Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Juli 2013

Tour de Jatim, Day III, Part II: Kalibaru - Alas Purwo



Ternyata perjalanan geje ke Jatim dah dilewati lebih dari dua tahun dan sambungan ceritanya gak juga diketik -____-;). Kalo mau baca sebelumnya mungkin dah lupa bisa baca di hari 1, hari 2, dan hari 3 bagian I. Oh dan karena harus memory mining, jadinya gak bisa detail ceritanya

Ok, cerita berlanjut dimulai dari habis sholat Jumat di masjid Kalibaru. Berdasarkan rencana, tujuan selanjutnya adalah pantai Pulau Merah di kecamatan Pasanggaran, dan seharusnya berbelok pas di Kecamatan Glenmore (tahunya beloknya di sini) malah keblabasan sampai Banyuwangi yang jaraknya sekitar 60 km dari Glenmore -__-;). Yah karena waktunya juga dah hampir sore, terpaksa langsung tancap gas ke Alas Purwo saja dengan tujuan utama G-Land / Plengkung.
Gerbang TN Alas Purwo
Rute Alas Purwo
Untuk ke Alas Purwo, dari Banyuwangi ambil jalur ke selatan (gampangnya kalau ada petunjuk ambil ke arah Jember), nanti bakalan lewat kecamatan Kabat sama Rogojampi. Di Rogojampi terdapat pertigaan (pertigaan banyak kali), pokoknya ambil ke Selatan atau lurus gampangnya sampai Srono yang nanti bakalan ada petunjuk arah ke Alas Purwo, yaitu belok ke kiri. Ambil jalan itu terus sampai Muncar, belok kanan dan nanti bakalan masuk kecamatan Tegaldlimo yang jalannya waktu itu aduhai (intinya ikuti petunjuk, kalau bingung tinggal tanya :p), ingat ini dua tahun lalu.

Singkatnya setelah sampai Kendalrejo, desa terakhir sebelum Alas Purwo, jalanan bakal menjadi full jalan tanah dengan kanan kiri hutan, kira-kira 20 km sampai masuk gerbang selamat datang. Habis itu bayar retribusi (dah lupa berapa) dan nunjukin KTP, selanjutnya terserah mau ke mana, ikuti saja petunjuk yang ada. Karena sudah sore ya saya langsung menuju tujuan utama, G-Land.
Rambu-rambu di Taman Nasional
Pantai Trianggulasi
Di jalan menuju G-Land, terdapat petunjuk jalan ke arah pantai Trianggulasi, ya karena dekat, mampir sebentar deh. Oh iya jalan di sini sudah aspal dan lumayan mulus.
Di pantai Trianggulasi ini sepi banget (cuma ada saya -___-;). Pasir pantainya putih dan banyak jejak kaki binatang. View-nya luas berupa pantai yang memanjang di teluk Grajagan dan tentunya laut dong. Di pantai ini juga ada bangunan yang sepertinya buat menginap, tapi sepi-sepi aja tuh.
Bangunan di pantai Trianggulasi
Pantai Pancur
Balik lagi ke jalan yang benar, skip skip sampailah di Pancur. Di Pancur ini lebih hidup dari pantai sebelumnya, ada masjid dan pos jaganya juga. Pas parkir motor buat sholat, langsung didatangi petugas, "Mau ke mana? Mau ke Gua? Oh Plengkung, kendaraan cuma sampai sini, jalannya rusak, kalau mau jalan 10 kilometer, nggak mau kan...", dan harapan saya ke Plengkung pun berakhir.... -__-;). Sebenarnya mau-mau aja, tapi kan saya harus lanjut ke tujuan selanjutnya, apalagi ini sudah sore, kalau di tengah jalan ketemu banteng pas gelap... belum di sana penginapannya mahal banjet walau sebenarnya saya bawa uang yang cukup (tapi ngapain). Walau beberapa waktu kemudian saya lihat motor penduduk yang lewat jalan ke arah Plengkung.

Sebenarnya untuk ke G-Land, kalau gak mau jalan bisa sewa mobil, tapi saya kan sendiri, pengunjung lain juga cuma di Pancur. habis itu saya memutuskan nggalau sampai matahari terbenam -___-;)

Berbeda dengan Trianggulasi, pasir pantai di sini lebih kehitaman, Kalau soal pemandangannya sih gak begitu beda, yang berbeda cuma terdapat sungai kecil  dengan batuan kapur di alirannya.

Ketika sedang galau, tiba-tiba datang hiburan berupa seekor rusa yang sedang main ke pantai mau menikmati matahari terbenam (halah). Dan setelah matahari tenggelam di balik awan, langsung sholat dulu dan lanjut balik ke Banyuwangi melewati jalan yang gelap dengan penerangan hanya dari lampu motor saya. Sebenarnya sempet deg-degan juga sih, karena sebelumnya baca di inet kalau pas lewat jalan sekitar situ malam hari ada seekor banteng yang rebahan, tapi untungnya tidak terjadi apa-apa.
Sungai di Pancur
End of Day
Tujuan berikutnya adalah menuju Kawah Ijen. Setelah sampai Banyuwangi saya cari petunjuk arah ke Kawah Ijen tapi gak nemu-nemu, setelah muter-muter akhirnya makan dulu di Ketapang setelah gak maem selain makanan ringan :p. Skip skip skip, akhirnya petunjuknya lihat juga, ternyata tu petunjuk jalannya ketutup sama pohon, wat wet wut menyusuri jalan sepi, akhirnya sampai di kecamatan Licin...
Seekor rusa yang sedang menikmati senja

Tsuzuku...

Jumat, 19 Agustus 2011

Tour de Jatim, Day III, Part I: Papuma – Kalibaru


Hari ini diawali dengan kedinginan di surau. Melihat jam dan ternyata masih jam tiga pagi, langsung saja kuambil sb agar tidak kedinginan. Rencananya perjalanan dilanjutkan waktu subuh tiba dan alarm pun sudah diset pada jam setengah lima. Ternyata adzan subuh sudah berkumandang jam 4 pagi di Jember, langsung saja aku beres-beres merapikan barang. Karena masih disekitar sawah dan gelap, arah perjalanan pun hanya terus dilanjutkan saja ke timur hingga akhirnya menemukan perkampungan dan sampai di jalan besar. Di jalan besar ini aku hanya bolak-balik memastikan apakah jalannya benar atau salah. Ternyata jalan yang diambil adalah jalan yang benar. Di jalan kulihat di depan saja berkabut, pantas saja malamnya terasa dingin, secara dipikaranku sudah terpatri kalau dataran rendah itu panas :p.

Akhirnya sampai juga di pertigaan yang ada petunjuk arah ke pantai Papuma. Akan tetapi ketika berbelok jalannya ditutup palang. Karena kebingungan jalan ditutup, akhirnya mencari info di internet dan mendapat pencerahan apabila untuk menuju Papuma bisa masuk melalui Pantai Watu Ulo. Perjalanan dilanjutkan ke selatan dan akhirnya sampai ke Watu Ulo dan dilanjutkan ke Papuma.
Papuma
Pantai Watu Ulo merupakan pantai yang berada di sebelah timur pantai Papuma dan mempunyai pasir warna hitam. Sepertinya jalan yang tadi menunjuk ke Papuma adalah jalan langsung agar pengunjung tidak membayar retribusi dua kali untuk masuk ke Watu Ulo dan ke Papuma, tapi tentu saja karena masih pagi aku tidak membayar keduanya :D. Dari pos retribusi Papuma, jalan selanjutnya berupa jalan menanjak menaiki bukit dan nantinya turun ke pantai. Ketika menurun akan terlihat pemandangan pantai Papuma yang berada di sebelah timur.

