Tampilkan postingan dengan label Sleman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sleman. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Agustus 2013

Gunung Merapi via Deles



Gunung Merapi merupakan gunung yang wilayahnya berada di 2 provinsi dan 4 Kabupaten, Jawa Tengah (Boyolali, Klaten, Magelang) dan DIY (Sleman). Tinggi gunung ini pun berubah-ubah seiring dengan aktivitas dari gunung Merapi dikarenakan lokasi kawah yang berada di sekitar puncak. Tinggi dari gunung ini yang biasa disebutkan di dunia maya adalah 2965 mdpl, sedangkan pada peta RBI dari foto udara 1993/1994 tingginya hanya 2941 mdpl, dan dari peta Belanda tahun 1939 tinggi gunung tersebut hanya 2911 mdpl.

Gunung Merapi mempunyai beberapa rute pendakian, seperti rute Selo, Babadan, Kinahrejo, Deles, dan Cluntang. Jalur Selo Merupakan jalur paling terkenal, tercepat, terpopuler, dan yang paling gampang, serta jalur paling aman. Jalur Babadan juga lumayan populer (dulu), tapi kemudian jalur ini putus dan sangat sulit untuk dilewati (saya juga belum pernah :p). Jalur Kinahrejo sama nasibnya dengan jalur Babadan yang sudah putus dan menjadi jalur yang berbahaya. Jalur Cluntang... jalur yang aman, tidak terlalu terkena dampak letusan tapi tidak terkenal dan bahkan saya belum pernah membaca catper pendakian dari jalur ini -_-;). Jalur Deles.... baca saja deh :p
Gunung Merapi

Awal Pendakian

Seperti saat mendaki ke Sindoro, saya melakukan pendakian ini dengan 3 personil saja, mbak M dan mas S. Alasan ingin lewat jalur ini karena saya pernah lihat foto di bc Selo dan diceritain kalo jalur ini gak terlalu kena efek letusan. Mengingat jalur ini termasuk jarang dilalui dan belum ada yang pernah, maka saya menyarankan agar mendaki siang hari. Berkumpul di kediaman mas S di daerah Ngaglik, Sleman, kami pun meluncur ke arah Deles dengan 2 sepeda motor. Untuk mencapai Deles sangatlah mudah, paling mudah ya lewat jalan Jogja – Solo, di wilayah Klaten banyak petunjuknya kok, mengingat Deles merupakan tempat wisata. Perjalanan dimulai dari warung bu Mardiyah (?), motor pun dititipkan di sana. Warung ini terletak di dusun Deles di tempat melihat jurang (gak tahu namanya, pokoknya lebih atas dari gua jepang).

Perjalanan di mulai dengan rasa agak malu dikarenakan sepertinya banyak orang (lagi wisata) yang melihat kami. Menyusuri jalan aspal menanjak terus dan akhirnya bingung kapan lewat jalan tanahnya. Usut punya usut ternyata di atas ada basecampnya dan lokasinya dah beda desa -___-;). kalau tahu gini kan dari awal langsung ke basecamp aja gak usah pakai capek-capek lewat jalan aspal ditambah malu :p. Basecampnya ada di Pajegen, desa Tegalmulyo.

Rute Perjalanan

Etape I

Jalur pendakian terdapat di dekat basecamp, melewati sedikit rumah penduduk lalu menyusuri hutan lamtoro dengan sebelah kanan jalur air. Awal-awal masih gampang lah sampai bertemu dengan persimpangan pertama tanpa petunjuk, dipilihlah jalur yang mengarah ke utara naik punggungan, dilihat dari atas, jalur yang satunya mengarah ke punggungan lain. Beberapa saat kemudian menemukan persimpangan lagi yang tanpa petunjuk, dan dipilih yang melalui pinggir sungai dan ketemu simpangan lagi dengan kondisi tanpa petunjuk lagi, kali ini dipilih yang naik punggungan. Setelah itu menyusuri punggungan sampai suatu titik dan jalan menjadi menurun pindah ke punggungan lain dan berakhir bingung :p, walhasil harus balik lagi ke punggungan sebelumnya -___-;). Ternyata sebelum jalan menurun terdapat jalan lurus yang tertutup rerumputan (walah). Beberapa saat kemudian terlihat di bawah terdapat semacam shelter dan terdapat jalan menanjak ke tempat kami, sepertinya jalan yang benar adalah setelah sungai ambil jalan yang satunya. Sepertinya itulah POS I.
Punggungan tipis di sebelah barat (di baliknya ada kali Gendol)

