Tampilkan postingan dengan label Jawa Tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Tengah. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 September 2013

Kalianget Sigemplong - Air Panas Berlatar Gunung dan Lembah



Waduh September hampir berakhir dan saya belum ngepos lagi..... Sebenarnya sih dulu dah ngetik-ngetik tentang pantai tapi nggak diterusin -____-;)

Karena akhir-akhir ini saya lagi seneng banget cari mata air panas, yang bahasa inggrisnya hot spring atau bahasa jepangnya Onsen, jadinya ya pos kali ini gak jauh-jauh dari itu hehe.

Prolog

Kalianget terletak di dusun Sigemplong, desa Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jateng. Secara astronomis terletak pada  -7.183174°, 109.900357°. Nama Kalianget sendiri berarti sungai yang hangat, dan nama Kalianget banyak digunakan untuk penamaan mata air hangat, misalnya di Wonosobo, Wadaslintang, Jojogan (daerah sekitar Dieng), Wanayasa, dll (semua yang saya sebutkan itu belum pernah ada satupun yang saya datangi, paling cuma lewat depannya :p).

Kalianget Sigemplong

Get There

Untuk menuju ke Kalianget Sigemplong ini paling gampang lewat Dieng walau jalannya termasuk agak susah, namun tentunya lebih dekat daripada lewat Bawang. Dari arah Dieng ambil jalur ke arah Batur / Wanayasa / Kawah Candradimuka / dll, intinya ke arah barat dari pertigaan utama Dieng. Nanti bakalan lewat pertigaan ke Candi Arjuna lalu lewat pertigaan Gangsiran Aswatama, ambil lurus, lewati SPBU dan beberapa saat kemudian bakalan nemu perempatan yang ke kiri lewat jalur pipa inspeksi yang jalannya agak naik dan yang ke kanan yang agak turun, ambil jalan yang turun memasuki kampung (namanya Pawuhan). Ikuti jalan yang ada yang masih lumayan bagus belok kiri belok kanan dst, keluar kampung dan bakalan disambut jalan yang rusak dan menanjak.

Ikuti jalan terus, lewati "apanya" geodipa sampai pertigaan. Belok kanan lewati jalan cor-coran terus sampai pertigaan Siglagah. Ambil jalan yang di luar kampung dan bakalan ada jembatan. Di bawah jembatan ini (bukan bawah persis), sebenarnya ada air panasnya, tapi bukan ini yang dimaksud. Ikuti jalan cor-coran, lewati tempat sampah, turun nikung belok kiri belok kanan dst dan beberapa saat kemudian jalanan bakalan berubah menjadi jalan makadam yang uh banget :D (masih menurun). Nah di kanan jalan bakalan ada bangunan, nah disitulah lokasinya. Biar lebih yakin, di situ ada jembatan kecil, dan di sana tertulis Kalianget tapi dari arah sebaliknya baru jelas terbaca :p

Untuk retribusi sendiri, tentu saja tidak ada retribusi baik masuk ataupun parkir.

Oh iya, siapkan kendaraan yang kuat, jika kagak kuat bisa-bisa kagak kuat nanjak buat baliknya :p

Asal mBacot :D

Pemandian Kalianget Sigemplong ini terletak di lereng gunung Sipandu yang masih merupakan wilayah Dataran Tinggi Dieng dan terletak pada ketinggian sekitar 1800 meter di atas permukaan laut. Sebenarnya lokasi kolam air hangat ini tidak terlalu besar, hanya sekitar 2 meter x 5 meter, namun yang ke sini (kelihatannya) lumayan banyak, dibanding ukurannya. Tempatnya memang terletak di aliran sungai kecil (mungkin dekat mata airnya, karena saya juga gak nyusur sampai ke sumbernya) dan  teman saya malah menyebutnya mirip sekolah selokan.

Air di Kalianget warnanya bening, tidak tercium bau belerang, dan rasanya seperti air hangat -___-;), pada beberapa lokasi air hangat di beberapa tempat lain yang pernah saya kunjungi ada yang warnanya kuning, bau belerangnya super bau, dan ada pula yang rasanya asin (mungkin mineral yang terlarut banyak). Suhu airnya cukup hangat, tapi tidak sepanas di kolam terpanas di Banyu Anget Tirtohusodo, dan masih kalah dari air panas Gonoharjo-nya perhutani, tapi tentunya lebih panas daripada Candi Umbul yang suam-suam kuku dan lebih panas dikit daripada di pertirtaan Derekan (di mana pulak itu-itu tempat :P), pas saya mencelupkan kaki pertama kali langsung terasa panasnya, tapi seiring waktu berlalu tubuh pun beradaptasi dengan baik :D.

Pranten dan lembah kali Putih
Pengunjung Kalianget yang paling banyak tentunya adalah warga Sigemplong, dan tempat ini tidak hanya dimanfaatkan untuk mandi, tapi juga mencuci baju, motor, dll. Di tengah-tengah kolam ada batu yang cukup mulus, sepertinya tu batu buat gosok-gosok pakaian. Sayangnya tidak ada tempat sampah di sini, jadinya banyak sampah-sampah plastik di tempat ini hasil dari kegiatan penggunanya. Terlepas dari adanya sampah, pemandangan dari tempat ini cukup enak dilihat, terutama ke arah timur. Di sebelah kolam adalah ladang yang berteras-teras menurun dan terlihat Pranten di lereng sebelah yang terpisahkan oleh kali Putih, terlihat pula puncak menara pada gunung tertinggi di Dieng, Gunung Prau.

Menurut saya waktu terbaik berkunjung adalah waktu menjelang siang, karena lagi sepi-sepinya, tapi kalo pengen ramai ya pas sore hari, pas ibu-ibu sedang mandi plus mencuci :p yang setelahnya berganti dengan bapak-bapak :D. Untuk kamar ganti jangan tanya saya ya :p

Kalau sedang ke Dieng dan pengen atau suka ke pemandian alam terbuka, bisalah mencoba ke tempat ini.

Minggu, 04 Agustus 2013

Gunung Merapi via Deles



Gunung Merapi merupakan gunung yang wilayahnya berada di 2 provinsi dan 4 Kabupaten, Jawa Tengah (Boyolali, Klaten, Magelang) dan DIY (Sleman). Tinggi gunung ini pun berubah-ubah seiring dengan aktivitas dari gunung Merapi dikarenakan lokasi kawah yang berada di sekitar puncak. Tinggi dari gunung ini yang biasa disebutkan di dunia maya adalah 2965 mdpl, sedangkan pada peta RBI dari foto udara 1993/1994 tingginya hanya 2941 mdpl, dan dari peta Belanda tahun 1939 tinggi gunung tersebut hanya 2911 mdpl.

Gunung Merapi mempunyai beberapa rute pendakian, seperti rute Selo, Babadan, Kinahrejo, Deles, dan Cluntang. Jalur Selo Merupakan jalur paling terkenal, tercepat, terpopuler, dan yang paling gampang, serta jalur paling aman. Jalur Babadan juga lumayan populer (dulu), tapi kemudian jalur ini putus dan sangat sulit untuk dilewati (saya juga belum pernah :p). Jalur Kinahrejo sama nasibnya dengan jalur Babadan yang sudah putus dan menjadi jalur yang berbahaya. Jalur Cluntang... jalur yang aman, tidak terlalu terkena dampak letusan tapi tidak terkenal dan bahkan saya belum pernah membaca catper pendakian dari jalur ini -_-;). Jalur Deles.... baca saja deh :p
Gunung Merapi

Awal Pendakian

Seperti saat mendaki ke Sindoro, saya melakukan pendakian ini dengan 3 personil saja, mbak M dan mas S. Alasan ingin lewat jalur ini karena saya pernah lihat foto di bc Selo dan diceritain kalo jalur ini gak terlalu kena efek letusan. Mengingat jalur ini termasuk jarang dilalui dan belum ada yang pernah, maka saya menyarankan agar mendaki siang hari. Berkumpul di kediaman mas S di daerah Ngaglik, Sleman, kami pun meluncur ke arah Deles dengan 2 sepeda motor. Untuk mencapai Deles sangatlah mudah, paling mudah ya lewat jalan Jogja – Solo, di wilayah Klaten banyak petunjuknya kok, mengingat Deles merupakan tempat wisata. Perjalanan dimulai dari warung bu Mardiyah (?), motor pun dititipkan di sana. Warung ini terletak di dusun Deles di tempat melihat jurang (gak tahu namanya, pokoknya lebih atas dari gua jepang).

Perjalanan di mulai dengan rasa agak malu dikarenakan sepertinya banyak orang (lagi wisata) yang melihat kami. Menyusuri jalan aspal menanjak terus dan akhirnya bingung kapan lewat jalan tanahnya. Usut punya usut ternyata di atas ada basecampnya dan lokasinya dah beda desa -___-;). kalau tahu gini kan dari awal langsung ke basecamp aja gak usah pakai capek-capek lewat jalan aspal ditambah malu :p. Basecampnya ada di Pajegen, desa Tegalmulyo.