Papuma terletak di kecamatan Ambulu dan Wuluhan, Kabupaten Jember. Papuma merupakan akronim dari Pasir Putih Malikan. Walau pantai di sebelahnya yaitu Watu Ulo berpasir hitam, namun Pantai Papuma ini berpasir putih. Papuma merupakan pantai yang berupa tanjung. Pantainya terletak di sebelah barat dan timur tanjung ini. Ketika sampai di area pantai sebelah timur, aku langsung saja ikutan parkir di dekat pantai mengikuti pengunjung lain. Saat itu kapal-kapal nelayan sedang berlabuh setelah menangkap ikan. Pagi itu pantai tersebut sudah ramai, bahkan ada banyak fotografer berdatangan. Membandingkan kamera orang-orang itu yang DSLR yang kadang dilengkapi perangkat tambahan dengan kameraku yang ya begitulah membuat agak sirik, apalagi waktu itu juga ada anak kecil yang menggunakan DSLR XD.

Kapal-kapal nelayan di sana cukup unik. Dibandingkan kapal-kapal di daerah DIY yang cuma berbentuk trapesium saja, kapal di daerah tersebut mempunyai hiasan-hiasan yang indah dengan bagian haluan lebih mengangkat daripada bagian buritan. Karena ingin mencari tempat yang cukup sepi, membuatku pergi menyusuri pantai hingga naik ke ujung tanjung yang di atasnya terdapat gardu pandang. Dari gardu pandang tersebut bisa dilihat pantai sebelah barat dan timur tanjung, bahkan sepertinya tempat ini cocok sekali untuk melihat matahari terbit dan terbenam yang jarang dimiliki pantai lain di selatan Jawa.
Kapal nelayan saat matahari terbit
Di lokasi ini karena masih ngantuk aku berniat untuk tidur, tapi karena mudah untuk didatangi orang, jadi mencari tempat disemak-semak sambil melihat laut untuk tidur. Di sini juga aku memakan buah yang dikasih di Kediri J. Beberapa saat kemudian setelah bangun, kulanjutkan menyusuri pantai yang sebelah barat. Pantai di sebelah barat lebih sepi daripada di sebelah timur, di pantai ini juga tidak ada kapal nelayan karena lebih banyak karangnya. Di pantai ini kadang terlihat monyet yang menikmati sampah yang dibuang manusia. Untungnya monyet-monyet ini masih penakut dan kebutuhan perutnya masih terjamin (Biasanya kalau hewan kelaparan sudah hilang rasa takutnya). Batu-batu karang karang di sini cukup bagus, karena batu-batunya besar-besar dan mungkin sudah bisa disebut pulau. Dari jogja samapai tempat ini ternyata sudah melebihi 500 km. 
Pulau Kajang
Di tempat ini terjadi kebodohan, kamera dengan lensa masih terbuka kuletakkan di dekat pasir, dan tiba-tiba kamera tersebut jatuh. Pasir yang masih semi basah itu penuh menutupi lensa kameraku dan menempel, tidaaaaaaaaak. Dengan hati-hati kubersihkan lensa dari pasir, tapi tetap saja ada pasir yang masuk ke balik lensa dan menempel di sana. Setelah perjuangan penuh keputus asaan hingga menggepuk-gepuk kamera, akhirnya pasir-pasir tersebut berhasil dibersihkan walau masih ada sedikit di bagian yang sulit. Karena matahari sudah cukup naik, akhirnya aku kembali ke tempat parkir. Melihat air laut yang cukup tenang membuatku ingin bermain air, tapi sayangnya tidak ada orang lain yang melakukannya jadi tidak bisa ikut-ikutan. Ketika akan keluar dengan motor, ternyata jalan yang tadi dimasuki sudah dihalang-halangi bambu, terpaksa susah payah melewatkan motor melalui parit.

Jalan keluar dari pantai ini sama seperti jalan masuknya, tapi nanti melewati jalan yang ketika pagi ditutup. Di jalan ini terlihat pemandangan yang cukup aneh. Di sepanjang jalan ditanami pohon jati baik di kiri ataupun di kanan jalan. Namun anehnya pohon jati sebelah kiri berdaun hijau, sedangkan sebelah kanan sudah meranggas terpisahkan oleh jalan, tentunya hal ini tidak terjadi di semua titik. Karena tidak membayar, jadi saya tidak tahu biaya retribusi ke pantai ini, bayar parkir pun tidak (mungkin standar tempat wisata). Perjalanan dilanjutkan ke arah Ambulu dan dilanjutkan ke arah Jember. Sepertinya jalan dari sini lebih mudah untuk mencapai pantai Papuma dan mungkin sudah ada petunjuk jelas, tidak seperti melewati sawah (-_-;). Saya sama sekali tidak melewati kota Jember karena langsung pakai jalan sidatan ke Banyuwangi. Padahal dua minggu setelah dari sini diadakan Jember Fashion Carnival yang kelihatannya lebih megah dari Solo Batik Carnival (padahal tidak nonton waktu ke Solo), karena pakaiannya lebih berjumbai-jumbai.
Pohon Jati
Jalan Jember – Banyuwangi awalnya biasa-biasa saja, tapi akhirnya kita akan melalui jalan menanjak berkelak-kelok dengan pinggiran hutan yang untungnya jalannya lebar. Sayangnya di jalan ini banyak pengemis yang meminta-minta seperti di daerah Alas Roban dan jalan Buntu – Banyumas. Yang meminta-minta sih kebanyakan yang wanita dengan membawa anaknya dan yang sudah tua. Kalau ngemis berjamaah gini melihatnya saja sudah memprihatinkan, padahal daerah lain yang masih sama pulaunya aja (ex: Gunungkidul) banyak wanita bahkan yang sudah tua berjalan jauh dengan membawa kayu kok malah di sini pada minta-minta, apa karena jalan tersebut jalan utama yang ramai kendaraan sehingga meminta-minta lebih menguntungkan daripada mengangkut kayu bakar? (maaf aku tidak berada di posisi mereka)

Di jalan ini juga pertama kalinya aku melihat terowongan kereta api walau cuma dari atas. Sepertinya itu adalah terowongan kereta satu-satunya di pulau Jawa (kalau ada yang lain tolong kasih tahu).  Di jalanan turun itu juga ada restaurant yang bernuansa kopi, tapi sepertinya agak mahal :p. Setelah turun, tempat pertama yang akan dilalui adalah Kalibaru. Di Kalibaru ini aku berhenti sejenak untuk melaksanakan sholat Jumat. Karena Banyuwangi merupakan salah satu kabupaten paling timur WIB makanya khotbah sholat Jumat sudah dimulai jam setengah dua belas dan berakhir jam dua belas siang.

Kamis, 18 Agustus 2011

Tour de Jatim, Day II: Kediri – Kelud – Jember


Hari kedua perjalanan diawali dengan berbincang-bincang dengan beberapa pemuda, selain pertanyaan klasik, pemuda itu menceritakan tentang mantan pacarnya yang ada di Jogja, selain itu juga menyarankan untuk pergi ke Puh Sarang. Setelah surfing, ternyata Puh Sarang ini merupakan semacam tempat untuk upacara keagamaan. Karena saya bukan pemeluk agama tersebut jadi buat apa saya pergi ke sana. Beberapa saat setelah pemuda itu pulang (entah pergi ke mana lagi), tiba-tiba datang tukang ojek yang menawari untuk naik ojek (tentunya ditolak). Tukang ojek itu bercerita tentang hidupnya yang sulit, ia butuh uang untuk anaknya yang mau masuk SMK. Katanya butuh Rp20 juta, padahal ia hanya ada Rp 5 juta (kok mahal banget ya). Setelah itu aku berusaha tidur ditemani nyamuk dan suara tikus. Beberapa jam kemudian bapak dan ibu yang tadi kembali lagi dan tidur di dekatku. Akhirnya setelah menunggu dengan kebosanan (dan pantat yang panas), adzan Subuh pun berkumandang dan warung di dekat situ sudah beres-beres, langsung saja aku bermaksud melanjutkan perjalanan.

