dieng (Arjuna, Sikidang, Warna) menuju tugu Legetang tidak begitu jauh, cuma beberapa kilo. Jalannya pun masih sejalur dengan jalur menuju Kawah Sileri, Kawah Candradimuka, dan Sumur Jalatunda. Kalau pernah ke Dieng tapi gak sampai tiga tempat tersebut begini petunjuknya, dari Dieng (gampangnya gapura perbatasan Wonosobo - Banjarnegara) menuju ke arah Banjarnegara, Batur, Wanayasa, dll. Sedikit kilo kemudian bakalan nemu pertigaan berbentuk Y, ambil jalur yang menurun, yang kanan, kalau kiri bisa juga tapi mutar jauh (ke kiri jalur ke telaga Merdada), nanti bakalan lewatin telaga Sewiwi, pertigaan arah Kawah Sileri, lalu perkampungan desa Kepakisan.

Setelah dari perkampungan, nanti di sebelah kanan bakal terlihat sungai, nah kalau sungai dah mulai terlihat coba lihat agak ke kanan atas ke arah gundukan bukit (bukan bukit yang jauh tapi yang dekat, dan jangan keterusan, lihat jalan juga :p), kalau cerah tugunya bakal kelihatan. Habis itu bakal lewatin jembatan sungai yang tadi, habis jembatan perhatikan ada jalan yang menuju ke atas di sebelah kanan, ambil jalan itu naik terus sampai lihat tugunya di sebelah kanan, tinggal parkir dan sedikit jalan. Oh iya sebenarnya jalan makadamnya cukup buat mobil (1 buah, kalau ketemuan berabe), tapi pas saya ke sana ada palang di jalur masuknya yang digembok, ya mungkin buat mobil cuma sampai bawah. Buat kendaraan umum gak ada ya yang lewat daerah situ, soalnya lewat jalur satunya.
Tugu Legetang berlatar gunung Pengamunamun

Ada Apa Sih Di Sana?
Di sana cuma ada tugu tua di tengah-tengah ladang, gak ada yang lainnya, cuma bisa lihat pemandangan :p. Lumayan sih bisa lihat pemandangan gunung Nagasari (kalau cerah), atau gunung Pengamunamun dan gunung Jimat, atau celahnya yang misterius :p. Oh iya sebenarnya di tugu ini terdapat tulisan (kayaknya sih, lihat di foto kaya gitu), tapi pas saya ke sana sudah gak ada. Begini isinya:

“Tugu peringatan atas tewasnja 332 orang penduduk dukuh Legetang serta 19 orang tamu dari lain-lain desa sebagai akibat longsornja gunung Pengamun-Amun pada tg.16/17-4-1955”

Sebenarnya ada yang berbeda antara tulisan di tugu ini dengan monumen yang ada di pertigaan ke kawah Sileri, pada monumen tersebut jumlah korban meninggal 450 orang, beda sekitar 100 orang dengan yang ada di tugu, yang benar entahlah. Katanya sih warga dukuh yang selamat cuma 1 orang karena lagi gak di rumah, dan sekarang dah meninggal.

Walaupun di bawahnya tekubur satu dusun dengan segala isinya termasuk penduduknya, namun saat ini bagian atas sudah berubah jadi ladang.
Puncak Pengamunamun yang ikut longsor (katanya)

Retribusi
Gratiiiiiissss, lagian kan bukan tempat wisata :p

Sedikit Investigasi :p
Mungkin ada yang berpikir kalau cerita tersebut gak benar-benar terjadi atau mungkin dilebih-lebihkan dengan bumbu-bumbu yang bikin ngeri, kalau begitu baca sedikit uraian investigasi saya :p. Sebagai info, saya cuma mbandingin dengan peta tahun 1922 dan 1943 dengan keadaan saat ini dan peta dari BNPB yang berdasar dari peta RBI.


Peta 1922
Pertama, dukuh Legetang benar-benar ada di tempat di sekitar tugu tersebut. Di peta baik tahun 1922 dan 1943 terdapat daerah Legetang di lokasi yang ada di dekat tugu tersebut (agak ke utara).

