Kamis, 06 Juni 2013

Museum Trinil – Trinil Menantang Dunia (Nasibmu Kini)

Trinil, merupakan suatu kawasan yang sudah terkenal di dunia perfosilan dunia. Di Indonesia pun nama ini selalu muncul di suatu bab pada pelajaran sejarah. Trinil sendiri merupakan suatu nama daerah yang mencakup tiga desa, Kawu, Ngancar, dan Gemarang.

Sudah lama saya ingin menginjakkan kaki di Trinil. Rencana pertama gagal karena tidak melihat petunjuk arah ke lokasi dan sudah mengantuk setelah nggeje di Madiun. Rencana kedua juga gagal karena sudah siang dan lebih memilih Sedudo di Nganjuk sebagai tujuan. Beberapa kali setelah itu juga gagal dengan berbagai alasan -____-;). Namun akhirnya kesampaian juga ke museum Trinil setelah malam sebelumnya tidur di SPBU Tunjungan dan mampir di monumen Soerjo serta benteng Van Den Bosch buat nunggu waktu museum buka.
Gading di depan museum
Get There
Museum Trinil terletak di dusun Pilang, desa Kawu, Kedunggalar, Ngawi. Secara astronomi terletak pada 7.37444444S, 111.35805556E. Untuk menuju ke lokasi sebenarnya tidak terlalu sulit. Dari arah Jateng tinggal ikuti jalan raya menuju Ngawi melewati monumen Soerjo lanjut terus hingga lihat SPBU di kanan jalan, ciri-ciri SPBU-nya musholanya lumayan besar dan letaknya di belakang membentuk bangunan sendiri (mana kelihatan dong :p). Dari sana masih dilanjutkan lagi tapi sambil perhatikan jalan dan petunjuk. Intinya adalah belok ke jalan aspal pertama yang mengarah ke utara dari sana. Kemudian ikuti tu jalan hingga museum. Kalau dari Ngawi tinggal ke arah Jateng beberapa km, 15 km an gitu kalo gak salah (duh lupa). Kalau mo naik angkot juga gampang, banyak bis juga, tapi daerah tempat turunnya gak tahu namanya, nanti lanjut naik ojek atau jalan kaki 3 km :p.

Cerita Dimulai
Museum Trinil dibangun pada 20 November 1991, cikal bakalnya diprakarsai oleh Wirodihardjo yang menyimpan temuan fosil di rumahnya. Wirodihardjo juga dikenal sebagai Wirosablengbalung. Sebelum masuk kawasan, kita mengisi buku tamu dulu dan bayar retribusi (berapa ribu gitu). Ketika saya lihat buku tamu, yang berkunjung sebagian besar malah warga Kawu -___-;). Dari luar akan langsung tampak pendopo yang pada waktu saya berkunjung sedang digunakan oleh anak SMP latihan alat musik dengan lagu Yamko Rambe Yamko.

Patung replika gajah
Pertama lihat di halaman museum, yang menarik perhatian adalah patung gajah, yang ternyata replika dari Mastodon atau Stegodon ya... duh lupa, yang berdasarkan penemuan gadingnya. Di halaman museum juga ada tugu yang menarik yang lokasinya di bagian belakang dekat Bengawan Solo. Tugu tersebut merupakan tugu peninggalan Belanda yang berisi petunjuk tempat lokasi ditemukannya Pithecantrophus erectus, yang terletak 175 meter dari tugu tersebut pada tahun 1893 hingga 1895. 
Tugu peninggalan Belanda
Di depan gedung museum terdapat dua replika gading gajah yang membentuk gerbang yang mirip dengan yang ada di Sangiran. Memasuki museum suasana yang ada terasa suram, ruang diorama cuma sebuah dan dengan pencahayaan seadanya. Hampir semua tulisan-tulisan keterangan yang ada terlihat sudah memudar dan tua. Waktu itu yang ada di museum cuma saya dan bapak penjaga, beberapa saat kemudian ada sekeluarga yang hanya foto-foto dan langsung keluar dan bapak penjaga juga keluar -___-;). Koleksi-koleksi di sini terkesan sedikit, yang paling menarik perhatian paling gading gajah dan diorama Pithecantrophus erectus, padahal bapak penjaga ngomong kalau masih sering ditemukan fosil terutama musim kemarau waktu debit Bengawan Solo sedikit. Ternyata temuan-temuan tersebut teronggok di gudang -___-;).

Jika melihat miniatur kompleks, seharusnya terdapat tempat cinderamata, tapi ya gak ada yang jualan juga. Sebenarnya yang paling saya inginkan adalah melihat fosil Pithecantrophus erectus yang menjadi ikon Trinil, eh ternyata yang ada hanya replika dan aslinya ada di Belanda. Jika dibandingkan dengan Sangiran, museum ini rasanya tidak ada apa-apanya. Museum Sangiran yang sekarang sudah sangat WoW sejak saya pertama berkunjung dengan segala pembenahannya dan Museum Trinil yang sepertinya tidak pernah berubah sejak pertama dibangun dengan kesan suramnya, sepertinya juga mempengaruhi jumlah pengunjung yang ada dan terlihat mencolok di antara keduanya. Mungkin hal ini juga dipengaruhi status Sangiran sebagai World Heritage juga.
Diorama P.e
Trinil sebagai tempat ditemukannya P.e sebagai klaim para penganut teori Evolusi mengenai missing link yang diangkat namanya oleh Eugene Dubois sebagai sang penemu fosil dan muncul di buku-buku sejarah, oh nasibmu kini.....

2 komentar:

webmuara mengatakan...

Jempol buat kamu Postingan anda sangat bagus bos

Suciana Dwi mengatakan...

ane juga dah pernah ke sini, tapi masih banyak koleksi di sangiran ya

Poskan Komentar

Silakan bertanya sepuasnya, apabila ingin tahu lebih jauh silakan PM saya