Tampilkan postingan dengan label Daerah Istimewa Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daerah Istimewa Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Agustus 2013

Gunung Merapi via Deles



Gunung Merapi merupakan gunung yang wilayahnya berada di 2 provinsi dan 4 Kabupaten, Jawa Tengah (Boyolali, Klaten, Magelang) dan DIY (Sleman). Tinggi gunung ini pun berubah-ubah seiring dengan aktivitas dari gunung Merapi dikarenakan lokasi kawah yang berada di sekitar puncak. Tinggi dari gunung ini yang biasa disebutkan di dunia maya adalah 2965 mdpl, sedangkan pada peta RBI dari foto udara 1993/1994 tingginya hanya 2941 mdpl, dan dari peta Belanda tahun 1939 tinggi gunung tersebut hanya 2911 mdpl.

Gunung Merapi mempunyai beberapa rute pendakian, seperti rute Selo, Babadan, Kinahrejo, Deles, dan Cluntang. Jalur Selo Merupakan jalur paling terkenal, tercepat, terpopuler, dan yang paling gampang, serta jalur paling aman. Jalur Babadan juga lumayan populer (dulu), tapi kemudian jalur ini putus dan sangat sulit untuk dilewati (saya juga belum pernah :p). Jalur Kinahrejo sama nasibnya dengan jalur Babadan yang sudah putus dan menjadi jalur yang berbahaya. Jalur Cluntang... jalur yang aman, tidak terlalu terkena dampak letusan tapi tidak terkenal dan bahkan saya belum pernah membaca catper pendakian dari jalur ini -_-;). Jalur Deles.... baca saja deh :p
Gunung Merapi

Awal Pendakian

Seperti saat mendaki ke Sindoro, saya melakukan pendakian ini dengan 3 personil saja, mbak M dan mas S. Alasan ingin lewat jalur ini karena saya pernah lihat foto di bc Selo dan diceritain kalo jalur ini gak terlalu kena efek letusan. Mengingat jalur ini termasuk jarang dilalui dan belum ada yang pernah, maka saya menyarankan agar mendaki siang hari. Berkumpul di kediaman mas S di daerah Ngaglik, Sleman, kami pun meluncur ke arah Deles dengan 2 sepeda motor. Untuk mencapai Deles sangatlah mudah, paling mudah ya lewat jalan Jogja – Solo, di wilayah Klaten banyak petunjuknya kok, mengingat Deles merupakan tempat wisata. Perjalanan dimulai dari warung bu Mardiyah (?), motor pun dititipkan di sana. Warung ini terletak di dusun Deles di tempat melihat jurang (gak tahu namanya, pokoknya lebih atas dari gua jepang).

Perjalanan di mulai dengan rasa agak malu dikarenakan sepertinya banyak orang (lagi wisata) yang melihat kami. Menyusuri jalan aspal menanjak terus dan akhirnya bingung kapan lewat jalan tanahnya. Usut punya usut ternyata di atas ada basecampnya dan lokasinya dah beda desa -___-;). kalau tahu gini kan dari awal langsung ke basecamp aja gak usah pakai capek-capek lewat jalan aspal ditambah malu :p. Basecampnya ada di Pajegen, desa Tegalmulyo.

Rute Perjalanan

Etape I

Jalur pendakian terdapat di dekat basecamp, melewati sedikit rumah penduduk lalu menyusuri hutan lamtoro dengan sebelah kanan jalur air. Awal-awal masih gampang lah sampai bertemu dengan persimpangan pertama tanpa petunjuk, dipilihlah jalur yang mengarah ke utara naik punggungan, dilihat dari atas, jalur yang satunya mengarah ke punggungan lain. Beberapa saat kemudian menemukan persimpangan lagi yang tanpa petunjuk, dan dipilih yang melalui pinggir sungai dan ketemu simpangan lagi dengan kondisi tanpa petunjuk lagi, kali ini dipilih yang naik punggungan. Setelah itu menyusuri punggungan sampai suatu titik dan jalan menjadi menurun pindah ke punggungan lain dan berakhir bingung :p, walhasil harus balik lagi ke punggungan sebelumnya -___-;). Ternyata sebelum jalan menurun terdapat jalan lurus yang tertutup rerumputan (walah). Beberapa saat kemudian terlihat di bawah terdapat semacam shelter dan terdapat jalan menanjak ke tempat kami, sepertinya jalan yang benar adalah setelah sungai ambil jalan yang satunya. Sepertinya itulah POS I.
Punggungan tipis di sebelah barat (di baliknya ada kali Gendol)

Etape II

Beberapa saat kemudian saya melihat untuk pertama kalinya petunjuk arah bertuliskan GAM (Gabungan Anak Merapi ?), sayangnya tidak berada di persimpangan. Mas S pun berencana kapan-kapan naik lagi dan bikin petunjuk seperti itu, mumpung petunjuknya masih sedikit. Naik naik naik sampai juga di persimpangan yang lagi-lagi tanpa petunjuk -__-;). Pertama ambil lurus, kemudian bingung, karena tidak ingin bernasib seperti sebelumnya balik dan belok ke simpang yang satunya. Ditelusuri jalur tertutup semak-semak, saya sempat ragu tapi masih bisa dilanjutin. Jalan pun menanjak tajam, > 45 derajad, dengan jalur yang gak begitu jelas, pokoknya nanjak. Yang bikin seram adalah sebelah kiri merupakan jurang Kali Woro yang sepertinya > 1 hm, kalau jatuh jangan harap gampang diangkat -___-;). Setelah tanjakan yang melelahkan sampailah di atas dan melihat jalur lain yang sepertinya mengarah ke jalur satunya. Sejurus kemudian sampailah di tempat lumayan bisa buat nge-camp, tapi bukan POS II (tahu setelah searching-searching lagi :p)
Jurang Kali Woro

Etape III

Dari tempat sebelumnya, jalur menjadi agak menurun, kemudian agak belok ke kanan. Jalur yang ada gak begitu terlihat karena tertutup semak-semak dan akhirnya sampai di bawah batu besar. Dari bawah, jalur yang ada adalah naik terus menyeberangi batu (awas licin), setelah itu menanjak lagi -___-;). Skip, skip, skip, sampailah di tempat terbuka cukup satu tenda walau gak begitu terlindung. karena dah gelap diputuskan mendirikan tenda. Lokasi ini adalah tempat in Memoriam dari Heri Wasito. Ketika dah leyeh-leyeh, setelah melihat trek yang tadi, rencana buat bikin petunjuk jalan sepertinya harus diurungkan. Malam pun diakhiri dengan tidur dengan hujan yang turun.

Setelah matahari muncul kembali, ternyata di samping barat tenda masih jurang kali Woro. Siap-siap, beres-beres, skip-skip, jalur yang ada kembali menurun dan naik lagi. Ternyata di bukit yang dinaiki ini, berdirilah (gak ada yang berdiri sih) POS II dengan bangunan antena dan solar sel sebagai tempat mengawasi aktivitas Merapi.
Menyisir punggungan

Etape IV

Dari POS II (dari bawah juga terlihat sebenarnya), terlihat punggungan bukit-bukit berderet hingga Merapi, ya, itulah jalur yang harus dilewati -___-;). Di depan POS II dah menanti punggungan, intinya naik, menyibak-nyibak ilalang yang menutup jalur, kalau gak kuat nanjak pakai dengkul nanjaknya, kalau gak kuat lagi cari pegangan tapi kalau salah dapat pegangan arbei liar yang berduri -___-;). Skip skip skip setelah beberapa tanjakan dan sedikit turunan, jalur berikutnya yang harus dilalui ternyata terkena longsor. Agak buka-buka tanaman buat melewati longsoran yang memang berbahaya jika harus langsung melewati longsoran karena terjalnya lereng. Setelah itu sampailah di punggungan yang lumayan terbuka, tapi tetap saja jalur masih tertutup ilalang -__-;).