Kedua, terdapat sungai antara gunung Pengamunamun dengan dukuh Legetang sebelum terjadi longsoran yang terlihat pada peta. Perlu diingat, dalam keanehan yang ada adalah sungai tersebut tidak terkena dampak longsoran (logikanya sungai juga terkena longsoran kan) dan pas saya lihat saat ini memang ada sungai kok di sana, tapi emang gak besar, kalau gak percaya lihat aja di google earth :p. Saya bandingin dengan peta dari BNPB bentuk aliran sungai juga mirip.
Peta BNPB
Ketiga, tinggi gunung Pengamunamun pada peta 1922 dan 1943 adalah 2173 mdpl, sedangkan peta BNPB adalah 2175.71 mdpl. Jika melihat hasil ini dengan mempertimbangkan kesalahan pengukuran dan perbedaan peralatan karena zaman, maka dapat disimpulkan bahwa tinggi gunung Pengamunamun tidak terdapat banyak perubahan. Disebutkan bahwa di dekat tugu terdapat puncak gunung Pengamunamun yang ikut terbawa longsoran tetapi jika dilihat dari perbandingan tersebut, gundukan tersebut bukanlah puncak (tertinggi) gunung. Hal ini dapat membuat dua hipotesis baru, yang longsor bukan gunung Pengamunamun atau longsoran cuma dibagian lereng hingga tempat yang terlihat seperti puncak dari bawah walau bukan puncak tertinggi.

Keempat, bentuk kontur. Sayangnya saya sulit buat mbandingin kontur peta lama dengan peta BNPB -___-;). Yang terlihat beda paling bentuk lekukan konturnya, peta dulu cukup detil meliuk-liuk khas gunung sedangkan peta BNPB tidak terlalu meliuk-liuk -___-;), cuma pas lihat dari google earth terdapat semacam cerukan di gunung pengamunamun yang tidak melambangkan kontur dari peta. Tapi mengingat daerah Dieng merupakan daerah dengan tingkat erosi tinggi jadinya entah itu cerukan kapan terjadi.
Foto Udara Google Earth
Investigasi selesai dengan kesimpulan terserah pada diri masing-masing :p. Yang pasti Legetang telah menghilang dari peta. Intinya jangan terlalu mempercayai apa yang saya utarakan karena saya juga belum lahir di zaman itu :p. Oh iya di dekat Legetang terdapat gua Djimat yang terkenal mematikan, tapi sebelah mana saya kurang tau, dan sering juga disebut lembah kematian yang sampai bisa mengawetkan mayat selama 2 tahun. Dan investigasi berakhir menggantung.....

Dusun yang Hilang
Selain Legetang, di sekitar Dieng ternyata banyak dusun yang saat ini sudah tidak ada entah apa yang terjadi padanya. Beberapa dusun yang dulu pernah ada antara lain Kapucukan, Timbang, Kepakisan Lor, Sidolok, Gajahmungkur, dan Pagerkandang. Telaga-telaga di Dieng pun beberapa sudah menghilang, mungkin mengering dan akhirnya jadi ladang penduduk tanpa kembali lagi seperti telaga lumut dan terus. Dia yang hilang dia yang terlupakan.....

Sabtu, 13 April 2013

Monjali – Tumpeng Raksasa di Pinggir Jalan


Bingung mau nge-post tentang apa, mau ngepos tempat yang jarang diulas kok kebanyakan dah diulas ya. Itung-itung ini buat intermezzo aja buat nambah kerjaan, makanya hari ini mo banyak nge-post tempat-tempat yang biasa saja :p. Saya awali dengan Museum Monumen Yogya Kembali.

Monjali terletak di utara dari ring road utara Yogyakarta. Secara administratif, monumen ini terletak di Jongkang, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, DIY, tapi kalau saya lihat di peta RBI kok ni museum dah masuk kecamatan Mlati, akan tetapi saya ngikut yang Ngaglik karena di pdf yang saya download dari dinas pariwisata juga nulis demikian. Secara astronomis museum ini berada pada -7.749444444, 110.3694444. Monjali dibangun pada 29 Juni 1985 dan diresmikan oleh presiden kedua RI pada 6 Juli 1989.
Monumen Jogja Kembali

Karena sudah lama tidak ke sini dan tiketnya dah hilang, maka saya kurang tahu harga tiket masuknya, tapi kalau tidak salah buat yang bawa kamera juga bayar (dulu kameranya saya umpetin :p). Di halaman monumen yang juga merangkap sebagai museum ini terdapat kendaraan-kendaraan perang seperti pesawat dan lain-lain. Monumen ini dikelilingi oleh danau yang banyak ikannya dan ada yang nyewain pancing juga -_-;). Di halaman monumen juga terdapat nama-nama orang yang gugur dalam peristiwa perebutan Jogja.

