Tampilkan postingan dengan label Wonosobo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wonosobo. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Juli 2013

Telaga Warna - Cincin yang Jatuh, Selendang yang Luntur


Hehe tulisan males-malesan yang infonya dah buanyak banjet bertebaran di inet, makanya gak perlu dicritain bagus-bagus :p. Telaga Warna, bagi yang pernah ke Dieng pastilah tahu, secara ni tempat merupakan salah satu tujuan utama di Dieng selain Candi Arjuna dan Kawah Sikidang apalagi bagi yang one day trip.

Telaga Warna terletak di desa Dieng, kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, ato kalo secara astronomis pada -7.2119444444, 109.9169444444.
Telaga Warna dan Telaga Pengilon
Get There
Info gak penting lagi. Sebenarnya kalau dah ke Dieng pasti nemu, saya kasih tau rute ke Dieng aja deh bagi yang gak tahu (tidak bisa ngomong semua orang tahu rute Dieng). Jalan paling enak ke Dieng ya lewat Wonosobo, yang dari Jogja bisa lewat Temanggung - Parakan - Kertek atau lewat Borobudur - Salaman - Sapuran - Kertek. Sampai Wonosobo tinggal cari alun-alun dan pokoknya ambil jalan ke utara, pasti sampai Dieng, tapi sayangnya nih jalur kalau longsor ya mobil gak bisa lewat.

Rute alternatifnya lewat Banjarnegara, tapi lebih jauh, lebih dari 60 KM (Tergantung asalnya dari mana juga kali), kalau dari Wonosobo cuma 30 KM. Dari Banjarnegara ambil jalur ke Karangkobar - Wanayasa - Batur - Dieng, atau kalau pengin lewat jalan jelek, dari Banjarnegara - Madukara - Pagentan - Pejawaran - Batur - Dieng. Kalau dari Semarang bisa lewat Temanggung atau lewat Kendal - Weleri - belok ke Sukorejo - Candiroto - Muntung (di sini ambil lurus terus jangan ikuti jalan besar, lebih cepet daripada muter lewat Parakan)- Sigedang - Tambi - Kejajar - Dieng. Dari Pekalongan ambil ke Petungkriono - Wanayasa - Batur -Dieng. Kalau dari Batang ambil jalur ke Blado - Batur - Dieng ato lewat Bawang juga bisa. Hm kurang dari mana lagi ya.... :p.
Angkot banyak kok, dari Wonosobo cari tujuan Dieng atau Batur lah.

Kalau dah sampai Dieng mau ke Telaga Warna nanti belok kiri, atau lihat petunjuk arah di jalan, nanti bakalan nemu loket retribusi yang hampir selalu tutup dan ada jalan masuk di sana yang gak resmi (belum pernah masuk lewat sana, kadang ada yang njaga kadang kagak) dan beberapa puluh meter kemudian barulah pintu masuk resminya. Pintu masuk lainnya bisa lewat Dieng Volcanic Theatre (kayaknya cuma bayar parkir, tapi bakal capek balik lagi), dan kalau mau gratis semuanya bisa lewat jalan peladang :p

Ada Apa Di Sana
  • Telaga Warna, Telaga Warna ni warnanya ijo dan perubahannya pun seputar ijo - biru, agak gelap, terang, atau gimana lah. Oh di suatu sisi ada tempat keluarnya gas, maklum, sebenarnya Telaga Warna ini kan danau kawah, dan di suatu sisi yang tersembunyi ada semacam getek (kayaknya gak digunain). Pas dekat keluarnya belerang hati-hati ya, nanti seperti saya, karena ada bagian yang jemek, dengan entengnya saya injak, walhasil, sandal saya nyangkut.
  • Telaga Pengilon, sebenarnya dulu masih nggabung sama Telaga Warna, hanya karena sedikit sekat, jadilah telaga lain, dan warnanya pun beda. Kalau mau ke sini, dari telaga warna cukup mutar saja, tapi kalau mau mutar kedua telaga ini satu putaran penuh, jalannya nanti ada yang agak becek, dan kalau salah ambil jalan, bisa seperti saya lagi, terperosok ke lumpur sandal nyangkut di kedalaman 60 cm -____-;)
  • Gua-Gua, ada banyak gua, Gua Semar, Pengantin, Sumur, dan Gua Jaran, tapi menurut saya gak begitu menarik karena lebih terlihat seperti cerukan dan sepertinya buat bertapa. Beberapa gua ada yang dipagari, saya juga gak tertarik masuk, tapi mungkin buat menghindari vandalisme. Lokasi gua-gua ini ada di antara kedua telaga (sekatnya).