Etape II

Beberapa saat kemudian saya melihat untuk pertama kalinya petunjuk arah bertuliskan GAM (Gabungan Anak Merapi ?), sayangnya tidak berada di persimpangan. Mas S pun berencana kapan-kapan naik lagi dan bikin petunjuk seperti itu, mumpung petunjuknya masih sedikit. Naik naik naik sampai juga di persimpangan yang lagi-lagi tanpa petunjuk -__-;). Pertama ambil lurus, kemudian bingung, karena tidak ingin bernasib seperti sebelumnya balik dan belok ke simpang yang satunya. Ditelusuri jalur tertutup semak-semak, saya sempat ragu tapi masih bisa dilanjutin. Jalan pun menanjak tajam, > 45 derajad, dengan jalur yang gak begitu jelas, pokoknya nanjak. Yang bikin seram adalah sebelah kiri merupakan jurang Kali Woro yang sepertinya > 1 hm, kalau jatuh jangan harap gampang diangkat -___-;). Setelah tanjakan yang melelahkan sampailah di atas dan melihat jalur lain yang sepertinya mengarah ke jalur satunya. Sejurus kemudian sampailah di tempat lumayan bisa buat nge-camp, tapi bukan POS II (tahu setelah searching-searching lagi :p)
Jurang Kali Woro

Etape III

Dari tempat sebelumnya, jalur menjadi agak menurun, kemudian agak belok ke kanan. Jalur yang ada gak begitu terlihat karena tertutup semak-semak dan akhirnya sampai di bawah batu besar. Dari bawah, jalur yang ada adalah naik terus menyeberangi batu (awas licin), setelah itu menanjak lagi -___-;). Skip, skip, skip, sampailah di tempat terbuka cukup satu tenda walau gak begitu terlindung. karena dah gelap diputuskan mendirikan tenda. Lokasi ini adalah tempat in Memoriam dari Heri Wasito. Ketika dah leyeh-leyeh, setelah melihat trek yang tadi, rencana buat bikin petunjuk jalan sepertinya harus diurungkan. Malam pun diakhiri dengan tidur dengan hujan yang turun.

Setelah matahari muncul kembali, ternyata di samping barat tenda masih jurang kali Woro. Siap-siap, beres-beres, skip-skip, jalur yang ada kembali menurun dan naik lagi. Ternyata di bukit yang dinaiki ini, berdirilah (gak ada yang berdiri sih) POS II dengan bangunan antena dan solar sel sebagai tempat mengawasi aktivitas Merapi.
Menyisir punggungan

Etape IV

Dari POS II (dari bawah juga terlihat sebenarnya), terlihat punggungan bukit-bukit berderet hingga Merapi, ya, itulah jalur yang harus dilewati -___-;). Di depan POS II dah menanti punggungan, intinya naik, menyibak-nyibak ilalang yang menutup jalur, kalau gak kuat nanjak pakai dengkul nanjaknya, kalau gak kuat lagi cari pegangan tapi kalau salah dapat pegangan arbei liar yang berduri -___-;). Skip skip skip setelah beberapa tanjakan dan sedikit turunan, jalur berikutnya yang harus dilalui ternyata terkena longsor. Agak buka-buka tanaman buat melewati longsoran yang memang berbahaya jika harus langsung melewati longsoran karena terjalnya lereng. Setelah itu sampailah di punggungan yang lumayan terbuka, tapi tetap saja jalur masih tertutup ilalang -__-;).