Setelah turunan dan tanjakan lagi, sampailah di daerah berbatu. Jalur yang dilalui adalah melalui sisi kiri batu dan di sini adalah vandalisme pertama yang saya lihat. Saya kira di sini adalah tempat watulawang, ternyata bukan (dah banyak berharap -___-;). Sedikit turun dari area batu, langsung dihadapkan dengan tanjakan lagi, dah ketutup, licin, banyak yang berduri, sempit, dan satu-satunya jalur yang ada. Setelah sampai puncak bukit, terlihat tantangan selanjutnya, sebuah bukit sebelum mencapai perbatasan vegetasi. Di tempat ini jugalah lokasi tempat bertemunya jalur Deles dengan jalur Cluntang.
Bukit yang telah dilewati

Etape V

Sedikit turun dengan sebelah kanan jurang sungai yang curam dengan pipa-pipa panjang melintasi sisi-sisi tebing pembatas yang curam yang kadang melewati bekas longsoran kemudian seperti biasa, diikuti dengan tanjakan. Di suatu lokasi, jalur menghilang, pikirnya jalur bakal lewat puncak punggungan lalu turun lagi, ternyata setelah sampai di puncak yang berbatu jalur kembali menghilang walau ada beberapa vandalisme yang membuat asumsi itu adalah jalur yang benar. Mbak M menyarankan menuruni batu, tapi kok agaknya meragukan, batunya kelihatan tinggi, dan ternyata setelah dilihat-lihat dari atas jalurnya melalui sisi kiri puncak bukit, akhirnya kembali lagi ke titik sebelumnya. Di titik sebelumnya jalur benar-benar menghilang tertutup ilalang yang dah benar-benar tinggi. Agak naik dikit menerobos semak, mencoba melihat-lihat kalau ada bagian yang gak ketutup, dan benar saja di depan ada jalurnya. Turunan dua meteran yang ketutup paku-pakuan dan ilalang tinggi yang entah ada apa dibaliknya dituruni dan diterobos menuju jalan yang benar :p. Jalur lalu menurun licin tanpa ilalang, hanya cantigi, kemudian naik lagi dan sampailah di tempat dengan batu yang berlubang besar, inilah Watulawang (kalau di peta nyebutnya Batulawang, yah karena Merapi di Jawa ya saya nyebutnya watu walau saya tahunya watubolong -___-;).
Watulawang
Dari Batulawang, jalur menanjak datar dan terlihatlah puncak Batulawang yang berbatu dan sebelumnya dinaiki, dan ternyata memang gak bisa dituruni dari atas karena benar-benar tinggi. Beberapa saat kemudian sampailah di batas vegetasi. Sedikit menanjak, terdapat bekas tempat antena dan solar sel untuk mengamati Merapi yang sudah rusak. Menanjak lagi sampailah di Pusunglondon. Dari Pusunglondon hanya menurun dan sampailah dipertemuan jalur Seloketika maghrib, Pasar Bubrah.
Gunung Batulawang dari batas vegetasi

Last Etape

Sebenarnya kami tidak mendaki ke puncak Merapi dan memutuskan turun melalui jalur Selo karena sudah malam, sudah capek, dan sudah ngomong kalau cuma mo dua hari, dan saya sudah pernah jadi nggak terlalu masalah :p dan bila mo balik lewat Deles lagi jalurnya ya gitchu dech :p. Dan ternyata pas mau ngambil motor, si ibu dah mau laporin ke SAR :p (maaf ya dah buat khawatir, habis jalurnya bener-bener !@#$%). Akan tetapi, karena ada barang saya yang jatuh pas turun, dan ada yang ngajak naik lagi, ya mari saja sekalian kalau-kalau barang yang jatuh bisa ditemukan (walaupun ndak ketemu). Anggotanya nambah 3 orang, mbak Z, mas R, dan mas A.

Etape terakhir adalah jalur menuju puncak, jalur yang ada berupa daerah pasir yang melorot kalau diinjak. Orang-orang pada umumnya melalui jalur agak sebelah timur, melewati pasir-pasir hingga ke daerah dengan wilayah berbatu yang dah mantap. Dari daerah berbatu sudah lumayan gampang, tinggal menanjak terserah mo lewat mana nanti akhirnya sampai di puncak seberang kawah yang sepertinya dulu masih dilokasi kawah mati. Di puncak terserah mo ngapain, mo poto-poto atau mau ke puncak tertinggi, atau mo terjun ke kawah ya terserah :p.
Kondisi Puncak Merapi

Ending

Dari semua jalur gunung yang pernah saya lalui, sepertinya jalur Merapi via Deles ini yang paling susah melebihi Sumbing, Lawu via Cetho, dan Semeru, alasannya yang paling ngehek adalah jalur yang tertutup ilalang dengan tanjaknnya yang yahud dan licin. Sebagai saran aja, kalau mo naik lewat sini lebih baik pas gak hujan dan lebih-lebih kalau dah rame yang pake rute ini (jalur bakalan kelihatan deh) dan bawa anggota yang pernah lewat sini (biar gak nyasar terutama di bawah) ditambah tutupi kulit buat ngindari duri (sarung tangan, kaos kaki, celana panjang, dll) :p.

Tambahan

Nemu dari inet, titik-titik di jalur Deles yang dilalui (kok dulu pas mau naik gak nemu ya)
1 Pajegan (Lewat)
2 Rong Tikus (Entah di mana)
3 Pos I (Kayaknya itu deh...)
4 Pos Bayangan (yang itu pa?)
5 Nisan Pohon makam ass. Bupati Boyolali 1965 (Entah)
6 Monumen Heri Ceper (Tempat nge-camp)
7 Pos II (Lewat dong)
8 Camp Yoyok (Mbuh)
9 Pos III (Ng....)
10 Watu Bulus (Mana lagi, katanya dulu ada kerangka pertapa yang ditemukan mati di sini)
11 G. Batu Lawang (Pasti lewat)
12 Pos IV (batas vegetasi)
13 G. Gajah Mungkur (sepertinya maksudnya Pusunglondon, kalo Gajahmungkur lewat Selo)

Colors: Perkembangan puncak tertinggi Merapi setelah letusan 2010 ketika saya sambangi
Greyscale: Puncak Garuda yang sudah patah

Kamis, 13 Juni 2013

Candi Abang – Candi atau Bukit?


Lagi kurang inspirasi dan sebenarnya agak malas ngepos, makanya kali ini ngetik tentang tempat yang dah sering dikunjungi orang :p. Kalau mencari di mesin pencari tentang candi Abang pasti dah banyak banget bertebaran infonya, makanya ini termasuk lagi malas ngepos -____-;)

Get There
Candi Abang terletak di dusun Blambangan, desa Jogotirto, kecamatan Berbah, Sleman. Secara astronomis berada pada 7.80127777S, 110.4686111E . Karena tidak berada di dekat jalan utama dan minimnya petunjuk, candi ini jarang dikunjungi orang yang berasal dari luar Jogja. Candi ini menjadi salah satu tujuan favorit para goweser apalagi pada minggu pagi. Sebenarnya ada banyak jalan untuk ke candi ini, saya jelaskan dua yang paling gampang dimengerti. 