Rute Perjalanan

Etape I

Jalur pendakian terdapat di dekat basecamp, melewati sedikit rumah penduduk lalu menyusuri hutan lamtoro dengan sebelah kanan jalur air. Awal-awal masih gampang lah sampai bertemu dengan persimpangan pertama tanpa petunjuk, dipilihlah jalur yang mengarah ke utara naik punggungan, dilihat dari atas, jalur yang satunya mengarah ke punggungan lain. Beberapa saat kemudian menemukan persimpangan lagi yang tanpa petunjuk, dan dipilih yang melalui pinggir sungai dan ketemu simpangan lagi dengan kondisi tanpa petunjuk lagi, kali ini dipilih yang naik punggungan. Setelah itu menyusuri punggungan sampai suatu titik dan jalan menjadi menurun pindah ke punggungan lain dan berakhir bingung :p, walhasil harus balik lagi ke punggungan sebelumnya -___-;). Ternyata sebelum jalan menurun terdapat jalan lurus yang tertutup rerumputan (walah). Beberapa saat kemudian terlihat di bawah terdapat semacam shelter dan terdapat jalan menanjak ke tempat kami, sepertinya jalan yang benar adalah setelah sungai ambil jalan yang satunya. Sepertinya itulah POS I.
Punggungan tipis di sebelah barat (di baliknya ada kali Gendol)

Etape II

Beberapa saat kemudian saya melihat untuk pertama kalinya petunjuk arah bertuliskan GAM (Gabungan Anak Merapi ?), sayangnya tidak berada di persimpangan. Mas S pun berencana kapan-kapan naik lagi dan bikin petunjuk seperti itu, mumpung petunjuknya masih sedikit. Naik naik naik sampai juga di persimpangan yang lagi-lagi tanpa petunjuk -__-;). Pertama ambil lurus, kemudian bingung, karena tidak ingin bernasib seperti sebelumnya balik dan belok ke simpang yang satunya. Ditelusuri jalur tertutup semak-semak, saya sempat ragu tapi masih bisa dilanjutin. Jalan pun menanjak tajam, > 45 derajad, dengan jalur yang gak begitu jelas, pokoknya nanjak. Yang bikin seram adalah sebelah kiri merupakan jurang Kali Woro yang sepertinya > 1 hm, kalau jatuh jangan harap gampang diangkat -___-;). Setelah tanjakan yang melelahkan sampailah di atas dan melihat jalur lain yang sepertinya mengarah ke jalur satunya. Sejurus kemudian sampailah di tempat lumayan bisa buat nge-camp, tapi bukan POS II (tahu setelah searching-searching lagi :p)
Jurang Kali Woro

Etape III

Dari tempat sebelumnya, jalur menjadi agak menurun, kemudian agak belok ke kanan. Jalur yang ada gak begitu terlihat karena tertutup semak-semak dan akhirnya sampai di bawah batu besar. Dari bawah, jalur yang ada adalah naik terus menyeberangi batu (awas licin), setelah itu menanjak lagi -___-;). Skip, skip, skip, sampailah di tempat terbuka cukup satu tenda walau gak begitu terlindung. karena dah gelap diputuskan mendirikan tenda. Lokasi ini adalah tempat in Memoriam dari Heri Wasito. Ketika dah leyeh-leyeh, setelah melihat trek yang tadi, rencana buat bikin petunjuk jalan sepertinya harus diurungkan. Malam pun diakhiri dengan tidur dengan hujan yang turun.

Setelah matahari muncul kembali, ternyata di samping barat tenda masih jurang kali Woro. Siap-siap, beres-beres, skip-skip, jalur yang ada kembali menurun dan naik lagi. Ternyata di bukit yang dinaiki ini, berdirilah (gak ada yang berdiri sih) POS II dengan bangunan antena dan solar sel sebagai tempat mengawasi aktivitas Merapi.
Menyisir punggungan

Etape IV

Dari POS II (dari bawah juga terlihat sebenarnya), terlihat punggungan bukit-bukit berderet hingga Merapi, ya, itulah jalur yang harus dilewati -___-;). Di depan POS II dah menanti punggungan, intinya naik, menyibak-nyibak ilalang yang menutup jalur, kalau gak kuat nanjak pakai dengkul nanjaknya, kalau gak kuat lagi cari pegangan tapi kalau salah dapat pegangan arbei liar yang berduri -___-;). Skip skip skip setelah beberapa tanjakan dan sedikit turunan, jalur berikutnya yang harus dilalui ternyata terkena longsor. Agak buka-buka tanaman buat melewati longsoran yang memang berbahaya jika harus langsung melewati longsoran karena terjalnya lereng. Setelah itu sampailah di punggungan yang lumayan terbuka, tapi tetap saja jalur masih tertutup ilalang -__-;).

Setelah turunan dan tanjakan lagi, sampailah di daerah berbatu. Jalur yang dilalui adalah melalui sisi kiri batu dan di sini adalah vandalisme pertama yang saya lihat. Saya kira di sini adalah tempat watulawang, ternyata bukan (dah banyak berharap -___-;). Sedikit turun dari area batu, langsung dihadapkan dengan tanjakan lagi, dah ketutup, licin, banyak yang berduri, sempit, dan satu-satunya jalur yang ada. Setelah sampai puncak bukit, terlihat tantangan selanjutnya, sebuah bukit sebelum mencapai perbatasan vegetasi. Di tempat ini jugalah lokasi tempat bertemunya jalur Deles dengan jalur Cluntang.
Bukit yang telah dilewati

Etape V

Sedikit turun dengan sebelah kanan jurang sungai yang curam dengan pipa-pipa panjang melintasi sisi-sisi tebing pembatas yang curam yang kadang melewati bekas longsoran kemudian seperti biasa, diikuti dengan tanjakan. Di suatu lokasi, jalur menghilang, pikirnya jalur bakal lewat puncak punggungan lalu turun lagi, ternyata setelah sampai di puncak yang berbatu jalur kembali menghilang walau ada beberapa vandalisme yang membuat asumsi itu adalah jalur yang benar. Mbak M menyarankan menuruni batu, tapi kok agaknya meragukan, batunya kelihatan tinggi, dan ternyata setelah dilihat-lihat dari atas jalurnya melalui sisi kiri puncak bukit, akhirnya kembali lagi ke titik sebelumnya. Di titik sebelumnya jalur benar-benar menghilang tertutup ilalang yang dah benar-benar tinggi. Agak naik dikit menerobos semak, mencoba melihat-lihat kalau ada bagian yang gak ketutup, dan benar saja di depan ada jalurnya. Turunan dua meteran yang ketutup paku-pakuan dan ilalang tinggi yang entah ada apa dibaliknya dituruni dan diterobos menuju jalan yang benar :p. Jalur lalu menurun licin tanpa ilalang, hanya cantigi, kemudian naik lagi dan sampailah di tempat dengan batu yang berlubang besar, inilah Watulawang (kalau di peta nyebutnya Batulawang, yah karena Merapi di Jawa ya saya nyebutnya watu walau saya tahunya watubolong -___-;).
Watulawang
Dari Batulawang, jalur menanjak datar dan terlihatlah puncak Batulawang yang berbatu dan sebelumnya dinaiki, dan ternyata memang gak bisa dituruni dari atas karena benar-benar tinggi. Beberapa saat kemudian sampailah di batas vegetasi. Sedikit menanjak, terdapat bekas tempat antena dan solar sel untuk mengamati Merapi yang sudah rusak. Menanjak lagi sampailah di Pusunglondon. Dari Pusunglondon hanya menurun dan sampailah dipertemuan jalur Seloketika maghrib, Pasar Bubrah.
Gunung Batulawang dari batas vegetasi

Last Etape

Sebenarnya kami tidak mendaki ke puncak Merapi dan memutuskan turun melalui jalur Selo karena sudah malam, sudah capek, dan sudah ngomong kalau cuma mo dua hari, dan saya sudah pernah jadi nggak terlalu masalah :p dan bila mo balik lewat Deles lagi jalurnya ya gitchu dech :p. Dan ternyata pas mau ngambil motor, si ibu dah mau laporin ke SAR :p (maaf ya dah buat khawatir, habis jalurnya bener-bener !@#$%). Akan tetapi, karena ada barang saya yang jatuh pas turun, dan ada yang ngajak naik lagi, ya mari saja sekalian kalau-kalau barang yang jatuh bisa ditemukan (walaupun ndak ketemu). Anggotanya nambah 3 orang, mbak Z, mas R, dan mas A.