Setelah turunan dan tanjakan lagi, sampailah di daerah berbatu. Jalur yang dilalui adalah melalui sisi kiri batu dan di sini adalah vandalisme pertama yang saya lihat. Saya kira di sini adalah tempat watulawang, ternyata bukan (dah banyak berharap -___-;). Sedikit turun dari area batu, langsung dihadapkan dengan tanjakan lagi, dah ketutup, licin, banyak yang berduri, sempit, dan satu-satunya jalur yang ada. Setelah sampai puncak bukit, terlihat tantangan selanjutnya, sebuah bukit sebelum mencapai perbatasan vegetasi. Di tempat ini jugalah lokasi tempat bertemunya jalur Deles dengan jalur Cluntang.
Bukit yang telah dilewati

Etape V

Sedikit turun dengan sebelah kanan jurang sungai yang curam dengan pipa-pipa panjang melintasi sisi-sisi tebing pembatas yang curam yang kadang melewati bekas longsoran kemudian seperti biasa, diikuti dengan tanjakan. Di suatu lokasi, jalur menghilang, pikirnya jalur bakal lewat puncak punggungan lalu turun lagi, ternyata setelah sampai di puncak yang berbatu jalur kembali menghilang walau ada beberapa vandalisme yang membuat asumsi itu adalah jalur yang benar. Mbak M menyarankan menuruni batu, tapi kok agaknya meragukan, batunya kelihatan tinggi, dan ternyata setelah dilihat-lihat dari atas jalurnya melalui sisi kiri puncak bukit, akhirnya kembali lagi ke titik sebelumnya. Di titik sebelumnya jalur benar-benar menghilang tertutup ilalang yang dah benar-benar tinggi. Agak naik dikit menerobos semak, mencoba melihat-lihat kalau ada bagian yang gak ketutup, dan benar saja di depan ada jalurnya. Turunan dua meteran yang ketutup paku-pakuan dan ilalang tinggi yang entah ada apa dibaliknya dituruni dan diterobos menuju jalan yang benar :p. Jalur lalu menurun licin tanpa ilalang, hanya cantigi, kemudian naik lagi dan sampailah di tempat dengan batu yang berlubang besar, inilah Watulawang (kalau di peta nyebutnya Batulawang, yah karena Merapi di Jawa ya saya nyebutnya watu walau saya tahunya watubolong -___-;).
Watulawang
Dari Batulawang, jalur menanjak datar dan terlihatlah puncak Batulawang yang berbatu dan sebelumnya dinaiki, dan ternyata memang gak bisa dituruni dari atas karena benar-benar tinggi. Beberapa saat kemudian sampailah di batas vegetasi. Sedikit menanjak, terdapat bekas tempat antena dan solar sel untuk mengamati Merapi yang sudah rusak. Menanjak lagi sampailah di Pusunglondon. Dari Pusunglondon hanya menurun dan sampailah dipertemuan jalur Seloketika maghrib, Pasar Bubrah.
Gunung Batulawang dari batas vegetasi

Last Etape

Sebenarnya kami tidak mendaki ke puncak Merapi dan memutuskan turun melalui jalur Selo karena sudah malam, sudah capek, dan sudah ngomong kalau cuma mo dua hari, dan saya sudah pernah jadi nggak terlalu masalah :p dan bila mo balik lewat Deles lagi jalurnya ya gitchu dech :p. Dan ternyata pas mau ngambil motor, si ibu dah mau laporin ke SAR :p (maaf ya dah buat khawatir, habis jalurnya bener-bener !@#$%). Akan tetapi, karena ada barang saya yang jatuh pas turun, dan ada yang ngajak naik lagi, ya mari saja sekalian kalau-kalau barang yang jatuh bisa ditemukan (walaupun ndak ketemu). Anggotanya nambah 3 orang, mbak Z, mas R, dan mas A.

Etape terakhir adalah jalur menuju puncak, jalur yang ada berupa daerah pasir yang melorot kalau diinjak. Orang-orang pada umumnya melalui jalur agak sebelah timur, melewati pasir-pasir hingga ke daerah dengan wilayah berbatu yang dah mantap. Dari daerah berbatu sudah lumayan gampang, tinggal menanjak terserah mo lewat mana nanti akhirnya sampai di puncak seberang kawah yang sepertinya dulu masih dilokasi kawah mati. Di puncak terserah mo ngapain, mo poto-poto atau mau ke puncak tertinggi, atau mo terjun ke kawah ya terserah :p.
Kondisi Puncak Merapi

Ending

Dari semua jalur gunung yang pernah saya lalui, sepertinya jalur Merapi via Deles ini yang paling susah melebihi Sumbing, Lawu via Cetho, dan Semeru, alasannya yang paling ngehek adalah jalur yang tertutup ilalang dengan tanjaknnya yang yahud dan licin. Sebagai saran aja, kalau mo naik lewat sini lebih baik pas gak hujan dan lebih-lebih kalau dah rame yang pake rute ini (jalur bakalan kelihatan deh) dan bawa anggota yang pernah lewat sini (biar gak nyasar terutama di bawah) ditambah tutupi kulit buat ngindari duri (sarung tangan, kaos kaki, celana panjang, dll) :p.