Bapak-bapak yang tadi memberi petunjuk arah untuk sampai ke Gunung Kelud. Dan si Bapak itu juga menggunakan sebuah kosa kata bahasa daerah yang juga digunakan di daerahku untuk memanggil “kamu”. Di kabupatenku pun Cuma di sekitar kecamatanku yang menggunakan kata tersebut, ketika aku sekolah di kota kabupaten dan menggunakan kata tersebut, teman-temanku malah tertawa menganggap ndeso, semenjak itu kata tersebut jarang kugunakan. Ketika bertanya dengan teman dari daerah lain pun kata tersebut tidak ada dalam kosa kata mereka. Antara Kediri dengan kabupatenku padahal jaraknya cukup jauh, lalu kata tersebut kok bisa sampai ke daerahku ya tanpa digunakan di beberapa daerah di antaranya. Waktu berangkat ini aku melihat penunjuk arah ke hotel yang ternyata berada di dekat alon-alon, tapi malamnya tak terlihat hotel karena tertutup penjual makanan.
Anak Gunung Kelud
Perjalanan dilanjutkan dengan mengendarai motor pelan-pelan dengan maksud agar sampai Gunung Kelud sudah buka. Di sini untuk ke dua kalinya aku mengisi bahan bakar. Ketika melewati pabrik gula, tercium bau yang kurang sedap hasil sisa pengolahan (lagian pemutih gula menggunakan belerang). Perjalanan di awali dengan menuju kecamatan Wates (nama tempat ini ada di mana-mana) kemudian dilanjutkan naik menuju Kecamatan Ngancar dan menuju desa terakhir Desa Sugihwaras. Sesampainya di TPR, ternyata belum ada yang menjaga (lagian masih jam 6 kurang :p). Di dekat TPR terdapat rest area tapi tentu saja aku melanjutkan perjalanan yang ada. Jalan yang dilalui awalnya membelah perkebunan warga yang kebanyakan ditanami nanas. Jalan yang ada menanjak dan di beberapa tempat terdapat pasir dan lobang. Setelah beberapa saat, nantinya akan melewati hutan.

Beberapa kendaraan bahkan tidak kuat untuk sampai ke lokasi wisata gunung Kelud ini. Di titik terakhir ada yang menyewakan jasa ojek sampai ke lokasi tapi tentu saja waktu itu belum ada. Ketika berhenti untuk mengambil gambar, tiba-tiba muncul 4 orang wisatawan yang naik motor juga yang juga berhenti di tempatku berhenti, seorang bapak-bapak dengan seorang anaknya yang masih balita, dan dua orang pemuda (duh cowok semua). Karena aku sudah selesai beres-beres, aku akhirnya melanjutkan perjalanan naik. Di tengah jalan terdapat beberapa jembatan, ketika berhenti di tengah jembatan, ternyata bawahnya dalam sekali, namun tidak kelihatan karena tertutup puncak-puncak pohon. Dari jembatan ini juga sudah terlihat tempat parkir wisata. Setelah jembatan, jalan yang ada semakin menanjak, dan di ujung tanjakan nantinya terdapat gardu pandang yang bisa digunakan untuk melihat ke arah barat. Ada sebuah gardu pandang yang dilarang naik ke sana karena bawahnya sudah longsor.

Setelah beberapa saat kemudian ternyata oh ternyata gerbang masuknya masih tutup (wajar masih kepagian). Dari pada menunggu di tempat itu aku kembali ke lokasi gardu pandang untuk tiduran. Di tengah jalan aku melihat wisatawan lain yang datang (ada ceweknya). Sesampainya di gardu pandang ya hanya tiduran sambil berjemur. Di sekitar gardu pandang terdapat tiket masuk yang ternyata Rp 5000 / orang dan Rp 2000 / motor.
Tempat parkir dilihat dari jembatan
Jam 8 aku kembali ke tempat tujuan, dan untungnya sudah buka. Tempat parkirnya masih sepi hanya ada 6 motor termasuk punyaku, dan yang satu milik petugas. Gunung Kelud ini terletak di perbatasan Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang. Terdapat pertikaian pemilik gunung Kelud antara Kabuapaten Kediri dan Blitar (kok Kabupaten Malang gak ikutan ya), bahkan ketika pemkab Blitar mau berkunjung, dihalang-halangi oleh warga daerah Kediri, bahkan pakai pertikaian polisi segala (Untuk ke Gunung ini jalannya hanya dari wilayah Kediri). Terlepas kepemilikannya, gunung ini menyajikan wisata yang cukup menarik. Tentu saja  tempat yang paling menarik adalah kawahnya. Untuk menuju kawah kita harus melalui terowongan, namun waktu itu masih tutup.

Tempat menarik lainnya adalah Sungai Bladak. Sungai ini merupakan tempat saluran pembuangan air Gunung Kelud yang dibangun oleh Belanda (sejarahnya cari sendiri ya). Untuk menuju sungai ini kita harus menuruni ratusan anak tangga (tidak masalah, yang masalah adalah ketika naik kembali). Sesampainya di bawah, orang-orang yang sudah datang lebih awal sudah bermain air di sana (intinya orang-orang yang tadi ketemu). Karena dari kawah, sungai ini cukup hangat dan panas, dan mengandung belerang. Batu-batu sungainya pun berwarna kuning karena belerang ini. Karena sudah jauh-jauh (dan belum mandi) saya pun ikut bermain air,  ketika tinggal saya sendiri, saya pun mandi di pancuran dengan semi buka-bukaan (tentunya gak memakai kemben dan bisa gawat kalo tiba-tiba ada pengunjung lain yang datang). Setelah selesai dan melihat ujung saluran pembuangan, saya pun naik kembali dengan susah payah. Waktu itu terdapat sepasang muda-mudi di sungai Bladak dan tidak ada orang lain di sana (waduh bisa gawat) bahkan sesampainya di atas tidak ada orang lain yang turun selain mereka. Terdapat penunjuk arah dengan tulisan “air panas anak G Kelud” dan ada bahasa Inggrisnya juga “hot river of Kelud baby” (-_-;).
Sungai Bladak
Terowongan yang menghubungkan tempat parkir dengan kubah cukup panjang, mungkin sekitar 300 meter yang untungnya saat ini sudah ada penerangannya walau sebenarnya masih cukup gelap. Di dalam terowongan kadang terdapat ruang-ruang yang digunakan pekerja (zaman bahuelak) untuk istirahat, tapi sekarang kelihatan tergenang dan banyak sampah. Setelah keluar dari terowongan, bila ke kanan nantinya akan menuju ke Gunung Gajah Mungkur yang merupakan tempat panjat tebing. Bila ke kiri akan menuju ke kubah lava. Di kawah gunung Kelud ini tadinya terdapat danau kawah yang berwarna hijau yang airnya disalurkan ke sungai Bladak. Namun setelah letusan tahun 2007, danau tersebut menghilang dan digantikan oleh Kelud baby :p. Anak Gunung Kelud ini masih mengeluarkan gas dan pengunjung dilarang mendekatinya (padahal ketika lihat foto-fotonya fotografer di sana pengunjung malah pada berenang ketika masih ada danaunya).