Di dalam museum terdapat 3 lantai, lantai pertama berupa museum, yang kedua berupa ruang diorama, dan yang terakhir berupa ruang mengheningkan cipta. Di lantai pertama yang pintu masuknya berbeda dari lantai lainnya (masuk dari samping) ini terdapat koleksi-koleksi museum seperti senjata-senjata, seragam-seragam, kamar tidur, dan lain-lain. Di lantai kedua yang berupa diorama ya berisi diorama perang. Ruang diorama ini lumayan canggih karena sudah memakai sensor, sehingga kalau ada orang di dekat suatu diorama maka akan secara otomatis dibacakan narasi (kalau gak salah ingat :p). Dan di lantai paling atas cuma ruang kosong untuk mengheningkan cipta.

Di halaman monumen (bagian dalam danau), kita juga bisa mengelilinginya. Di dalamnya terdapat relief-relief tentang perjuangan dan pembangunan di Indonesia. Kalau mau coba naik ke puncak tumpeng juga bisa, tapi lantainya benar-benar licin jadi gak bisa-bisa naik :p
Kambing-kambing yang sedang merumput malam hari :p

Pada malam hari museum ini berubah fungsi menjadi taman lampion yang buka dari sore hingga tengah malam. Taman lampion ini berlokasi di halaman monumen dan tentunya juga harus membayar tiket masuk yang harganya berbeda antara weekend sama weekday. Atraksinya ya Cuma lampu saja ditambah warung makan :p.

Rabu, 06 Februari 2013

Gereja Ayam Borobudur, Cook-a-Doodle-Doo



Sebenarnya judul untuk pos kali ini agak kurang menarik menurut saya, sayangnya saya benar-benar gak tahu nama gereja ini sehingga gak bisa ngasih judul yang bener (Nanti kalau dah tahu saya ganti nih judul). Berawal dari baca-baca di forum dan tiba-tiba nemu judul “Giant Chicken Church” yang juga ada video dari bule yang ke sini, membuat saya ingin segera menyambanginya (maklum gak terlalu jauh daripada ke pantai). Pas dicari-cari lewat Google Earth, eh ternyata itu bangunan yang saya lihat (lewat peta) pas cari-cari Punthuk Setumbu, dan kukira awalnya itu adalah kandang ayam karena bentuknya yan memanjang, ternyata malah gereja ayam.

Giant Chicken
Lokasinya deket banget sama Punthuk Setumbu, sepertinya masih satu bukit malah, walau berada di sisi yang lain. Lokasi tepatnya berada pada 7°36'20.21"S 110°10'49.93"E di desa Karangrejo, Borobudur, Magelang. Untuk ke sini paling mudah ya dari Borobudur, terus ikuti jalan arah Salaman. Ketika sampai sekitar pertigaan yang mengarah ke Punthuk Setumbu, lihat di depan ada BTS di kanan jalan, nah jalan masuknya belok ke kiri pada jalan pertama yang ditemui setelah BTS itu. Ikuti jalan tanah tersebut sampai yang nantinya berubah jadi jalan cor-coran, pokoknya lihat aja ke depan nanti bakal kelihatan kepala ayamnya. Ikuti jalan sampai akhir cor-coran, sebaiknya kendaraan di parkir di sini saja karena selanjutnya jalan benar-benar menanjak dan lumayan jelek. Dari tempat itu ambil jalan ke kanan terus saja, nanti bakalan sampai di tempat ini. Untuk yang pakai mobil lebih baik parkir agak bawahan lagi biar lebih gampang mutarnya.