    Di depan Gua Semar
    Retribusi
    Masuk Rp 6000/orang, parkir Rp 2000/motor, mobil kagak ngerti, tiket terusan Rp 20000/orang. Kalau mau gratis seperti yang saya bilang, lewat jalan peladang (gak perlu saya kasih tahu, kasihan pemdanya :p)

    Best Spot
    Menurut saya, daripada melihat ni telaga dari dekat, saya lebih senang melihatnya dari atas yang bisa melihat kedua telaga sekaligus. Kalau melihat lokasi sekitar telaga, telaga ini dikelilingi bukit-bukit, nah lihatnya ya dari sekitar bukit-bukit itu, tapi milih yang gak ketutup pohon ya, ato dari Igir Binem aja.
    Tempat keluarnya gas
    Ending
    Sebenarnya mo nampilin fotonya aja (cuma 3 biji -___-;), yang lainnya mah infonya dah bersliweran di mana-mana :p. Oh mengenai judulnya itu mengenai legenda warna di Telaga Warna, dan kok saya nemu legendanya lebih dari satu ya....

    Sabtu, 13 April 2013

    Sikongkong – Mudah Dilihat Sulit Didekati



    Posting ke-3 dalam series of unfortunate events, eh maksudnya series of intermezzo postings walaupun tulisan kali ini malah tentang tempat yang jarang dibahas (bijimana sih kalau dari tadi ingat ada tempat ini kan gak perlu bikin tulisan intermezzo -____-;). Ditambah lagi info tentang air terjun ini di internet sangat minim, saya cuma nemu sebuah blog yang mengupload foto air terjun Sikongkong dan blognya dah ditutup (gak niat nyarinya kaleee). Ok saya mulai.

    Sikongkong adalah nama air terjun yang terletak di dusun Sirangkel Sembungan, desa Mlandi Sembungan, kecamatan Garung Kejajar, Wonosobo, Jateng. Secara astronomis berada - 7.241111, 109.9033. Menurut saya nama Sikongkong ini kok terkesan gimana gitu ya.
    Sikongkong dari jalan

    Sebenarnya tidak pernah ada niat untuk ke air terjun ini, tapi karena melihat di tengah perjalanan, ya mau bagaimana lagi daripada harus balik lagi ke sini suatu saat nanti. Niat awal saya adalah saya pergi ke air terjun Sikarim terus lanjut naik ke Dieng lewat jalan tersebut. Beberapa puluh meter meninggalkan Sikarim menuju Dieng, saya melihat air terjun lain yang tingginya kira-kira sama atau malah lebih tinggi dari Sikarim. Jalan menuju Sikarim merupakan jalan campuran, dari pertigaan Garung hingga suatu tempat di desa Mlandi merupakan jalan aspal yang lumayan mulus. Setelah itu jalannya berubah menjadi jalan makadam yang tidak terlalu rapi, kemudian tiba-tiba berubah menjadi jalan aspal yang lumayan mulus terus semakin lama semakin rusak. Kemiringan jalan menurut saya masih biasa aja (maklum sudah sering lewat jalan nanjak bahkan yang lebih miring sampai harus dorong-dorong). Beberapa sumber mengatakan kemiringan 50, ada yang bilang 60 derajad, tapi menurut saya cuma 40-an (sotoy), mungkin karena jalannya yang jelek sehingga terasa lebih miring. Karena jalan yang kayak gini makanya saya agak malas kalau harus balik lagi cuma demi Sikongkong.

    Rute ke Sikongkong sendiri sama seperti ke Sikarim, dari Wonosobo lanjut ke Garung, belok ke Menjer, pas pertigaan belok kiri ke Mlandi mengikuti jalan aspal, dari Mlandi belok kanan mengikuti jalan yang terbesar dan yang menanjak terus hingga ke jalan terdekat dengan air terjun. Bisa juga dari Dieng, rutenya Dieng ke Sembungan / Sikunir lalu pertigaan di awal masuk kampung belok kanan turun terus hingga jalan terdekat dengan air terjun.