Jalan yang pertama bagi yang berasal dari arah Jogja. Dari Jogja tinggal menuju ke fly over Janti lalu ke arah selatan sampai perempatan lampu merah JEC (yang sebelah kirinya ada rumah sakit), lalu belok ke kiri pertigaan belok kanan, perempatan belok kiri, intinya jalan ke timur sampai selatannya kompleks Adi Sucipto. Terus ikuti jalan sampai tugu di pertigaan Berbah, terus pabrik, perempatan lurus, belak belok ikuti jalan, kuburan, jembatan, perempatan belok kanan ikuti jalan yang bagus, lalu ada tikungan dan lihat di depan ada sebuah bukit. Bukit di depan itu yang menjadi lokasi candi Abang. Masih lurus sampai sebelah kiri bener-bener dah terlihat bukit tersebut. Lihat ke kiri baik-baik kalau ada jalan cor-coran langsung belok ikuti jalan menanjak sampai lihat di sebelah kiri ada semacam jalan yang nggak banget, ikuti jalan tersebut dan sampailah ke Candi Abang.
Candi atau Bukit?
Jalan yang kedua bagi yang dari arah Prambanan. Dari Prambanan di lampu merah sebelum kali, ambil jalan ke kiri ke arah Ratu Boko / Piyungan. Ikuti jalan ke selatan, lewati rel, terus saja lewati bukit Boko, terus lurus terus sampai lihat petunjuk ke kanan ke arah Berbah di suatu perempatan (sepertinya ke kirinya gak ada petunjuknya karena jalan kecil). Nanti bakal nemu lapangan, terus belok kiri, lalu kanan dan di depan bakalnan nongol bukit. Lihat jalan cor-coran yang terlihat menanjak lalu ikuti seperti petunjuk sebelumnya. Demikian petunjuk sederhana njlimet dari saya -___-;)


Untuk kendaraannya sendiri hanya bisa menggunakan kendaraan pribadi, kendaraan umum tidak ada trayek lewat sini :p. Kendaraan umum paling arah Prambanan – Piyungan yang katanya sudah jarang lalu ditambah jalan kaki. Paling disaranin pakai roda dua, kalau roda empat nanti parkir di sekitar jalan cor-coran, kalau masuk jalan jeleknya mungkin bakalan susah, tapi kalau mau coba ya silakan (nggak tanggung jawab :p).

Jalan jelek di sini berupa batuan kapur yang bercampur tanah. Jadi jika hujan tu tanah jadi lumpur dan jalannya jadi makin licin. Dan bentuk jalannya juga tidak rata, bakalan ada sedikit tanjakan-tanjakan kecil yang aduhai :p. Kendaraan yang ada bisa sampai persis di bawah candi tapi mungkin agak bersusah-susah, bahkan sepeda bisa sampai atas kok :p.

Inti Cerita
Bagi yang pertama kali lihat, baik langsung atau dari foto, tidak bakalan mengira kalau objek yang dilihat adalah sebuah candi. Candi Abang ini lebih mirip bukit daripada candi, hal ini dikarenakan candi tersebut sudah tertutup rumput. Mengapa diberi nama candi Abang? Hal tersebut dikarenakan candi ini tersusun dari bata merah tidak seperti candi-candi lainnya di sekitaran Jogja yang disusun dari batu Andesit. Menurut data yang saya baca dari dinas purbakala, candi ini dibangun sekitar abad 9 sampai dengan 10 Masehi. Candi ini merupakan candi Hindu, dikarenakan waktu ditemukan, ditemukan pula lambang dewa Syiwa.

Candi ini lumayan asyik buat piknik apalagi pas rumputnya sedang terlihat hijau. Karena banyak rumputnya juga di tempat ini menjadi tempat penggembalaan kambing warga sekitar, jadi hati-hati melangkah karena banyak pup-nya :p. Ketika musim kemarau, rumput-rumputnya terlihat menguning dan makin cocok kalau disebut candi Abang. Dari atas candi bisa terlihat kota Jogja nun jauh di sana, bukit bintang, gunung Merapi, gunung Nglanggeran, dll. Mau lihat sunset juga bisa, tapi hati-hati baliknya, jalannya gelap. Nah jika melihat bentuk ni candi, di atasnya bakalan terlihat cekungan, tu cekungan sebenarnya adalah bekas pengrusakan, hal ini dikarenakan di dalam candi ini diperkirakan tersimpan harta, dirusak deh oleh orang yang pengin untung sendiri.

Jika mampir ke candi Abang, bisa sekalian mampir ke Gua Sentono yang ada di dekat jalan masuk ke jalan cor-coran, karena semua ini GRATIS!!! FREE!! FREE! FREE.... -____-;)
Abang atau Ijo?
Demikian tulisan gak niat saya, uh kok jadi lumayan panjang ya, padahal inti ceritanya seiprit -_____-;)

Sabtu, 13 April 2013

Monjali – Tumpeng Raksasa di Pinggir Jalan


Bingung mau nge-post tentang apa, mau ngepos tempat yang jarang diulas kok kebanyakan dah diulas ya. Itung-itung ini buat intermezzo aja buat nambah kerjaan, makanya hari ini mo banyak nge-post tempat-tempat yang biasa saja :p. Saya awali dengan Museum Monumen Yogya Kembali.

Monjali terletak di utara dari ring road utara Yogyakarta. Secara administratif, monumen ini terletak di Jongkang, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, DIY, tapi kalau saya lihat di peta RBI kok ni museum dah masuk kecamatan Mlati, akan tetapi saya ngikut yang Ngaglik karena di pdf yang saya download dari dinas pariwisata juga nulis demikian. Secara astronomis museum ini berada pada -7.749444444, 110.3694444. Monjali dibangun pada 29 Juni 1985 dan diresmikan oleh presiden kedua RI pada 6 Juli 1989.
Monumen Jogja Kembali

Karena sudah lama tidak ke sini dan tiketnya dah hilang, maka saya kurang tahu harga tiket masuknya, tapi kalau tidak salah buat yang bawa kamera juga bayar (dulu kameranya saya umpetin :p). Di halaman monumen yang juga merangkap sebagai museum ini terdapat kendaraan-kendaraan perang seperti pesawat dan lain-lain. Monumen ini dikelilingi oleh danau yang banyak ikannya dan ada yang nyewain pancing juga -_-;). Di halaman monumen juga terdapat nama-nama orang yang gugur dalam peristiwa perebutan Jogja.

Di dalam museum terdapat 3 lantai, lantai pertama berupa museum, yang kedua berupa ruang diorama, dan yang terakhir berupa ruang mengheningkan cipta. Di lantai pertama yang pintu masuknya berbeda dari lantai lainnya (masuk dari samping) ini terdapat koleksi-koleksi museum seperti senjata-senjata, seragam-seragam, kamar tidur, dan lain-lain. Di lantai kedua yang berupa diorama ya berisi diorama perang. Ruang diorama ini lumayan canggih karena sudah memakai sensor, sehingga kalau ada orang di dekat suatu diorama maka akan secara otomatis dibacakan narasi (kalau gak salah ingat :p). Dan di lantai paling atas cuma ruang kosong untuk mengheningkan cipta.

Di halaman monumen (bagian dalam danau), kita juga bisa mengelilinginya. Di dalamnya terdapat relief-relief tentang perjuangan dan pembangunan di Indonesia. Kalau mau coba naik ke puncak tumpeng juga bisa, tapi lantainya benar-benar licin jadi gak bisa-bisa naik :p
Kambing-kambing yang sedang merumput malam hari :p

Pada malam hari museum ini berubah fungsi menjadi taman lampion yang buka dari sore hingga tengah malam. Taman lampion ini berlokasi di halaman monumen dan tentunya juga harus membayar tiket masuk yang harganya berbeda antara weekend sama weekday. Atraksinya ya Cuma lampu saja ditambah warung makan :p.

Minggu, 06 Januari 2013

Gua Jepang Parangtritis, 忘れ砦


Jarang-jarang update blog dalam waktu dekat-dekat. Gak apa-apa deh.

Sebenarnya awalnya mo nyeritain tempat yang ada di pulau “besi”, tapi agak malas buat cari-cari info tambahan  dari mbah gugel, diganti deh sama tempat yang ada di pulau “jewawut” aja :p. Tempat kali ini masih jarang dibahas di internet dan sepertinya juga jarang dikunjungi :p, kebanyakan orang pun bila ke Parangtritis tentu tahunya pantai.