Ada apa sih di sini, ya cuma ada bangunan tua berbentuk ayam yang besar yang nggak terurus :p. Kalau dilihat-lihat, ni tempat deket banget sama puncak Suroloyo malah kelihatan tepat (dipas-pasin) di sebelah selatannya, tapi pas di Suroloyo kok saya gak lihat ni bangunan ya…. (maklum perhatian cuma terfokus buat cari Borobudur). Pemandangan dari tempat ini lumayan sih, bisa lihat puncak Suroloyo di selatan dan Gunung Sumbing di utara (sayangnya lagi mendung). Ni bangunan terdiri dari dua lantai, dengan pintu masuk berada di utara. Di lantai bawah ruangannya benar-benar gelap walau siang hari, isinya sih ruangan seperti kamar-kamar gitu (saya kurang tahu fungsinya). Tangga untuk ke atas ada di bagian belakang, tapi karena waktu itu tidak tahu ya masuk ke atasnya lewat lubang yang ada di belakang bangunan. Lantai atas ini berupa aula, sepertinya ini adalah aula gerejanya (church’s hall). Sebenarnya yang ingin saya lakukan di sini adalah naik ke bagian kepala ayamnya, ternyata gak ada jalan buat naik ke atas -_-;).

Bagian dalam lantai atas
Sayangngya tempat ini bener-bener tak terawat, banyak coretan, sampah, bahkan dah berlumpur. Lebih parahnya lagi ada tulisan yang mesum banget XD, katanya juga ni adalah tempat mesum. Awalnya saya gak terlalu percaya kalau ini gereja karena lambang di punggung ayamnya gak mirip salib, tapi malah lebih mirip tanda plus (lah panjangnya gak terlalu beda, dan stereotip saya mengenai gereja tu ada salibnya, bukan tanda plus :p), tapi setelah tanya orang sekitar ternyata tu tempat beneran gereja (gimana nih malah gak sekalian nanya nama dan sejarahnya -_-;). Kalau baca-baca di forum lagi nih, ni adalah gereja buat sekte-sekte tertentu, yah seperti isu bangunan gurita di Bandung itu lho.

**UPDATE**: Ternyata bangunan ini namanya "Banyak Angkrem". Walau namanya Banyak (Angsa), tapi kok bentuknya kayak ayam, walau bentuknya ayam, tapi katanya ini merpati putih (duh jadi bingung). Sebenarnya pas lihat di wikimapia ada yang kasih label "Hotel pondok bukit Rhema", tapi pas dulu di-searching, eh malah munculnya hotel yang beda. Tapi ternyata memang katanya ini terletak di bukit Rhema dan pas search pake "bukit Rhema" aja, muncul nih gambar bangunan (Duh kok gak dulu-dulu -___- ; ).

Minggu, 06 Januari 2013

Gua Jepang Parangtritis, 忘れ砦


Jarang-jarang update blog dalam waktu dekat-dekat. Gak apa-apa deh.

Sebenarnya awalnya mo nyeritain tempat yang ada di pulau “besi”, tapi agak malas buat cari-cari info tambahan  dari mbah gugel, diganti deh sama tempat yang ada di pulau “jewawut” aja :p. Tempat kali ini masih jarang dibahas di internet dan sepertinya juga jarang dikunjungi :p, kebanyakan orang pun bila ke Parangtritis tentu tahunya pantai.

Gua Jepang Parangtritis, sebenarnya sih menurut saya agak gak tepat judulnya, tapi karena kebanyakan orang nyebutnya seperti itu, ya mo gimana lagi. Gua Jepang ini terletak di antara dua Kabupaten di DIY, yaitu kabupaten Bantul tepatnya di Seloharjo, Pundong dan kabupaten Gunungkidul tepatnya di Girijati, Purwosari. Lho Parangtritis kan letaknya di kecamatan Kretek bukan Pundong? Ya karena lokasi Gua Jepang ini deket banget sama Parangtritis, dan Parangtritis lebih terkenal daripada nama-nama yang menjadi lokasi yang sebenarnya (argumen pribadi :p).