    Kebanyakan orang yang datang hanya mengunjungi Sikarim, tanya kenapa? Secara jalan ke Sikarim lebih mudah, tinggal masuk jalan setapak terus sampai deh di bawah air terjun. Alasan lain adalah Sikongkong ini baru kelihatan dari jalan yang lebih atas dari Sikarim, jadi pas habis dari Sikarim mereka turun lagi, padahal bila naik sedikit lagi bakalan lihat Sikongkong (lagi sotoy mode on). Dari Sikarim untuk menuju Sikongkong tinggal naik sedikit lagi tapi jangan kejauhan karena jalan masuknya gak kelihatan dan akan segera menghilang dari pandangan karena tertutup punggungan. Dilihat dari jalan, Sikarim ada di kanan jalan sedangkan Sikongkong ada di kiri jalan. Kendaraan yang bisa digunakan ya sepeda motor sama mobil, kendaraan umum cuma bisa sewa ojek. Untuk yang bawa mobil cukup sampai dekat Sikarim saja, kalau naik-naik lagi bakalan gak bisa muter dan harus lanjut sampai Sembungan, belum kalau ketemu kendaraan lain, bisa bingung sendiri apalagi ketemunya truk bisa gila nanti.

    Untuk menuju ke air terjunnya sendiri gak ada petunjuknya, yang bisa jadi patokan adalah jalannya basah (kalau hujan bingung sudah :p) karena ada pipa jalur air. Dari sana naik ke atas ikuti pematang sawah kalau sulit ya turun ke sawah sampai turun ke sungai. Dari sungai ya tinggal naik ikuti asalnya, tinggal loncat sana loncat sini sampai nanti bakalan nemu pipa lagi. Pada suatu titik, saya menemukan kesulitan, karena jalur yang ada menanjak. Jalan tanah yang ada cukup nanjak 70 derajad ditambah kondisi yang licin, sedangkan jika mencoba lewat air harus menghadapi terjunan, dan saya tidak siap untuk basah. Ya terpaksa berkotor ria dengan pegangan pipa dan menyesuaikan titik berat agar tidak kepeleset dan matahin pipa :p. Dari sini ada tantangan lain yang sama tapi kali ini tanahnya pakai semak-semak dan lumut, setelah perjuangan sendiri yang  geje-gejean akhirnya sampai juga di bawah air terjun.
    "Rute" perjalanan

    Air terjunnya sendiri terletak di antara dua punggungan, tak ada bekas vandalisme yang menjadi bukti bahwa air terjun ini sering didatangi, yang ada cuma sedikit sampah yang berasal dari atas (Sembungan) dan pralon air. Saya tidak berlama-lama di sini karena terlalu mikir kalau hujan turun nanti banjir, atau parahnya longsor dan saya tidak bisa ke mana-mana karena kanan kiri tebing dan tidak bakalan ada yang tahu saya ke sini, cuma ada motor yang parkir dipinggir jalan :p. Untuk menuju ke Sikongkong ini terasa sedang berpetualang di tengah hutan lebat walau cuma sebentar (ini beneran hutan ndul :p). Anggap aja ini lagi mini canyoning J

    Oh iya kalau dilihat dari jalan air terjunnya kelihatan tinggi, tapi kalau dari bawah gak tinggi-tinggi banget (efek lihat dari tempat yang lebih rendah dan di bawah air terjun terjadi efek perspektif serta ketutup karena kemiringan).
    Sikongkong dari bawah (terlihat pendek banget di foto ini)

    Lho ini kok gak sekalian mbahas Sikarim lagian fotonya sikit banjet? Biarin, Sikarim nanti kapan-kapan buat intermezzo saja :p, foto sedikit gak masalah duong, foto kan cuma penghias.

    Jumat, 25 Januari 2013

    Gunung Sindoro via Sigedang



    Gunung Sindoro / Sundoro merupakan gunung yang terletak di kabupaten Temanggung dan Wonosobo. Gunung yang mempunyai tinggi 3136 mdpl ini mempunyai beberapa rute pendakian, seperti rute Kledung yang paling sering dilewati, rute Bansari, dan rute Sigedang. Karena sudah beberapa kali lewat rute Kledung, pada pendakian kali ini saya mendaki gunung Sindoro dari Sigedang (padahal ndakinya dah lama, dah tahun lalu XD). Sigedang sendiri merupakan nama desa yang terletak di kecamatan Kejajar kabupaten Wonosobo (masih satu kecamatan dengan Dieng).