Gua Jepang Parangtritis, sebenarnya sih menurut saya agak gak tepat judulnya, tapi karena kebanyakan orang nyebutnya seperti itu, ya mo gimana lagi. Gua Jepang ini terletak di antara dua Kabupaten di DIY, yaitu kabupaten Bantul tepatnya di Seloharjo, Pundong dan kabupaten Gunungkidul tepatnya di Girijati, Purwosari. Lho Parangtritis kan letaknya di kecamatan Kretek bukan Pundong? Ya karena lokasi Gua Jepang ini deket banget sama Parangtritis, dan Parangtritis lebih terkenal daripada nama-nama yang menjadi lokasi yang sebenarnya (argumen pribadi :p).

Jendela pengintaian
Lokasi gua Jepang ini terletak di bukit belakang Parangtritis, bukan bukit Watugupit tempat Paralayang lho, tapi bukit di sebelah utara Parangtritis. Kalau mau masuk Parantritis lewat jalur resmi sekali, sebelah kiri kita ada bukit yang ada makam syeh Bela Belu dan makam Maulana Maghribi, na letak gua Jepang ini ada di suatu tempat di bukit tersebut. Atau lebih tepatnya terletak pada koordinat sekitar 8°00′06″S 110°19′47″E

Sebenarnya gak pernah ada maksud untuk mengunjungi ni tempat, tapi entah kenapa tiba-tiba “nemu” di jalan :p. Awalnya sih saya memang mau main ke pantai sebentar tapi lewat jalan bukit, tapi ternyata saya lewat jalan yang salah (lebih tepatnya jalan yang tidak sesuai dengan rencana :p). Jalan paling mudah untuk menuju ke sini adalah lewat jalan Parangtritis, lalu sesaat setelah jembatan kali Opak langsung belok kiri. Perhatikan di sebelah kanan sampai nemu jalan aspal, jalan aspal pertama lewati saja karena untuk ke gua Jepang ini lewat jalan aspal yang kedua. Seharusnya saya lewat jalan aspal yang pertama tapi malah keblabasan :p. Sekalian saya saranin jangan lewat jalan bukit ini karena jalannya belak-belok, kanan kiri hutan, naik turun, jauh, sepi, jelek apalagi pas musim hujan bonus lumpur :p

Sungai Opak dari gua Jepang
Ikuti jalan aspal tersebut, naik terus sampai atas. Pemandangannya lumayan lah, bisa lihat jembatan kali Opak sama daerah nun jauh di sana :p. Pas lewat situ pas masuk kampung, saya agak kaget karena kok ada orang duduk di jalan, terus ada sapi diikat sampai berkeliaran di tengah jalan, ternyata oh ternyata jalan aspalnya habis diganti jalan makadam batu kapur dengan sisa-sisa sedikit aspal. Awalnya karena awal jalur ini adalah jalur menanjak membuat saya agak ragu dan pengin balik, tapi karena malu sama orang kampung yang tadi ngliatin (mungkin mikir ni orang ngapain ke sini :p) membuat saya melanjutkan perjalanan tanpa tahu ada apa di depan. Dan setelah melewati tugu batas kabupaten Bantul dan Gunungkidul dengan sedikit intuisi akhirnya malah sampai ke gua jepang ini :D.

Kendaraan paling tepat buat ke sini tentu saja pakai motor, atau pakai sepeda gunung kalau kuat, kalau pakai mobil ya walaupun jalannya sempit tapi kemungkinan berpapasan kecil tapi lebih baik jangan deh karena kalau ada apa apa bakal kesulitan. Jumlah gua Jepang ini katanya ada 19 buah, 18 di Bantul 1 di GK. Jalan untuk ke gua Jepang ini ada tiga, satu dari Pundong dan dua dari Purwosari.

Gua Jepang
Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik dengan gua Jepang, karena setahu saya bentuk gua jepang dari luar itu cuma lubang biasa, tapi bentuk gua Jepang di sini ada semacam cerobong asapnya atau tempat mengintip atau apalah namanya, jadi malah lebih mirip tempat pertahanan (la memang buat pertahanan kan fungsinya :p) dan pengintaian atau lebih tepatnya disebut benteng seperti di film-film perang pasifik (sebenarnya gua Jepang itu kan bunker :p). Lokasi dari bunker-bunker ini terpisah-pisah tetapi tidak terlalu jauh. Dari lokasi gua jepang ini kita bisa melihat pemandangan yang lumayan bagus, kita bisa melihat pesisir selatan DIY, pegunungan Menoreh, bahkan gunung Sumbing bila cuaca cerah.

Walaupun lokasi tempat ini terasing, namun masih ada saja aksi vandalisme. Sepertinya tempat ini juga bagus buat melihat matahari terbenam, tapi ya kasihan nanti turunnya karena pastinya sepi, gelap, dan jalan ala kadarnya :p. Kalau ingin melihat melihat semua gua Jepang yang ada agak sulit karena beberapa ada yang benar-benar tersembunyi dan tidak ada petunjuk yang jelas mengenai lokasinya. Jalan pun kadang hanya berupa jalan setapak karena jalan sudah ditumbuhi rumput-rumput liar.

Japanese Bunker

Sabtu, 05 Januari 2013

Ancol, de plaats waar Progo verdeeld


Akhirnya nge-post lagi setelah sekian lama tidak nge-post di blog ini :D

Post tour jatim-nya kuhentikan dulu deh ganti dengan post yang seperti biasa aja lagi :p.

Hampir semua mahasiswa yang kuliah di Jogja tahu Selokan Mataram, maklum selokan ini mengalir di dekat kampus-kampus yang ada di sekitaran Jogja, seperti UGM dan UNY. Namun tidak semuanya tahu dari mana asal air selokan ini bermula. Ancol, itulah asal dari selokan ini. Entah kenapa dinamai Ancol saya juga tidak tahu. Setelah dicari melalui KBBI ternyata ancol adalah tanah yang menjorok ke laut; tanjung. Tapi untuk ancol yang ini sepertinya juga gak terlalu cocok, tanah yang menjorok ke sungai...

Ancol bisa dikatakan terletak di dua provinsi, Jateng dan DIY. Terletak di Banjaroya, Kalibawang, Kulonprogo untuk wilayah DIY dan Karangtalun, Ngluwar, Magelang untuk wilayah Jateng. Entah kenapa kebanyakan orang menyebut Ancol sebagai Ancol Bligo, padahal Bligo sendiri adalah desa di selatan Karangtalun. Sedangkan letak astronomisnya terletak pada daerah sekitar 7°39′51″S 110°16′01″E.

Untuk mencapai Ancol yang paling gampang ya mengikuti selokan mataram untuk jalur lain sebenarnya banyak tapi sulit menjelaskan dengan kata-kata :p (sebenarnya malas njelasin). Paling enak ke sini ya naik motor, naik sepeda sambil nyusurin selokan mataram juga asyik (padahal belum pernah), kalau naik mobil juga bisa tapi lebih baik jangan lewat selokan mataram, habis jalannya sempit, kalau naik angkot…. entah turun mana :p.

Hulu Selokan Mataram
Di Ancol terdapat jembatan Karangtalun yang melalui sungai Progo yang juga merupakan batas antara provinsi Jateng dan DIY. Di sebelah timur sungai Progo terdapat bendungan Karangtalun yang merupakan awal dari jaringan saluran induk mataram yang sekitar 3 km kemudian membelah menjadi saluran van der wijck ke selatan dan kanal Yoshiro ke timur. Perasaan ni nama Van Der Wijck ada di mana-mana. Kebanyakan sih orang-orang mainnya di sebelah timur ini. Sedangkan di sebelah barat terdapat intake kalibawang yang merupakan hulu dari saluran induk kalibawang yang entah ujungnya di mana (maklum pas nyusurin ini saluran mbelah jadi 2 terus jadi ada sal induk Donomulyo terus jalannya menghilang, kayaknya sih di kali Serang atau mungkin balik ke Progo lagi).