Tambahan

Nemu dari inet, titik-titik di jalur Deles yang dilalui (kok dulu pas mau naik gak nemu ya)
1 Pajegan (Lewat)
2 Rong Tikus (Entah di mana)
3 Pos I (Kayaknya itu deh...)
4 Pos Bayangan (yang itu pa?)
5 Nisan Pohon makam ass. Bupati Boyolali 1965 (Entah)
6 Monumen Heri Ceper (Tempat nge-camp)
7 Pos II (Lewat dong)
8 Camp Yoyok (Mbuh)
9 Pos III (Ng....)
10 Watu Bulus (Mana lagi, katanya dulu ada kerangka pertapa yang ditemukan mati di sini)
11 G. Batu Lawang (Pasti lewat)
12 Pos IV (batas vegetasi)
13 G. Gajah Mungkur (sepertinya maksudnya Pusunglondon, kalo Gajahmungkur lewat Selo)

Colors: Perkembangan puncak tertinggi Merapi setelah letusan 2010 ketika saya sambangi
Greyscale: Puncak Garuda yang sudah patah

Kamis, 13 Juni 2013

Candi Abang – Candi atau Bukit?


Lagi kurang inspirasi dan sebenarnya agak malas ngepos, makanya kali ini ngetik tentang tempat yang dah sering dikunjungi orang :p. Kalau mencari di mesin pencari tentang candi Abang pasti dah banyak banget bertebaran infonya, makanya ini termasuk lagi malas ngepos -____-;)

Get There
Candi Abang terletak di dusun Blambangan, desa Jogotirto, kecamatan Berbah, Sleman. Secara astronomis berada pada 7.80127777S, 110.4686111E . Karena tidak berada di dekat jalan utama dan minimnya petunjuk, candi ini jarang dikunjungi orang yang berasal dari luar Jogja. Candi ini menjadi salah satu tujuan favorit para goweser apalagi pada minggu pagi. Sebenarnya ada banyak jalan untuk ke candi ini, saya jelaskan dua yang paling gampang dimengerti. 

Jalan yang pertama bagi yang berasal dari arah Jogja. Dari Jogja tinggal menuju ke fly over Janti lalu ke arah selatan sampai perempatan lampu merah JEC (yang sebelah kirinya ada rumah sakit), lalu belok ke kiri pertigaan belok kanan, perempatan belok kiri, intinya jalan ke timur sampai selatannya kompleks Adi Sucipto. Terus ikuti jalan sampai tugu di pertigaan Berbah, terus pabrik, perempatan lurus, belak belok ikuti jalan, kuburan, jembatan, perempatan belok kanan ikuti jalan yang bagus, lalu ada tikungan dan lihat di depan ada sebuah bukit. Bukit di depan itu yang menjadi lokasi candi Abang. Masih lurus sampai sebelah kiri bener-bener dah terlihat bukit tersebut. Lihat ke kiri baik-baik kalau ada jalan cor-coran langsung belok ikuti jalan menanjak sampai lihat di sebelah kiri ada semacam jalan yang nggak banget, ikuti jalan tersebut dan sampailah ke Candi Abang.
Candi atau Bukit?
Jalan yang kedua bagi yang dari arah Prambanan. Dari Prambanan di lampu merah sebelum kali, ambil jalan ke kiri ke arah Ratu Boko / Piyungan. Ikuti jalan ke selatan, lewati rel, terus saja lewati bukit Boko, terus lurus terus sampai lihat petunjuk ke kanan ke arah Berbah di suatu perempatan (sepertinya ke kirinya gak ada petunjuknya karena jalan kecil). Nanti bakal nemu lapangan, terus belok kiri, lalu kanan dan di depan bakalnan nongol bukit. Lihat jalan cor-coran yang terlihat menanjak lalu ikuti seperti petunjuk sebelumnya. Demikian petunjuk sederhana njlimet dari saya -___-;)


Untuk kendaraannya sendiri hanya bisa menggunakan kendaraan pribadi, kendaraan umum tidak ada trayek lewat sini :p. Kendaraan umum paling arah Prambanan – Piyungan yang katanya sudah jarang lalu ditambah jalan kaki. Paling disaranin pakai roda dua, kalau roda empat nanti parkir di sekitar jalan cor-coran, kalau masuk jalan jeleknya mungkin bakalan susah, tapi kalau mau coba ya silakan (nggak tanggung jawab :p).