Jendela pengintaian
Lokasi gua Jepang ini terletak di bukit belakang Parangtritis, bukan bukit Watugupit tempat Paralayang lho, tapi bukit di sebelah utara Parangtritis. Kalau mau masuk Parantritis lewat jalur resmi sekali, sebelah kiri kita ada bukit yang ada makam syeh Bela Belu dan makam Maulana Maghribi, na letak gua Jepang ini ada di suatu tempat di bukit tersebut. Atau lebih tepatnya terletak pada koordinat sekitar 8°00′06″S 110°19′47″E

Sebenarnya gak pernah ada maksud untuk mengunjungi ni tempat, tapi entah kenapa tiba-tiba “nemu” di jalan :p. Awalnya sih saya memang mau main ke pantai sebentar tapi lewat jalan bukit, tapi ternyata saya lewat jalan yang salah (lebih tepatnya jalan yang tidak sesuai dengan rencana :p). Jalan paling mudah untuk menuju ke sini adalah lewat jalan Parangtritis, lalu sesaat setelah jembatan kali Opak langsung belok kiri. Perhatikan di sebelah kanan sampai nemu jalan aspal, jalan aspal pertama lewati saja karena untuk ke gua Jepang ini lewat jalan aspal yang kedua. Seharusnya saya lewat jalan aspal yang pertama tapi malah keblabasan :p. Sekalian saya saranin jangan lewat jalan bukit ini karena jalannya belak-belok, kanan kiri hutan, naik turun, jauh, sepi, jelek apalagi pas musim hujan bonus lumpur :p

Sungai Opak dari gua Jepang
Ikuti jalan aspal tersebut, naik terus sampai atas. Pemandangannya lumayan lah, bisa lihat jembatan kali Opak sama daerah nun jauh di sana :p. Pas lewat situ pas masuk kampung, saya agak kaget karena kok ada orang duduk di jalan, terus ada sapi diikat sampai berkeliaran di tengah jalan, ternyata oh ternyata jalan aspalnya habis diganti jalan makadam batu kapur dengan sisa-sisa sedikit aspal. Awalnya karena awal jalur ini adalah jalur menanjak membuat saya agak ragu dan pengin balik, tapi karena malu sama orang kampung yang tadi ngliatin (mungkin mikir ni orang ngapain ke sini :p) membuat saya melanjutkan perjalanan tanpa tahu ada apa di depan. Dan setelah melewati tugu batas kabupaten Bantul dan Gunungkidul dengan sedikit intuisi akhirnya malah sampai ke gua jepang ini :D.

Kendaraan paling tepat buat ke sini tentu saja pakai motor, atau pakai sepeda gunung kalau kuat, kalau pakai mobil ya walaupun jalannya sempit tapi kemungkinan berpapasan kecil tapi lebih baik jangan deh karena kalau ada apa apa bakal kesulitan. Jumlah gua Jepang ini katanya ada 19 buah, 18 di Bantul 1 di GK. Jalan untuk ke gua Jepang ini ada tiga, satu dari Pundong dan dua dari Purwosari.

Gua Jepang
Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik dengan gua Jepang, karena setahu saya bentuk gua jepang dari luar itu cuma lubang biasa, tapi bentuk gua Jepang di sini ada semacam cerobong asapnya atau tempat mengintip atau apalah namanya, jadi malah lebih mirip tempat pertahanan (la memang buat pertahanan kan fungsinya :p) dan pengintaian atau lebih tepatnya disebut benteng seperti di film-film perang pasifik (sebenarnya gua Jepang itu kan bunker :p). Lokasi dari bunker-bunker ini terpisah-pisah tetapi tidak terlalu jauh. Dari lokasi gua jepang ini kita bisa melihat pemandangan yang lumayan bagus, kita bisa melihat pesisir selatan DIY, pegunungan Menoreh, bahkan gunung Sumbing bila cuaca cerah.

Walaupun lokasi tempat ini terasing, namun masih ada saja aksi vandalisme. Sepertinya tempat ini juga bagus buat melihat matahari terbenam, tapi ya kasihan nanti turunnya karena pastinya sepi, gelap, dan jalan ala kadarnya :p. Kalau ingin melihat melihat semua gua Jepang yang ada agak sulit karena beberapa ada yang benar-benar tersembunyi dan tidak ada petunjuk yang jelas mengenai lokasinya. Jalan pun kadang hanya berupa jalan setapak karena jalan sudah ditumbuhi rumput-rumput liar.

Japanese Bunker

Sabtu, 05 Januari 2013

Ancol, de plaats waar Progo verdeeld


Akhirnya nge-post lagi setelah sekian lama tidak nge-post di blog ini :D

Post tour jatim-nya kuhentikan dulu deh ganti dengan post yang seperti biasa aja lagi :p.