    Untuk menuju Sigedang, paling gampang ya dari Wonosobo ambil arah Dieng, terus belok ke Tambi naik terus sampai Sigedang. Kalo naik angkot ya naik angkot jurusan Wonosobo – Dieng turun di Tambi kemudian naik ojek atau mobil bak terbuka atau sekalian jalan :p. Sebenarnya ada jalan pintas bagi yang berasal dari sebelah timur gunung ini, yaitu lewat Jumprit tapi kalo belum biasa lewat lebih baik lewat Wonosobo saja. Sebenarnya tempat perijinan tidak hanya di Sigedang saja, tapi juga ada di Sikatok, dusun di atasnya (masih masuk Sigedang juga kok). Jika titik awal pendakian dari Sigedang maka perlu menyusuri jalan aspal yang ada hingga ke daerah kebun teh, tapi kalo dari Sikatok ya jaraknya lebih dekat untuk sampai sini.

    Gunung Sindoro dari kebun teh
    Pendakian kali ini hanya beranggotakan 3 personil, personil S, saya, dan personil M. Karena kami belum ada yang pernah lewat rute ini, ketika sampai di Sigedang sempat kebingungan mencari tempat izin sekaligus tempat menitipkan motor. Kalau dari info di internet, minta izinnya ke pak Amin, tapi karena waktu bertanya penduduk mendapat info kalau ternyata di Sikatok juga ada buat tempat izinnya, jadinya ya balik ke Sikatok (malas mau nambah jalan lagi :p). Di Sikatok ini perizinannya di rumah pak Udin, rumahnya cuma beberapa meter (sekitar 20 m) dari perbatasan dengan Kabupaten Temanggung.

    Setelah menata ini itu dan dikasih nomor hp bapaknya (yang ngasih ibunya sih), perjalanan pun dimulai. Beberapa menit kemudian, sampailah kami di pintu masuk kebun teh (sebenarnya bukan pintu, tapi jalan, dan jalannya ada banyak, nah yang buat pendakian lewat jalan yang paling besar). Dari awal kebun teh ini hanya mengikuti jalan makadam yang ada. Sebenarnya kita bisa naik motor atau mobil hingga ujung jalan tapi ya nanti bingung kalau ditinggal, kalau ada yang mau mengantar sampai sini boleh juga :p. Jalan yang dilewati meliuk-liuk tapi ikuti saja jalan yang ada, bila ada persimpangan ikuti saja intuisi, pokoknya yang naik dan kelihatan benar (waduh). Sebenarnya ada jalan cepat, yaitu lewat jalan di antara teh-teh, tapi kalau belum tahu atau pas malam hari ya lewat jalur normal saja deh daripada bingung.

    Pegunungan Dieng (Bismo, Sikunir, Pakuwaja, Prau, dll)
    Setelah sekitar 2 jam (kayaknya kurang malah) perjalanan lewat jalur normal dan jalan kaki, sampailah kita di bagian trek selanjutnya. Karena tidak adanya info mengenai jalurnya maka tim saya salah lewat jalur XD. Jalur yang tim saya lalui adalah jalur yang berada di ujung jalan makadam kebun teh, tapi jalur yang sebenarnya ada di punggungan sebelumnya, jadilah tim kami melalui jalur yang tidak jelas. Jalur yang kami lalui sepertinya adalah jalur pencari kayu tapi untungnya jalur ini tembus ke jalur utama, dan karena itulah kami tidak melalui POS III (loh tiba-tiba dah nyeritain POS III -_-;). Jalur setelah kebun teh ini berupa hutan pinus yang pinusnya pun jarang-jarang yang kemudian dilanjutkan daerah rerumputan terbuka terus sampai puncak (tiba-tiba dah sampai puncak).