Sebenarnya sih pemandangan di Ancol ini gak ada yang istimewa, cuma lihat sungai, bendungan, saluran air, jadi ya gak istimewa banget. Namun di sisi sejarah tentu saja ni tempat banyak banget sejarahnya. Dimulai dari bendung Karangtalun dan saluran Van Der Wijck yang dibangun Belanda, kemudian kanal Yoshiro / selokan mataram yang dibangun Jepang, lalu saluran Kalibawang yang dibangun setelah kemerdekaan. Yang lebih unik lagi, ternyata ada game membangun selokan mataram. Ni Game saya temuin di Benteng Vredeburg, kita disuruh mbangun saluran air dari sungai Progo menuju sungai Opak melalui halangan-halangan yang ada, tapi ni game sulit maininnya dah dipencet-pencet gak mau juga (main sendiri aja di sana atau mungkin saya yang payah :p).

Saluran Kalibawang dan Sungai Progo
Bagian paling asyik di tempat ini menurut saya adalah ketika menuju intake Kalibawang. Untuk menuju tempat ini sebenarnya ada cara yang lebih mudah, tapi kurang seru. Jalan yang seru adalah melewati pembatas antara saluran Kalibawang dengan sungai Progo yang lebarnya sekitar 1.75 meter kayaknya dengan tinggi sekitar 3 meter, Jadi kalau jatuh ya sakit atau basah :p.Waktu itu dengan bodohnya mengendarai motor sampai ujungnya dan tempat enak buat muterin motornya tidak ada XD, jadi harus angkat-angkat buat muter, mana panjang motornya pas lagi. Intake Kalibawang ini diresmikan pada 8 April 1970 oleh Ir Sutami (bapak ini namanya juga di mana-mana).

Intake Kalibawang

Rabu, 06 April 2011

Museum Kareta Karaton Ngayogyakarta

Museum Kareta Karaton merupakan museum yang terletak di lingkup kraton Jogjakarta. Seperti namanya, museum ini mengoleksi kereta-kereta kraton Yogyakarta yang pada waktu-waktu tertentu dikeluarkan untuk digunakan.

Museum Kareta Karaton

Untuk masuk ke museum ini dibutuhkan biaya Rp 3000 dan untuk izin foto dikenakan biaya Rp 1000. Jarang-jarang saya membayar untuk izin foto karena kamera disembunyikan dan walaupun tempat tersebut ada larangan untuk mengambil gambar, tetap saja saya langgar :p. Kalau ada larangan untuk mengambil gambar sebenarnya yang dilarang adalah penggunaan flash dari kamera yang dapat merusak koleksi (kalau yang ini saya tidak menggunakan flash kok). Alasan saya membayar izin adalah karena ditanyai apa mau mengambil foto atau tidak, untuk ini saya tidak bohong (di tempat lain jarang yang menanyakan :p).

Alasan pergi ke museum ini adalah karena teman saya yang menceritakan bahwa suasana di museum ini cukup mistis, apalagi di dekat kereta pengangkut mayat, ternyata suasananya biasa saja (apa saya yang kurang peka). Besar museum ini tidaklah terlalu besar, paling 30 menit sudah dapat melihat semua koleksi yang ada.

Isi museum ini ya sebagian besar kereta. Kereta di sini bukanlah kereta api, tapi kereta kuda. Selain kereta, juga terdapat berbagai hal yang menyangkut kereta kraton ini yang disimpan di dalam lemari, dan sepertinya sudah agak lusuh. Ada juga patung kuda yang.... XD. Kereta-kereta yang ada juga diberi nama, dan namanya pun aneh-aneh, seperti Kareta Kyai Puspoko Manik, Kareta Kyai sapa… (kereta disebut kyai zzzzzz). Penggunaan katanya adalah kareta, bukan kereta, entah apakah keduanya dapat mengacu ke maksud yang sama, tapi setahu saya kereta, baik itu untuk kuda atau api (belum lihat KBBI sih).

Kareta-Kareta

Senin, 14 Februari 2011

Air Terjun Srigethuk

Srigethuk, sepertinya merupakan nama yang aneh untuk nama sebuah air terjun, malahan nama tersebut lebih cocok digunakan nama manusia atau malah nama merk makanan (Gethuk). Air terjun ini terletak di desa Bleberan kecamatan Playen Kabupaten Gunungkidul. Air terjun ini terletak di tepi sungai Oyo, tapi ketika melihat di peta kok sepertinya tidak benar-benar di sungai Oyo ya? Mungkin di cabangnya. Dibandigkan dengan air terjun lain tentunya air terjun ini tidak terlalu istimewa. Bagaimana tidak, tingginya saja hanya sekitar 50 meter (walau sepertinya kalau dilihat sepertinya tidak setinggi itu) dibandingkan dengan air terjun lain yang sudah terkenal seperti Grojogan Sewu.


Untuk menuju air terjun ini cukup mudah dengan jalan yang agak rusak. Dari arah jalan raya Wonosari, kita tinggal menuju ke arah Paliyan, dan lewat jalan yang saya kurang hapal karena jarang lewat. Tapi ketika sudah hampir tiba di desanya, akan ada petunjuk jalannya. Jalan untuk menuju ke lokasi kurang begitu bagus. Nantinya akan ada petunjuk untuk belok yang akan melewati pos retribusi (tapi sepertinya jarang dijaga). Akan ada petunjuk yang mengarah ke goa Rancang Kencana dan ke lokasi air terjun. Jalan menuju lokasi air terjun berupa jalan berbatu yang cukup jauh. Sesampainya di jalan terakhir kondisinya sangat memprihatinkan karena berupa jalan lumpur.

Untuk menuju air terjun kita harus berjalan melalui sawah atau menggunakan perahu melalui sungai apabila debit airnya sedang tinggi. Jika melewati sawah, maka akan merasa kalau kita tidak berada di wilayah Gunungkidul karena kondisi sawahnya yang banyak airnya dan yang ditanam adalah padi. Kita berjalan di pematang sawah hingga nanti sampai ke tangga. Bila ke atas maka akan melihat pemandangan sungai dan tebing, tapi tidak terdengar suara air terjun dari sini. Terdapat tulisan "Hati-hati kalau mati!" di salah satu anak tangga (doh). Untuk menuju ke air terjun, maka harus ke bawah terlebih dahulu dan menyusuri tepi sungai. Tinggi tiap anak tangga berbeda-beda, pada bagian atas jaraknya masih cukup rendah, namun pada bagian bawah jaraknya kadang cukup jauh. Di sekitar jalan menuju ke bawah ini ada tulisan jawa namun sudah sulit untuk dibaca.

Bayangan pertama air terjun ini merupakan air terjun yang berada di sungai Oyo, tapi ternyata air terjun ini berada di tepi sungai Oyo. Dengan kata lain air terjunnya tidak berada di sungai utamanya. Di dekat air terjun akan ada tempat duduk yang melingkar dengan “meja” di tengahnya. Air terjunnya cukup kecil dan di bawahnya terdapat batu-batu yang cukup besar (tidak besar-besar amat) yang bisa digunakan untuk foto-foto. Yang cukup istimewa adalah terdapat batuan kapur yang berwarna putih di dekat aliran sungai yang terhubung dengan air terjun ini yang mirip di dalam goa. Bedanya dengan yang di dalam goa adalah tidak ada kotoran kelelawarnya :p. Batu-batu tersebut tidak licin ketika dinaiki, yang licin adalah yang berwarna hijau. Ganggang atau lumut yang menempel lebih terlihat daripada yang menempel di batu kali yang hitam-hitam.


Jika kelaparan setelah menikmati air terjun, di dekat tempat parkir terdapat tempat yang menjual makanan tapi tidak dijamin kalau nasinya selalu masih ada atau tidak. Di tempat tersebut juga terdapat pemancingan. Jalan keluar dari lokasi tersebut melalui jalan yang berbeda dengan jalan masuknya, dan jalannya lebih enak dan lebih dekat daripada jalan masuknya. Sepertinya petunjuk untuk masuk ke tempat ini agar pos retribusi yang ada cuma satu, sekalian dengan goa Rancang Kencana.

Air terjun di daerah karst, air terjun Srigethuk salah-satunya.

