Waktu keberangkatan adalah pukul 10.00 WIB, motor sudah siap , cuaca hari itu cerah, gunung Merapi pun kelihatan indah. Ingin rasanya berhenti sejenak mengambil gambar tapi apa daya malas berhenti :p. Berdasarkan catatan yang kubuat malamnya, tempat pertama yang kunjungi seharusnya adalah Museum Trinil di Ngawi. Perjalanan Yogyakarta – Surakarta tak terasa terlewati karena jalannya lebar dan mulus jadi cukup berani menggunakan kecepatan seperti biasa walau temannya kendaraan besar. Namun jalur selanjutnya, yaitu jalur Solo – Sragen, merupakan jalur yang kurnag menyenangkan. Jalur yang dilewati adalah jalur yang sempit dengan temannya bus besar (apalagi ada bus “SK” yang terkenal ugal-ugalan :p)dan truk gandeng membuat sulit untuk bergerak cepat, apalagi hal yang sama juga terjadi dari arah berlawanan membuat sulit untuk menyalip (motor aja sulit, apalagi mobil).
![]() |
Gunung Liman dan Gunung Wilis |
Museum Trinil berada di Kecamatan Kedunggalar, dulu waktu melewati jalan ini tidak terlihat tanda-tanda petunjuk ke museum ini (mungkin karena mengantuk). Dan ternyata petunjuk arahnya ukurannya cukup kecil seperti plang buatan anak KKN, dan Museum ini pun kulalui begitu saja karena sudah kesiangan (jam 1 sampai museum, keliling 1 jam lebih, kira-kira perjalanan sampai Sedudo 2 jam tidak yakin kalau masih buka kecewa dah jauh-jauh malah tutup) dan berharap bisa dikunjungi waktu balik.
Perjalanan dilanjutkan ke Ngawi kemudian ke Caruban lalu ke Bagor. Kalau Mantingan – Ngawi ada yang jual monyet, di sepanjang jalan Caruban – Bagor banyak yang jual ikan, ikannya besar-besar pula. Hal ini dikarenakan terdapat waduk di pinggir jalan (lupa namanya). Di Bagor ini terdapat dua buah perlintasan kereta api sehingga ya harus berhenti kalau dapat jackpot. Dari Bagor perjalanan dilanjutkan ke arah Berbek yang nantinya menuju ke arah Kediri, untuk ke Sedudo sudah ada petunjuknya, tinggal ikuti saja. Di pinggir jalan ini terdapat Candi Lor, candi ini cukup eksotis karena di atas candi ini ditumbuhi pohon namun bentuk candinya sudah rusak (sayangnya gak kuambil gambarnya juga).
Jalan menuju ke Sedudo berupa jalan menanjak yang menuju kearah gunung Wilis dan Liman (gunungnya sebelahan). Tiket masuk ke Sedudo Rp 2000 per orang, Rp 1000 per motor, dan petugas retribusinya masih muda dan lumayan cantik (walah gak penting). Sedudo ini merupakan air terjun yang cukup tinggi. Sebenarnya selain Sedudo, terdapat air terjun lain di wilayah ini,juga terdapat situs sejarah, namun karena sudah sore jadi tidak sempat untuk menjelajahnya. Sesampai di tempat parkir langsung dibilangin kalau gerbang bawah tutup jam 5, padahal baru aja sampai.
Air Terjun Sedudo |
Setelah dari Sedudo, perjalanan dilanjutkan ke Kediri, di tengah jalan sebelum keluar dari wilayah desa Ngliman, saya sempatkan berhenti sebentar untuk mengambil foto gunung Wilis dan Ngliman. Tiba-tiba ada seorang pemuda dan dua orang pemudi yang memberhentikan motornya di sekitar tempat saya berhenti. Setelah ngobrol sebentar dan mereka minta difoto, pemuda yang bernama mas Harnoko tersebut bilang, kalau mau ke Sedudo tinggal bilang aja ke petugas retribusinya mau ke rumahnya mas Harnoko, atau mbah x soalnya rumahnya setelah pos, jadi nggak usah bayar retribusi, mau serombongan juga boleh (doh). Setelah itu langsung turun gunung menuju ke Kediri.
Di jalan menuju Kediri di daerah Grogol, pas motor berjalan cukup kencang dengan depan belakang mobil dengan kecepatan sama, tiba-tiba bagian belakang moto oleng, wealah ada apa ini ban belakang bocor tanpa ada tanda-tanda kempes terlebih dahulu padahal sudah gelap. Terpaksa menuntun motor dan menyebabkan perasaan gak enak karena hari pertama saja sudah begini. Untungnya ada tempat menambal ban yang masih buka. Dan ternyata oh ternyata banku tertancap paku cukup besar. Ketika ngobrol dengan tukang tambalnya, terdapat kosa kata dalam bahasa Jawa yang kuketahui hanya ada di daerah tempat tinggalku tapi waktu itu masih ragu apa benar arti katanya sama dengan di daerahku.
Langsung saja setelah selesai menambal ban perjalanan kulanjutkan ke Kota Kediri. Tujuannya tentu saja alon-alon kota. Seandainya hari berikutnya tidak ke Gunung Kelud, tentu saja perjalanan sudah kulanjutkan karena belum terlalu malam. Melewati jembatan sungai Brantas di malam hari cukup menarik hati karena cukup indah tapi malas untuk berhenti. Setelah berkeliling kota Kediri, akhirnya alon-alonnya ketemu juga. Alon-alon kota Kediri tidak seperti alon-alon biasanya yang terdapat tanah cukup lapang, namun alon-alon ini lebih mirip taman kota. Di sebelah utara terdapat deretan tempat penjual makanan, dan di alon-alonnya banyak pedagang berbagai macam hal, padahal sudah dilarang berjualan. Ada yang menjual buku, mainan, pakaian, bahkan ada yang menjual sate bekicot yang kata tulisannya di situ merupakan khas Kediri (gak tahu kebenarannya khas atau tidak). Seperti di tempat-tempat lain, tempat ini juga tempat untuk mojok, bahkan yang sedang mojok ada yang diganggu pengemis yang minta-minta (hehe). Selain penjual, di alon-alon ini juga ada yang menyediakan permainan anak, seperti mobil-mobilan dan kereta anak. Keramaian di tempat ini berakhir ketika jam sudah menunjukkan pukul 21.00, semua penjual dan penyedia mainan anak beres-beres untuk meninggalkan tempat ini. Bahkan karena lamanya saya di tempat ini, sampai dicariin petugas parkir yang mau pulang (dah gitu bayar pula kalau tahu gitu datangnya setelah jam 9 saja). Setelah tempat ini sepi, hal yang mengerikan semakin banyak yang terlihat, tikus yang keluyuran sangat banyak, baik yang besar atau yang masih anak-anak. Sebenarnya waktu masih ramai juga sudah kelihatan tapi setelah sepi jadi semakin kelihatan apalagi pandangan semakin terbuka.
Menara Masjid Agung Kota Kediri |
Bersambung
0 komentar:
Posting Komentar
Silakan bertanya sepuasnya, apabila ingin tahu lebih jauh silakan PM saya