Jalan jelek di sini berupa batuan kapur yang bercampur tanah. Jadi jika hujan tu tanah jadi lumpur dan jalannya jadi makin licin. Dan bentuk jalannya juga tidak rata, bakalan ada sedikit tanjakan-tanjakan kecil yang aduhai :p. Kendaraan yang ada bisa sampai persis di bawah candi tapi mungkin agak bersusah-susah, bahkan sepeda bisa sampai atas kok :p.

Inti Cerita
Bagi yang pertama kali lihat, baik langsung atau dari foto, tidak bakalan mengira kalau objek yang dilihat adalah sebuah candi. Candi Abang ini lebih mirip bukit daripada candi, hal ini dikarenakan candi tersebut sudah tertutup rumput. Mengapa diberi nama candi Abang? Hal tersebut dikarenakan candi ini tersusun dari bata merah tidak seperti candi-candi lainnya di sekitaran Jogja yang disusun dari batu Andesit. Menurut data yang saya baca dari dinas purbakala, candi ini dibangun sekitar abad 9 sampai dengan 10 Masehi. Candi ini merupakan candi Hindu, dikarenakan waktu ditemukan, ditemukan pula lambang dewa Syiwa.

Candi ini lumayan asyik buat piknik apalagi pas rumputnya sedang terlihat hijau. Karena banyak rumputnya juga di tempat ini menjadi tempat penggembalaan kambing warga sekitar, jadi hati-hati melangkah karena banyak pup-nya :p. Ketika musim kemarau, rumput-rumputnya terlihat menguning dan makin cocok kalau disebut candi Abang. Dari atas candi bisa terlihat kota Jogja nun jauh di sana, bukit bintang, gunung Merapi, gunung Nglanggeran, dll. Mau lihat sunset juga bisa, tapi hati-hati baliknya, jalannya gelap. Nah jika melihat bentuk ni candi, di atasnya bakalan terlihat cekungan, tu cekungan sebenarnya adalah bekas pengrusakan, hal ini dikarenakan di dalam candi ini diperkirakan tersimpan harta, dirusak deh oleh orang yang pengin untung sendiri.

Jika mampir ke candi Abang, bisa sekalian mampir ke Gua Sentono yang ada di dekat jalan masuk ke jalan cor-coran, karena semua ini GRATIS!!! FREE!! FREE! FREE.... -____-;)
Abang atau Ijo?
Demikian tulisan gak niat saya, uh kok jadi lumayan panjang ya, padahal inti ceritanya seiprit -_____-;)

Sabtu, 13 April 2013

Monjali – Tumpeng Raksasa di Pinggir Jalan


Bingung mau nge-post tentang apa, mau ngepos tempat yang jarang diulas kok kebanyakan dah diulas ya. Itung-itung ini buat intermezzo aja buat nambah kerjaan, makanya hari ini mo banyak nge-post tempat-tempat yang biasa saja :p. Saya awali dengan Museum Monumen Yogya Kembali.

Monjali terletak di utara dari ring road utara Yogyakarta. Secara administratif, monumen ini terletak di Jongkang, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, DIY, tapi kalau saya lihat di peta RBI kok ni museum dah masuk kecamatan Mlati, akan tetapi saya ngikut yang Ngaglik karena di pdf yang saya download dari dinas pariwisata juga nulis demikian. Secara astronomis museum ini berada pada -7.749444444, 110.3694444. Monjali dibangun pada 29 Juni 1985 dan diresmikan oleh presiden kedua RI pada 6 Juli 1989.
Monumen Jogja Kembali

Karena sudah lama tidak ke sini dan tiketnya dah hilang, maka saya kurang tahu harga tiket masuknya, tapi kalau tidak salah buat yang bawa kamera juga bayar (dulu kameranya saya umpetin :p). Di halaman monumen yang juga merangkap sebagai museum ini terdapat kendaraan-kendaraan perang seperti pesawat dan lain-lain. Monumen ini dikelilingi oleh danau yang banyak ikannya dan ada yang nyewain pancing juga -_-;). Di halaman monumen juga terdapat nama-nama orang yang gugur dalam peristiwa perebutan Jogja.