Selasa, 01 Februari 2011

Museum Gunungapi Merapi

Museum Gunung Api Merapi merupakan salah satu museum tentang vulkanologi pada umumnya dan gunung Merapi pada khususnya. Museum ini terletak di kecamatan Pakem, kabupaten Sleman, DIY. Untuk desanya sepertinya terletak di desa Hargobinangun. Untuk mencapai museum ini maka kita tinggal menuju ke arah Kaliurang dan setelah beberapa kilometer dari Pakem maka akan ada petunjuk untuk mengarah ke kiri dan selanjutnya tinggal mengikuti petunjuk yang ada. Museum ini buka setiap hari kecuali hari senin. Untuk jam bukanya saya kurang tahu.

Menurut saya, bentuk bangunan museum ini mirip dengan bentuk gunung Merapi yang dilihat dari arah selatan. Salah satu atapnya dibuat memuncak bagaikan puncak Merapi, sedangkan yang lainnya dibuat lebih datar mirip gunung Bibi. Gunung Bibi merupakan gunung yang berada di Merapi dan merupakan puncak Merapi ketika zaman dahulu kala.
Ketika melihat tulisan yang ada di luar museum, maka akan terlihat tulisan Museum Gunung Api Merapi ‘Merapi Jendela Bumi’. Maksud dari Jendela Bumi saya kurang tahu, mungkin penghubung perut bumi dengan udara luar / atmosphere. Biaya parkir untuk sepeda motor adalah Rp. 1500, sedangkan untuk mobil saya kurang tahu. Untuk memasuki museum, harga masuknya adalah Rp. 3000. Ketika mau masuk, saya menyembunyikan kamera saya, siapa tahu akan dipungut biaya tambahan untuk kamera seperti di tempat-tempat lainnya. Ternyata tidak ada tulisan tersebut di tempat tiket masuk. Karena merasa tidak masalah, saya jadi mengambil beberapa gambar dengan tenangnya. Namun ketika mau masuk museum terdapat tanda kamera yang dicoret, langsung saja saya sembunyikan kamera yang ada.

Bagian pertama museum adalah diorama besar gunung Merapi terutama dari arah selatan (lagian dari arah utara terdapat gunung Merbabu). Sebenarnya mau mengambil fotonya, namun teringat oleh tanda yang tadi, apalagi banyak penjaganya membuat saya urung melakukannya. Tempat di ruang pertama yang cukup tertutup adalah ketika mau melihat maket dari museum tersebut. Secara sembunyi-sembunyi saya mengambil gambar, eh ternyata di ruang sebelah ada yang mengambil foto secara terang-terangan bahkan memakai lampu flash.
Setelah dari ruang pertama, selanjutnya kita akan memasuki ruang Dunia Gunung Api. Pada ruang ini diperlihatkan mengenai teori pegeseran lempeng dari Pangaea dan seterusnya. Selain itu terdapat peta gunung-gunung aktif di dunia walaupun tidak komplit. Terdapat tombol untuk menyalakan LED yang menunjukkan lokasi gunung tersebut bila dipencet namun tidak semua lampu menyala ketika tombol tersebut dipencet. LED bakal mati beberapa detik kemudian secara otomatis. Selain itu juga terdapat peta gunung-gunung api di Indonesia yang dibedakan tipe gunungnya.

Selain hal-hal tersebut, di ruang ini terdapat Lingkungan magmatic gunung api, foto beberapa gunung api di Indonesia, sumber daya gunung api, berbagai hal mengenai gunung api (bentuk, tipe letusan, indeks letusan, dll), foto letusan, serta Lava beku dari Gunung api seperti batuan Andesit, Dasit, Basalt, dan lainnya dari gunung api di Indonesia. Karena tidak berkecimpung di dalam dunia “geo” maka saya kurang mengerti tentang batuan yang ada, seperti misalnya batuan andesit yang mirip dengan batu-batu yang sering saya lihat, entah itu memang sama atau tidak. Yang menarik adalah bom gunung api. Bom gunung api bukanlah bom yang kita tahu, tetapi merupakan batu yang bentuk luarnya mirip granat dan tentunya dengan ukuran yang besar.

Ruangan berikutnya adalah ruangan seputar gunung api Merapi. Tentunya ruangan ini bercerita mengenai gunung Merapi sendiri, seperti bentuk gunung dari masa ke masa, foto letusan, mitos, dan lainnya. Setelah itu terdapat ruangan yang membahas mengenai alat-alat yang digunakan pada pos pemantauan, seperti seismograf dll. Dampak dari letusan gunung berapi juga terdapat pada museum ini, seperti motor yang rusak parah, dan peralatan yang berkarat (tentu saja tidak ada bangkai). Ada juga foto mikroskopis dari sayatan tipis batuan (gimana ngiris batu sampai tipis :p). Di museum ini terdapat peta kawasan bencana yang mana saya juga menemukannya di internet sama persis.
Saya kira museum ini mempunyai dua lantai, tapi ternyata cuma satu lantai dan sepertinya koleksinya belum lengkap. Saat itu juga ada pameran foto letusan merapi 2010. Di situ terdapat foto-foto sebelum dan sesudah letusan. Selain itu juga ada TV yang rusak terkena terjangan awan panas Merapi. Bagian luar TV yang terbuat dari plastic sampai meleleh karena kepanasan. Kalau TV saja sampai begitu apalagi kulit manusia. Selain itu juga ada sepeda motor yang sudah karatan seperti yang terlihat di berita-berita. Juga terdapat buku tamu Mbah Marijan yang isinya berbagai kegiatan tamu, kebanyakan mereka cuma bermaksud berkunjung dan meminta doa, tetapi juga ada yang isinya mencari pesugihan (doh). Kalau mau cari nomor telepon artis juga ada kok.

Rabu, 01 Desember 2010

Pantai Timang

Pantai Timang merupakan sebuah pantai yang terletak di desa Purwodadi, kecamatan Tepus, kabupaten Gunungkidul. Pantai ini terletak di dekat pantai Siung, namun akses jalan untuk menuju ke pantai ini lebih sulit daripada ke pantai Siung. Tidak ada yang begitu istimewa dengan pantai Timang ini. Pantainya seperti kebanyakan pantai yang berada di Gunungkidul yang berpasir putih, tidak cocok untuk berenang karena cukup dangkal sampai ke tengah apalagi jika sedang surut (tapi kalau cuma main air bisa saja). Ditambah pantainya cukup sempit tidak begitu lebar.

Pantai Timang
Medan yang harus dilewati untuk menuju pantai ini tidak mudah. Setelah melewati jalan beraspal khas daerah Gunungkidul yang naik turun dan sempit, selanjutnya adalah melewati jalan cor-coran yang dibagi menjadi dua buah jalur yang hanya muat untuk satu buah mobil. Setelah beberapa kilometer melewati jalan cor-coran (sekitar 1-2 km) yang akan berakhir di dusun terakhir (perkampungannya) maka akan ditemui jalan yang benar-benar bisa merusak kendaraan. Sebelum memasuki jalan tersebut, ada peringatan untuk mengutamakan selamat dengan lambang tengkorak di papannya (membuat serem aja).

Jalan terakhir yang harus dilewati adalah berupa jalan yang ditata dari batu. Jalan tersebut bukanlah terdiri dari batu-batu berwarna hitam yang sudah ditata dengan rapi, melainkan batu-batu karang (atau kapur ???) yang berwarna putih dan letaknya benar-benar tidak teratur (beberapa teratur kok, namanya aja ada yang membuat). Kalau jalannya lurus saja sebenarnya tidak masalah, yang menjadi masalah adalah ada beberapa bagian jalan yang jalannya menurun cukup miring ditambah adanya batu yang agak nongol di tengah dengan lokasi yang acak tak menentu. Hal tersebut semakin menjadi-jadi karena ditambah badan yang seperti jungkat-jungkit yang didorong oleh beban (teman yang membonceng) dari belakang.