Etape terakhir adalah jalur menuju puncak, jalur yang ada berupa daerah pasir yang melorot kalau diinjak. Orang-orang pada umumnya melalui jalur agak sebelah timur, melewati pasir-pasir hingga ke daerah dengan wilayah berbatu yang dah mantap. Dari daerah berbatu sudah lumayan gampang, tinggal menanjak terserah mo lewat mana nanti akhirnya sampai di puncak seberang kawah yang sepertinya dulu masih dilokasi kawah mati. Di puncak terserah mo ngapain, mo poto-poto atau mau ke puncak tertinggi, atau mo terjun ke kawah ya terserah :p.
Kondisi Puncak Merapi

Ending

Dari semua jalur gunung yang pernah saya lalui, sepertinya jalur Merapi via Deles ini yang paling susah melebihi Sumbing, Lawu via Cetho, dan Semeru, alasannya yang paling ngehek adalah jalur yang tertutup ilalang dengan tanjaknnya yang yahud dan licin. Sebagai saran aja, kalau mo naik lewat sini lebih baik pas gak hujan dan lebih-lebih kalau dah rame yang pake rute ini (jalur bakalan kelihatan deh) dan bawa anggota yang pernah lewat sini (biar gak nyasar terutama di bawah) ditambah tutupi kulit buat ngindari duri (sarung tangan, kaos kaki, celana panjang, dll) :p.

Tambahan

Nemu dari inet, titik-titik di jalur Deles yang dilalui (kok dulu pas mau naik gak nemu ya)
1 Pajegan (Lewat)
2 Rong Tikus (Entah di mana)
3 Pos I (Kayaknya itu deh...)
4 Pos Bayangan (yang itu pa?)
5 Nisan Pohon makam ass. Bupati Boyolali 1965 (Entah)
6 Monumen Heri Ceper (Tempat nge-camp)
7 Pos II (Lewat dong)
8 Camp Yoyok (Mbuh)
9 Pos III (Ng....)
10 Watu Bulus (Mana lagi, katanya dulu ada kerangka pertapa yang ditemukan mati di sini)
11 G. Batu Lawang (Pasti lewat)
12 Pos IV (batas vegetasi)
13 G. Gajah Mungkur (sepertinya maksudnya Pusunglondon, kalo Gajahmungkur lewat Selo)

Colors: Perkembangan puncak tertinggi Merapi setelah letusan 2010 ketika saya sambangi
Greyscale: Puncak Garuda yang sudah patah

Senin, 29 Juli 2013

Telaga Warna - Cincin yang Jatuh, Selendang yang Luntur


Hehe tulisan males-malesan yang infonya dah buanyak banjet bertebaran di inet, makanya gak perlu dicritain bagus-bagus :p. Telaga Warna, bagi yang pernah ke Dieng pastilah tahu, secara ni tempat merupakan salah satu tujuan utama di Dieng selain Candi Arjuna dan Kawah Sikidang apalagi bagi yang one day trip.

Telaga Warna terletak di desa Dieng, kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, ato kalo secara astronomis pada -7.2119444444, 109.9169444444.
Telaga Warna dan Telaga Pengilon
Get There
Info gak penting lagi. Sebenarnya kalau dah ke Dieng pasti nemu, saya kasih tau rute ke Dieng aja deh bagi yang gak tahu (tidak bisa ngomong semua orang tahu rute Dieng). Jalan paling enak ke Dieng ya lewat Wonosobo, yang dari Jogja bisa lewat Temanggung - Parakan - Kertek atau lewat Borobudur - Salaman - Sapuran - Kertek. Sampai Wonosobo tinggal cari alun-alun dan pokoknya ambil jalan ke utara, pasti sampai Dieng, tapi sayangnya nih jalur kalau longsor ya mobil gak bisa lewat.

Rute alternatifnya lewat Banjarnegara, tapi lebih jauh, lebih dari 60 KM (Tergantung asalnya dari mana juga kali), kalau dari Wonosobo cuma 30 KM. Dari Banjarnegara ambil jalur ke Karangkobar - Wanayasa - Batur - Dieng, atau kalau pengin lewat jalan jelek, dari Banjarnegara - Madukara - Pagentan - Pejawaran - Batur - Dieng. Kalau dari Semarang bisa lewat Temanggung atau lewat Kendal - Weleri - belok ke Sukorejo - Candiroto - Muntung (di sini ambil lurus terus jangan ikuti jalan besar, lebih cepet daripada muter lewat Parakan)- Sigedang - Tambi - Kejajar - Dieng. Dari Pekalongan ambil ke Petungkriono - Wanayasa - Batur -Dieng. Kalau dari Batang ambil jalur ke Blado - Batur - Dieng ato lewat Bawang juga bisa. Hm kurang dari mana lagi ya.... :p.
Angkot banyak kok, dari Wonosobo cari tujuan Dieng atau Batur lah.

Kalau dah sampai Dieng mau ke Telaga Warna nanti belok kiri, atau lihat petunjuk arah di jalan, nanti bakalan nemu loket retribusi yang hampir selalu tutup dan ada jalan masuk di sana yang gak resmi (belum pernah masuk lewat sana, kadang ada yang njaga kadang kagak) dan beberapa puluh meter kemudian barulah pintu masuk resminya. Pintu masuk lainnya bisa lewat Dieng Volcanic Theatre (kayaknya cuma bayar parkir, tapi bakal capek balik lagi), dan kalau mau gratis semuanya bisa lewat jalan peladang :p

Ada Apa Di Sana
  • Telaga Warna, Telaga Warna ni warnanya ijo dan perubahannya pun seputar ijo - biru, agak gelap, terang, atau gimana lah. Oh di suatu sisi ada tempat keluarnya gas, maklum, sebenarnya Telaga Warna ini kan danau kawah, dan di suatu sisi yang tersembunyi ada semacam getek (kayaknya gak digunain). Pas dekat keluarnya belerang hati-hati ya, nanti seperti saya, karena ada bagian yang jemek, dengan entengnya saya injak, walhasil, sandal saya nyangkut.
  • Telaga Pengilon, sebenarnya dulu masih nggabung sama Telaga Warna, hanya karena sedikit sekat, jadilah telaga lain, dan warnanya pun beda. Kalau mau ke sini, dari telaga warna cukup mutar saja, tapi kalau mau mutar kedua telaga ini satu putaran penuh, jalannya nanti ada yang agak becek, dan kalau salah ambil jalan, bisa seperti saya lagi, terperosok ke lumpur sandal nyangkut di kedalaman 60 cm -____-;)
  • Gua-Gua, ada banyak gua, Gua Semar, Pengantin, Sumur, dan Gua Jaran, tapi menurut saya gak begitu menarik karena lebih terlihat seperti cerukan dan sepertinya buat bertapa. Beberapa gua ada yang dipagari, saya juga gak tertarik masuk, tapi mungkin buat menghindari vandalisme. Lokasi gua-gua ini ada di antara kedua telaga (sekatnya).

    Di depan Gua Semar
    Retribusi
    Masuk Rp 6000/orang, parkir Rp 2000/motor, mobil kagak ngerti, tiket terusan Rp 20000/orang. Kalau mau gratis seperti yang saya bilang, lewat jalan peladang (gak perlu saya kasih tahu, kasihan pemdanya :p)

    Best Spot
    Menurut saya, daripada melihat ni telaga dari dekat, saya lebih senang melihatnya dari atas yang bisa melihat kedua telaga sekaligus. Kalau melihat lokasi sekitar telaga, telaga ini dikelilingi bukit-bukit, nah lihatnya ya dari sekitar bukit-bukit itu, tapi milih yang gak ketutup pohon ya, ato dari Igir Binem aja.
    Tempat keluarnya gas
    Ending
    Sebenarnya mo nampilin fotonya aja (cuma 3 biji -___-;), yang lainnya mah infonya dah bersliweran di mana-mana :p. Oh mengenai judulnya itu mengenai legenda warna di Telaga Warna, dan kok saya nemu legendanya lebih dari satu ya....

    Jumat, 19 Juli 2013

    Tugu Legetang - Menghilang dari Peta


    Apakah ada yang tau cerita tentang dukuh Legetang? Banyak kok ceritanya bertebaran di inet. Dukuh Legetang terletak di desa Pekasiran, kecamatan Batur, kabupaten Banjarnegara, masih berada di wilayah pegunungan Dieng – Petarangan. Secara astronomis terletak pada 7.19416667S, 109.8652778E. Legetang merupakan tragedi terbesar yang melanda daerah Dieng melebihi peristiwa gas beracun kawah Sinila yang lebih tersohor daripada peristiwa Legetang. Inti ceritanya adalah mengenai dukuh yang diazab dengan longsoran dari gunung dengan suatu keanehan di mana keadaan longsoran yang tidak masuk akal.