Untuk mendekatinya kita harus menuruni tangga (tapi buat yang sudah malas, lihat dari atas juga gak terlalu beda jauh). Waktu itu terdapat kunjungan dari panti asuhan ke gunung ini, jadi di bawah sulit untuk mengambil foto (foto diri) karena anak panti asuhannya banyak. Lalu terbesit pikiran untuk naik ke gardu pandang tertinggi yang juga harus naik tangga (yang tentunya sudah membuat malas dahulu) untuk mengambil foto. Tak tahunya anak-anak panti asuhan itu juga pada ikutan naik (walah). Dibanding anak-anak tersebut tentu saja aku kalah cepat apalagi belum sarapan, belum tidur, bawa barang, dah capek naik dari sungai, panas, gak ada minum lagi, namun walau begitu tetap menjadi orang ketiga sampai di gardu pandang.
Gardu pandang Gunung Gajah Mungkur dan Gunung Sumbing
Di gardu pandang ternyata ada jalan menuju ke puncak tertinggi, pengin sih, tapi gak ada waktu mana sudah setengah sebelas. Walau belum ada 1800 mdpl, ternyata di gunung ini sudah terdapat edelweiss, walau ukurannya masih kecil-kecil, padahal gunung-gunung lain biasanya di atas 2000 mdpl. Walau anak-anak panti, herannya mereka ada yang punya handphone yang ada kameranya (wow). Di atas ya kerjaannya nunggu mereka turun dan untungnya ada yang ngajak ngobrol. Ditanyai pertanyaan klasik lagi, tapi ditambah dikira masih SMA :p (masih muda ternyata), padahal mbaknya yang nanya baru aja lulus SMA (dianggap lebih muda :p). Setelah beberapa lama, akhirnya mereka turun dan akhirnya aku ikutan turun (setelah foto tentunya). Waktu turun benar-benar menyenangkan, bahkan sepertinya ada yang heran kok aku bisa cepat (mau bilang lari gak mungkin soalnya berupa anak tangga).  Setelah ini aku melanjutkan perjalanan menuju arah Blitar.

Di daftar yang kubuat, tujuan selanjutnya adalah menuju candi Penataran. Jalannya sebenarnya bagus sih, tapi kadang terdapat jalan yang cukup menyeramkan. Di beberapa titik terdapat jembatan yang kanan kirinya tidak ada penghalangnya, memang sih tingginya paling dua meteran, tapi tetap saja ngeri apalagi jalannya agak bergelombang karena berupa cor-coran dengan ornamen (zzzzz) batu (mirip jalan macadam tapi dicor). Jembatannya sempit jadi harus saling menunggu karena lebarnya hanya cukup untuk satu truk kecil, dan tidak ada jarak antara jalan dengan pinggir jembatan (jembatan kan biasanya di sebelahnya terdapat trotoar lalu penghalang atau apalah namanya, na yang ini keduanya tidak ada sama sekali murni jalan saja).

Beberapa waktu kemudian sampai juga di wilayah Penataran, ternyata untuk lewat jalan tersebut perlu bayar retribusi (duh), dan tidak ada petunjuk mengenai lokasi candi tersebut (sudah malas mencari karena sudah kelamaan di Kelud) yang akhirnya melewati pos retribusi dari arah yang lain. Lagi-lagi ternyata candi itu letaknya agak masuk, hanya saja tidak kelihatan dari pinggir jalan, yang ada petunjuknya cuma kolam renang Penataran, dan candi yang terlihat cuma candi pemandian Penataran, sia-sia membayar retribusi. Akhirnya perjalanan dilanjutkan ke Blitar. Di tengah jalan ada cegatan polisi, padahal aku sudah pelan-pelan eh polisinya gak ada yang nyegat, ya nyelonong aja gak berhenti, padahal polisinya juga kadang dekat banget sama aku. Sesampainya di Blitar ya terus aja menuju ke arah Malang. Ketika melihat peta (setelah sampai kos) ternyata seharusnya aku melewati makamnya presiden pertama RI, tapi kok sama sekali gak melihatnya (zzzzz). Dan ketika melihat peta kabupaten Blitar dari situs resminya, kok kediamannya Anas Urbaningrum dicantumin di peta (gak penting banget).
Saluran pembuangan
Jalan Blitar – Malang cukup lebar jadi bisa agak cepat. Kadang terdapat rel yang terletak di pinggir jalan, waktu itu ada kereta yang juga berjalan, tapi jalannya super lambat (mengingatkanku pada perjalanan ke Pulau Sempu yang naik kereta dari Surabaya yang penuh sesak dan lambat banget). Sesampainya di Wlingi (ibukota kabupaten Blitar), tidak ada petunjuk arah yang jelas, jadi di tempat ini aku keblabasan dan harus balik lagi. Akhirnya beberapa saat kemudian sampai di SPBU Selorejo. Di sini terdapat rest area sehingga aku istirahat beberapa jam sambil nge-charge hp, sayangnya rest areanya banyak debunya dan tidak ada sapunya.

Beberapa saat kemudian perjalanan pun dilanjutkan. Menurut saran seorang teman, sebaiknya aku mampir ke Karangkates, eh ternyata terdapat persimpangan yang keduanya menunjuk ke Karangkates, yang satu lurus yang satu ke kanan bawah. Ternyata yang lurus akhirnya ke kanan juga lewat di atas jalan yang satunya. Jalan tersebut lebar dan sepi dan akhirnya akan sampai di perbatasan Blitar – Malang di dekat waduk Lahor, dan untuk mobil sepertinya harus bayar retribusi. Di dekat waduk terdapat pos retribusi yang entah kok bayarnya cuma Rp 500, waktu itu tak terlalu terdengar bapaknya ngomong apa jadi langsung aja gak bayar (-_-;). Arah selanjutnya adalah menuju Kepanjen yang merupakan ibukota Kabupaten Malang. Dari Kepanjen perjalanan dilanjutkan ke arah Gondanglegi, seorang temanku tinggal di kecamatan ini. Kepanjen – Gondanglegi paling cuma 10 km, tapi angkotnya mahal banget, Rp5000 per orang, padahal di Jakarta aja lebih murah. Di sekitar Gondanglegi terlihat banyak penduduk yang memakai sarung seperti orang pesantren, entah kebetulan atau memang begitu. Sebenarnya ada niatan untuk mampir ke rekan di sana, tapi setelah sms yang bilang selamat melanjutkan perjalanan membuatku batal menyambanginya.

Selanjutnya adalah menuju Turen yang di sana terdapat PT Pindad yang dilanjutkan ke Dampit. Dari Dampit jalan yang ada sudah berkelok-kelok dan kadang melewati tanjakan, apalagi hari sudah gelap. Jalan yang ada cukup gelap karena tidak ada penerangan, teman perjalanan ya cuma truk-truk saja, jadi terpaksa berada di belakang truk, ditambah lagi bensin juga semakin menipis. Setelah beberapa lama akhirnya menemukan SPBU di Tirtoyudo (Malang) tapi agak malas karena berada di seberang jalan hal ini dikarenakan nanti malah kehilangan teman perjalanan (yaitu truk). Beberapa waktu kemudian sampai juga di Kabupaten Lumajang, dan mengisi bensin untuk ketiga kalinya di Pronojiwo sekalian istirahat sambil corat-coret. Di tempat ini melihat mobil yang sepertinya enak buat petualangan jadi pengin punya mobil seperti itu (tapi lebih ingin mobilnya keluarga tonberry secara tu mobil bisa buat di air) walau sebenarnya kurang tertarik dengan mobil karena sering mabuk kalau naik mobil (-_-;). Sepertinya kalau siang jalan yang tadi dilewati pemandangannya cukup bagus, karena bakalan kelihatan gunung tertinggi di Pulau Jawa, yaitu Gunung Semeru.

Perjalanan masih dilanjutkan dan kadang tidak ada teman perjalanan yang mau mendampingi. Di suatu titik, yaitu Piket Nol (namanya aneh) akhirnya jalan yang ada berupa turunan. Sebenarnya di tempat ini ada warung, pengin juga berhenti untuk sekedar makan tapi ya lanjut terus. Jalan turunan dari Piket Nol cukup membosankan karena jalannya berkelok-kelok dengan pinggiran tebing dan hutan serta jalannya gelap dan sepertinya yang dilihat tidak berubah, menyebabkan rasanya dah hapal medannya padahal baru pertama kali lewat jalan tersebut (-_-;).