Di dalam museum terdapat 3 lantai, lantai pertama berupa museum, yang kedua berupa ruang diorama, dan yang terakhir berupa ruang mengheningkan cipta. Di lantai pertama yang pintu masuknya berbeda dari lantai lainnya (masuk dari samping) ini terdapat koleksi-koleksi museum seperti senjata-senjata, seragam-seragam, kamar tidur, dan lain-lain. Di lantai kedua yang berupa diorama ya berisi diorama perang. Ruang diorama ini lumayan canggih karena sudah memakai sensor, sehingga kalau ada orang di dekat suatu diorama maka akan secara otomatis dibacakan narasi (kalau gak salah ingat :p). Dan di lantai paling atas cuma ruang kosong untuk mengheningkan cipta.

Di halaman monumen (bagian dalam danau), kita juga bisa mengelilinginya. Di dalamnya terdapat relief-relief tentang perjuangan dan pembangunan di Indonesia. Kalau mau coba naik ke puncak tumpeng juga bisa, tapi lantainya benar-benar licin jadi gak bisa-bisa naik :p
Kambing-kambing yang sedang merumput malam hari :p

Pada malam hari museum ini berubah fungsi menjadi taman lampion yang buka dari sore hingga tengah malam. Taman lampion ini berlokasi di halaman monumen dan tentunya juga harus membayar tiket masuk yang harganya berbeda antara weekend sama weekday. Atraksinya ya Cuma lampu saja ditambah warung makan :p.

Selasa, 01 Februari 2011

Museum Gunungapi Merapi

Museum Gunung Api Merapi merupakan salah satu museum tentang vulkanologi pada umumnya dan gunung Merapi pada khususnya. Museum ini terletak di kecamatan Pakem, kabupaten Sleman, DIY. Untuk desanya sepertinya terletak di desa Hargobinangun. Untuk mencapai museum ini maka kita tinggal menuju ke arah Kaliurang dan setelah beberapa kilometer dari Pakem maka akan ada petunjuk untuk mengarah ke kiri dan selanjutnya tinggal mengikuti petunjuk yang ada. Museum ini buka setiap hari kecuali hari senin. Untuk jam bukanya saya kurang tahu.

Menurut saya, bentuk bangunan museum ini mirip dengan bentuk gunung Merapi yang dilihat dari arah selatan. Salah satu atapnya dibuat memuncak bagaikan puncak Merapi, sedangkan yang lainnya dibuat lebih datar mirip gunung Bibi. Gunung Bibi merupakan gunung yang berada di Merapi dan merupakan puncak Merapi ketika zaman dahulu kala.
Ketika melihat tulisan yang ada di luar museum, maka akan terlihat tulisan Museum Gunung Api Merapi ‘Merapi Jendela Bumi’. Maksud dari Jendela Bumi saya kurang tahu, mungkin penghubung perut bumi dengan udara luar / atmosphere. Biaya parkir untuk sepeda motor adalah Rp. 1500, sedangkan untuk mobil saya kurang tahu. Untuk memasuki museum, harga masuknya adalah Rp. 3000. Ketika mau masuk, saya menyembunyikan kamera saya, siapa tahu akan dipungut biaya tambahan untuk kamera seperti di tempat-tempat lainnya. Ternyata tidak ada tulisan tersebut di tempat tiket masuk. Karena merasa tidak masalah, saya jadi mengambil beberapa gambar dengan tenangnya. Namun ketika mau masuk museum terdapat tanda kamera yang dicoret, langsung saja saya sembunyikan kamera yang ada.