    Get There
    Jarak dari kompleks wisata Dieng (Arjuna, Sikidang, Warna) menuju tugu Legetang tidak begitu jauh, cuma beberapa kilo. Jalannya pun masih sejalur dengan jalur menuju Kawah Sileri, Kawah Candradimuka, dan Sumur Jalatunda. Kalau pernah ke Dieng tapi gak sampai tiga tempat tersebut begini petunjuknya, dari Dieng (gampangnya gapura perbatasan Wonosobo - Banjarnegara) menuju ke arah Banjarnegara, Batur, Wanayasa, dll. Sedikit kilo kemudian bakalan nemu pertigaan berbentuk Y, ambil jalur yang menurun, yang kanan, kalau kiri bisa juga tapi mutar jauh (ke kiri jalur ke telaga Merdada), nanti bakalan lewatin telaga Sewiwi, pertigaan arah Kawah Sileri, lalu perkampungan desa Kepakisan.

    Setelah dari perkampungan, nanti di sebelah kanan bakal terlihat sungai, nah kalau sungai dah mulai terlihat coba lihat agak ke kanan atas ke arah gundukan bukit (bukan bukit yang jauh tapi yang dekat, dan jangan keterusan, lihat jalan juga :p), kalau cerah tugunya bakal kelihatan. Habis itu bakal lewatin jembatan sungai yang tadi, habis jembatan perhatikan ada jalan yang menuju ke atas di sebelah kanan, ambil jalan itu naik terus sampai lihat tugunya di sebelah kanan, tinggal parkir dan sedikit jalan. Oh iya sebenarnya jalan makadamnya cukup buat mobil (1 buah, kalau ketemuan berabe), tapi pas saya ke sana ada palang di jalur masuknya yang digembok, ya mungkin buat mobil cuma sampai bawah. Buat kendaraan umum gak ada ya yang lewat daerah situ, soalnya lewat jalur satunya.
    Tugu Legetang berlatar gunung Pengamunamun

    Ada Apa Sih Di Sana?
    Di sana cuma ada tugu tua di tengah-tengah ladang, gak ada yang lainnya, cuma bisa lihat pemandangan :p. Lumayan sih bisa lihat pemandangan gunung Nagasari (kalau cerah), atau gunung Pengamunamun dan gunung Jimat, atau celahnya yang misterius :p. Oh iya sebenarnya di tugu ini terdapat tulisan (kayaknya sih, lihat di foto kaya gitu), tapi pas saya ke sana sudah gak ada. Begini isinya:

    “Tugu peringatan atas tewasnja 332 orang penduduk dukuh Legetang serta 19 orang tamu dari lain-lain desa sebagai akibat longsornja gunung Pengamun-Amun pada tg.16/17-4-1955”

    Sebenarnya ada yang berbeda antara tulisan di tugu ini dengan monumen yang ada di pertigaan ke kawah Sileri, pada monumen tersebut jumlah korban meninggal 450 orang, beda sekitar 100 orang dengan yang ada di tugu, yang benar entahlah. Katanya sih warga dukuh yang selamat cuma 1 orang karena lagi gak di rumah, dan sekarang dah meninggal.

    Walaupun di bawahnya tekubur satu dusun dengan segala isinya termasuk penduduknya, namun saat ini bagian atas sudah berubah jadi ladang.
    Puncak Pengamunamun yang ikut longsor (katanya)

    Retribusi
    Gratiiiiiissss, lagian kan bukan tempat wisata :p

    Sedikit Investigasi :p
    Mungkin ada yang berpikir kalau cerita tersebut gak benar-benar terjadi atau mungkin dilebih-lebihkan dengan bumbu-bumbu yang bikin ngeri, kalau begitu baca sedikit uraian investigasi saya :p. Sebagai info, saya cuma mbandingin dengan peta tahun 1922 dan 1943 dengan keadaan saat ini dan peta dari BNPB yang berdasar dari peta RBI.


    Peta 1922
    Pertama, dukuh Legetang benar-benar ada di tempat di sekitar tugu tersebut. Di peta baik tahun 1922 dan 1943 terdapat daerah Legetang di lokasi yang ada di dekat tugu tersebut (agak ke utara).

    Kedua, terdapat sungai antara gunung Pengamunamun dengan dukuh Legetang sebelum terjadi longsoran yang terlihat pada peta. Perlu diingat, dalam keanehan yang ada adalah sungai tersebut tidak terkena dampak longsoran (logikanya sungai juga terkena longsoran kan) dan pas saya lihat saat ini memang ada sungai kok di sana, tapi emang gak besar, kalau gak percaya lihat aja di google earth :p. Saya bandingin dengan peta dari BNPB bentuk aliran sungai juga mirip.
    Peta BNPB
    Ketiga, tinggi gunung Pengamunamun pada peta 1922 dan 1943 adalah 2173 mdpl, sedangkan peta BNPB adalah 2175.71 mdpl. Jika melihat hasil ini dengan mempertimbangkan kesalahan pengukuran dan perbedaan peralatan karena zaman, maka dapat disimpulkan bahwa tinggi gunung Pengamunamun tidak terdapat banyak perubahan. Disebutkan bahwa di dekat tugu terdapat puncak gunung Pengamunamun yang ikut terbawa longsoran tetapi jika dilihat dari perbandingan tersebut, gundukan tersebut bukanlah puncak (tertinggi) gunung. Hal ini dapat membuat dua hipotesis baru, yang longsor bukan gunung Pengamunamun atau longsoran cuma dibagian lereng hingga tempat yang terlihat seperti puncak dari bawah walau bukan puncak tertinggi.

    Keempat, bentuk kontur. Sayangnya saya sulit buat mbandingin kontur peta lama dengan peta BNPB -___-;). Yang terlihat beda paling bentuk lekukan konturnya, peta dulu cukup detil meliuk-liuk khas gunung sedangkan peta BNPB tidak terlalu meliuk-liuk -___-;), cuma pas lihat dari google earth terdapat semacam cerukan di gunung pengamunamun yang tidak melambangkan kontur dari peta. Tapi mengingat daerah Dieng merupakan daerah dengan tingkat erosi tinggi jadinya entah itu cerukan kapan terjadi.
    Foto Udara Google Earth
    Investigasi selesai dengan kesimpulan terserah pada diri masing-masing :p. Yang pasti Legetang telah menghilang dari peta. Intinya jangan terlalu mempercayai apa yang saya utarakan karena saya juga belum lahir di zaman itu :p. Oh iya di dekat Legetang terdapat gua Djimat yang terkenal mematikan, tapi sebelah mana saya kurang tau, dan sering juga disebut lembah kematian yang sampai bisa mengawetkan mayat selama 2 tahun. Dan investigasi berakhir menggantung.....

    Dusun yang Hilang
    Selain Legetang, di sekitar Dieng ternyata banyak dusun yang saat ini sudah tidak ada entah apa yang terjadi padanya. Beberapa dusun yang dulu pernah ada antara lain Kapucukan, Timbang, Kepakisan Lor, Sidolok, Gajahmungkur, dan Pagerkandang. Telaga-telaga di Dieng pun beberapa sudah menghilang, mungkin mengering dan akhirnya jadi ladang penduduk tanpa kembali lagi seperti telaga lumut dan terus. Dia yang hilang dia yang terlupakan.....

    Sabtu, 13 April 2013

    Sikongkong – Mudah Dilihat Sulit Didekati



    Posting ke-3 dalam series of unfortunate events, eh maksudnya series of intermezzo postings walaupun tulisan kali ini malah tentang tempat yang jarang dibahas (bijimana sih kalau dari tadi ingat ada tempat ini kan gak perlu bikin tulisan intermezzo -____-;). Ditambah lagi info tentang air terjun ini di internet sangat minim, saya cuma nemu sebuah blog yang mengupload foto air terjun Sikongkong dan blognya dah ditutup (gak niat nyarinya kaleee). Ok saya mulai.

    Sikongkong adalah nama air terjun yang terletak di dusun Sirangkel Sembungan, desa Mlandi Sembungan, kecamatan Garung Kejajar, Wonosobo, Jateng. Secara astronomis berada - 7.241111, 109.9033. Menurut saya nama Sikongkong ini kok terkesan gimana gitu ya.
    Sikongkong dari jalan

    Sebenarnya tidak pernah ada niat untuk ke air terjun ini, tapi karena melihat di tengah perjalanan, ya mau bagaimana lagi daripada harus balik lagi ke sini suatu saat nanti. Niat awal saya adalah saya pergi ke air terjun Sikarim terus lanjut naik ke Dieng lewat jalan tersebut. Beberapa puluh meter meninggalkan Sikarim menuju Dieng, saya melihat air terjun lain yang tingginya kira-kira sama atau malah lebih tinggi dari Sikarim. Jalan menuju Sikarim merupakan jalan campuran, dari pertigaan Garung hingga suatu tempat di desa Mlandi merupakan jalan aspal yang lumayan mulus. Setelah itu jalannya berubah menjadi jalan makadam yang tidak terlalu rapi, kemudian tiba-tiba berubah menjadi jalan aspal yang lumayan mulus terus semakin lama semakin rusak. Kemiringan jalan menurut saya masih biasa aja (maklum sudah sering lewat jalan nanjak bahkan yang lebih miring sampai harus dorong-dorong). Beberapa sumber mengatakan kemiringan 50, ada yang bilang 60 derajad, tapi menurut saya cuma 40-an (sotoy), mungkin karena jalannya yang jelek sehingga terasa lebih miring. Karena jalan yang kayak gini makanya saya agak malas kalau harus balik lagi cuma demi Sikongkong.