Akhirnya setelah turunan sampai juga di tempat yang ramai, yaitu Kecamatan Pasirian, namun setelah lewat tempat itu, jalannya sedang diperbaiki, jadi banyak debu dan pasir berterbangan.  Di tengah jalan ada petunjuk ke arah Jember jadi langsung saja melewati jalan itu daripada lewat Lumajang yang harus memutar terlebih dahulu tapi ujung-ujungnya aku malah pakai acara salah jalan segala. Jalan menuju Jember ternyata jalannya rusak banyak lubangnya, lubangnya gede-gede pula membuatku tidak bisa cepat-cepat yang akhirnya akan membaik setelah sampai di Yosowilangun. Setelah itu akhirnya memasuki Kabupaten Jember.

Memasuki kabupaten ini sudah mulai ada bibit-bibit ngantuk tapi pengin maksain tidur di lokasi tujuan saja yaitu Pantai Papuma. Perjalanan pun terbilang lambat walaupun jalannya sepi. Di beberapa titik terdapat perlintasan lori, jadi berpikir lorinya bisa dinaikin atau tidak. Perjalanan cuma dihiasi dengan pencarian masjid yang tidak berpagar agar bisa langsung masuk dan tidur di terasnya, namun walau sudah menemukannya tetap aja ditinggalkan. Akhirnya sampai di desa Puger yang merupakan desa nelayan, eh ternyata salah jalan, pantainya ada diseberang perbukitan sebelah timurnya puger. Kalau menurut google map versi map, terdapat jalan yang melewati bukit ini sampai ke Papuma, tapi tidak ditemukan jalan tersebut dan ketika dicek di kos dengan google map versi satelit ternyata jalan tersebut tidak ada tapi si google menganggapnya jalan (jangan 100% percaya dengan peta ya). Sehingga hal ini menyebabkanku harus melewati sawah yang gelap sendirian.
Terowongan
Pada awalnya melewati selatan bukit yang ternyata tambang buat semen dan dilanjutkan terus ke arah timur terus. Gara-gara masih berpikir tentang peta google (saat itu masih belum tahu) jadi pikirannya mencari jalan ke selatan. Tapi karena dah capek kok gak nemu-nemu ya terpaksa ke timur terus. Sempat ke timur terus tapi malah salah jalan, padahal ada orang yang lagi kumpul-kumpul di depan, langsung kumatikan motor biar gak dikira aneh-aneh dan akhirnya memutar balik. Akhirnya beberapa saat kemudian menemukan surau di tengah sawah. Sempat berpikir untuk lanjut tapi dipaksakan untuk berhenti. Di dekat surau tersebut terdapat sumur dan bangunan yang entah ada penghuninya atau tidak. Suraunya juga agak kurang terurus pintunya juga terbuka. Setelah motor dikunci dobel, langsung saja tidur tanpa memikirkan apapun seperti ular atau apalah.
Perjalanan melewati sawah benar-benar minim cahaya sampai-sampai langit terlihat sangat indah dengan bertaburan bintang-bintang penghiasnya. Sempat juga teringat cerita waktu KKN yang mengatakan kalau jalan di sawahnya ada yang angker, haha emang gue pikirin (hehe).

Rabu, 17 Agustus 2011

Tour de Jatim, Day I: Yogyakarta – Sedudo – Kediri

Sekedar sharing perjalanan paling geje yang pernah kulalui, tapi sangat berkesan. Hari keberangkatan tiba langsung saja dirasa bahwa perjalanan ini bakalan gagal. Bagaimana tidak, aku bangun agak telat sekitar jam 9 pagi dikarenakan semalaman menyusun rencana rute mana saja yang mau diambil, tempat mana saja yang ingin dikunjungi dalam waktu 6 hari, hari pertama ke mana saja, nginap di mana, dan seterusnya. Pada awalnya direncanakan berangkat jam 6 atau jam 7, tapi karena super ngantuk menyebabkan memanjangnya waktu tidur hingga jam 9. Setelah bangun saja langsung terpikir bahwa apa sebaiknya perjalanan ini ditunda satu minggu lagi, apalagi ditambah belum menata barang serta bersiap-siap. Dikarenakan sudah ngomong ke orang lain kalau hari itu mau main jadi mau tak mau harus nggeje entah ke mana. Terbesit juga untuk mengubah tujuan ke tempat-tempat yang lebih dekat tapi akhirnya hati ini mantap untuk melakukan perjalanan.

Waktu keberangkatan adalah pukul 10.00 WIB, motor sudah siap , cuaca hari itu cerah, gunung Merapi pun kelihatan indah. Ingin rasanya berhenti sejenak mengambil gambar tapi apa daya malas berhenti :p. Berdasarkan catatan yang kubuat malamnya, tempat pertama yang kunjungi seharusnya adalah Museum Trinil di Ngawi. Perjalanan Yogyakarta – Surakarta tak terasa terlewati karena jalannya lebar dan mulus jadi cukup berani menggunakan kecepatan seperti biasa walau temannya kendaraan besar. Namun jalur selanjutnya, yaitu jalur Solo – Sragen, merupakan jalur yang kurnag menyenangkan. Jalur yang dilewati adalah jalur yang sempit dengan temannya bus besar (apalagi ada bus “SK” yang terkenal ugal-ugalan :p)dan truk gandeng membuat sulit untuk bergerak cepat, apalagi hal yang sama juga terjadi dari arah berlawanan membuat sulit untuk menyalip (motor aja sulit, apalagi mobil).

Gunung Liman dan Gunung Wilis
Di daerah Sambungmacan, ketika akan memasuki wilayah Jawa Timur, jalan yang ada kembali lebar, dan jalan terlebar berada di wilayah Mantingan walaupun nantinya menyempit juga (saatnya kembali ke kecepatan semula). Sepanjang pinggir jalan di daerah Ngawi terdapat beragam oleh-oleh yang dijajakan, terutama jeruk Ngawi, namun yang paling aneh adalah ada yang menjual monyet di pinggir jalan (buat apa coba, topeng monyet, (-_-;)) dan itu ada di banyak titik. Setelah menempuh 3 jam perjalanan, akhirnya bensin yang ada menipis dan harus segera diisi lagi. Tempat pengisian pertama berada di wilayah Kecamatan Kedunggalar. SPBU di Kedunggalar ini sepertinya benar-benar tempat yang cocok untuk istirah. Di sekitar mushollanya banyak orang duduk-duduk istirahat, bahkan ada bule juga. Kamar mandi pun malah dijaga oleh penduduk sekitar, padahal biasanya di SPBU lain jarang banget ada yang jaga. Di perjalanan dari Solo hingga Ngawi ini Gunung Lawu pun terlihat berdiri tegap dan tidak kuambil gambarnya juga.

Museum Trinil berada di Kecamatan Kedunggalar, dulu waktu melewati jalan ini tidak terlihat tanda-tanda petunjuk ke museum ini (mungkin karena mengantuk). Dan ternyata petunjuk arahnya ukurannya cukup kecil seperti plang buatan anak KKN, dan Museum ini pun kulalui begitu saja karena sudah kesiangan (jam 1 sampai museum, keliling 1 jam lebih, kira-kira perjalanan sampai Sedudo 2 jam  tidak yakin kalau masih buka kecewa dah jauh-jauh malah tutup) dan berharap bisa dikunjungi waktu balik.