Bagian pertama museum adalah diorama besar gunung Merapi terutama dari arah selatan (lagian dari arah utara terdapat gunung Merbabu). Sebenarnya mau mengambil fotonya, namun teringat oleh tanda yang tadi, apalagi banyak penjaganya membuat saya urung melakukannya. Tempat di ruang pertama yang cukup tertutup adalah ketika mau melihat maket dari museum tersebut. Secara sembunyi-sembunyi saya mengambil gambar, eh ternyata di ruang sebelah ada yang mengambil foto secara terang-terangan bahkan memakai lampu flash.
Setelah dari ruang pertama, selanjutnya kita akan memasuki ruang Dunia Gunung Api. Pada ruang ini diperlihatkan mengenai teori pegeseran lempeng dari Pangaea dan seterusnya. Selain itu terdapat peta gunung-gunung aktif di dunia walaupun tidak komplit. Terdapat tombol untuk menyalakan LED yang menunjukkan lokasi gunung tersebut bila dipencet namun tidak semua lampu menyala ketika tombol tersebut dipencet. LED bakal mati beberapa detik kemudian secara otomatis. Selain itu juga terdapat peta gunung-gunung api di Indonesia yang dibedakan tipe gunungnya.

Selain hal-hal tersebut, di ruang ini terdapat Lingkungan magmatic gunung api, foto beberapa gunung api di Indonesia, sumber daya gunung api, berbagai hal mengenai gunung api (bentuk, tipe letusan, indeks letusan, dll), foto letusan, serta Lava beku dari Gunung api seperti batuan Andesit, Dasit, Basalt, dan lainnya dari gunung api di Indonesia. Karena tidak berkecimpung di dalam dunia “geo” maka saya kurang mengerti tentang batuan yang ada, seperti misalnya batuan andesit yang mirip dengan batu-batu yang sering saya lihat, entah itu memang sama atau tidak. Yang menarik adalah bom gunung api. Bom gunung api bukanlah bom yang kita tahu, tetapi merupakan batu yang bentuk luarnya mirip granat dan tentunya dengan ukuran yang besar.

Ruangan berikutnya adalah ruangan seputar gunung api Merapi. Tentunya ruangan ini bercerita mengenai gunung Merapi sendiri, seperti bentuk gunung dari masa ke masa, foto letusan, mitos, dan lainnya. Setelah itu terdapat ruangan yang membahas mengenai alat-alat yang digunakan pada pos pemantauan, seperti seismograf dll. Dampak dari letusan gunung berapi juga terdapat pada museum ini, seperti motor yang rusak parah, dan peralatan yang berkarat (tentu saja tidak ada bangkai). Ada juga foto mikroskopis dari sayatan tipis batuan (gimana ngiris batu sampai tipis :p). Di museum ini terdapat peta kawasan bencana yang mana saya juga menemukannya di internet sama persis.
Saya kira museum ini mempunyai dua lantai, tapi ternyata cuma satu lantai dan sepertinya koleksinya belum lengkap. Saat itu juga ada pameran foto letusan merapi 2010. Di situ terdapat foto-foto sebelum dan sesudah letusan. Selain itu juga ada TV yang rusak terkena terjangan awan panas Merapi. Bagian luar TV yang terbuat dari plastic sampai meleleh karena kepanasan. Kalau TV saja sampai begitu apalagi kulit manusia. Selain itu juga ada sepeda motor yang sudah karatan seperti yang terlihat di berita-berita. Juga terdapat buku tamu Mbah Marijan yang isinya berbagai kegiatan tamu, kebanyakan mereka cuma bermaksud berkunjung dan meminta doa, tetapi juga ada yang isinya mencari pesugihan (doh). Kalau mau cari nomor telepon artis juga ada kok.

Rabu, 24 November 2010

Kraton Ratu Boko

Kraton Ratu Boko merupakan suatu situs yang terletak di perbukitan Boko yang berada di dua desa, Desa Sambirejo dan Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman, DIY. Situs ini merupakan situs yang bercorak Hinduisme dan Buddhisme yang dibangun sekitar abad 8 - 9 masehi. Untuk memasuki situs ini, ada dua jalur resmi (berbayar) yaitu lewat atas dan lewat bawah. Jalan bawah adalah pintu masuk untuk parkir bis yang nantinya harus dilanjutkan berjalan melewati tangga ke atas. Sedangkan jalur atas untuk sepeda motor dan mobil yang melewati jalan yang cukup sempit. Biaya untuk masuk ke situs ini adalah Rp 10000 / orang dan Rp 2000 / motor (untuk mobil kurang tahu). Sebenarnya tertulis biaya tambahan untuk kamera dan handycam (Rp 5000 dan Rp 8000 kalau gak salah) tapi kalau disembunyikan penjaganya juga gak tahu.