    Rute ke Sikongkong sendiri sama seperti ke Sikarim, dari Wonosobo lanjut ke Garung, belok ke Menjer, pas pertigaan belok kiri ke Mlandi mengikuti jalan aspal, dari Mlandi belok kanan mengikuti jalan yang terbesar dan yang menanjak terus hingga ke jalan terdekat dengan air terjun. Bisa juga dari Dieng, rutenya Dieng ke Sembungan / Sikunir lalu pertigaan di awal masuk kampung belok kanan turun terus hingga jalan terdekat dengan air terjun.

    Kebanyakan orang yang datang hanya mengunjungi Sikarim, tanya kenapa? Secara jalan ke Sikarim lebih mudah, tinggal masuk jalan setapak terus sampai deh di bawah air terjun. Alasan lain adalah Sikongkong ini baru kelihatan dari jalan yang lebih atas dari Sikarim, jadi pas habis dari Sikarim mereka turun lagi, padahal bila naik sedikit lagi bakalan lihat Sikongkong (lagi sotoy mode on). Dari Sikarim untuk menuju Sikongkong tinggal naik sedikit lagi tapi jangan kejauhan karena jalan masuknya gak kelihatan dan akan segera menghilang dari pandangan karena tertutup punggungan. Dilihat dari jalan, Sikarim ada di kanan jalan sedangkan Sikongkong ada di kiri jalan. Kendaraan yang bisa digunakan ya sepeda motor sama mobil, kendaraan umum cuma bisa sewa ojek. Untuk yang bawa mobil cukup sampai dekat Sikarim saja, kalau naik-naik lagi bakalan gak bisa muter dan harus lanjut sampai Sembungan, belum kalau ketemu kendaraan lain, bisa bingung sendiri apalagi ketemunya truk bisa gila nanti.

    Untuk menuju ke air terjunnya sendiri gak ada petunjuknya, yang bisa jadi patokan adalah jalannya basah (kalau hujan bingung sudah :p) karena ada pipa jalur air. Dari sana naik ke atas ikuti pematang sawah kalau sulit ya turun ke sawah sampai turun ke sungai. Dari sungai ya tinggal naik ikuti asalnya, tinggal loncat sana loncat sini sampai nanti bakalan nemu pipa lagi. Pada suatu titik, saya menemukan kesulitan, karena jalur yang ada menanjak. Jalan tanah yang ada cukup nanjak 70 derajad ditambah kondisi yang licin, sedangkan jika mencoba lewat air harus menghadapi terjunan, dan saya tidak siap untuk basah. Ya terpaksa berkotor ria dengan pegangan pipa dan menyesuaikan titik berat agar tidak kepeleset dan matahin pipa :p. Dari sini ada tantangan lain yang sama tapi kali ini tanahnya pakai semak-semak dan lumut, setelah perjuangan sendiri yang  geje-gejean akhirnya sampai juga di bawah air terjun.
    "Rute" perjalanan

    Air terjunnya sendiri terletak di antara dua punggungan, tak ada bekas vandalisme yang menjadi bukti bahwa air terjun ini sering didatangi, yang ada cuma sedikit sampah yang berasal dari atas (Sembungan) dan pralon air. Saya tidak berlama-lama di sini karena terlalu mikir kalau hujan turun nanti banjir, atau parahnya longsor dan saya tidak bisa ke mana-mana karena kanan kiri tebing dan tidak bakalan ada yang tahu saya ke sini, cuma ada motor yang parkir dipinggir jalan :p. Untuk menuju ke Sikongkong ini terasa sedang berpetualang di tengah hutan lebat walau cuma sebentar (ini beneran hutan ndul :p). Anggap aja ini lagi mini canyoning J

    Oh iya kalau dilihat dari jalan air terjunnya kelihatan tinggi, tapi kalau dari bawah gak tinggi-tinggi banget (efek lihat dari tempat yang lebih rendah dan di bawah air terjun terjadi efek perspektif serta ketutup karena kemiringan).
    Sikongkong dari bawah (terlihat pendek banget di foto ini)

    Lho ini kok gak sekalian mbahas Sikarim lagian fotonya sikit banjet? Biarin, Sikarim nanti kapan-kapan buat intermezzo saja :p, foto sedikit gak masalah duong, foto kan cuma penghias.

    Sabtu, 23 Maret 2013

    Pantai Ketawang – Bekas Tambang yang Sunyi



    Sebenarnya banyak tempat yang telah saya kunjungi (gak banyak-banyak juga sih, juga cuma daerah dekat-dekat) tapi di blog ini 50 tulisan pun belum ada padahal dah beberapa tahun berjalan, entah karena saya yang malas menulis atau karena saya tidak terlalu suka menulis tempat-tempat yang dah banyak infonya di dunia maya (pengecualian untuk tulisan awal karena masih coba-coba dan beberapa yang gak di awal :p).

    Pantai Ketawang terletak di dusun Ketawang, desa Ketawangrejo, kecamatan Grabag, Purworejo. Tetapi tatkala saya browsing-browsing di inet, pantai Ketawang disebut juga dengan pantai Jetis, padahal Jetis sendiri merupakan nama dusun di desa Patutrejo yang terletak di sebelah timur desa Ketawangrejo. Usut punya usut setelah saya lihat di suatu peta, ternyata kedua dusun tersebut juga saling berbatasan, sehingga kemungkinan kedua pantai tersebut juga sulit untuk dicari batasnya. Lokasi secara astronomis terletak pada 7.849166667S, 109.895E

    Double Grade
    Untuk ke pantai ini yang paling mudah dari Kutoarjo tinggal menuju stasiun dan terus ikuti jalan ke selatan hingga jalan Daendels dan ikuti lagi jalan ke selatan hingga ke pantai. Jika lewat jalan Daendels dari Kebumen atau Jogja tinggal menuju bagian Purworejo yang jalannya dah acak kadut dan sampai nemu petunjuk ke Ketawang. Bisa juga lewat jalan sebelum plang ke Ketawang (dari arah Jogja) yang nanti melewati gerbang dengan tulisan selamat datang di pantai Jetis, tinggal mengikuti jalan paving hingga pantai.

    Di pantai ini sudah ada tempat parkir, tempat makan, dan tiada retribusi. Jenis pasir di pantai ini adalah pasir besi yang hitam, dan ketika saya membaca beberapa plang di jalan masuk, sepertinya dulu pantai ini menjadi tempat menambang pasir besi tapi sekarang sudah tidak lagi dan sekarang sedang direklamasi. Pantai ini menjadi spot mancing pasiran dengan pancingnya yang panjang-panjang dan saya hanya membawa tripot yang saya panjangkan kaki-kakinya :p. Selain itu juga terdapat payung-payung buat tempat berteduh dan seperti bekas/mau dibikin kolam renang (?) yang hanya berupa cerukan saja.

    Kali dari rawa
    Kalau masalah pemandangan pantai ini menurut saya biasa-biasa saja. Kalau cuma mau menikmati sore atau ingin menikmati angin semilir ya masih ok lah. Dari pantai ini kita bisa melihat pegunungan sewu dan menoreh di sebelah timur dan karst gombong di sebelah barat. Yang paling menyita perhatian mata saya adalah adanya mercusuar yang lokasinya cukup dekat, sekitar beberapa ratus meter barat laut dari pantai. Ketika menuju ke mercusuar, saya menggunakan jalan pasir yang menuju ke barat yang berada di ujung jalan paving (mobil gak bisa tembus), dan ternyata di tengah jalan, jalan ini dibelah oleh sungai kecil dan saya harus melewati sungai tersebut tanpa jembatan, kira-kira sih dalamnya cuma 30 cm (gak separah banjir Jakarta kok :p).

    Mercusuar ini terletak di tengah rawa-rawa  yang sudah dimanfaatkan sebagai kolam ikan dan lahan bercocok tanam. Di tempat ini sudah ditulisi “dilarang memancing, ikan dipelihara”, tapi banyak orang yang tetap memancing di sana -___-;). Mercusuar ini cukup tinggi dengan banyaknya jumlah jendela, tapi sayangnya saya tidak masuk ke dalamnya. Kalau menurut saya, bangunan-bangunan tinggi itu bagusnya kalau dilihat dari bawah karena terlihat itu bangunan apa, kecuali kalau di dalam bangunan itu ada sesuatu yang menarik, atau mau main bungee jumping :p.
    Mercusuar

    Senin, 18 Februari 2013

    Pantai Pagak - Pelelangan yang Terlupakan



    Sebelum ini saya belum pernah mengulas mengenai pantai yang mempunyai pasir berwarna hitam karena menurut saya kebanyakan pantai dengan pasir setipe ini biasa saja, pantainya panjang, batas dengan pantai sebelahnya tidak begitu jelas, dan pasirnya mengandung biji besi. Terlepas dari itu semua, beberapa pantai pasir hitam kadang memiliki sesuatu yang menarik sehingga lebih unik disbanding pantai sejenis lainnya (sebenarnya yang pasir putih juga sama saja :p, tapi lebih enak dipandang mata). Pantai Pagak terletak di desa Pagak, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah atau pada koordinat 7.86444 S, 109.94333 E.

