Trinil, merupakan suatu kawasan yang
sudah terkenal di dunia perfosilan dunia. Di Indonesia pun nama ini
selalu muncul di suatu bab pada pelajaran sejarah. Trinil sendiri
merupakan suatu nama daerah yang mencakup tiga desa, Kawu, Ngancar,
dan Gemarang.
Sudah lama saya ingin menginjakkan kaki di
Trinil. Rencana pertama gagal karena tidak melihat petunjuk arah ke
lokasi dan sudah mengantuk setelah nggeje di Madiun. Rencana kedua
juga gagal karena sudah siang dan lebih memilih Sedudo di Nganjuk
sebagai tujuan. Beberapa kali setelah itu juga gagal dengan berbagai
alasan -____-;). Namun akhirnya kesampaian juga ke museum Trinil
setelah malam sebelumnya tidur di SPBU Tunjungan dan mampir di
monumen Soerjo serta benteng Van Den Bosch buat nunggu waktu museum
buka.
| Gading di depan museum |
Museum Trinil terletak di dusun Pilang, desa Kawu, Kedunggalar, Ngawi. Secara astronomi terletak pada 7.37444444S, 111.35805556E. Untuk menuju ke lokasi sebenarnya tidak terlalu sulit. Dari arah Jateng tinggal ikuti jalan raya menuju Ngawi melewati monumen Soerjo lanjut terus hingga lihat SPBU di kanan jalan, ciri-ciri SPBU-nya musholanya lumayan besar dan letaknya di belakang membentuk bangunan sendiri (mana kelihatan dong :p). Dari sana masih dilanjutkan lagi tapi sambil perhatikan jalan dan petunjuk. Intinya adalah belok ke jalan aspal pertama yang mengarah ke utara dari sana. Kemudian ikuti tu jalan hingga museum. Kalau dari Ngawi tinggal ke arah Jateng beberapa km, 15 km an gitu kalo gak salah (duh lupa). Kalau mo naik angkot juga gampang, banyak bis juga, tapi daerah tempat turunnya gak tahu namanya, nanti lanjut naik ojek atau jalan kaki 3 km :p.
Cerita Dimulai
Museum Trinil dibangun pada 20 November 1991,
cikal bakalnya diprakarsai oleh Wirodihardjo yang menyimpan temuan
fosil di rumahnya. Wirodihardjo juga dikenal sebagai
Wirosablengbalung. Sebelum masuk kawasan, kita mengisi buku tamu dulu
dan bayar retribusi (berapa ribu gitu). Ketika saya lihat buku tamu,
yang berkunjung sebagian besar malah warga Kawu -___-;). Dari luar
akan langsung tampak pendopo yang pada waktu saya berkunjung sedang
digunakan oleh anak SMP latihan alat musik dengan lagu Yamko Rambe
Yamko.
| Patung replika gajah |
Pertama lihat di halaman museum, yang
menarik perhatian adalah patung gajah, yang ternyata replika dari
Mastodon atau Stegodon ya... duh lupa, yang berdasarkan penemuan
gadingnya. Di halaman museum juga ada tugu yang menarik yang
lokasinya di bagian belakang dekat Bengawan Solo. Tugu tersebut
merupakan tugu peninggalan Belanda yang berisi petunjuk tempat lokasi
ditemukannya Pithecantrophus erectus, yang terletak 175 meter
dari tugu tersebut pada tahun 1893 hingga 1895.
Di depan
gedung museum terdapat dua replika gading gajah yang membentuk
gerbang yang mirip dengan yang ada di Sangiran. Memasuki museum
suasana yang ada terasa suram, ruang diorama cuma sebuah dan dengan
pencahayaan seadanya. Hampir semua tulisan-tulisan keterangan yang
ada terlihat sudah memudar dan tua. Waktu itu yang ada di museum cuma
saya dan bapak penjaga, beberapa saat kemudian ada sekeluarga yang
hanya foto-foto dan langsung keluar dan bapak penjaga juga keluar
-___-;). Koleksi-koleksi di sini terkesan sedikit, yang paling
menarik perhatian paling gading gajah dan diorama Pithecantrophus
erectus, padahal bapak penjaga
ngomong kalau masih sering ditemukan fosil terutama musim kemarau
waktu debit Bengawan Solo sedikit. Ternyata
temuan-temuan tersebut teronggok di gudang -___-;).
Jika
melihat miniatur kompleks, seharusnya terdapat tempat cinderamata,
tapi ya gak ada yang jualan juga. Sebenarnya yang paling saya
inginkan adalah melihat fosil Pithecantrophus erectus yang
menjadi ikon Trinil, eh ternyata yang ada hanya replika dan aslinya
ada di Belanda. Jika dibandingkan dengan Sangiran, museum ini rasanya
tidak ada apa-apanya. Museum Sangiran yang sekarang sudah sangat WoW
sejak saya pertama berkunjung dengan segala pembenahannya dan Museum
Trinil yang sepertinya tidak pernah berubah sejak pertama dibangun
dengan kesan suramnya, sepertinya juga mempengaruhi jumlah pengunjung
yang ada dan terlihat mencolok di antara keduanya. Mungkin hal ini
juga dipengaruhi status Sangiran sebagai World Heritage juga.
| Diorama P.e |
Trinil
sebagai tempat ditemukannya P.e sebagai klaim para penganut teori
Evolusi mengenai missing link yang diangkat namanya oleh Eugene
Dubois sebagai sang penemu fosil dan muncul di buku-buku sejarah, oh
nasibmu kini.....