Perjalanan dilanjutkan ke Ngawi kemudian ke Caruban lalu ke Bagor. Kalau Mantingan – Ngawi ada yang jual monyet, di sepanjang jalan Caruban – Bagor banyak yang jual ikan, ikannya besar-besar pula. Hal ini dikarenakan terdapat waduk di pinggir jalan (lupa namanya). Di Bagor ini terdapat dua buah perlintasan kereta api sehingga ya harus berhenti kalau dapat jackpot. Dari Bagor perjalanan dilanjutkan ke arah Berbek yang nantinya menuju ke arah Kediri, untuk ke Sedudo sudah ada petunjuknya, tinggal ikuti saja. Di pinggir jalan ini terdapat Candi Lor, candi ini cukup eksotis karena di atas candi ini ditumbuhi pohon namun bentuk candinya sudah rusak (sayangnya gak kuambil gambarnya juga).

Jalan menuju ke Sedudo berupa jalan menanjak yang menuju kearah gunung Wilis dan Liman (gunungnya sebelahan). Tiket masuk ke Sedudo Rp 2000 per orang, Rp 1000 per motor, dan petugas retribusinya masih muda dan lumayan cantik (walah gak penting). Sedudo ini merupakan air terjun yang cukup tinggi. Sebenarnya selain Sedudo, terdapat air terjun lain di wilayah ini,juga terdapat situs sejarah, namun karena sudah sore jadi tidak sempat untuk menjelajahnya. Sesampai di tempat parkir langsung dibilangin kalau gerbang bawah tutup jam 5, padahal baru aja sampai.

Air Terjun Sedudo
Air terjun Sedudo terletak di desa Ngliman, kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk. Terletak pada ketinggian sekitar 1438 mdpl dan mempunyai tinggi sekitar 105 meter. Debit air di air terjun ini tidak terlalu besar, sehingga orang bisa mandi atau main air langsung di bawah air terjun ini. Bahkan airnya dibendung dan dibentuk semacam kolam kecil sehingga pengunjung bisa bermain air, dan ketika sudah hampir tutup bendungnya di buka sehingga kolamnya surut. Pas di sana ingin juga main air, tapi apa daya tidak ada baju ganti. Pas di sana ada mbak-mbak yang bermain air pakai baju putih, bajunya basah dan menjadi kelihatan dalamnya, malah di syuting sama temannya yang cowok (-_-;). Untuk ke air terjun ini dari parkiran harus menuruni tangga tapi tenang saja tidak bayak anak tangga yang harus dilalui.

Setelah dari Sedudo, perjalanan dilanjutkan ke Kediri, di tengah jalan sebelum keluar dari wilayah desa Ngliman, saya sempatkan berhenti sebentar untuk mengambil foto gunung Wilis dan Ngliman. Tiba-tiba ada seorang pemuda dan dua orang pemudi yang memberhentikan motornya di sekitar tempat saya berhenti. Setelah ngobrol sebentar dan mereka minta difoto, pemuda yang bernama mas Harnoko tersebut bilang, kalau mau ke Sedudo tinggal bilang aja ke petugas retribusinya mau ke rumahnya mas Harnoko, atau mbah x soalnya rumahnya setelah pos, jadi nggak usah bayar retribusi, mau serombongan juga boleh (doh). Setelah itu langsung turun gunung menuju ke Kediri.

Di jalan menuju Kediri di daerah Grogol, pas motor berjalan cukup kencang dengan depan belakang mobil dengan kecepatan sama, tiba-tiba bagian belakang moto oleng, wealah ada apa ini ban belakang bocor tanpa ada tanda-tanda kempes terlebih dahulu padahal sudah gelap. Terpaksa menuntun motor dan menyebabkan perasaan gak enak karena hari pertama saja sudah begini. Untungnya ada tempat menambal ban yang masih buka. Dan ternyata oh ternyata banku tertancap paku cukup besar. Ketika ngobrol dengan tukang tambalnya, terdapat kosa kata dalam bahasa Jawa yang kuketahui hanya ada di daerah tempat tinggalku tapi waktu itu masih ragu apa benar arti katanya sama dengan di daerahku.

Langsung saja setelah selesai menambal ban perjalanan kulanjutkan ke Kota Kediri. Tujuannya tentu saja alon-alon kota. Seandainya hari berikutnya tidak ke Gunung Kelud, tentu saja perjalanan sudah kulanjutkan karena belum terlalu malam. Melewati jembatan sungai Brantas di malam hari cukup menarik hati karena cukup indah tapi malas untuk berhenti. Setelah berkeliling kota Kediri, akhirnya alon-alonnya ketemu juga. Alon-alon kota Kediri tidak seperti alon-alon biasanya yang terdapat tanah cukup lapang, namun alon-alon ini lebih mirip taman kota. Di sebelah utara terdapat deretan tempat penjual makanan, dan di alon-alonnya banyak pedagang berbagai macam hal, padahal sudah dilarang berjualan. Ada yang menjual buku, mainan, pakaian, bahkan ada yang menjual sate bekicot yang kata tulisannya di situ merupakan khas Kediri (gak tahu kebenarannya khas atau tidak). Seperti di tempat-tempat lain, tempat ini juga tempat untuk mojok, bahkan yang sedang mojok ada yang diganggu pengemis yang minta-minta (hehe). Selain penjual, di alon-alon ini juga ada yang menyediakan permainan anak, seperti mobil-mobilan dan kereta anak. Keramaian di tempat ini berakhir ketika jam sudah menunjukkan pukul 21.00, semua penjual dan penyedia mainan anak beres-beres untuk meninggalkan tempat ini. Bahkan karena lamanya saya di tempat ini, sampai dicariin petugas parkir yang mau pulang (dah gitu bayar pula kalau tahu gitu datangnya setelah jam 9 saja). Setelah tempat ini sepi, hal yang mengerikan semakin banyak yang terlihat, tikus yang keluyuran sangat banyak, baik yang besar atau yang masih anak-anak. Sebenarnya waktu masih ramai juga sudah kelihatan tapi setelah sepi jadi semakin kelihatan apalagi pandangan semakin terbuka.

Menara Masjid Agung Kota Kediri
Niat awal adalah tidur di hotel ecek-ecek , malah gak kesampaian. Akhirnya malah merenung di pinggiran alon-alon. Di sampingku duduk seorang bapak dan seorang ibu yang entah hubungannya apa dan di agak jauh terdapat warung yang buka sampai pagi (bahkan bawa tv segala). Mungkin karena melihat aku yang kesepian, akhirnya kedua orang itu mengajak ngobrol. Aku dikasih kacang-kacangan (entah namanya apa padahal sering lihat yang jual) yang rasanya sebenarnya biasa saja tapi tetap saja dihabiskan. Ngobrolnya pun sebenarnya topik klasik, dari mana, mau ke mana, terus kaget, kok berani, dan seterusnya. Mendekati tengah malam kedua orang itu pergi entah ke mana, sebelum pergi aku dikasih apel, jeruk, dan pear (lumayan). Mereka meninggalkanku bersama tikus-tikus kota yang sering kali berlarian di bawah tempatku duduk (-_-;).

Bersambung

Jumat, 12 November 2010

Jalan-Jalan Geje - Part III: Madiun

Setelah melewati gunung-gunung, akhirnya sampai di kabupaten Ponorogo. Karena sudah malam dan bensin sudah menipis, akhirnya tujuan utama adalah mencari pom bensin. Di jalan sempat terlihat masjid yang cukup besar yang ternyata adalah bagian dari pondok Gontor (Baru tahu kalau pondok Gontor banyak cabangnya). Sesampainya di Ponorogo (saat itu ada beberapa titik yang banjir), ada niatan untuk bermalam di kota ini sambil melihat-lihat kota Ponorogo. Namun saya yang ingin melanjutkan perjalanan tetap melanjutkan perjalanan yang ada (hak sopir :p) menuju kota Madiun.