    Sebenarnya ketika cari info di internet  mengenai jalur pendakian lewat Sigedang, kita akan melihat watu susu dari gunung kembar ini (waduh ini cerita apaan sih XD). Tapi karena tidak adanya foto jadi saya hanya menerka-nerka. Oh iya setelah POS III, tidak ada tempat nge-camp kecuali di puncak. Waktu tempuh total perjalanan dari Sigedang lebih cepat dibandingkan lewat Kledung (waktu pastinya sekitar ng… pokoknya lebih cepat :p). Dan karena rute ini lebih sepi, jadinya lebih aman meninggalkan barang daripada lewat Kledung yang sering terjadi pencurian (katanya, saya belum pernah kejadian soalnya).

    Watu Susu (?)
    Puncak yang dicapai melalui jalur ini bukanlah puncah kawah seperti dari Kledung, tapi berada di tugu perbatasan Wonosobo –Temanggung, di sekitar ujung segoro wedi yang dekat dengan segoro banjaran. Untuk sampai ke kawah, maka kita harus memutar  atau intinya ke arah tenggara. Segoro wedi dan segoro banjaran sendiri berupa dataran yang cukup luas sehingga bisa dibuat menjadi beberapa lapangan bola (duh). Di segoro wedi terdapat suatu cerukan yang entah pas lewat kok terdapat bunga mawar yang entah itu apa (mungkin bekas kawah, karena pas cari-cari di internet gak nemuin apa itu).

    Bekas Kawah (?)
    Kawah Sindoro sendiri seperti semacam sumur dan bertingkat. Terdapat dua jalan untuk turun ke kawah (jalan lain bisa langsung lompat :p), jalan pertama yang sampai ke kawah bagian atas yang kemudian terdapat jalan turun lagi sampai ke bagian bawah, sedangkan yang satunya langsung ke bagian bawah. Biasanya, dulu kawah bagian bawah ini terisi oleh air dengan warna terlihat hijau dan terlihat batu-batu besar di dalamnya, tapi setelah peristiwa tahun 2012 lalu, bagian ini menjadi putih, batu-batunya pun terkubur di dalamnya dan ditambah keluarnya solfatara yang terlihat jelas. Ketika turun ke kawah hati-hati ya apalagi ketika hujan, pada awal tahun 2013 ini ada yang mati keracunan di kawah Sindoro. Ketika berjalan di atas kawah yang berwarna putih ini rasanya jemek-jemek, seperti berjalan di atas lumpur yang semi kering.

    Segoro Wedi
    Pas ngetik pos ini malah “berimajinasi” kalau watu susu itu seperti yang dipikirkan, di bawah watu susu itu ada awal dari sungai progo (maksudnya bukan mata air jumprit, tapi lebih ke atas lagi), jadi sungai progo itu adalah aliran “sesuatunya” Sindoro?!?! Dan mikir lagi kalau Jumprit itu ngeluarin air buat kali Progo, jadi mata air jumprit itu…… (jangan dipikirin tulisan bodoh ini :p).

    Kalau ada yang mau ekspedisi maraton kayaknya asyik nih,dimulai dari naik Sumbing dari dusun Butuh, desa Temanggung, Kaliangkrik, Magelang, turun lewat dusun Garung, desa Butuh, Kalikajar, Wonosobo, lalu naik Sindoro lewat Kledung, Temanggung, turun via Sigedang, Kejajar (kecamatan sebelahnya namanya kecamatan Garung lho :p), Wonosobo, lanjut Prau via Patakbanteng atau Igirmranak, turun lewat Dieng, dan sekalian lanjut Slamet (nama-namanya kok banyak yang hampir sama cuma tingkatnya beda ya :p).

    Sindoro's Crater, Now n' Then
    NB: menurut orang sekitar, Sindoro itu cewek, dan Sumbing itu cowok.

    Pesan Sponsor: Kalau nyalain api harap hati-hati ya, kasihan ni gunung sering banget kebakaran. Tanpa api aja bisa kebakaran apalagi ditambah api. Beberapa waktu setelah saya mendaki, gunung ini kebakaran, dan kebakarannya parah banget, dari bawah benar-benar kelihatan.