Setelah beberapa saat masuk, maka akan melihat taman rusa yang isinya hanya beberapa ekor rusa, namun hewan utama di situs ini bukanlah rusa melainkan kambing. Di berbagai sudut kita akan melihat kambing berkeliaran mencari rumput. Warga sekitar memberi makan kambingnya di situs ini dan hasilnya kotoran kambing di mana-mana. Sempat saya pergi ke situs ini beberapa hari setelah Idul Adha membuat saya ingin menyata kambing-kambing itu (hehe).
Gerbang Utama
Menurut peta yang diberikan, seharusnya tempat pertama yang dilihat adalah candi batu putih, tapi tidak terlihat bangunan candi di lokasi yang ditunjuk di peta, hanya tumpukan batu  yang tidak terlihat menyerupai candi atau sisa bangunan yang warnanya ... hitam (doh). Sebenarnya terdapat tumpukan batu yang membentuk plataran suatu candi, namun lokasinya tidak berada di lokasi yang ditunjuk peta dan batunya juga tidak putih. Lokasi selanjutnya adalah pintu gerbang utama. Terdapat dua buah gerbang  yang letaknya berkelanjutan. Gerbang ini yang biasanya menjadi icon utama dari Ratu Boko.

Di dekat gerbang, kita bisa melihat candi pembakaran. Candi ini di tengahnya terdapat lubang yang pada saat ditemukan terdapat abu di dalamnya. Ternyata abu tersebut merupakan abu dari pembakaran kayu (dari papan  di dekatnya tertulis demikian) tapi di buku petunjuknya ditulis tempat pembakaran mayat (doh). Di dekatnya (sebelah tenggara), terdapat sumur yang katanya airnya mengandung tuah (-_-;). Sumur ini dinamakan Amerta Mantena yang berarti air mantra (buat mbah dukun nyembur kali... :p).

Dari candi pembakaran kita bisa naik ke atas menuju kirana pandang (tulisan di papan petunjuknya bilang begitu). Di atas terdapat arca Durga dan merupakan satu-satunya arca yang ada di kompleks Ratu Boko ini. Dari atas kita bisa melihat candi Prambanan dari kejauhan dan juga gunung Merapi di belakangnya (kalau cerah)  dan sebenarnya kita bisa melihat kedua tempat ini dari plaza Andrawina (letaknya di bawah di dekat tempat parkir atas).
Gua
 Dari atas kiara pandang, kita harus turun lagi (balik) menuju alun-alun. Berbeda dengan alun-alun yang biasanya kita lihat di kota-kota. Alun-alun di sini tidak berada di dekat masjid Agung dan Kantor Pemerintahan (hehe). Di alun-alun ini kita harus hati-hati karena bertebaran kotoran kambing yang tersembunyi di balik rumput. Di dekat alun-alun terdapat Batur Paseban. Paseban adalah ruang tunggu bagi tamu yang ingin menemui raja. Tapi fungsi dari Batur Paseban sendiri sebenarnya tidak diketahui (kok dinamakan paseban ya?).

Bagian lain dari Ratu Boko adalah goa. Walaupun disebut goa sebenarnya bisa dikatakan cuma lubang kecil saja. Di sekitar goa ini terdapat pintu masuk lain yang sepertinya tidak berbayar. Waktu ke sana terdapat sepeda motor yang masuk dari sisi ini. Di jalan yang dekat masuk terdapat tulisan dilarang masuk karena telah memasuki situs. Sebenarnya di situs Ratu Boko terdapat rumah-rumah yang masuk kompleks ini dan tetap dibiarkan. Terdapat beberapa pintu masuk tak resmi lainnya, seperti yang berada di dekat musholla di situs ini.

Terdapat banyak kolam di kompleks Ratu Boko ini. Sebuah kolam terletak di dekat candi pembakaran dan banyak kolam terdapat di dekat pendopo. Kolam-kolamnya berisi ikan, kecebong, ganggang, serangga, dan lain-lain. Sayangnya ikan-ikannya kecil-kecil.

Yang cukup lucu adalah adanya miniatur candi. Jadi bukan candi betulan yang benar-benar ada dan sempurna bentuknya (candi pembakaran cuma terlihat bawahnya saja), melainkan berupa miniatur dengan ukuran sekitar 1,5 meter. Dan tentunya tidak bisa kita masuki (kecuali beberapa bagian tubuh).
Miniatur Candi