Madiun Square
Ternyata Ponorogo ke Madiun tidak terlalu lama, padahal di peta terlihat cukup jauh (mungkin efek jalan lurus yang datar). Perjalanan Ponorogo - Madiun tidak ada yang menarik karena sudah malam. Sesampainya di Madiun tentu saja mencari makan terlebih dahulu. Diputuskan untuk mencari makan di alon-alon dan segera mencarinya. Ketika di persimpangan alon-alon saya malah melalui jalur yang salah dan harus mencari jalan memutar. Selain memutar, saya sekaligus mencari warnet yang nantinya akan dipakai untuk tempat menginap (malas nginap di hotel) yang menjadi alternatif terbaik untuk orang bokek dan masih punya malu (alternatif lainnya masjid, stasiun, rumah sakit). Setelah menemukan satu langsung menuju ke alon-alon. Di jalan yang dilewati terlihat tulisan Madiun kota Gadis (perdagangan dan industri maksudnya).

Alon-alon kota Madiun cukup ramai dengan orang, baik yang pacaran, cari makan, ngobrol gak jelas, dll. Setelah makan, langsung dihabiskan dengan nongkrong gak jelas di suatu sudut yang di sana sedang ada bapak-bapak dan ibu-ibu ngrumpi (ngomongnya cukup serius karena ada yang ngomong duit 5M). Karena sudah cukup larut, maka dilanjutkan menuju warnet yang diincar. namun setelah dilalui, kok merasa warnetnya gak ada ya dan harus mengambil jalan memutar. Usut punya usut, ternyata warnetnya sudah tutup (doh) sehingga harus mencari tujuan lain. Di jalan dekat stasiun, akhirnya menemukan sebuah warnet dengan tanda 24 jam. Warnetnya berdiri di bangunan tua dengan gaya khas bangunan Cina tempo dulu.
Tempat Pijat Refleksi
Niatnya sih ngenet dan nantinya ditinggal tidur, tapi ternyata kursinya kurang nyaman buat tidur dan beberapa jam pertama orang-orangnya pada ribut teriak-teriak main CS. Ketika waktu menunjukkan jam setengah tiga pagi dan saya masih berusaha untuk tidur, sudah tidak ada orang lain yang ngenet dan warnetnya terdengar mau ditutup. Karena merasa diusir secara halus, maka saya melanjutkan perjalanan ke stasiun yang tidak jauh dari sana. Ternyata di stasiunnya tidak ada kursi tempat nunggu sehingga harus berusaha tidur di lantai. Ketika sudah hampir bisa tidur, teman saya membangunkan saya karena sudah jam 4 dan sudah waktunya untuk sholat Subuh. Ketika melintas di depan warnet, ternyata warnetnya sudah tutup, 24 jam apanya.

Langsung saja saya menuju masjid di dekat alon-alon yang sedang dibangun untuk sholat. Niatnya setelah sholat saya jalan-jalan sebentar sampai cukup terang supaya lampunya dimatiin dulu, tapi sayangnya teman saya tidak mau karena kecapekan, terpaksa saya ngikut. Beberapa saat kemudian ada takmir yang mematikan lampu, saya yang merasa tidak enak langsung bangun dan keluar.
Madiun di pagi hari
Motor ditinggal di masjid saya berjalan-jalan di alon-alon sambil melihat-lihat warga yang berolahraga. Alon-alon Madiun ternyata cukup menarik, di dua sisinya terdapat peta kota Madiun di suatu sisi juga terdapat toilet umum yang dapat ditarik mobil (seperti gandengan truk tapi memiliki roda). Di alon-alon juga terdapat jalur lari-lari atau jalan-jalan yang dibuat berputar-putar. Yang paling menarik adalah adanya jalur pijat refleksi yang disusun dari batu-batu penghias aquarium dan panjang lintasan lebih dari seratus meter. Saya mencoba berjalan di sana dan merasa kesakitan karena terdapat batu-batu yang diberdirikan (bukan ditidurkan). Di tengah jalan baru 'ngeh' kalau yang memakai tempat tersebut kebanyakan orang tua yang sepertinya sarafnya sudah kurang peka. Saya yang masih muda belum ada setengah jalan aja sudah hampir menyerah karena merasa kesakitan, tapi karena ada orang tua yang berjalan dengan entengnya (jalan biasa) yang sepertinya tidak merasa kesakitan membuat saya semangat untuk merampungkannya (apalagi sandal ditinggal di ujung jalur yang ada).

Setelah cukup puas berjalan-jalan, langsung mencari makan. Niatnya mau beli pecel Madiun, tapi kok yang jualan sudah menghilang ketika ingin dibeli, terpaksa beli soto babat. Harga satu porsi soto Rp 4000, tempe Rp 500, dan teh anget Rp 500, cukup untuk mengisi perut saya (walau porsi segitu sebenarnya masih jauh dari cukup). Setelah makan, tujuan selanjutnya adalah masjid, apalagi kalau bukan buat tidur, hehe. Akhirnya di masjid ini saya bisa tidur walau cuma satu jam karena teman saya merengek ingin segera cabut, saya sebenarnya ogah-ogahan, tapi ya mau gimana.

Soto Babat
Setelah dari Madiun tujuan berikutnya adalah Trinil di Ngawi, tapi setelah menempuh sepanjang perjalanan kok tidak ada petunjuk satupun dan tiba-tiba sudah sampai perbatasan Jawa Tengah. Padahal jalan raya Ngawi tersebut hanya mempunyai sedikit persimpangan, bisa-bisanya tidak ketemu. Karena malas untuk balik, terpaksa langsung dilanjutkan ke Yogya tanpa berhenti (kecuali di Pom Bensin Sukoharjo). Perjalanan Madiun-Yogyakarta ditempuh dalam waktu 4 jam dengan teman membonceng yang mengantuk, dan perjalanan pun berakhir karena sesampainya di Yogya saya langsung tepar (efek kurang tidur).

~ end ~

Jalan-Jalan Geje - Part II: Pacitan

Perjalanan menuju kota Pacitan tentunya berada di luar rencana. Setelah melihat jalan tembus dari pantai Srau ke pantai utama, ternyata untuk menuju ke pantai ini (juga pantai Watu Karung) lebih baik menggunakan jalan utama (bukan jalan dari pantai Klayar) karena jalannya lebih enak. Sepanjang perjalanan, yang dicari adalah.... tanda menjaga kebersihan tentang larangan buang BAB sembarangan yang unik. Soalnya ketika berangkat menemukan tanda yang memakai kata-kata berbahasa Inggris. Ternyata tanda tersebut semakin sulit ditemukan ketika menuju ke kota Pacitan.

Jika terus melewati jalan, maka nantinya akan tembus ke teluk Pacitan, sayangnya tidak ada spot yang cukup bagus untuk mengambil gambarnya dari atas. Setelah sampai di bawah saya langsung merasa bahwa telah keluar dari pegunungan Sewu yang didominasi oleh karst. Yang pertama kali dicari adalah alon-alon. Ketika berhenti di suatu traffic light, tiba-tiba ada yang tanya, dan ternyata adalah seorang bule. Dia bertanya "Where's the center". Karena kaget tiba-tiba ditanya bule, tanpa menyiapkan logat langsung menjawab "I dunno", dengan logat Jawa yang sangat kentara terdengar. "I never came here before." Sepertinya dia adalah bule yang ada di pantai Srau, namun kali ini yang mengendarai adalah bule cewek (yang tanya cowok). Ketika lampu hijau, bule ceweknya terlihat sulit menjalankan motornya, sepertinya giginya masih normal (doh).