    Kamis, 21 Oktober 2010

    Gunung Sumbing

    Gunung Sumbing merupakan salah satu gunung yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Gunung tertinggi ke tiga di pulau Jawa ini (3371 mdpl) terletak di tiga kabupaten, yaitu Magelang, Temanggung, dan Wonosobo. Terdapat beberapa rute pendakian untuk menuju puncak gunung ini, salah satunya dari Dusun Garung, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar. Rute Garung ini merupakan rute termudah untuk menuju puncak Gunung Sumbing, namun tetap saja rute ini termasuk cukup sulit dan melelahkan. Terdapat dua jalur, yaitu melalui jalur lama dan jalur baru yang keduanya akan bertemu di pestan. Selama mendaki gunung ini, saya hanya menggunakan jalur baru karena jalur ini lebih mudah dari yang satunya.

    Sunset
     Kalau ingin mendaki terdapat beberapa larangan yang tertulis di basecamp, seperti jangan bicara kotor, buang air sembarangan, dan lain-lain. Katanya apabila dilanggar akan ada sesuatu yang menimpa. Gunung ini termasuk gunung yang gundul dengan sedikit hutan. Sebagian besar lerengnya telah menjadi ladang penduduk. Untuk mendaki diperlukan persediaan air yang cukup banyak karena mata air yang ada hanya satu dan itupun sudah kotor karena banyak pendaki yang membuang sampah di sana. Pernah ketika mendaki kelompok saya kehabisan air minum di puncak dan tidak minum setetes air pun sampai di basecamp sampai-sampai bibirpun sangat kering. Ternyata hal ini disebabkan beberapa anggota kelompok yang pertama kali mendaki ke gunung ini menganggap gunung ini mudah seperti gunung-gunung yang sebelumnya mereka daki dan cuma membawa air sedikit (doh).

    Selain sudah gundul, ketika musim kemarau juga sering terjadi kebakaran. Saya pernah melihat asap ketika berada di puncak dan saya kira itu cuma asap kawah yang letaknya ada di bawah (doh). Ternyata setelah turun dari puncak, saya baru sadar bahwa asap itu berasal dari api yang membakar semak-semak. Dan lokasinya berada di punggungan sebelah tenda kami ditinggal.
    Bekas kebakaran
    Tempat yang paling nyaman untuk mendirikan tenda adalah di area watu kotak karena tempat ini cukup terlindung dari angin. Namun Watu Kotak ini tidak terlalu luas dan katanya angker. Bila sudah cukup lelah, biasanya pestan pun menjadi tempat mendirikan tenda walau angin yang datang cukup kencang. Tapi jangan lupa kalau pestan merupakan singkatan dari peken (pasar) setan, hehe. Ketika pertama mendaki gunung ini ternyata bebarengan dengan diadakannya bersih gunung oleh penduduk dari yang tua (belum aki-aki) hingga anak-anak SD. Para anak SD ini mendaki dengan lincah (maklum cuma bawa sedikit air minum) sehingga menyebabkan anggota kelompok kami merasa kalah dari anak-anak ini (hehe).

    Salah satu senior menyarankan untuk mendirikan tenda di watu kotak namun sesampainya di sana, namun setelah mendaki bersusah payah, kami melihat bahwa tempat itu telah penuh sesak digunakan oleh penduduk (doh), sehingga terpaksa mendirikan tenda di dekat tempat itu. Karena tidak cukup luas, terpaksa tidak semua tenda didirikan dan ada yang tidur di luar. Namun ketika pagi, para penduduk telah mendaki ke puncak dan ternyata tempat kami adalah jalan. Karena orang yang tidur di luar memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam sleeping bag, sehingga para  orang yang lewat mengira itu cuma barang dan menginjaknya (weks) padahal isinya orang (doh).
    Bayangan gunung
    Puncak Gunung Sumbing berupa kaldera dengan kawah di tengahnya. Gunung ini merupakan gunung api yang sudah tidak aktif lagi namun di beberapa titik terdapat asap berbau belerang yang keluar. Untuk menuju puncak tertinggi juga cukup sulit untuk dilakukan karena cukup terjal.
    Suasana pagi
    Untuk mendapatkan sunrise dari gunung ini cukup sulit, karena kita harus mendaki hingga puncak (tidak harus puncak tertinggi) agar dapat melihatnya. Ketika pagi kita juga dapat melihat bayangan dari gunung ini yang memberikan efek cukup aneh pada mata. Yang paling indah adalah ketika melihat sunset dengan gunung Sindoro dan dataran tinggi dieng sebagai objeknya.
    Kawah