    Untuk menuju ke pantai ini lumayan susah, jalannya sih gak begitu bagus tapi masih enak untuk dilewati, tapi tidak ada petunjuk yang jelas untuk menuju desa ini sehingga lumayan membingungkan. Paling gampang ya lewat jalan daendels sampai ke desa Wonosari, Pagak terletak di selatan Wonosari. Jalan di daerah ini masih berupa aspal rusak. Kalau sudah sampai Wonosari tinggal tanya-tanya saja karena daerahnya berupa persawahan jadi agak sulit membedakannya. Rute lain bisa lewat Jatimalang, dari pertigaan masjid tinggal ke arah timur saja sampai beberapa kilometer yang akan sampai ke Pagak.

    Home Alone
    Karena di pantai ini sudah dibangun tempat pelelangan ikan, dipikiran saya tempat ini bisa dilalui oleh mobil, sehingga jalannya ya lumayan lebar lah, tapi nyatanya untuk mencapai lokasi ini tidak bisa menggunakan mobil, dan mobil pun hanya bisa diparkir di daerah perkampungan setempat. Dari desa menuju ke pantai, kita akan melalui jembatan kayu yang menyeberangi rawa-rawa. Waktu ke sini tempat ini sedang digunakan untuk mancing oleh anak-anak desa. Seratus dua ratus meter kemudian sampailah di pantai yang ditandai dengan bangunan TPI. TPI di pantai ini sudah tidak beroperasi lagi karena satu dua alasan. Waktu membaca berita dari internet, di pantai ini terdapat makam tanpa nama tapi ya saya tidak terlalu memikirkan, hanya menebak-nebak saja di mana lokasinya.

    Yang saya sukai dari pantai ini adalah pantai ini sepi, waktu ke sana hanya ada sekitar 5 orang dan itu pun lokasinya terpencar-pencar jauh, ada yang sedang memancing, mencari tanaman, dan lain-lain. Selain itu pantai ini juga gratis, tidak ada biaya parkir apalagi retribusi masuk. Dan yang paling saya sukai adalah pemandangannya cukup bagus menurut saya, dan saya merasa datang di waktu yang tepat. Hanya ada empat bangunan di pantai ini, namun tidak seperti di pantai lainnya, bangunan di sini malah menambah indah pemandangan pantai. Kalau masalah pemandangan pantai dan laut, saya rasa pemandangannya standar-standar saja, pasir kemudian diteruskan dengan laut. Tapi pemandangan di sini membangkitkan memori saya akan imajinasi tempat yang ingin saya kunjungi, yaitu suatu rumah (sendirian) yang berada di tengah padang rumput dan tidak jauh di sana terdapat laut. Namun dalam kasus di pantai ini tidak ada padang rumput, melainkan  sesuatu yang mirip lah.

    Tempat Pelelangan Ikan
    Tanaman yang mendominasi berupa Leguminoceae dan tanaman yang bunga(?)nya berduri mirip landak laut yang kalau kena kulit terasa ditusuk-tusuk jarum (entah namanya, tapi bukan pandan-pandanan). Karena persebarannya merata, tanaman tersebut membentuk kombinasi yang setidaknya membuat mirip padang rumput (dipas-pasin :p). Waktu ke sana, langit utara sudah terlihat mendung serta terlihat beberapa tempat sudah hujan dan angin terlihat membawa awan menuju ke selatan (anginnya ya gak kelihatan lah). Namun menurut saya pemandangannya jadi lebih ng… eksotik :p. Biasanya sih kalau ke pantai dan sudah terlihat tanda-tanda awan hitam bikin hati dan pikiran @#$%! dan bikin semuanya bubar saja, tapi waktu itu kok saya merasa agak senang ya (aneh banget). Kalau dibandingkan dengan pantai-pantai lain di Purworejo yang pernah saya kunjungi apalagi yang sudah dikelola seperti pantai Jatimalang (saya merasa kok nggak banget ya dengan pantai ini), pantai ini menurut saya lebih bagus dari pada pantai lain di sekitarnya.

    Rabu, 06 Februari 2013

    Gereja Ayam Borobudur, Cook-a-Doodle-Doo



    Sebenarnya judul untuk pos kali ini agak kurang menarik menurut saya, sayangnya saya benar-benar gak tahu nama gereja ini sehingga gak bisa ngasih judul yang bener (Nanti kalau dah tahu saya ganti nih judul). Berawal dari baca-baca di forum dan tiba-tiba nemu judul “Giant Chicken Church” yang juga ada video dari bule yang ke sini, membuat saya ingin segera menyambanginya (maklum gak terlalu jauh daripada ke pantai). Pas dicari-cari lewat Google Earth, eh ternyata itu bangunan yang saya lihat (lewat peta) pas cari-cari Punthuk Setumbu, dan kukira awalnya itu adalah kandang ayam karena bentuknya yan memanjang, ternyata malah gereja ayam.

    Giant Chicken
    Lokasinya deket banget sama Punthuk Setumbu, sepertinya masih satu bukit malah, walau berada di sisi yang lain. Lokasi tepatnya berada pada 7°36'20.21"S 110°10'49.93"E di desa Karangrejo, Borobudur, Magelang. Untuk ke sini paling mudah ya dari Borobudur, terus ikuti jalan arah Salaman. Ketika sampai sekitar pertigaan yang mengarah ke Punthuk Setumbu, lihat di depan ada BTS di kanan jalan, nah jalan masuknya belok ke kiri pada jalan pertama yang ditemui setelah BTS itu. Ikuti jalan tanah tersebut sampai yang nantinya berubah jadi jalan cor-coran, pokoknya lihat aja ke depan nanti bakal kelihatan kepala ayamnya. Ikuti jalan sampai akhir cor-coran, sebaiknya kendaraan di parkir di sini saja karena selanjutnya jalan benar-benar menanjak dan lumayan jelek. Dari tempat itu ambil jalan ke kanan terus saja, nanti bakalan sampai di tempat ini. Untuk yang pakai mobil lebih baik parkir agak bawahan lagi biar lebih gampang mutarnya.

    Ada apa sih di sini, ya cuma ada bangunan tua berbentuk ayam yang besar yang nggak terurus :p. Kalau dilihat-lihat, ni tempat deket banget sama puncak Suroloyo malah kelihatan tepat (dipas-pasin) di sebelah selatannya, tapi pas di Suroloyo kok saya gak lihat ni bangunan ya…. (maklum perhatian cuma terfokus buat cari Borobudur). Pemandangan dari tempat ini lumayan sih, bisa lihat puncak Suroloyo di selatan dan Gunung Sumbing di utara (sayangnya lagi mendung). Ni bangunan terdiri dari dua lantai, dengan pintu masuk berada di utara. Di lantai bawah ruangannya benar-benar gelap walau siang hari, isinya sih ruangan seperti kamar-kamar gitu (saya kurang tahu fungsinya). Tangga untuk ke atas ada di bagian belakang, tapi karena waktu itu tidak tahu ya masuk ke atasnya lewat lubang yang ada di belakang bangunan. Lantai atas ini berupa aula, sepertinya ini adalah aula gerejanya (church’s hall). Sebenarnya yang ingin saya lakukan di sini adalah naik ke bagian kepala ayamnya, ternyata gak ada jalan buat naik ke atas -_-;).

    Bagian dalam lantai atas
    Sayangngya tempat ini bener-bener tak terawat, banyak coretan, sampah, bahkan dah berlumpur. Lebih parahnya lagi ada tulisan yang mesum banget XD, katanya juga ni adalah tempat mesum. Awalnya saya gak terlalu percaya kalau ini gereja karena lambang di punggung ayamnya gak mirip salib, tapi malah lebih mirip tanda plus (lah panjangnya gak terlalu beda, dan stereotip saya mengenai gereja tu ada salibnya, bukan tanda plus :p), tapi setelah tanya orang sekitar ternyata tu tempat beneran gereja (gimana nih malah gak sekalian nanya nama dan sejarahnya -_-;). Kalau baca-baca di forum lagi nih, ni adalah gereja buat sekte-sekte tertentu, yah seperti isu bangunan gurita di Bandung itu lho.