Hampir semua mahasiswa yang kuliah di Jogja tahu Selokan Mataram, maklum selokan ini mengalir di dekat kampus-kampus yang ada di sekitaran Jogja, seperti UGM dan UNY. Namun tidak semuanya tahu dari mana asal air selokan ini bermula. Ancol, itulah asal dari selokan ini. Entah kenapa dinamai Ancol saya juga tidak tahu. Setelah dicari melalui KBBI ternyata ancol adalah tanah yang menjorok ke laut; tanjung. Tapi untuk ancol yang ini sepertinya juga gak terlalu cocok, tanah yang menjorok ke sungai...

Ancol bisa dikatakan terletak di dua provinsi, Jateng dan DIY. Terletak di Banjaroya, Kalibawang, Kulonprogo untuk wilayah DIY dan Karangtalun, Ngluwar, Magelang untuk wilayah Jateng. Entah kenapa kebanyakan orang menyebut Ancol sebagai Ancol Bligo, padahal Bligo sendiri adalah desa di selatan Karangtalun. Sedangkan letak astronomisnya terletak pada daerah sekitar 7°39′51″S 110°16′01″E.

Untuk mencapai Ancol yang paling gampang ya mengikuti selokan mataram untuk jalur lain sebenarnya banyak tapi sulit menjelaskan dengan kata-kata :p (sebenarnya malas njelasin). Paling enak ke sini ya naik motor, naik sepeda sambil nyusurin selokan mataram juga asyik (padahal belum pernah), kalau naik mobil juga bisa tapi lebih baik jangan lewat selokan mataram, habis jalannya sempit, kalau naik angkot…. entah turun mana :p.

Hulu Selokan Mataram
Di Ancol terdapat jembatan Karangtalun yang melalui sungai Progo yang juga merupakan batas antara provinsi Jateng dan DIY. Di sebelah timur sungai Progo terdapat bendungan Karangtalun yang merupakan awal dari jaringan saluran induk mataram yang sekitar 3 km kemudian membelah menjadi saluran van der wijck ke selatan dan kanal Yoshiro ke timur. Perasaan ni nama Van Der Wijck ada di mana-mana. Kebanyakan sih orang-orang mainnya di sebelah timur ini. Sedangkan di sebelah barat terdapat intake kalibawang yang merupakan hulu dari saluran induk kalibawang yang entah ujungnya di mana (maklum pas nyusurin ini saluran mbelah jadi 2 terus jadi ada sal induk Donomulyo terus jalannya menghilang, kayaknya sih di kali Serang atau mungkin balik ke Progo lagi).

Sebenarnya sih pemandangan di Ancol ini gak ada yang istimewa, cuma lihat sungai, bendungan, saluran air, jadi ya gak istimewa banget. Namun di sisi sejarah tentu saja ni tempat banyak banget sejarahnya. Dimulai dari bendung Karangtalun dan saluran Van Der Wijck yang dibangun Belanda, kemudian kanal Yoshiro / selokan mataram yang dibangun Jepang, lalu saluran Kalibawang yang dibangun setelah kemerdekaan. Yang lebih unik lagi, ternyata ada game membangun selokan mataram. Ni Game saya temuin di Benteng Vredeburg, kita disuruh mbangun saluran air dari sungai Progo menuju sungai Opak melalui halangan-halangan yang ada, tapi ni game sulit maininnya dah dipencet-pencet gak mau juga (main sendiri aja di sana atau mungkin saya yang payah :p).

Saluran Kalibawang dan Sungai Progo
Bagian paling asyik di tempat ini menurut saya adalah ketika menuju intake Kalibawang. Untuk menuju tempat ini sebenarnya ada cara yang lebih mudah, tapi kurang seru. Jalan yang seru adalah melewati pembatas antara saluran Kalibawang dengan sungai Progo yang lebarnya sekitar 1.75 meter kayaknya dengan tinggi sekitar 3 meter, Jadi kalau jatuh ya sakit atau basah :p.Waktu itu dengan bodohnya mengendarai motor sampai ujungnya dan tempat enak buat muterin motornya tidak ada XD, jadi harus angkat-angkat buat muter, mana panjang motornya pas lagi. Intake Kalibawang ini diresmikan pada 8 April 1970 oleh Ir Sutami (bapak ini namanya juga di mana-mana).

Intake Kalibawang