Apa yang membuat saya untuk berkunjung ke pantai yang menurutnya biasa saja (maklum dah terlalu sering ke pantai-pantai di daerah tersebut) dan memerlukan pengorbanan yang cukup banyak? Sebenarnya yang saya cari bukanlah pantainya, melainkan pulau yang ada di dekat pantai tersebut. Ketika laut sudah terlihat, pulau yang dimaksud belumlah terlihat. Ketika sampai di tempat parkir pun (sebenarnya tidak ada tempat parkir, jadi parkirnya di ujung jalan yang ada) pulau yang dimaksud tetap tidak terlihat. Ketika naik ke puncak bukit terdekat yang ada tempat berteduh pun pulau tersebut tidak terlihat. Untuk melihat pulau tersebut haruslah lewat pantai (tapi kurang bagus) atau di sisi bukit (jangan langsung menuju ke puncak bukit kalau tidak mau capek).

Pulau Timang (saya sebut Pulau Timang walau sepertinya penduduk sekitar punya sebutan sendiri) merupakan pulau karang yang tandus yang cukup kecil. Kalau pulau karang yang kecil sih saya juga sering melihatnya, yang istimewa adalah adanya alat yang menghubungkan pulau Jawa dengan pulau Timang ini (walau sebenarnya masih bisa disebut bagian Pulau Jawa). Alat yang dimaksud bukanlah jembatan, tapi kereta (kursi) gantung yang mirip dengan yang ada di area permainan ski. Bedanya kalau yang ini digerakkan dengan tenaga manusia dan tingkat keamanannya sangat tidak terjamin.

Tentu saja ketika sampai di sini saya ingin segera menaikinya tapi bingung cara menggerakannya. Dicoba ditarik kok tidak bergerak, mencari-cari sesuatu yang bisa membuatnya bergerak kok tidak ada, terpaksa harus bertanya dengan orang yang ada di sekitar situ dan turun ke pantai. Di pantai terdapat ibu-ibu yang sedang mencari kayu. Ibu itu bercerita tentang mahasiswa UGM yang beberapa waktu sebelumnya KKN di tempat tersebut dan bercerita tentang mbak KKN (lupa namanya) yang katanya cantik, baik (katanya suka memberi baju dll yang dibawa dari rumahnya), dan mau makan tiwul. Ibu-ibu itu bercerita seolah-olah saya kenal dengan mbak-mbak tersebut dan membanggakannya (tidak seperti KKN saya :p).
Kursi Gantung

Setelah bertanya tentang kursi gantung, ternyata ya memang harus ditarik sendiri. Ibu itu juga menceritakan bahwa yang sering membantu menarik pernah jatuh dari atas tebing dan selamat bisa naik ke atas lagi. Setelah balik dan dicoba lagi ternyata memang bisa bergerak tapi dengan tenaga ekstra (berat). Karena benar-benar bisa digerakkan, saya meminta teman saya untuk membantu menariknya tapi tidak bersedia membantu karena takut terjadi apa-apa terhadap saya. Tapi karena ego saya yang masih besar, saya tetap memaksanya dan tetap tidak mau, sehingga diputuskan untuk menanyakan bapak penjaganya. Dan ternyata penjaganya bilang kalau kursi itu sudah rusak (menghancurkan harapan saya) kalau ditarik ke selatan terasa berat, memang katrolnya sudah berkarat (maklum terkena garam terus). Karena hal tersebut, terpaksa saya harus pulang :-(.

Walau bilang rusak, tapi karena rusaknya cuma karena berat untuk menariknya (tidak rusak beneran), membuat saya ingin ke sana lagi untuk benar-benar mencoba kursi tersebut. Kalau ingin pergi ke tempat ini siapkan kendaraan dalam kondisi prima dan berharap ban tidak bocor di jalan pantainya karena harus berjalan balik cukup jauh (anggap saja 4 km). Selain itu berharap juga tidak hujan atau sehabis hujan, karena batu-batu tersebut cukup licin (pas pulang saya kehujanan, untungnya sudah memasuki dusun terakhir walau jalannya masih berbatu-batu). Dan karena terlalu sering menjaga rem di jalan berbatu jari tangan saya sampai sulit untuk ditekuk buat ngerem.
Jalan menuju pantai

Rabu, 24 November 2010

Kraton Ratu Boko

Kraton Ratu Boko merupakan suatu situs yang terletak di perbukitan Boko yang berada di dua desa, Desa Sambirejo dan Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman, DIY. Situs ini merupakan situs yang bercorak Hinduisme dan Buddhisme yang dibangun sekitar abad 8 - 9 masehi. Untuk memasuki situs ini, ada dua jalur resmi (berbayar) yaitu lewat atas dan lewat bawah. Jalan bawah adalah pintu masuk untuk parkir bis yang nantinya harus dilanjutkan berjalan melewati tangga ke atas. Sedangkan jalur atas untuk sepeda motor dan mobil yang melewati jalan yang cukup sempit. Biaya untuk masuk ke situs ini adalah Rp 10000 / orang dan Rp 2000 / motor (untuk mobil kurang tahu). Sebenarnya tertulis biaya tambahan untuk kamera dan handycam (Rp 5000 dan Rp 8000 kalau gak salah) tapi kalau disembunyikan penjaganya juga gak tahu.

Setelah beberapa saat masuk, maka akan melihat taman rusa yang isinya hanya beberapa ekor rusa, namun hewan utama di situs ini bukanlah rusa melainkan kambing. Di berbagai sudut kita akan melihat kambing berkeliaran mencari rumput. Warga sekitar memberi makan kambingnya di situs ini dan hasilnya kotoran kambing di mana-mana. Sempat saya pergi ke situs ini beberapa hari setelah Idul Adha membuat saya ingin menyata kambing-kambing itu (hehe).
Gerbang Utama
Menurut peta yang diberikan, seharusnya tempat pertama yang dilihat adalah candi batu putih, tapi tidak terlihat bangunan candi di lokasi yang ditunjuk di peta, hanya tumpukan batu  yang tidak terlihat menyerupai candi atau sisa bangunan yang warnanya ... hitam (doh). Sebenarnya terdapat tumpukan batu yang membentuk plataran suatu candi, namun lokasinya tidak berada di lokasi yang ditunjuk peta dan batunya juga tidak putih. Lokasi selanjutnya adalah pintu gerbang utama. Terdapat dua buah gerbang  yang letaknya berkelanjutan. Gerbang ini yang biasanya menjadi icon utama dari Ratu Boko.

Di dekat gerbang, kita bisa melihat candi pembakaran. Candi ini di tengahnya terdapat lubang yang pada saat ditemukan terdapat abu di dalamnya. Ternyata abu tersebut merupakan abu dari pembakaran kayu (dari papan  di dekatnya tertulis demikian) tapi di buku petunjuknya ditulis tempat pembakaran mayat (doh). Di dekatnya (sebelah tenggara), terdapat sumur yang katanya airnya mengandung tuah (-_-;). Sumur ini dinamakan Amerta Mantena yang berarti air mantra (buat mbah dukun nyembur kali... :p).

Dari candi pembakaran kita bisa naik ke atas menuju kirana pandang (tulisan di papan petunjuknya bilang begitu). Di atas terdapat arca Durga dan merupakan satu-satunya arca yang ada di kompleks Ratu Boko ini. Dari atas kita bisa melihat candi Prambanan dari kejauhan dan juga gunung Merapi di belakangnya (kalau cerah)  dan sebenarnya kita bisa melihat kedua tempat ini dari plaza Andrawina (letaknya di bawah di dekat tempat parkir atas).
Gua
 Dari atas kiara pandang, kita harus turun lagi (balik) menuju alun-alun. Berbeda dengan alun-alun yang biasanya kita lihat di kota-kota. Alun-alun di sini tidak berada di dekat masjid Agung dan Kantor Pemerintahan (hehe). Di alun-alun ini kita harus hati-hati karena bertebaran kotoran kambing yang tersembunyi di balik rumput. Di dekat alun-alun terdapat Batur Paseban. Paseban adalah ruang tunggu bagi tamu yang ingin menemui raja. Tapi fungsi dari Batur Paseban sendiri sebenarnya tidak diketahui (kok dinamakan paseban ya?).