    **UPDATE**: Ternyata bangunan ini namanya "Banyak Angkrem". Walau namanya Banyak (Angsa), tapi kok bentuknya kayak ayam, walau bentuknya ayam, tapi katanya ini merpati putih (duh jadi bingung). Sebenarnya pas lihat di wikimapia ada yang kasih label "Hotel pondok bukit Rhema", tapi pas dulu di-searching, eh malah munculnya hotel yang beda. Tapi ternyata memang katanya ini terletak di bukit Rhema dan pas search pake "bukit Rhema" aja, muncul nih gambar bangunan (Duh kok gak dulu-dulu -___- ; ).

    Jumat, 25 Januari 2013

    Gunung Sindoro via Sigedang



    Gunung Sindoro / Sundoro merupakan gunung yang terletak di kabupaten Temanggung dan Wonosobo. Gunung yang mempunyai tinggi 3136 mdpl ini mempunyai beberapa rute pendakian, seperti rute Kledung yang paling sering dilewati, rute Bansari, dan rute Sigedang. Karena sudah beberapa kali lewat rute Kledung, pada pendakian kali ini saya mendaki gunung Sindoro dari Sigedang (padahal ndakinya dah lama, dah tahun lalu XD). Sigedang sendiri merupakan nama desa yang terletak di kecamatan Kejajar kabupaten Wonosobo (masih satu kecamatan dengan Dieng).

    Untuk menuju Sigedang, paling gampang ya dari Wonosobo ambil arah Dieng, terus belok ke Tambi naik terus sampai Sigedang. Kalo naik angkot ya naik angkot jurusan Wonosobo – Dieng turun di Tambi kemudian naik ojek atau mobil bak terbuka atau sekalian jalan :p. Sebenarnya ada jalan pintas bagi yang berasal dari sebelah timur gunung ini, yaitu lewat Jumprit tapi kalo belum biasa lewat lebih baik lewat Wonosobo saja. Sebenarnya tempat perijinan tidak hanya di Sigedang saja, tapi juga ada di Sikatok, dusun di atasnya (masih masuk Sigedang juga kok). Jika titik awal pendakian dari Sigedang maka perlu menyusuri jalan aspal yang ada hingga ke daerah kebun teh, tapi kalo dari Sikatok ya jaraknya lebih dekat untuk sampai sini.

    Gunung Sindoro dari kebun teh
    Pendakian kali ini hanya beranggotakan 3 personil, personil S, saya, dan personil M. Karena kami belum ada yang pernah lewat rute ini, ketika sampai di Sigedang sempat kebingungan mencari tempat izin sekaligus tempat menitipkan motor. Kalau dari info di internet, minta izinnya ke pak Amin, tapi karena waktu bertanya penduduk mendapat info kalau ternyata di Sikatok juga ada buat tempat izinnya, jadinya ya balik ke Sikatok (malas mau nambah jalan lagi :p). Di Sikatok ini perizinannya di rumah pak Udin, rumahnya cuma beberapa meter (sekitar 20 m) dari perbatasan dengan Kabupaten Temanggung.

    Setelah menata ini itu dan dikasih nomor hp bapaknya (yang ngasih ibunya sih), perjalanan pun dimulai. Beberapa menit kemudian, sampailah kami di pintu masuk kebun teh (sebenarnya bukan pintu, tapi jalan, dan jalannya ada banyak, nah yang buat pendakian lewat jalan yang paling besar). Dari awal kebun teh ini hanya mengikuti jalan makadam yang ada. Sebenarnya kita bisa naik motor atau mobil hingga ujung jalan tapi ya nanti bingung kalau ditinggal, kalau ada yang mau mengantar sampai sini boleh juga :p. Jalan yang dilewati meliuk-liuk tapi ikuti saja jalan yang ada, bila ada persimpangan ikuti saja intuisi, pokoknya yang naik dan kelihatan benar (waduh). Sebenarnya ada jalan cepat, yaitu lewat jalan di antara teh-teh, tapi kalau belum tahu atau pas malam hari ya lewat jalur normal saja deh daripada bingung.

    Pegunungan Dieng (Bismo, Sikunir, Pakuwaja, Prau, dll)
    Setelah sekitar 2 jam (kayaknya kurang malah) perjalanan lewat jalur normal dan jalan kaki, sampailah kita di bagian trek selanjutnya. Karena tidak adanya info mengenai jalurnya maka tim saya salah lewat jalur XD. Jalur yang tim saya lalui adalah jalur yang berada di ujung jalan makadam kebun teh, tapi jalur yang sebenarnya ada di punggungan sebelumnya, jadilah tim kami melalui jalur yang tidak jelas. Jalur yang kami lalui sepertinya adalah jalur pencari kayu tapi untungnya jalur ini tembus ke jalur utama, dan karena itulah kami tidak melalui POS III (loh tiba-tiba dah nyeritain POS III -_-;). Jalur setelah kebun teh ini berupa hutan pinus yang pinusnya pun jarang-jarang yang kemudian dilanjutkan daerah rerumputan terbuka terus sampai puncak (tiba-tiba dah sampai puncak).

    Sebenarnya ketika cari info di internet  mengenai jalur pendakian lewat Sigedang, kita akan melihat watu susu dari gunung kembar ini (waduh ini cerita apaan sih XD). Tapi karena tidak adanya foto jadi saya hanya menerka-nerka. Oh iya setelah POS III, tidak ada tempat nge-camp kecuali di puncak. Waktu tempuh total perjalanan dari Sigedang lebih cepat dibandingkan lewat Kledung (waktu pastinya sekitar ng… pokoknya lebih cepat :p). Dan karena rute ini lebih sepi, jadinya lebih aman meninggalkan barang daripada lewat Kledung yang sering terjadi pencurian (katanya, saya belum pernah kejadian soalnya).

    Watu Susu (?)
    Puncak yang dicapai melalui jalur ini bukanlah puncah kawah seperti dari Kledung, tapi berada di tugu perbatasan Wonosobo –Temanggung, di sekitar ujung segoro wedi yang dekat dengan segoro banjaran. Untuk sampai ke kawah, maka kita harus memutar  atau intinya ke arah tenggara. Segoro wedi dan segoro banjaran sendiri berupa dataran yang cukup luas sehingga bisa dibuat menjadi beberapa lapangan bola (duh). Di segoro wedi terdapat suatu cerukan yang entah pas lewat kok terdapat bunga mawar yang entah itu apa (mungkin bekas kawah, karena pas cari-cari di internet gak nemuin apa itu).

    Bekas Kawah (?)
    Kawah Sindoro sendiri seperti semacam sumur dan bertingkat. Terdapat dua jalan untuk turun ke kawah (jalan lain bisa langsung lompat :p), jalan pertama yang sampai ke kawah bagian atas yang kemudian terdapat jalan turun lagi sampai ke bagian bawah, sedangkan yang satunya langsung ke bagian bawah. Biasanya, dulu kawah bagian bawah ini terisi oleh air dengan warna terlihat hijau dan terlihat batu-batu besar di dalamnya, tapi setelah peristiwa tahun 2012 lalu, bagian ini menjadi putih, batu-batunya pun terkubur di dalamnya dan ditambah keluarnya solfatara yang terlihat jelas. Ketika turun ke kawah hati-hati ya apalagi ketika hujan, pada awal tahun 2013 ini ada yang mati keracunan di kawah Sindoro. Ketika berjalan di atas kawah yang berwarna putih ini rasanya jemek-jemek, seperti berjalan di atas lumpur yang semi kering.

    Segoro Wedi
    Pas ngetik pos ini malah “berimajinasi” kalau watu susu itu seperti yang dipikirkan, di bawah watu susu itu ada awal dari sungai progo (maksudnya bukan mata air jumprit, tapi lebih ke atas lagi), jadi sungai progo itu adalah aliran “sesuatunya” Sindoro?!?! Dan mikir lagi kalau Jumprit itu ngeluarin air buat kali Progo, jadi mata air jumprit itu…… (jangan dipikirin tulisan bodoh ini :p).

    Kalau ada yang mau ekspedisi maraton kayaknya asyik nih,dimulai dari naik Sumbing dari dusun Butuh, desa Temanggung, Kaliangkrik, Magelang, turun lewat dusun Garung, desa Butuh, Kalikajar, Wonosobo, lalu naik Sindoro lewat Kledung, Temanggung, turun via Sigedang, Kejajar (kecamatan sebelahnya namanya kecamatan Garung lho :p), Wonosobo, lanjut Prau via Patakbanteng atau Igirmranak, turun lewat Dieng, dan sekalian lanjut Slamet (nama-namanya kok banyak yang hampir sama cuma tingkatnya beda ya :p).

    Sindoro's Crater, Now n' Then
    NB: menurut orang sekitar, Sindoro itu cewek, dan Sumbing itu cowok.