Sesampainya di alon-alon ya cuma lewat saja, enath mau ngapain. Waktu menunjukkan jam 4, tapi sepertinya kota ini sudah sepi banget. Ketika berada di lampu merah yang bila ke kiri ke Ponorogo, kanan ke Solo, dan lurus ke Trenggalek, saya menanyakan arah ke teman saya, "Mau belok mana?" Ternyata teman saya menunjuk ke arah Ponorogo. Ya sudahlah pikir-pikir mau melihat jalan walau saya tahu kalau nantinya jaraknya akan jauh banget.
Kota 1001 Goa
Awal perjalanan ke Ponorogo jalannya di sana-sini sedang ada perbaikan dan yang saya lihat di depan adalah gunung-gunung. Setelah beberapa kilometer, saya melihat sungai yang mengalir di antara bukit-bukit. Sungai tersebut terlihat mengalir membelah bukit-bukit yang ada. Dan saya berpikir jangan-jangan jalannya akan berada di pinggir sungai tersebut. Benar saja, ternyata jalan yang harus saya lalui adalah jalan di pinggir bukit yang digerus dengan sebelahnya berupa sungai yang meliuk-liuk (jalannya juga). Jalan yang ada pun kebanyakan rusak. Sungai tersebut nantinya bermuara di teluk Pacitan (gak tahu nama sungainya, malas cari tahu).

Di suatu titik (sepertinya di Kecamatan Arjosari) terdapat bagian jalan yang hampir semuanya terendam air (saat itu hujan) hanya sedikit bagian yang dekat bukit yang tidak terendam. Di depan terdapat mobil yang melaju tapi menghindari genangan yang ada (saya masih berada beberapa meter dari genangan). Ketika saya berada di daerah genangan, tiba-tiba muncul truk yang cukup kencang yang juga akhirnya juga melaju di bagian kanan (bagian jalur saya). Hasilnya sekujur tubuh saya terkena cipratan (sial, ada yang masuk ke dalam lagi).
Salah satu pesan tentang Kebersihan
Beberapa kilometer dari titik tersebut, ketika saya melaju terlihat orang-orang melihat ke atas yang ternyata ada guguran tanah dan batu (awalnya berpikir ada orang yang nglemparin batu dari atas). Beberapa meter kemudian terlihat bongkahan batu yang menutupi jalan (sebelumnya tidak terlihat karena terhalang-halangi bukit tersebut). Saya lalu melaju di sebelah kanan dan orang-orang yang menonton berteriak (gak begitu terdengar) dan membuat saya berhenti. Ketika saya berhenti teman saya langsung turun dan berlari, saya yang tadinya tenang-tenang saja langsung panik gara-gara melihat teman saya lari.  Motor langsung saya putar tanpa memundurkannya walau sudah mepet banget dengan pinggir jalan (sudah masuk jalan tanah). Ternyata kalau hujan memang sering terdapat guguran di lokasi tersebut.
Sungai yang menemani sepanjang jalan
Jika melaju di jalan raya Pacitan-Ponorogo ketika hujan, maka akan terlihat air terjun kecil yang mengalir (tidak terlalu bagus). Beberapa kilometer dari lokasi guguran, akan ada jalan yang benar-benar sempit yang sepertinya hanya muat untuk sebuah mobil (di kiri tebing, di kanan sungai). Saya sempat berpikir kalau malam hari bagaimana bis bisa lewat ya kalau tidak ada yang ngatur, siapa yang harus mengalah. Setelah itu di lokasi lain terdapat tambang-tambang pasir (atau apa?) yang warnanya tetap putih walau terkena hujan (???) yang sialnya pasir-pasir tersebut diletakkan di pinggir jalan (bahaya banget, bisa buat kepeleset kendaraan). Ketika sampai Slahung (Kabupaten Ponorogo), saya bersyukur karena telah melewati jalan tersebut.

Melewati jalan Pacitan-Ponorogo benar-benar bikin malas. Kalau tidak terpaksa saya tidak akan melewati jalan tersebut lagi apalagi kalau hujan.



Jalan-Jalan Geje - Part I: Pantai Srau

Niat awalnya adalah pergi ke pantai Srau dan pantai Klayar yang ada di kabupaten Pacitan. Jalan ke pantai Srau yang dilalui adalah dari Yogyakarta -Gunung Kidul - Wonogiri - Pacitan. Jalan pegunungan Sewu sudah sering kulalui, jadi tidak ada masalah atau keterkejutan. Sesampainya di Giri Belah (Kabupaten Wonogiri), saya mengambil arah selatan melalui Paranggupito. Jika menuju pantai Klayar, arah ini lebih dekat daripada melalui Pacitan (lupa nama daerahnya) langsung. Tujuan pertama saya adalah pantai Srau dulu yang lebih jauh, setelahnya menuju pantai Klayar dan langsung pulang ke Yogyakarta. Ketika saya melihat peta (google map) saya lihat memang pantai Srau cukup jauh dari pantai Klayar, tapi menurut saya tidak masalah.

Lubang yang dicari
Jalan dari persimpangan pantai Klayar ke pantai Srau cukup membuat saya pusing karena ada bagian jalan yang menurun dan berkelok-kelok serta jalan yang kurang bagus yang ternyata di bawahnya adalah sungai dan setelah itu harus menaiki tanjakan yang cukup tajam. Di tanjakan ini ada bapak-bapak yang harus meninggalkan istri dan anaknya di bawah karena motornya tidak kuat dan kemudian menjemputnya dengan berjalan kaki.

Tiket masuk ke pantai Srau cukup murah, hanya Rp 2000 / orang dan Rp 1000 / motor tanpa harus membayar parkir lagi. Motivasi saya ke pantai ini adalah karena melihat foto di mana terdapat karang yang berlubang di tengahnya dan terletak di tepi pantai (Biasanya yang saya lihat ada di tengah laut). Pantainya cukup bagus, bersih di bagian yang dekat dengan air dan di bagian yang dekat dengan tanah berserakan sampah ranting dan kelapa (hehe).

Tentu saja yang pertama-tama saya tuju adalah karang  berlubang, namun setelah saya susuri tidak terlihat adanya karang tersebut yang membuat saya merasa tertipu oleh foto di Internet. Pantai ini juga dipakai untuk tempat berselancar, tapi saya berpikir ombaknya aja cuma di beberapa bagian pantai, kecil pula, bagaimana mau berselancar. Waktu di sana terlihat bule yang mengendarai motor bebek membawa papan selancar namun kesulitan mengendarai motor (doh).

Pulau-pulau di Pantai Srau
Setelah sana-sini mencari tidak menemukan apa yang dicari, sebelum  cabut saya memutuskan untuk naik tebing dahulu, masih berharap ada pantai yang lain. Beberapa ratus meter sudah dilalui tapi cuma ada tebing dengan jalanan yang cukup tertata. Untungnya dari tebing tersebut saya cukup terhibur karena bisa melihat pulau-pulau kecil. Di bukit ini juga terdapat gardu pandang (atau tempat buat terjun :p) yang bisa melihat nelayan-nelayan ke pulau-pulau kecil mengambili sesuatu, mungkin lobster atau kepiting.
Pantai Srau
Setiap saya ke pantai Selatan Jawa, saya selalu berpikir bahwa pantai yang ada menghadap ke selatan, namun pantai Srau ini ternyata menghadap ke timur (baru sadar ketika sholat). Tidak seperti pantai-pantai di Gunung Kidul yang setiap pantai diberi nama, pantai di Pacitan ini merupakan gugusan dari beberapa pantai.
Sewaktu mau balik, saya berpikir untuk melalui jalan yang lain, ternyata insting saya tepat karena saya menemukan tempat yang ingin saya tuju (tidak terlihat dari bukit yang saya naiki). Setelah mengambil gambar, langsung melanjutkan perjalanan, ternyata jalannya tidak tembus, dan berakhir di pantai yang  sama.
Niat semula ke pantai Klayar pupus sudah karena ada request dari teman untuk ke kota Pacitan. Pikir-pikir saya pernah ke Klayar dan belum pernah ke Pacitan, ya akhirnya saya setujui juga (hehe).






~ to be continued ~