Bagian lain dari Ratu Boko adalah goa. Walaupun disebut goa sebenarnya bisa dikatakan cuma lubang kecil saja. Di sekitar goa ini terdapat pintu masuk lain yang sepertinya tidak berbayar. Waktu ke sana terdapat sepeda motor yang masuk dari sisi ini. Di jalan yang dekat masuk terdapat tulisan dilarang masuk karena telah memasuki situs. Sebenarnya di situs Ratu Boko terdapat rumah-rumah yang masuk kompleks ini dan tetap dibiarkan. Terdapat beberapa pintu masuk tak resmi lainnya, seperti yang berada di dekat musholla di situs ini.

Terdapat banyak kolam di kompleks Ratu Boko ini. Sebuah kolam terletak di dekat candi pembakaran dan banyak kolam terdapat di dekat pendopo. Kolam-kolamnya berisi ikan, kecebong, ganggang, serangga, dan lain-lain. Sayangnya ikan-ikannya kecil-kecil.

Yang cukup lucu adalah adanya miniatur candi. Jadi bukan candi betulan yang benar-benar ada dan sempurna bentuknya (candi pembakaran cuma terlihat bawahnya saja), melainkan berupa miniatur dengan ukuran sekitar 1,5 meter. Dan tentunya tidak bisa kita masuki (kecuali beberapa bagian tubuh).
Miniatur Candi

Minggu, 24 Oktober 2010

Pantai Sadranan


Menurut Anda, apa yang paling menyebalkan ketika Anda pergi ke pantai? Menurut saya adalah hujan. Hal inilah yang terjadi ketika saya pergi ke pantai Sadranan. Untungnya hujan berlangsung cukup lama sehingga saya sampai bisa beputar mengendarai motor sejauh lebih dari 25 Km (maksudnya).
Pantai Sadranan ini masuk wilayah kabupaten Gunung Kidul dan termasuk jejeran pantai yang ada di daerah tersebut. Pantai ini terletak di antara pantai Krakal dengan pantai Sundak. Pantai ini menjadi satu dengan pantai Ngandong dengan pemisahnnya berupa karang yang agak menjorok ke laut namun pasirnya masih menjadi satu.

Pantai Sadranan
Yang menarik dari pantai ini adalah adanya pulau (sebenarnya masih bagian dari pulau Jawa) yang terlihat dari pantai ini. Alasan yang lain adalah karena pantainya cukup bersih jika dibandingkan dengan pantai di sekitarnya dan cukup sepi karena kurang di kenal. Ya cuma itu  saja tidak ada yang lain. Kalau dari googling adalah adanya penginapan yang seharga 4 juta semalam (eeeeehhhh). Waktu ke pantai tersebut memang ada bule yang datang. Jadi sepertinya benar adanya kalau tempat itu dihargai mahal.

Pantai Sadranan dari Atas
Sebenarnya saya tidak berniat menuju pantai ini, yang saya tuju adalah pantai Slili. Pada awalnya saya menganggap ini adalah pantai Slili karena dulu sempat lihat-lihat di google map kalau pantai ini adalah pantai Slili. Karena tidak masuk dari pintu depan, anggapan itu pun masih melekat di benak saya. Ketika saya berniat pulang, saya mencoba cari-cari jalan yang akhirnya malah dicegat oleh petugas parkir (padahal maksudnya cuma mau lewat). Karena saya orangnya tidak enakan ya saya bayar saja sekalian tanya-tanya dan katanya pantai Slili berada di sebelah situ (bapaknya menunjuk dengan tidak jelas :p). Di tengah jalan saya menemukan petunjuk yang menunjuk ke pantai Sadranan dan saya hanya lewat saja dan berhenti di pantai sebelahnya.

Pemberat Jaring
Ketika di pantai sebelah, saya berpikir pantai yang saya kunjungi ini adalah pantai Slili dan yang sebelah adalah pantai Sadranan. Saya pun mengeceknya, dan begitulah hal yang mengubah pandangan saya.
Setelah balik, saya pun googling tentang pantai Slili. Dan yang saya temukan adalah bahwa pantai yang ditunjuk itu adalah pantai Slili (membingungkan). Kalau menurut petunjuk di tempat itu adalah pantai Sadranan, kalau dari googling itu adalah pantai Slili. Jadi manakah yang benar? Atau memang kedua pantai itu adalah tempat sama. Kalau ke sana lagi saya berniat tanya lebih jelas.

Crustacea (lupa namanya :p)

Selasa, 12 Oktober 2010

Pantai Baron

Pantai Baron merupakan pantai yang terletak di desa Kemadang, kecamatan Tanjungsari, kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pantai ini berada di paling barat gugusan pantai-pantai wisata di Gunung Kidul walau keluar dari gugusan tersebut masih terdapat pantai yang letaknya lebih di  arah barat seperti pantai Ngrenehan dan Ngobaran.

Pantai nelayan ini merupakan pantai yang paling ramai dikunjungi wisatawan di daerah Gunung Kidul walaupun kadang pantai yang terletak lebih ke timur lebih bagus dari pantai ini. Pantai ini satu-satunya pantai yang berpasir coklat agak keputihan di gugusan tersebut dan pantai yang paling enak untuk basah-basahan.
Di sisi barat pantai terdapat sungai yang berasal dari sungai bawah tanah yang sering dipakai untuk mandi juga memancing. Biasanya orang-orang bermain air di sungai ini jika tidak bermain air di laut. Kita bisa melihat pemandangan pantai dan gugusan pantai lain dengan menaiki bukit yang berada di sisi timur pantai. Untuk naik, sudah ada tangga sehingga tidak perlu susah-susah mendaki. Terdapat dua buah jalur naik yang nantinya juga akan menjadi satu. Di salah satu tangga terdapat kotak agar pengunjung membayar seribu rupiah walaupun tidak ada penjaganya.

Sungai di Baron
Jika mengikuti jalur tersebut, nantinya kita bisa tembus ke pantai kukup. Jika menginginkan hal yang lebih ekstrim kita bisa naik ke mercusuar yang tingginya setara dengang tinggi BTS. Di atas mercusuar ini anginnya terasa sangat kencang semakin ke atas semakin kencang. Bahkan rangka-rangka mercusuar bersuara berisik sehingga bisa membuat was-was orang yang naik. Pada anak tangga terakhir, tidak terdapat pegangan pengaman sehingga untuk mencapai puncak mercusuar harus (tidak harus juga sih) memegang anak tangga di atasnya serta memegang  puncak mercusuar.

Mercusuar
Lantai di puncak mercusuar terbuat dari rangkaian besi yang dibentuk kasa sehingga terlihat rapuh. Jika berdiri akan terasa menakutkan karena anginnya kencang, jika duduk terutama di pinggir, juga akan menakutkan, karena tinggi pengaman lebih tinggi dari saya ketika duduk (doh), jadi malah bisa "mblobos" ke ruang antara pegangan dengan lantainya. Di puncak terdapat sel surya yang digunakan untuk menyalakan lampu mercusuar di malam harinya.


Pantai Baron dari Mercusuar
Kalau untuk makan tentunya tidak perlu khawatir, karena terdapat banyak toko walaupun saya malas untuk makan di sana karena saya tidak mau mengeluarkan uang berlebih (doh).

Kalau menurut saya lokasi paling enak di pantai Baron ya di puncak mercusuar (ini main ke pantai atau main ke mercusuar??). Ya karena sedikit orang yang punya nyali untuk sampai di puncak mercusuar sehingga saya bisa memonopoli tempat itu (hehe). Lebih tepatnya saya lebih menyukai tempat yang relatif sepi.

Deretan pesisir Gunung Kidul