    Pesan Sponsor: Kalau nyalain api harap hati-hati ya, kasihan ni gunung sering banget kebakaran. Tanpa api aja bisa kebakaran apalagi ditambah api. Beberapa waktu setelah saya mendaki, gunung ini kebakaran, dan kebakarannya parah banget, dari bawah benar-benar kelihatan.

    Sabtu, 05 Januari 2013

    Ancol, de plaats waar Progo verdeeld


    Akhirnya nge-post lagi setelah sekian lama tidak nge-post di blog ini :D

    Post tour jatim-nya kuhentikan dulu deh ganti dengan post yang seperti biasa aja lagi :p.

    Hampir semua mahasiswa yang kuliah di Jogja tahu Selokan Mataram, maklum selokan ini mengalir di dekat kampus-kampus yang ada di sekitaran Jogja, seperti UGM dan UNY. Namun tidak semuanya tahu dari mana asal air selokan ini bermula. Ancol, itulah asal dari selokan ini. Entah kenapa dinamai Ancol saya juga tidak tahu. Setelah dicari melalui KBBI ternyata ancol adalah tanah yang menjorok ke laut; tanjung. Tapi untuk ancol yang ini sepertinya juga gak terlalu cocok, tanah yang menjorok ke sungai...

    Ancol bisa dikatakan terletak di dua provinsi, Jateng dan DIY. Terletak di Banjaroya, Kalibawang, Kulonprogo untuk wilayah DIY dan Karangtalun, Ngluwar, Magelang untuk wilayah Jateng. Entah kenapa kebanyakan orang menyebut Ancol sebagai Ancol Bligo, padahal Bligo sendiri adalah desa di selatan Karangtalun. Sedangkan letak astronomisnya terletak pada daerah sekitar 7°39′51″S 110°16′01″E.

    Untuk mencapai Ancol yang paling gampang ya mengikuti selokan mataram untuk jalur lain sebenarnya banyak tapi sulit menjelaskan dengan kata-kata :p (sebenarnya malas njelasin). Paling enak ke sini ya naik motor, naik sepeda sambil nyusurin selokan mataram juga asyik (padahal belum pernah), kalau naik mobil juga bisa tapi lebih baik jangan lewat selokan mataram, habis jalannya sempit, kalau naik angkot…. entah turun mana :p.

    Hulu Selokan Mataram
    Di Ancol terdapat jembatan Karangtalun yang melalui sungai Progo yang juga merupakan batas antara provinsi Jateng dan DIY. Di sebelah timur sungai Progo terdapat bendungan Karangtalun yang merupakan awal dari jaringan saluran induk mataram yang sekitar 3 km kemudian membelah menjadi saluran van der wijck ke selatan dan kanal Yoshiro ke timur. Perasaan ni nama Van Der Wijck ada di mana-mana. Kebanyakan sih orang-orang mainnya di sebelah timur ini. Sedangkan di sebelah barat terdapat intake kalibawang yang merupakan hulu dari saluran induk kalibawang yang entah ujungnya di mana (maklum pas nyusurin ini saluran mbelah jadi 2 terus jadi ada sal induk Donomulyo terus jalannya menghilang, kayaknya sih di kali Serang atau mungkin balik ke Progo lagi).

    Sebenarnya sih pemandangan di Ancol ini gak ada yang istimewa, cuma lihat sungai, bendungan, saluran air, jadi ya gak istimewa banget. Namun di sisi sejarah tentu saja ni tempat banyak banget sejarahnya. Dimulai dari bendung Karangtalun dan saluran Van Der Wijck yang dibangun Belanda, kemudian kanal Yoshiro / selokan mataram yang dibangun Jepang, lalu saluran Kalibawang yang dibangun setelah kemerdekaan. Yang lebih unik lagi, ternyata ada game membangun selokan mataram. Ni Game saya temuin di Benteng Vredeburg, kita disuruh mbangun saluran air dari sungai Progo menuju sungai Opak melalui halangan-halangan yang ada, tapi ni game sulit maininnya dah dipencet-pencet gak mau juga (main sendiri aja di sana atau mungkin saya yang payah :p).

    Saluran Kalibawang dan Sungai Progo
    Bagian paling asyik di tempat ini menurut saya adalah ketika menuju intake Kalibawang. Untuk menuju tempat ini sebenarnya ada cara yang lebih mudah, tapi kurang seru. Jalan yang seru adalah melewati pembatas antara saluran Kalibawang dengan sungai Progo yang lebarnya sekitar 1.75 meter kayaknya dengan tinggi sekitar 3 meter, Jadi kalau jatuh ya sakit atau basah :p.Waktu itu dengan bodohnya mengendarai motor sampai ujungnya dan tempat enak buat muterin motornya tidak ada XD, jadi harus angkat-angkat buat muter, mana panjang motornya pas lagi. Intake Kalibawang ini diresmikan pada 8 April 1970 oleh Ir Sutami (bapak ini namanya juga di mana-mana).

    Intake Kalibawang

    Rabu, 18 Mei 2011

    Gunung Merbabu via Selo


    Gunung Merbabu merupakan gunung yang terletak di provinsi Jawa Tengah tepatnya berada di perbatasan kabupaten Semarang, Boyolali, dan  Magelang. Gunung Merbabu memiliki tinggi 3142 mdpl dan memiliki beberapa puncak. Gunung ini memiliki beberapa jalur pendakian, dan kebanyakan berada di sebelah utara gunung, sebut saja jalur Wekas, Cuntel dan Tekelan. Salah satu jalur dari selatan gunung yang sudah mempunyai basecamp resmi adalah jalur Selo. Jalan menuju basecamp Selo ini cukup bersahabat dengan kendaraan karena jalan yang dilalui adalah jalan aspal tidak seperti ke jalur lainnya yang berupa makadam (batu-batu yang ditata) walaupun tetap saja jalannya menanjak. Biasanya jalur Selo ini digunakan pendaki untuk turun gunung yang biasanya naik dari jalur sebelah utara.
    Peta rute pendakian
    Jika jalur-jalur sebelah utara gunung nantinya akan bertemu dipertengahan jalan (puncak menara, kawah), maka jalur Selo ini akan bertemu dipuncak dengan jalur-jalur tersebut. Jalur Selo ini termasuk cukup sulit jika dibandingkan dengan jalur dari utara. Selain itu penunjuk jalan yang ada juga masih sedikit dan banyak cabang yang jika salah akan mentok dan harus balik kembali yang akan menghabiskan cukup tenaga. Intinya jika tidak ingin tersesat adalah serong kanan, kata penjaga base camp. Jalur terberat adalah jalur sehabis batu tulis yang akan menuju sabana 2 karena jalurnya cukup menanjak dan apabila hujan akan cukup licin dan berlumpur.
    Puncak Merapi dari Sabana 2
    Pemandangan dari sabana dua sangat indah, apabila cerah maka kita dapat melihat Gunung Merapi di selatan kita yang dihiasi rumput-rumput sabana yang hijau dan melihat puncak Merbabu di Utara. Jalur menuju puncak pun terlihat dari sabana 2 yang apabila sudah tidak ada semangat maka akan semakin malas untuk naik ke puncak karena terlihat cukup jauh, apalagi setelah melewati jalur menanjak sebelumnya. Tapi jika masih semangat maka akan merasa cuma tinggal segitu saja.

    Di tengah jalan menuju puncak akan terlihat sebuah yoni yang mirip seperti di puncak kenteng songo yang masih belum jelas asal-usulnya (mungkin dinas purbakala malas untuk naik gunung :p). Dari puncak dapat terlihat jejeran gunung Sumbing, Sindoro, Prau, dan seterusnya di sebelah barat, Merapi di selatan, dan Lawu di Timur.
    Puncak Merbabu dan Sabana 3
    Ketika turun kita juga harus hati-hati karena jalur turun juga banyak cabangnya, apalagi di batu tulis. Jika dilihat dari atas, maka akan terlihat jalan lurus dari batu tulis, namun jalan tersebut tidak akan membawa kita ke base camp Selo, namun akan membawa ke desa lain. Agar tidak tersesat, maka dari batu tulis kita harus melewati jalan air disebelah kiri batu tulis. Mungkin ketika salah jalan awalnya kita tidak terlalu merasa aneh, apalagi bila mendakinya malam hari, namun lambat laun akan terasa keanehan bila jalan yang ditempuh adalah jalan yang tidak membawa ke base camp. Jalur tersebut akan membawa kita ke Lencoh, tapi jika tidak beruntung maka akan menuju desa yang lebih jauh lagi, yaitu Jrakah. Apabila membawa kendaraan pribadi maka harus balik ke base camp. Dari jalan raya dapat naik mobil sayur menuju Selo dan dilanjutkan jalan kaki menuju base camp. Tentu saja apabila salah jalan terjadi maka dapat membuat kita down, apalagi bila berjalan hingga gelap dan baterai buat senter sudah habis seperti  yang saya alami :p.
    Bukit Teletubbies